Dalam kimia organik, hemiasetal adalah suatu gugus fungsi dengan rumus umum R1R2C(OH)OR, dengan R1, R2 adalah suatu atom hidrogen atau suatu substituen organik. Gugus ini umumnya terbentuk melalui reaksi adisi nukleofilik antara suatu alkohol dengan suatu aldehida atau keton dalam kondisi asam. Adisi alkohol terhadap keton lebih sering disebut sebagai hemiketal. Contoh hemiasetal yang umum dijumpai adalah monosakarida siklik. Hemiasetal juga dimanfaatkan sebagai gugus pelindung serta sebagai zat antara (intermediat) dalam sintesis heterosiklik beroksigen, seperti tetrahidrofuran.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


Dalam kimia organik, hemiasetal adalah suatu gugus fungsi dengan rumus umum R1R2C(OH)OR, dengan R1, R2 adalah suatu atom hidrogen atau suatu substituen organik. Gugus ini umumnya terbentuk melalui reaksi adisi nukleofilik antara suatu alkohol (senyawa yang memiliki sedikitnya satu gugus hidroksil) dengan suatu aldehida (R−CH=O) atau keton (R2C=O) dalam kondisi asam. Adisi alkohol terhadap keton lebih sering disebut sebagai hemiketal. Contoh hemiasetal yang umum dijumpai adalah monosakarida siklik. Hemiasetal juga dimanfaatkan sebagai gugus pelindung serta sebagai zat antara (intermediat) dalam sintesis heterosiklik beroksigen, seperti tetrahidrofuran.
Menurut definisi IUPAC, dalam suatu hemiasetal, gugus R1 dan R2 dapat berupa hidrogen ataupun bukan hidrogen. Pada hemiketal, kedua gugus R tersebut tidak boleh berupa hidrogen. Oleh karena itu, hemiketal dianggap sebagai subkelas dari hemiasetal.[1]
Awalan hemi, yang berarti setengah, merujuk pada penambahan satu molekul alkohol ke dalam gugus karbonil. Jumlah ini merupakan setengah dari alkohol yang diperlukan untuk membentuk asetal atau ketal.[2]
Hemiasetal siklik dalam beberapa konteks juga disebut sebagai laktol.[3]
Hemiasetal terbentuk melalui reaksi antara alkohol dengan aldehida atau keton. Dengan adanya katalis asam, reaksi ini berlangsung melalui serangan nukleofilik alkohol terhadap gugus karbonil.[4] Serangan nukleofilik lanjutan dari alkohol terhadap hemi-asetal akan menghasilkan asetal.[2] Larutan aldehida sederhana dalam alkohol umumnya didominasi oleh bentuk hemi-asetal. Kesetimbangan reaksi ini bersifat dinamis dan dapat dengan mudah dibalik melalui hidrolisis. Posisi kesetimbangan tersebut juga peka terhadap pengaruh sterik.[5]
| Senyawa karbonil | Pelarut alkohol | %hemiasetal |
|---|---|---|
| asetaldehida | metanol | 97 |
| asetaldehida | etanol | 91 |
| propionaldehida | metanol | 95 |
| bromoaseton | metanol | 47 |
Hemi-asetal siklik sering kali terbentuk dengan mudah, terutama jika menghasilkan cincin beranggota lima atau enam. Pada kondisi ini, gugus hidroksi bereaksi dengan gugus karbonil dalam molekul yang sama sehingga terjadi reaksi siklisasi intramolekul.[6]

