Abdurrahman bin Abdullah bin Abi Aqil Utsman ats-Tsaqafi, juga dikenal dengan nama Ibnu Ummul Hakam, adalah seorang gubernur Arab pada masa Kekhalifahan Umayyah.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Ibnu Ummul Hakam | |
|---|---|
| Gubernur Kufah | |
| Masa jabatan 678–679 | |
| Penguasa monarki | Muawiyah bin Abi Sufyan |
| Informasi pribadi | |
| Meninggal | 685 |
| Anak | Al-Hurr |
| Orang tua |
|
| Julukan | Ibnu Ummul Hakam Abu Mutharrif Abu Sulaiman |
Abdurrahman bin Abdullah bin Abi Aqil Utsman ats-Tsaqafi (bahasa Arab: عبد الرحمن بن عبد الله بن أبي عقيل عثمان الثقفيcode: ar is deprecated ), juga dikenal dengan nama Ibnu Ummul Hakam (bahasa Arab: إبن أم الحكمcode: ar is deprecated ), adalah seorang gubernur Arab pada masa Kekhalifahan Umayyah.[1][2]
Ibnu Ummul Hakam merupakan putra dari Ummul Hakam binti Abi Sufyan. Dengan demikian, ia merupakan keponakan Khalifah Muawiyah bin Abi Sufyan (berkuasa 661–680). Ayahnya berasal dari Bani Tsaqif.[3] Silsilahnya adalah Abdurrahman bin Abdullah bin Abi Aqil Utsman bin Abdullah bin Rabi'ah bin al-Harits bin Habib bin al-Harits bin Malik bin Huthaith bin Jusyam bin Qasiyy (Tsaqif) ats-Tsaqafi al-Maliki.[4][1] Kakeknya, Abu Aqil Utsman bin Abdullah, adalah pembawa panji kaum musyrik pada Pertempuran Hunain dan terbunuh dalam keadaan kafir.[4] Panggilan atau kunyah Ibnu Ummul Hakam adalah Abu Mutharrif dan Abu Sulaiman.[1] Ia dilahirkan pada masa Nabi Muhammad masih hidup (meninggal 632).[2]
Menurut ath-Thabari, Ibnu Ummul Hakam melakukan ekspedisi militer di wilayah Bizantium pada tahun 673.[5] Pada tahun 678, pamannya mengangkatnya sebagai gubernur Kufah menggantikan Adh-Dhahhak bin Qais. Namun, menurut Ibnu Khayyath, penggantian ini terjadi setahun sebelumnya. Menurut ath-Thabari, ia menjabat selama dua tahun. Selama menjabat, Ibnu Ummul Hakam berhasil menumpas pemberontakan Khawarij, akan tetapi di sisi lain ia menganiaya penduduk Kufah sehingga mereka mengusirnya.[6] Pada tahun 679, An-Nu'man bin Basyir menggantikannya.[7]
Setelah diusir dari Kufah, Ibnu Ummul Hakam diangkat menjadi gubernur Mesir oleh pamannya. Ath-Thabari meriwayatkan bahwa Muawiyah bin Hudaij mencegahnya untuk menjadi gubernur dan berkata, "demi hidupku, kelakuanmu tidak akan berlaku kepada kami sebagaimana kamu memperlakukan saudara-saudara kami dari penduduk Kufah".[6] Kisah ini juga ditemukan di catatan Ibnu Taghribirdi dan Ibnul Atsir al-Jazari, akan tetapi Muawiyah diketahui meninggal pada tahun 672. Penyebab perbedaan dalam catatan tidak jelas.[8]
Menurut al-Baladzuri, Ibnu Ummul Hakam juga menjabat sebagai gubernur Al-Jazirah dan Mosul.[9] Ketika Fitnah Kedua pecah, Ibnu Ummul Hakam merebut Damaskus setelah kepergian Adh-Dhahhak bin Qais ke Marj Rahith untuk melawan Marwan bin al-Hakam (berkuasa 684–685) dan pendukungnya. Ibnu Ummul Hakam juga menyerukan baiat kepada Marwan.[1][10]
Ibnu Ummul Hakam disebutkan meninggal pada tahun 685 yang merupakan tahun awal kekhalifahan Abdul Malik bin Marwan (berkuasa 685–705).[2] Namun, ia sempat menjadi gubernur Jund Dimasyq pada masa Abdul Malik.[9]
Keturunannya tinggal di Damaskus. Putranya, Al-Hurr bin Abdurrahman, adalah gubernur al-Andalus untuk Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik (berkuasa 715–717).[4] Pemimpin terkemuka di al-Andalus, Abu Ghalib Tammam bin Alqamah dan Tammam bin Alqamah al-Wazir adalah keturunan dari seorang maula (budak yang dibebaskan) dari Ibnu Ummul Hakam dan mereka mengambil nisbah darinya.[11]