Greenland 2: Migration adalah film bencana pasca apokaliptik Amerika tahun 2026 yang merupakan sekuel dari film bencana Greenland (2020) yang disutradarai oleh Ric Roman Waugh, berdasarkan naskah yang ditulis oleh Chris Sparling dan Mitchell LaFortune. Film ini kembali dibintangi Gerard Butler dan Morena Baccarin yang memerankan kembali peran karakter mereka seperti film pertamanya. Film ini juga menampilkan Roman Griffin Davis, Amber Rose Revah, Gordon Alexander, Peter Polycarpou, William Abadie, dan Tommie Earl Jenkins.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Greenland 2: Migration | |
|---|---|
Poster penayangan di bioskop | |
| Sutradara | Ric Roman Waugh |
| Produser |
|
| Ditulis oleh |
|
Berdasarkan | Characters oleh Chris Sparling |
| Pemeran |
|
| Penata musik | David Buckley |
| Sinematografer | Martin Ahlgren |
| Penyunting | Colby Parker Jr. |
Perusahaan produksi |
|
| Distributor | Lionsgate |
Tanggal rilis |
|
| Durasi | 98 minutes[1] |
| Negara | United States United Kingdom |
| Bahasa | English |
| Anggaran | $90 juta[2] |
Pendapatan kotor | $25,8 juta[3][4] |
Greenland 2: Migration adalah film bencana pasca apokaliptik Amerika tahun 2026 yang merupakan sekuel dari film bencana Greenland (2020) yang disutradarai oleh Ric Roman Waugh, berdasarkan naskah yang ditulis oleh Chris Sparling dan Mitchell LaFortune. Film ini kembali dibintangi Gerard Butler dan Morena Baccarin yang memerankan kembali peran karakter mereka seperti film pertamanya. Film ini juga menampilkan Roman Griffin Davis (menggantikan Roger Dale Floyd), Amber Rose Revah, Gordon Alexander, Peter Polycarpou, William Abadie, dan Tommie Earl Jenkins.
Greenland 2: Migration pertama kali dirilis di Austria pada 6 Januari 2026, kemudian di Amerika Serikat pada 9 Januari 2026 oleh Lionsgate. Film ini menerima ulasan beragam dari para kritikus.
Lima tahun setelah komet antarbintang Clarke menghancurkan sebagian besar Bumi dan peradaban manusia,[a] kondisi planet masih kacau. Badai elektromagnetik bisa muncul tiba-tiba, radiasi sisa tumbukan masih menyebar, dan gempa bumi akibat pergeseran lempeng terus mengguncang. Keluarga Garrity berhasil bertahan hidup dengan tinggal di bunker bawah tanah di Greenland. Allison kini menjadi salah satu pemimpin komunitas, John berperan sebagai penjelajah sekaligus insinyur yang menjaga keberlangsungan tempat itu, sementara Nathan, putra mereka yang kini remaja, bercita-cita menjadi penjelajah seperti ayahnya. Namun, suatu hari gempa besar meruntuhkan bunker, memaksa evakuasi darurat semua penyintas yang selama ini berlindung di dalamnya. Sebagian besar dari mereka tewas akibat tsunami, dan fasilitas tersebut hancur total.
Keluarga Garrity bersama Dr. Amina berhasil menyelamatkan diri dengan sekoci bersama beberapa penyitas lain, dan mencapai Liverpool. Para penyintas dari Greenland terpisah ketika terjadi baku tembak antara warga lokal yang berebut masuk ke bunker penyelamatan di kota tersebut. Mereka akhirnya tiba di sebuah gedung kediaman Mackenzie (salah satu wanita tua yang mereka kenal sejak sebelum bencana tumbukan Clarke) di London, beristirahat dan tinggal di sana selama beberapa hari. Setelah Allison mengetahui bahwa umur John hanya tersisa enam minggu lagi akibat efek terkena radiasi, John memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju Prancis. Mereka percaya bahwa kawah bekas tumbukan Clarke di Teluk Singa dan Laut Mediterania adalah tempat manusia bisa mulai membangun kembali peradaban. Rumor jaringan penyintas menyebut kawasan itu tanahnya sangat subur, dan masalah radiasi maupun tektonik telah berakhir, sehingga diperebutkan berbagai pihak dan dijaga ketat oleh pasukan militer.
Di tengah perjalanan, Amina tewas ditembak bandit saat menuju Dover. Mereka menyeberangi Selat Inggris yang kini berubah menjadi daratan tandus berangin, lalu bertemu keluarga Prancis di Calais yang memberi mereka perlindungan. Atas permintaan keluarga itu, Garrity membawa putri mereka, Camille, untuk bersama-sama menuju kawah. Perjalanan berlanjut hingga garis depan di mana terjadi pertempuran sengit antara militer Koalisi Timur dan Koalisi Barat yang berusaha merebut wilayah kawah. Dalam perjalanan, rombongan mereka disergap, dan John tertembak saat mencoba menaklukkan para bandit.
Pada akhirnya, keluarga Garrity tiba di kawah. Di sana mereka menemukan tanah subur, danau jernih, serta langit cerah bebas dari abu dan badai energi—membuktikan rumor dan teori yang disampaikan oleh Dr. Amina benar adanya. Seperti yang pernah diperkirakan Amina, kondisi di kawah tersebut mirip dengan pertumbuhan sangat luar biasa setelah peristiwa kepunahan Kapur–Paleogen. John menghembuskan napas terakhirnya di depan tujuan mereka, tenang karena berhasil menjaga Allison dan Nathan hingga menemukan harapan baru untuk kehidupan yang lebih baik.
Pada Juni 2021 diumumkan bahwa sebuah sekuel berjudul Greenland: Migration sedang dalam tahap pengembangan. Sebulan kemudian, STX memperoleh hak distribusi global untuk film tersebut senilai 75 juta dolar Amerika pada Festival Film Cannes 2021.[5] Perusahaan kemudian ditempatkan dalam perlindungan kebangkrutan,[6] sebagian besar pemeran kembali terlibat, dan meskipun Morena Baccarin semula enggan, ia akhirnya setuju untuk kembali membintangi sekuel ini.[7] Roman Griffin Davis menggantikan Roger Dale Floyd dalam memerankan Nathan Garrity. Pada Mei 2024, Lionsgate memperoleh hak distribusi film ini untuk wilayah Amerika Serikat.[8] Eric Freidenberg menjadi editor film ini pasca produksi.[9]
Pengambilan gambar utama dimulai pada 29 April 2024 di Shinfield Studios dan Alton, Hampshire, United Kingdom serta di Iceland.[10][11] Proses syuting selesai dan resmi berakhir pada Juli 2024.[12]