Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Hukum Bhutan

Hukum di Bhutan mengacu pada sistem hukum nasional yang berkembang dari tradisi hukum Buddhis Himalaya, hukum adat setempat, serta kerangka hukum modern yang dibentuk sejak awal abad ke-20. Sistem hukum Bhutan saat ini merupakan kombinasi antara tradisi monarki, nilai-nilai agama Buddha Vajrayana, dan prinsip-prinsip demokrasi konstitusional sejak diberlakukannya Konstitusi Bhutan tahun 2008.

Wikipedia article
Diperbarui 21 November 2025

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Hukum Bhutan
Bhutan
Artikel ini adalah bagian dari seri
Politik dan Ketatanegaraan
Kerajaan Bhutan
Konstitusi
  • Hukum
  • Hak Asasi Manusia
  • Hak LGBT
Monarki
  • Raja (daftar)
    Jigme Khesar Namgyel Wangchuck
  • Pewaris Takhta
    Putra Mahkota Jigme Namgyel Wangchuck
  • Wangsa Wangchuck
Agama Negara
  • Dratshang Lhentshog
    (Komisi Kebiaraan Bhutan)
    Ketua: Je Khenpo
    (Ketua Komisi Kebiaraan Bhutan)
Pemerintahan
  • Perdana Menteri
    Tshering Tobgay
  • Lhengye Zhungtshog
    (Dewan Menteri)
Parlemen
  • Dewan Nasional
  • Majelis Nasionaly
Sistem Yudikatif
  • Pengadilan Kerajaan
    Mahkamah Agung
    Pengadilan Tinggi
    Pengadilan Dzongkhag
    (Pengadilan Distrik)
    Dungkhag Court
    (Pengadilan Sub-distrik)
Pemilihan umum
  • Pemilihan umum terakhir
    • Dewan: 2013
    • 2018
    • Majelis: 2013
    • 2018
    • Daerah: 2011
  • Partai politik
Pembagian administratif
  • Dzongkhag (daftar)
    (Distrik)
    • Gewogs (Blok)
    • Dungkhag (Sub-distrik)
    • Thromde
    • Chiwogs
  • Desa
Hubungan luar negeri
  • Kementerian Luar Negeri
    Menteri
  • Perwakilan diplomatik
    • dari Bhutan
    • ke Bhutan
  • Paspor
    Persyaratan visa
  • Negara lainnya
  • Atlas
  • l
  • b
  • s

Hukum di Bhutan mengacu pada sistem hukum nasional yang berkembang dari tradisi hukum Buddhis Himalaya, hukum adat setempat, serta kerangka hukum modern yang dibentuk sejak awal abad ke-20. Sistem hukum Bhutan saat ini merupakan kombinasi antara tradisi monarki, nilai-nilai agama Buddha Vajrayana, dan prinsip-prinsip demokrasi konstitusional sejak diberlakukannya Konstitusi Bhutan tahun 2008.[1]

Sejarah

Tradisi hukum Bhutan berakar pada ajaran Buddha dan praktik hukum raja-raja lokal sejak abad ke-17. Pada tahun 1652, Ngawang Namgyal, pendiri negara Bhutan, mulai membentuk sistem hukum terpusat berdasarkan prinsip moral Buddhis dan struktur monarki teokratis.[2]

Reformasi besar terjadi pada masa Raja Jigme Dorji Wangchuck pada 1960-an, termasuk pembentukan lembaga peradilan modern dan kodifikasi hukum tertulis pertama.[3] Reformasi tersebut mencapai puncaknya pada 2008 dengan peresmian Konstitusi Bhutan dan beralihnya negara menjadi monarki konstitusional.[4]

Kerangka hukum

Sistem hukum Bhutan menempatkan Konstitusi sebagai norma tertinggi. Sumber hukum utama meliputi:

  • Konstitusi Bhutan 2008
  • Undang-undang Parlemen
  • Peraturan administratif kerajaan
  • Preseden pengadilan
  • Hukum adat dan prinsip Dharma Buddhis[5]

