Hari Kemanusiaan Sedunia ditetapkan oleh Majelis Umum PBB pada tahun 2008 dan pertama kali diperingati secara resmi pada tahun 2009.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Hari Kemanusiaan Sedunia ditetapkan oleh Majelis Umum PBB pada tahun 2008 dan pertama kali diperingati secara resmi pada tahun 2009.
Tragedi yang menimpa markas besar PBB di Baghdad, Irak, pada tahun 2003 menjadi peristiwa kelam dalam sejarah kemanusiaan. Serangan tersebut mengakibatkan tewasnya 22 pekerja kemanusiaan yang tengah berupaya memberikan bantuan bagi masyarakat terdampak perang dan konflik. Sejak saat itu, setiap tanggal 19 Agustus diperingati sebagai momen untuk mengenang serta mengapresiasi kontribusi para pekerja kemanusiaan yang berjuang di garis depan demi membantu mereka yang paling rentan.[1]
Hari Kemanusiaan Sedunia tidak hanya bertujuan untuk menghormati para pekerja kemanusiaan yang telah berkorban, tetapi juga untuk meningkatkan kesadaran global terhadap tantangan dalam menyalurkan bantuan. Setiap tahunnya, PBB meluncurkan kampanye khusus guna mengajak masyarakat terlibat dalam berbagai inisiatif kemanusiaan. Sejak kampanye ini dimulai pada tahun 2009, perhatian terhadap isu-isu kemanusiaan terus meningkat, meskipun berbagai tantangan masih dihadapi.
Secara global, kampanye Hari Kemanusiaan Sedunia bertujuan untuk mengadvokasi kelangsungan hidup, kesejahteraan, serta martabat individu yang terdampak krisis, sekaligus menyoroti pentingnya keselamatan dan keamanan bagi para pekerja kemanusiaan.
Di Indonesia, peringatan ini melibatkan berbagai lembaga seperti Kementerian Sosial, Badan Nasional Penanggulangan Bencana, serta Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. Mereka bekerja sama dengan pemangku kepentingan lainnya, termasuk pemerintah, sektor swasta, organisasi masyarakat sipil, Palang Merah, lembaga keagamaan, serta badan-badan PBB untuk menyelenggarakan serangkaian kegiatan sepanjang Agustus 2022, dengan acara puncak pada 19 Agustus 2022.
Pada peringatan tahun tersebut, Klaster Pengungsian dan Perlindungan—mekanisme koordinasi multipihak dalam menangani manajemen pengungsian, perlindungan kelompok rentan (anak, lansia, perempuan, penyandang disabilitas), dukungan psikososial, serta bantuan non-tunai—melaksanakan gladi atau simulasi koordinasi baik di tingkat pusat maupun daerah terdampak. Latihan ini bertujuan untuk memperkuat kesiapsiagaan serta efektivitas manajemen koordinasi dalam respons kemanusiaan.
Tema Hari Kemanusiaan Sedunia 2022 adalah #ItTakesAVillage dengan pesan utama bahwa "Sendirian, pencapaian kita terbatas, tetapi bersama, kita memiliki kekuatan luar biasa." Tema turunannya, “Together Stronger”, menekankan pentingnya kolaborasi dalam menghadapi megakrisis serta mendorong kemandirian masyarakat melalui kerja sama berbagai pihak. Sejalan dengan pepatah bahwa "dibutuhkan satu desa untuk membesarkan seorang anak," semangat ini juga berlaku dalam membantu mereka yang terdampak krisis kemanusiaan, di mana masyarakat terdampak sering kali menjadi garda terdepan dalam merespons bencana.[2]