Hidangan kuil Korea merujuk kepada jenis hidangan yang mulanya dihidangkan di kuil-kuil Buddha Korea. Semenjak agama Buddha disebarkan ke Korea, tradisi-tradisi Buddha juga sangat memengaruhi hidangan Korea. Pada zaman Silla, chalbap, yakgwa dan yumilgwa disajikan pada altar-altar Buddha dan berkembang dalam jenis-jenis hangwa, manisan tradisional Korea. Pada zaman Dinasti Goryeo, sangchu ssam, yaksik, dan yakgwa dikembangkan, sehingga menyebar ke Tiongkok dan negara lain. Sejak zaman Dinasti Joseon, hidangan Buddha telah menyebar ke berbagai wilayah dan kuil di Korea.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (Oktober 2022) |
| Hidangan kuil Korea | |
Hidangan kuil Korea di Sanchon, sebuah tempat makan yang terletak di Insadong, Seoul. | |
| Nama Korea | |
|---|---|
| Hangul | 사찰음식code: ko is deprecated |
| Hanja | |
| Alih Aksara | sachal eumsik |
| McCune–Reischauer | sach'al ŭmsik |
Hidangan kuil Korea merujuk kepada jenis hidangan yang mulanya dihidangkan di kuil-kuil Buddha Korea. Semenjak agama Buddha disebarkan ke Korea, tradisi-tradisi Buddha juga sangat memengaruhi hidangan Korea. Pada zaman Silla (57 SM - 935 M), chalbap (찰밥, semangkuk nasi gluten masak), yakgwa (약과, manisan goreng) dan yumilgwa (nasi ringan goreng dan mekar) disajikan pada altar-altar Buddha dan berkembang dalam jenis-jenis hangwa, manisan tradisional Korea. Pada zaman Dinasti Goryeo, sangchu ssam (hidangan gulung yang terbuat dari selada), yaksik, dan yakgwa dikembangkan, sehingga menyebar ke Tiongkok dan negara lain. Sejak zaman Dinasti Joseon, hidangan Buddha telah menyebar ke berbagai wilayah dan kuil di Korea.[1][2]