Infleksi adalah cara sebuah bahasa mengubah bentuk kata agar sesuai dengan kebutuhan tata bahasa, tanpa mengubah makna maupun kelas kata. Jadi, infleksi bukan untuk menciptakan kata baru, tetapi untuk menyesuaikan kata dengan konteks kalimat. Perubahan ini biasanya terjadi untuk menunjukkan hal-hal seperti waktu (tense), jumlah (singular–plural), orang, kasus, aspek, mood, atau tingkat perbandingan. Misalnya dalam bahasa Inggris, walk berubah menjadi “walked” untuk menunjukkan masa lampau, atau “cat” menjadi “cats” untuk menunjukkan jumlah jamak. Meski bentuknya berubah, inti maknanya tetap sama tetapi yang berubah hanyalah informasi tata bahasa yang melekat pada kata itu.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Infleksi (bahasa Inggris: Inflection) adalah cara sebuah bahasa mengubah bentuk kata agar sesuai dengan kebutuhan tata bahasa, tanpa mengubah makna maupun kelas kata.[1] Jadi, infleksi bukan untuk menciptakan kata baru, tetapi untuk menyesuaikan kata dengan konteks kalimat. Perubahan ini biasanya terjadi untuk menunjukkan hal-hal seperti waktu (tense), jumlah (singular–plural), orang (first, second, third person), kasus, aspek, mood, atau tingkat perbandingan. Misalnya dalam bahasa Inggris, walk berubah menjadi “walked” untuk menunjukkan masa lampau, atau “cat” menjadi “cats” untuk menunjukkan jumlah jamak. Meski bentuknya berubah, inti maknanya tetap sama tetapi yang berubah hanyalah informasi tata bahasa yang melekat pada kata itu.
Infleksi pada umumnya terdiri atas verba, nomina, dan adjektiva. Verba berubah untuk menyesuaikan tense dan subjek, misalnya perubahan “go” menjadi “goes” ketika subjeknya orang ketiga tunggal. Pada nomina, penanda jamak (plural) biasanya cukup dengan menambahkan -s seperti books, walaupun ada juga bentuk irregular seperti “children”[2]. Adjektiva pun bisa mengalami infleksi untuk perbandingan, seperti “small”, “smaller”, dan “smallest”. Semua contoh ini menunjukan bahwa kata dasar tidak berubah fungsi namun tetap berperan sebagai verba, nomina, atau adjektiva karena infleksi memang tidak bertujuan mengubah kategori kata.
Bentuk-bentuk infleksi juga sering mengikuti pola tertentu, baik secara produktif maupun melalui bentuk irregular seperti “child” menjadi “children”, atau “be” menjadi “am”, “is”, “are”, “was”, dan “were”, yang menunjukkan kompleksitas sistem infleksi bahasa Inggris.
Infleksi memiliki ciri khas yang membedakannya dari proses morfologis lain seperti derivasi[3]. Infleksi tidak menghasilkan kata baru, melainkan variasi bentuk dari kata yang sama untuk mengisi kekosongan tata bahasa dalam struktur kalimat. Infleksi bersifat wajib dalam konteks tertentu, misalnya ketika subjek berbentuk sudut pandang orang ketiga tunggal verba dalam present tense harus memakai -s seperti pada “she works”. Infleksi juga tidak mengubah kelas kata: verba tetap verba, nomina tetap nomina, dan adjektiva tetap adjektiva. Berbeda dengan infleksi, derivasi membentuk kosakata baru dan dapat mengubah kelas kata, misalnya “teach” (verba) menjadi “teacher” (nomina) atau “happy” (adjektiva) menjadi “happiness” (nomina). Perbedaan mendasar ini menjadikan infleksi sebagai alat tata bahasa, sedangkan derivasi sebagai alat pembentuk makna baru.
Tidak semua bahasa memiliki sistem infleksi yang sama karena setiap bahasa memiliki sistem infleksinya sendiri.[4] Bahasa fusional seperti Latin, Rusia, dan Jerman memiliki sistem infleksi yang kompleks, di mana satu morfem dapat mengandung banyak informasi tata bahasa, misalnya sebuah akhir kata dapat menandai jenis kelamin, jumlah, dan kasus sekaligus. Bahasa aglutinatif seperti Turki menandai infleksi dengan rangkaian morfem yang jelas ada batasnya dan masing-masing membawa satu fungsi gramatikal. Bahasa isolatif seperti bahasa Mandarin memiliki sangat sedikit infleksi dan lebih banyak mengandalkan urutan kata serta kata-kata tata bahasa.
Sebaliknya, bahasa Indonesia tergolong bahasa dengan infleksi minimal. Bahasa Indonesia lebih mengandalkan kata-kata tata bahasa seperti “sudah”, “akan”, “para”, serta urutan kata untuk menandai fungsi sintaktis.[5] Proses seperti reduplikasi “buku-buku” sering dianggap menyerupai infleksi, tetapi secara teoretis lebih tepat dikategorikan sebagai proses lain karena tidak menunjukkan perubahan morfem bawaan yang menambahkan tata bahasa yang terdapat di dalam struktur kata itu sendiri. Ini merujuk pada unsur tata bahasa yang sudah melekat dalam bentuk kata, seperti perubahan bentuk kata karena afiks, perubahan vokal, atau pola morfologis lain yang menunjukkan aspek tata bahasa (misalnya jumlah, gender, atau kasus). Afiksasi dalam bahasa Indonesia seperti -kan, -i, atau pe- lebih banyak bersifat derivatif karena mengubah makna dasar dan sering kali kelas katanya.