Hidup yang tak teruji tak layak dijalani adalah sebuah diktum terkenal yang konon diucapkan oleh Socrates pada saat pengadilannya atas tuduhan menentang dewa dan merusak generasi muda, yang kemudian membuatnya dijatuhi hukuman mati, seperti yang dijelaskan dalam Apology, Plato (38a5-6).
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (Oktober 2022) |
Hidup yang tak teruji tak layak dijalani (bahasa Yunani Kuno: ὁ ... ἀνεξέταστος βίος οὐ βιωτὸς ἀνθρώπῳcode: grc is deprecated ) adalah sebuah diktum terkenal yang konon diucapkan oleh Socrates pada saat pengadilannya atas tuduhan menentang dewa dan merusak generasi muda, yang kemudian membuatnya dijatuhi hukuman mati, seperti yang dijelaskan dalam Apology, Plato (38a5-6).
Pernyataan ini berkaitan dengan pemahaman dan sikap Sokrates terhadap kematian dan komitmennya untuk memenuhi tujuannya dalam menyelidiki dan memahami pernyataan Pythia. Socrates percaya bahwa tanggapan Pythia terhadap pertanyaan Chaerephon adalah sebuah komunikasi dari dewa Apollo dan ini menjadi pedoman utama Socrates, raison d'etre-nya. Bagi Socrates, dipisahkan dari elenchus oleh pengasingan (mencegahnya untuk menyelidiki pernyataan tersebut), adalah nasib yang lebih buruk daripada kematian. Karena Socrates religius dan memercayai pengalaman religiusnya, seperti petunjuk suara gaib yang diikutinya, dia lebih memilih untuk terus mencari jawaban sebenarnya atas pertanyaannya di kemudian hari, daripada menjalani hidup tanpa memperoleh jawabannya di Bumi.[1]
Kata-kata itu diduga diucapkan oleh Socrates di pengadilannya setelah dia memilih kematian, bukan pengasingan. Ini mewakili (dalam istilah modern) pilihan mulia, yaitu pilihan kematian dalam menghadapi alternatif.[2]
Socrates percaya bahwa filsafat—mencintai kebijaksanaan—adalah pencarian yang paling penting di atas segalanya. Dia mencontohkan, beberapa orang mencari kebijaksanaan melalui perdebatan dan argumen logis, dengan pengujian dan berpikir, lebih dari orang lain dalam sejarah. 'Pengujianya' terhadap kehidupan dengan cara ini menyebar ke kehidupan orang lain, sehingga mereka memulai 'ujian' kehidupan mereka sendiri, tetapi dia tahu mereka semua akan mati suatu hari nanti, dengan menyadari bahwa hidup tanpa filsafat—yaitu hidup yang 'tak teruji'—tidak layak untuk dijalani.[3][4]