Hidangan Kalimantan Utara adalah tradisi memasak dari penduduk provinsi Kalimantan Utara, Indonesia. Hidangan ini dipengaruhi oleh etnis yang mendiami provinsi ini dengan ciri utama adalah menggunakan bahan lokal yang terdapat di alam, lauk utama berupa ikan air tawar dan minim rempah. Berbeda dengan hidangan dari etnis lainnya di pulau Kalimantan seperti hidangan Banjar dan hidangan Melayu dari Kalimantan Barat yang banyak bersentuhan dengan dunia luar, sehingga sudah terkenal, hidangan dari Kalimantan Utara umumnya berupa makanan sehari-hari dan memiliki tehnik memasak tersendiri.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (April 2025) |
Hidangan Kalimantan Utara adalah tradisi memasak dari penduduk provinsi Kalimantan Utara, Indonesia. Hidangan ini dipengaruhi oleh etnis yang mendiami provinsi ini dengan ciri utama adalah menggunakan bahan lokal yang terdapat di alam, lauk utama berupa ikan air tawar dan minim rempah. Berbeda dengan hidangan dari etnis lainnya di pulau Kalimantan seperti hidangan Banjar dan hidangan Melayu dari Kalimantan Barat yang banyak bersentuhan dengan dunia luar, sehingga sudah terkenal, hidangan dari Kalimantan Utara umumnya berupa makanan sehari-hari dan memiliki tehnik memasak tersendiri.
Masyarakat Dayak yang tinggal di Kalimantan Utara menganggap hutan sebagai sumber kehidupan mereka. Di dalam hutan, mereka bisa mendapatkan bahan-bahan makanan seperti umbut, akar, biji, daun, bunga dan hewan liar. Hidup keterasingan di tengah hutan membuat mereka tidak mengenal rempah sebagai bumbu.[1]
Sama seperti tradisi memasak warga Dayak lainnya, Dayak di Kalimantan Utara juga mengenal tehnik fermentasi bahan makanan. Hal ini bisa ditemukan pada hidangan Teluk, yaitu hidangan dari ikan pelian atau babi yang disimpan dalam wadah bersama beras sangrai dalam keadaan mentah. Hidangan fermentasi ini adalah makanan yang awet selama beberapa hari/bulan berikutnya dan digunakan sebagai bekal makanan saat pergi berladang dan meninggalkan rumah. Selain itu, proses fermentasi ini juga digunakan untuk mengawetkan hewan hasil buruan untuk dimakan kembali ketika sudah tiba di rumah.[1] Hal ini sepintas mirip dengan proses membuat wadi oleh warga Dayak di bagian pulau Kalimantan lainnya dan pakasam yang umumnya dilakukan oleh etnis Banjar.

Hidangan dari etnis Dayak Kenyah Umaq Long umumnya menggunakan bahan lokal seperti pakis, umbut rotan, daun bekai, kecombrang (blusut), biji payang dan bambu sebagai alat untuk memasak. Umumnya, mereka hanya menggunakan garam Krayan yang didapatkan dari mata air gunung sebagai tambahan penyedap rasa dan daun bekai untuk menambahkan rasa gurih.[1]
Adapun hidangan yang ditemukan di Kalimantan Utara adalah sebagai berikut:[1]