Gua-gua di karst Maros-Pangkep atau Gua Leang-Leang terletak di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Indonesia, sekitar satu jam di utara kota Makassar. Geopark Leang-Leang terletak di wilayah karst batu kapur yang dipenuhi gua-gua yang berisi lukisan dari zaman Paleolitikum yang dianggap sebagai seni figuratif tertua di dunia, yang diperkirakan berasal dari setidaknya 51.200 tahun yang lalu.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


Gua-gua di karst Maros-Pangkep atau Gua Leang-Leang (dari kata bahasa Makassar yang berarti "banyak gua") terletak di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Indonesia, sekitar satu jam di utara kota Makassar. Geopark Leang-Leang terletak di wilayah karst batu kapur yang dipenuhi gua-gua yang berisi lukisan dari zaman Paleolitikum yang dianggap sebagai seni figuratif tertua di dunia, yang diperkirakan berasal dari setidaknya 51.200 tahun yang lalu.[1][2][3]
Penggalian arkeologi telah mengungkapkan bukti keberadaan manusia di beberapa gua ini yang berasal dari sekitar 50.000 tahun yang lalu (sekitar 50.000 SM), mendahului migrasi Austronesia pertama dari Taiwan ke Filipina dan kepulauan Indonesia yang lebih luas, yang dimulai sekitar 2000 SM. Di antara temuan tersebut adalah lukisan prasejarah, termasuk lukisan gua oker merah (stensil tangan negatif). Di kompleks gua Maros, beberapa karya seni ini telah diperkirakan berasal dari sekitar 51.200 tahun yang lalu. Teknik serupa dapat dilihat di situs prasejarah di Eropa, seperti gua Pech Merle di wilayah Lot Prancis, yang diperkirakan berusia sekitar 25.000 tahun.[4]
Leang Karampuang: Memiliki lukisan batu tertua yang diketahui, bertanggal 51.200 tahun yang lalu.[3]
Leang Tedongnge: Memiliki lukisan babi yang berasal dari setidaknya 45.500 tahun yang lalu.
Gua-gua ini telah dikenal dan digunakan oleh penduduk setempat sejak lama. Para arkeolog Belanda mulai menggali di gua-gua terdekat selama tahun 1950-an, tetapi gua Pettakare pertama kali diperiksa oleh arkeolog Inggris Ian Glover pada tahun 1973.[5]
Pemeriksaan ilmiah yang dilakukan pada tahun 2011 memperkirakan bahwa stensil tangan dan lukisan hewan di dinding berusia antara 35.000 dan 40.000 tahun.[5][6] Usia lukisan diperkirakan melalui analisis jejak radioaktif kecil isotop uranium yang ada di kerak yang telah terakumulasi di atas lukisan. Pada Oktober 2014, pemerintah Indonesia berjanji untuk "meningkatkan" perlindungan lukisan gua kuno, dan mengumumkan rencana untuk menempatkan semua gua tersebut di Sulawesi dalam daftar "warisan budaya" resmi nasional, serta mengajukan permohonan untuk dimasukkan dalam daftar Situs Warisan Dunia UNESCO.[7]