Inggriani Liem merupakan ilmuwan komputer dan tokoh pendidikan bidang informatika asal Indonesia. Ia adalah purnabakti dosen Informatika Institut Teknologi Bandung. Semasa hidup, Inggriani atau yang kerap disapa Inge berperan menjadi pembina Tim Olimpiade Komputer Indonesia (TOKI). Pada 2022, ia menerima Lifetime Achievement Award dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi dalam Pembukaan International Olympiad in Informatics (IOI) pada 9 Agustus 2022.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Artikel ini membutuhkan rujukan tambahan agar kualitasnya dapat dipastikan. (September 2025) |
| Biografi | |
|---|---|
| Kelahiran | 16 Januari 1953 |
| Kematian | 28 Agustus 2025 |
| Data pribadi | |
| Pendidikan | Institut Teknologi Bandung - Teknik fisika (–1977) Université Grenoble Alpes (mul) Institut Politeknik Grenoble Joseph Fourier University (en) Joseph Fourier University (en) |
| Kegiatan | |
| Spesialisasi | Ilmu dan teknologi informasi |
| Pekerjaan | Dosen Institut Teknologi Bandung (1979–2018) |
Penghargaan | |
Inggriani Liem (16 Januari 1953 - 28 Agustus 2025) merupakan ilmuwan komputer dan tokoh pendidikan bidang informatika asal Indonesia.[1] Ia adalah purnabakti dosen Informatika Institut Teknologi Bandung. Semasa hidup, Inggriani atau yang kerap disapa Inge berperan menjadi pembina Tim Olimpiade Komputer Indonesia (TOKI). Pada 2022, ia menerima Lifetime Achievement Award dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi dalam Pembukaan International Olympiad in Informatics (IOI) pada 9 Agustus 2022.[2][3]
Inge menempuh pendidikan sekolah menengah di SMAK Santa Maria Malang pada 1969 - 1971[4] dan menyelesaikan sarjana dalam bidang Fisika Teknik di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 1977. Sebelum masuk ke ITB, ia sempat kuliah setahun di IKIP Malang (sekarang Universitas Negeri Malang). Ia kemudian melanjutkan studi S-2 dan S-3 ke Prancis. Sekitar 1982-1983, dia lulus dari DESS Informatique Double Competence, Universitas Grenoble dan DEA Institut National Polytechnique de Grenoble.[2] Selang enam tahun kemudian, ia memperoleh gelar doktor dari Universitas Joseph Fourier Grenoble.[2]
Inge mengajar di ITB dari 1978/1979 hingga 2018.[2] Dia juga aktif dalam sejumlah komunitas informatika, seperti menjabat sebagai Ketua Bebras Indonesia NBO (bebras.or.id)[1] dan Pembina Tim Olimpiade Komputer Indonesia (TOKI) sejak tahun 2000-an.[3] Bebras adalah gerakan internasional yang mendorong kemampuan berpikir komputasional dan pembelajaran Informatika sejak sekolah dasar.[2] Bebras pertama kali digelar di Lithuania (www.bebras.org) dan merupakan aktivitas ekstrakurikuler yang melatih kecakapan pemecahan masalah dalam informatika dengan jumlah peserta terbanyak di dunia. Kegiatan tahunan ini diselenggarakan secara daring dan melibatkan siswa sebagai peserta kompetisi dengan pendampingan dari guru.[1]
Dia juga pernah menjabat sebagai Direktur Politeknik Informatika Del dan anggota senat di Institut Teknologi Del.[2]
Inge menerima Lifetime Achievement Award dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi dalam Pembukaan International Olympiad in Informatics (IOI) pada 9 Agustus 2022. Penghargaan itu diserahkan oleh Nadiem Makarim, Mendikbudristek kala itu.[2]
Selama mengajar di ITB, Inge dikenal karena menerapkan disiplin ketat, seperti mengusir mahasiswa yang terlambat masuk kelas meski hanya semenit dan memarahi mahasiswa yang tidak membawa pena merah, pensil, dan penghapus. Dalam siniar dengan Indonesia Belajar pada 2021,[5] Inge mengenang kembali kedisplinannya dengan tersenyum. Menurutnya, semua kedisiplinan itu mempersiapkan mahasiswa ke dunia nyata sebagai pengembang perangkat lunak yang tahan mental dan menghasilkan produk tahan banting meskipun dikejar tenggat waktu proyek.
Orang yang tak mengenalnya sering kali menganggap kepribadiannya sebagai pemarah, tetapi mahasiswa mengetahuinya sebagai pribadi yang sangat baik, keibuan, dan humoris. Dalam siniar yang sama,[5] Inge menceritakan mahasiswanya yang menolak dibandingkan dengan keledai yang cuma terperosok sekali di tempat yang sama. "Kami bukan keledai, Bu. Jadi, boleh terperosok."
Inge menikah dengan Dr. Liem Han Gie,[4] tapi sang suami meninggal tiga tahun setelah pernikahan. Ia tidak memiliki anak kandung, tapi menganggap mahasiswanya seperti anak sendiri. Ia menuturkan kebahagiaan dan rasa bangganya saat melihat anak-anak didiknya sukses kepada Achmad Zaki (Informatika 1997), pendiri BukaLapak, saat menjadi pembicara di acara BukaTalks pada 2018.[6]
Ia meninggal di daerah perumahan dosen ITB Kanayakan. Rumah yang dipenuhi buku-buku itu berlokasi dekat dengan lokasi asrama mahasiswi ITB. Selama masih menjadi dosen ITB, ia tak segan mengklakson mahasiswa yang berjalan kaki ke kampus Ganesha untuk diajak menumpang mobilnya. Rumahnya juga seringkali dipinjamkan untuk lokasi retret perkumpulan mahasiswa Kristen ITB.[butuh rujukan]