Hutan Bambu Lumajang adalah kawasan hutan bambu seluas 9 hektar yang berlokasi di Desa Sumbermujur, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Kawasan yang dikelola oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Sabuk Semeru ini memiliki 14 jenis bambu yang telah teridentifikasi. Sistem pengelolaannya membagi area menjadi tiga zona fungsional: zona konservasi, zona semi-pengembangan, dan zona pengembangan.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Artikel ini memiliki beberapa masalah. Tolong bantu memperbaikinya atau diskusikan masalah-masalah ini di halaman pembicaraannya. (Pelajari bagaimana dan kapan saat yang tepat untuk menghapus templat pesan ini)
|

Hutan Bambu Lumajang adalah kawasan hutan bambu seluas 9 hektar yang berlokasi di Desa Sumbermujur, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Kawasan yang dikelola oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Sabuk Semeru ini memiliki 14 jenis bambu yang telah teridentifikasi. Sistem pengelolaannya membagi area menjadi tiga zona fungsional: zona konservasi (area lindung), zona semi-pengembangan (area pemanfaatan terbatas oleh warga), dan zona pengembangan (area untuk pariwisata).
Kawasan Hutan Bambu Lumajang pertama kali ditanami pada era 1930-an oleh pemerintah kolonial Belanda dengan tujuan konservasi mata air dan pencegahan erosi. Pada masa pendudukan Jepang tahun 1942, terjadi eksploitasi bambu skala besar yang mengakibatkan kerusakan signifikan pada hutan. Upaya rehabilitasi dimulai pada tahun 1972 melalui inisiatif warga dengan membentuk Kelompok Pelestari Sumberdaya Alam (KPSA). Sejak saat itu, hutan dipulihkan dan dikembangkan menjadi destinasi wisata alam yang memiliki fungsi ekologis, rekreasi, dan edukasi, serta telah dilengkapi dengan jalur pejalan kaki. Wisata hutan bambu dibuka pada tahun 2014, pengelolaan dan pembaharuan dilakukan pada tahun 2016 dengan menambah kolam renang. pembangunan selesai pada tahun 2017.
Secara historis, masyarakat Desa Sumbermujur mengenal kawasan ini dengan nama “Umbulan”. Nama ini terkait dengan kepercayaan lokal mengenai keberadaan sumber mata air yang diyakini dijaga oleh sosok yang disebut Mbah Umbul. Untuk melestarikan tradisi ini, masyarakat setempat menjalankan beberapa praktik adat, seperti ritual "pendem kepala sapi". Selain itu, terdapat larangan mengambil bambu dari dalam hutan. Aturan ini memiliki dua landasan: sebagai bentuk penghormatan terhadap kepercayaan yang ada dan sekaligus untuk mendukung fungsi Hutan Bambu sebagai kawasan konservasi.
Keanekaragaman hayati di Hutan Bambu Lumajang didominasi oleh berbagai jenis bambu, dengan total 14 spesies yang dilaporkan tumbuh di kawasan ini. di antaranya Bambu Manggong hijau (Gigantochloa Manggong), Bambu Kuning (Bambusa Vulgaris Vittata), Bambu Cendani (Phyllostachys Aurea Green), Bambu Betung (Dendrocalamus Asper), Bambu Lampar (Schizostachyum Zollingeri), Bambu Tamiang (Schizostachyum Blumei), Bambu Tali (Gigantochloa Apus kurtz), Bambu Hitam (Gigantochloa Atroviolacea), Bambu Mayan (Gigantochloa Robusta Kurz), Bambu Atter (Gigantochloa Atter), Bambu Gombong (Gigantochloa Verticillata), Bambu Ampel (Bambusa Vulgaris - Green), Bambu Tutul Loreng (Bambusa Maculata), dan Bambu Ori (Bambusa Bambos).
Dari sisi fauna, kawasan ini menjadi habitat utama bagi populasi monyet ekor panjang (Macaca fascicularis). Selain itu, ekosistem perairannya juga menjadi tempat singgah bagi Ikan Sidat (genus Anguilla) pada waktu-waktu tertentu. Kelelawar juga mendiami hutan bambu dengan waktu yang cukup jarang.
Hutan Bambu Lumajang menawarkan pengalaman wisata alam yang berpusat pada ekosistem hutan bambu, udara yang sejuk, dan populasi monyet ekor panjang di dalamnya. Sebagai pelengkap, kawasan ini juga menyediakan sebuah kolam pemandian yang dikenal sebagai Kolam Renang Pramudya. Terdapat pula beberapa struktur buatan dari bambu yang dibentuk menjadi lorong-lorong tematik, seperti Lorong Pringsewu dan Lorong Segitiga.
Hutan Bambu Lumajang memiliki signifikansi budaya yang erat kaitannya dengan tradisi masyarakat lokal. Kawasan ini menjadi lokasi untuk salah satu prosesi dalam perayaan Grebeg Suro, yaitu ritual penguburan kepala sapi yang dilaksanakan setiap tanggal 1 Muharram. Keberadaan sebuah gazebo yang dibangun khusus untuk ritual di atas sumber mata air menjadi penanda fisik dari kegiatan adat tersebut. Terkait dengan prosesi ini, terdapat kepercayaan yang dianut oleh sebagian warga setempat bahwa kemunculan Ikan Sidat, atau yang disebut 'oling', saat ritual berlangsung dianggap sebagai pertanda bahwa persembahan mereka telah diterima.
Selain itu juga ada nyadran, persembahan ucapan puji syukur atas satu keberhasilan ke alam di hutan bambu, dengan membawa nasi tumpeng dan ayam serta membawa sanak keluarga dan melaksanakan ritualnya di gazebo tempat ritual, beberapa melakukan persembahannnya dengan melemparkannya di mata air. Pelaksanaan ritual biasa dilakukan di malam Jumat Legi.