Hou Yi seorang pemanah legendaris dalam mitologi Tiongkok. Ia juga dikenal dengan nama Shen Yi serta sering disebut secara singkat sebagai Yi (羿). Dalam berbagai kisah, ia kerap diberi gelar “Pemanah Agung” atau “Penguasa Pemanah”.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Hou Yi | |||||||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Houyi, seperti yang digambarkan dalam Xiao Yuncong's Illustrated 'Inquiry of the Heavens' (蕭雲從天問圖code: zh is deprecated ), diterbitkan tahun 1645 | |||||||||||||||||
| Hanzi: | 后羿code: zh is deprecated | ||||||||||||||||
| |||||||||||||||||
Hou Yi (Hanzi: 后羿) seorang pemanah legendaris dalam mitologi Tiongkok. Ia juga dikenal dengan nama Shen Yi serta sering disebut secara singkat sebagai Yi (羿). Dalam berbagai kisah, ia kerap diberi gelar “Pemanah Agung” atau “Penguasa Pemanah”.
Dalam beberapa versi legenda, Hou Yi digambarkan sebagai dewa panahan atau seorang xian (makhluk abadi)[1] yang turun dari langit untuk menolong umat manusia. Namun, dalam versi lain, ia digambarkan sebagai sosok setengah ilahi atau bahkan sepenuhnya manusia biasa. Istrinya, Chang’e, dikenal sebagai salah satu dewi yang berkaitan dengan bulan dalam mitologi Tiongkok.[2]
Dalam mitologi Tiongkok, dikisahkan bahwa pada mulanya terdapat sepuluh matahari. Dalam beberapa versi, matahari-matahari ini disebut sebagai putra atau cucu Kaisar Giok. Awalnya, kesepuluh matahari melintasi langit secara bergantian satu per satu. Namun, pada suatu hari mereka memutuskan untuk muncul bersamaan agar dapat bermain bersama, sehingga membakar bumi dengan panas yang berlebihan.
Hou Yi kemudian ditugaskan oleh Kaisar Yao—dalam beberapa versi disebut Kaisar Giok—untuk mengendalikan matahari-matahari tersebut. Mula-mula Hou Yi berusaha menasihati mereka. Ketika upaya itu gagal, ia berpura-pura membidikkan busurnya untuk menakut-nakuti mereka. Namun, karena matahari tetap tidak mengindahkan peringatannya, Hou Yi mulai menembakkan panahnya satu per satu. Setiap matahari yang jatuh berubah menjadi burung gagak berkaki tiga. Akhirnya, hanya tersisa satu matahari. Kaisar Yao bersama ibu sang matahari, Xihe, memohon agar matahari terakhir itu diselamatkan demi kelangsungan hidup manusia.[3]
Dalam versi lain, panah terakhir Hou Yi diceritakan dicuri, baik oleh seorang anak pemberani maupun oleh Kaisar Yao sendiri, yang menyadari bahwa dunia tetap membutuhkan satu matahari.[4][5]