Hutan hujan Seram adalah kawasan ekologi hutan tropis lembap di Indonesia. Kawasan ekologi ini mencakup Pulau Seram dan pulau-pulau di sekitarnya.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Hutan hujan Seram | |
|---|---|
Hutan hujan dekat Olas, Seram | |
Kawasan ekologi (ungu) | |
| Ekologi | |
| Wilayah | Wilayah Australasia |
| Bioma | Hutan tropis dan subtropis basah berdaun lebar |
| Geografi | |
| Luas | 18,989 km2 (7,332 sq mi) |
| Negara | Indonesia |
| Provinsi | Maluku |
| Konservasi | |
| Status konservasi | Relatif stabil/utuh |
| Dilindungi | 2,000 km2%[1] |
| Templat {{{1}}} |
Hutan hujan Seram adalah kawasan ekologi hutan tropis lembap di Indonesia. Kawasan ekologi ini mencakup Pulau Seram dan pulau-pulau di sekitarnya.
Artikel ini memuat rumus-rumus matematika yang kekurangan deskripsi. |
Seram adalah pulau terbesar dalam kawasan ekologi ini dengan luas 17.148 km². Kawasan ekologi ini juga mencakup beberapa pulau kecil di sekitarnya, seperti Ambon, Haruku, Saparua, dan Manipa di sebelah selatan dan barat Seram, serta Kepulauan Gorom di tenggara.[2] Kepulauan ini bergunung-gunung, dan Gunung Binaia (3.027 meter) di Seram menjadi titik tertingginya.[3]
Pulau-pulau yang membentuk kawasan ekologi ini adalah bagian dari Wallacea, sekelompok pulau yang termasuk dalam wilayah Australasia tetapi tidak pernah menyatu dengan benua Australia maupun Asia. Pulau-pulau di Wallacea adalah rumah bagi percampuran tumbuhan dan hewan dari kedua alam tersebut, serta memiliki banyak spesies unik yang berevolusi secara terisolasi.[4] Laut Seram membatasi kawasan ekologi di utara dan timur, sementara Laut Banda berada di selatan. Garis Lydekker melintasi Laut Seram, memisahkan pulau-pulau di Wallacea dari pulau-pulau di paparan benua Australia-Nugini yang menyatu selama zaman es ketika permukaan air laut lebih rendah.[5]
Kawasan ekologi ini memiliki iklim hutan hujan tropis.[4]
Komunitas tumbuhan utama di sini adalah hutan hujan tropis dataran rendah yang selalu hijau, hutan hujan semi-hijau, dan hutan hujan pegunungan.[4]
Kawasan ekologi ini menjadi rumah bagi 38 spesies mamalia. Enam spesies di antaranya endemik bagi kawasan ekologi ini: mabaya Seram (Rhynchomeles prattorum), tikus berduri seram (Rattus feliceus), tikus ekor mosaik abu-abu (Melomys aerosus), tikus ekor mosaik manusela (Melomys fraterculus), tikus gunung seram (Nesoromys ceramicus), dan kemungkinan juga kalong maluku (Pteropus argentatus).[4]
Kawasan ekologi ini juga merupakan rumah bagi 213 spesies burung.[4] Sebanyak 16 spesies di antaranya adalah endemik, dan area ini dikenal sebagai wilayah burung endemik Seram.[6] Burung terbesar di kawasan ekologi ini adalah kasuari gelambir ganda (Casuarius casuarius), yang tidak bisa terbang.[7]
Sebuah penilaian pada tahun 2017 menemukan bahwa 2.000 km² atau 11% dari kawasan ekologi ini terdiri dari kawasan lindung. Sekitar tiga perempat dari area yang tidak dilindungi masih berupa hutan. Taman Nasional Manusela di Seram termasuk dalam kawasan lindung ini.[1]