Haji Sumatrabhumi [yang berarti "Raja Tanah Sumatera"] adalah seorang Yowa Raja Sriwijaya pada era keemasan Sriwijaya yang mengirimkan utusannya ke Tiongkok pada tahun 1017. Namanya tercatat dalam sumber Tiongkok sebagai Ha-ch'i-su-wa-ch'a-p'u. Haji Sumatrabhumi beliau bergelar Punku Haji Yowa Rajya Sri Haridewa sebagaimana tertatah pada Prasasti Hujung Langit di Bhumi Lampung.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Haji Sumatrabhumi [yang berarti "Raja Tanah Sumatera"][1][2] adalah seorang Yowa Raja Sriwijaya pada era keemasan Sriwijaya yang mengirimkan utusannya ke Tiongkok pada tahun 1017.[3][4] Namanya tercatat dalam sumber Tiongkok sebagai Ha-ch'i-su-wa-ch'a-p'u.[5][6] [7] Haji Sumatrabhumi beliau bergelar Punku Haji Yowa Rajya Sri Haridewa sebagaimana tertatah pada Prasasti Hujung Langit di Bhumi Lampung.
Para utusan yang dikirimkan Baginda Haji Sumatrabhumi membawa surat bertulisan emas, dengan persembahan hadiah mutiara, gading, buku berbahasa Sansekerta, serta budak.[5][8] Kaisar Tiongkok sangat berkenan kepada para Diplomat utusan Baginda, dan mengizinkan para utusan tersebut melihat-lihat bangunan kerajaan, sebelum membawa pulang surat balasan beserta beragam hadiah lainnya.[5]
Pada masa pemerintahan Yowa Raja Haji Sumatrabhumi, Kedatuan Sriwijaya mencapai puncak keemasannya dan diperkirakan mulai mengalami kampanye militer dari Chola, yang puncaknya terjadi pada tahun 1025 di bawah pimpinan Raja Rajendra I.[3] Kejadian tersebut tercatat pada Prasasti Tanjore.[3] Penguasa Sriwijaya sesudah beliau adalah Sangrama Vijayottunggawarman, yang tertawan oleh Cholamandala dalam serangannya ke Kedah [Kadaram].[3]