Interpretatio germanica adalah istilah bahasa Latin merujuk kebiasaan suku bangsa Jermanik awal untuk memadankan dewa-dewi Romawi dengan dewa-dewi Jermanik. Menurut Rudolf Simek, kebiasaan ini mulai muncul sekitar abad ke-1 Masehi, ketika kedua budaya tersebut melakukan kontak yang lebih akrab.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (November 2025) |
Interpretatio germanica (berarti "penafsiran Jermanik") adalah istilah bahasa Latin merujuk kebiasaan suku bangsa Jermanik awal untuk memadankan dewa-dewi Romawi dengan dewa-dewi Jermanik. Menurut Rudolf Simek, kebiasaan ini mulai muncul sekitar abad ke-1 Masehi, ketika kedua budaya tersebut melakukan kontak yang lebih akrab.
Beberapa bukti untuk interpretatio germanica ada dalam terjemahan bahasa-bahasa Jermanik dari Romawi untuk penamaan hari:
Dalam hampir semua bahasa-bahasa Roman, yang berkembang bahasa Latin, hari dalam seminggu masih mempertahankan nama dewa Romawi asli, seperti bahasa Italia untuk hari Selasa, yaitu martedì (berkembang dari bahasa Latin, yaitu Martis dies).
Sabtu merupakan satu-satunya hari yang tidak memiliki padanan dalam bahasa-bahasa Jermanik, sehingga langsung menyerap dari nama dewi Saturnus dalam bahasa Latin. Nama hari yang memakai dewi Saturnus muncul dalam banyak bahasa Jermanik Barat; seperti Saturday dalam bahasa Inggris, Saterdei dalam bahasa Frisia Barat, Saterdag dalam bahasa Sachsen Hilir, dan zaterdag dalam bahasa Belanda; semuanya berarti Saturnus.[1]
Simek menekankan kurangnya bukti untuk interpretatio germanica, yang tersebar luas, sebagai lawan dari interpretatio romana, yang telah memiliki bukti tertulis langsung, dan mencatat bahwa perbandingan dengan dewa-dewi Romawi tidak cukup untuk merekonstruksi dewa-dewi Jermanik kuno, atau menyamakannya secara pasti dengan dewa-dewi dari mitologi Nordik.[2]