Bhutan memiliki sistem peradilan berlapis yang terdiri dari Pengadilan Distrik, Pengadilan Tinggi, dan Mahkamah Agung Bhutan. Hakim ditunjuk oleh Raja berdasarkan rekomendasi badan yudisial konstitusional.[6]

Hukum pidana dan perdata

Bhutan mengadopsi *Civil and Criminal Procedure Code* pada 2001, yang mengatur penyelesaian sengketa perdata, pidana, bukti, dan hak terdakwa.[7] Meskipun demikian, banyak kasus lokal masih diselesaikan melalui mediasi komunitas tradisional yang disebut *zhung*, selaras dengan prinsip harmoni sosial Buddhis.

Hak asasi manusia

Konstitusi menjamin kebebasan beragama, persamaan di hadapan hukum, dan perlindungan hak asasi manusia.[8] Namun, pengamat internasional mencatat tantangan terkait hak minoritas etnis, kebebasan pers, dan kebijakan nasional budaya Bhutan (*Driglam Namzha*).[9]

Hukum lingkungan

Bhutan dikenal memiliki kerangka hukum lingkungan yang sangat ketat. Konstitusi menetapkan bahwa minimal 60% wilayah negara harus tetap berhutan.[10] Prinsip pembangunan Bhutan mengikuti filosofi Gross National Happiness yang mencakup keberlanjutan ekologi sebagai pilar utama.[11]

Pendidikan hukum

Bhutan tidak memiliki fakultas hukum mandiri, tetapi pelatihan hukum disediakan melalui Royal Institute of Management dan program pelatihan hakim nasional. Banyak praktisi hukum Bhutan mendapat pendidikan pascasarjana di India atau negara Persemakmuran.[12]

Referensi

  1. ↑ Mathou 2008, hlm. 69–72.
  2. ↑ Aris 1994, hlm. 211.
  3. ↑ Black & Jenkins 2016, hlm. 45.
  4. ↑ Wangchuck 2017, hlm. 133.
  5. ↑ Black & Jenkins 2016, hlm. 54–55.
  6. ↑ Mathou 2008, hlm. 71.
  7. ↑ Wangchuck 2017, hlm. 140.
  8. ↑ Konstitusi Bhutan 2008, Pasal 7.
  9. ↑ Pommaret 2019, hlm. 301.
  10. ↑ Konstitusi Bhutan 2008, Pasal 5.
  11. ↑ Ura et al. 2012, hlm. 20.
  12. ↑ Black & Jenkins 2016, hlm. 58.

Daftar pustaka

  • Aris, Michael. The Raven Crown: The Origins of Buddhist Monarchy in Bhutan. Serindia Publications, 1994. ISBN 9780906026501.
  • Black, Ann; Jenkins, Melissa Crouch (eds.). Law and Society in Bhutan. Routledge, 2016. ISBN 9781138955759.
  • Mathou, Thierry. Bhutan: Democracy from Above? Journal of Bhutan Studies, Vol. 18, 2008.
  • Pommaret, Francoise. Bhutan: A Cultural History. Serindia Publications, 2019. ISBN 9781932476454.
  • Ura, Karma; et al. A Short Guide to Gross National Happiness Index. Centre for Bhutan Studies, 2012.
  • Wangchuck, Jigme Y. The Constitution of Bhutan and Judicial Reform. Oxford University Press, 2017.

Pranala luar

  • Mahkamah Agung Bhutan — situs resmi
  • Parlemen Bhutan — dokumen hukum dan konstitusi
  • Centre for Bhutan & GNH Studies — publikasi akademik

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Sejarah
  2. Kerangka hukum
  3. Hukum pidana dan perdata
  4. Hak asasi manusia
  5. Hukum lingkungan
  6. Pendidikan hukum
  7. Referensi
  8. Daftar pustaka
  9. Pranala luar
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026