Hafir, atau haffir, merupakan sebuah wadah penampungan air buatan yang dibangun oleh masyarakat Sudan, Afrika sejak masa lalu. Hafir dibangun dengan konstruksi dinding tanah berbentuk melingkar. Diameter dari hafir berkisar antara 70 hingga 250 meter, dengan ketinggian yang dapat mencapai 7 meter. Hafir dirancang khusus untuk menampung air selama musim hujan dan menyimpannya untuk digunakan dalam beberapa bulan ke depan selama musim kemarau. Pada musim kemarau, air yang terkumpul di hafir digunakan untuk memenuhi kebutuhan air minum, irigasi sawah, dan juga untuk memberi minum ternak. Hal tersebut menunjukkan betapa pentingnya hafir dalam mendukung kelangsungan hidup masyarakat di daerah semi gurun.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


Hafir, atau haffir, merupakan sebuah wadah penampungan air buatan yang dibangun oleh masyarakat Sudan, Afrika sejak masa lalu. Hafir dibangun dengan konstruksi dinding tanah berbentuk melingkar. Diameter dari hafir berkisar antara 70 hingga 250 meter, dengan ketinggian yang dapat mencapai 7 meter.[1] Hafir dirancang khusus untuk menampung air selama musim hujan dan menyimpannya untuk digunakan dalam beberapa bulan ke depan selama musim kemarau. Pada musim kemarau, air yang terkumpul di hafir digunakan untuk memenuhi kebutuhan air minum, irigasi sawah, dan juga untuk memberi minum ternak. Hal tersebut menunjukkan betapa pentingnya hafir dalam mendukung kelangsungan hidup masyarakat di daerah semi gurun.[2][3]
Hafir menjadi salah satu ciri khas peradaban Meroitik di wilayah Butana, Sudan. Banyak hafir dibangun di sekitar kuil-kuil, salah satunya adalah Great Hafir yang terletak dekat dengan Kuil Singa di Musawwarat es-Sufra. Hingga saat ini, sekitar 800 hafir, baik yang kuno maupun yang modern telah tercatat masuk ke dalam wilayah Butana.[3] Beberapa ahli sejarah berpendapat bahwa pembangunan hafir di dekat kuil merupakan bagian dari kebijakan Meroitik untuk mengontrol pergerakan masyarakat dan untuk mengumpulkan pajak dari mereka. Dalam hal ini, hafir tidak hanya berfungsi sebagai sarana penampungan air, tetapi juga sebagai alat pengatur sosial dan ekonomi di masa itu.[4]
Hafir merupakan warisan budaya yang penting di masa lalu yang hingga pada masa saat sekarang ini masih digunakan di Sudan Tengah dan Sudan Selatan. Hafir modern saat ini memiliki kapasitas penampungan antara 10.000 meter kubik hingga 60.000 meter kubik air. Umumnya, pengelolaan hafir dilakukan oleh masyarakat desa setempat, yang memanfaatkannya untuk irigasi pertanian. Namun, hanya hafir yang digali oleh pemerintah yang dapat diakses oleh kawanan ternak pengembara. Sistem ini menunjukkan kelangsungan tradisi penggunaan hafir sebagai sumber air vital di daerah yang sangat bergantung pada ketersediaan air selama musim kemarau. Sebagai alat yang sudah ada selama berabad-abad, hafir tetap menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat di kawasan Sudan ini, mendukung keberlanjutan pertanian dan peternakan dalam kondisi iklim yang keras.[5]