Grebegan atau yang dikenal juga dengan sebutan Mulutan, merupakan sebuah tradisi yang diselenggarakan oleh Keraton Solo pada tanggal 12 Rabiul Awal, bertepatan dengan peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Tradisi ini memiliki makna penting dalam budaya masyarakat Solo, di mana pihak keraton membagikan berbagai hasil bumi dan sajian khusus kepada masyarakat.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Artikel ini membutuhkan lebih banyak pranala ke artikel lain untuk meningkatkan kualitasnya. (Juni 2025) |

Grebegan atau yang dikenal juga dengan sebutan Mulutan, merupakan sebuah tradisi yang diselenggarakan oleh Keraton Solo pada tanggal 12 Rabiul Awal, bertepatan dengan peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Tradisi ini memiliki makna penting dalam budaya masyarakat Solo, di mana pihak keraton membagikan berbagai hasil bumi dan sajian khusus kepada masyarakat.
Istilah "grebegan" berasal dari kata "grebeg" yang bermakna menangkap, menggambarkan antusiasme masyarakat dalam menerima berkah dari acara ini. Sementara itu, nama "mulutan" berasal dari kata "maulid," yang dalam penyebutan masyarakat Jawa mengalami perubahan menjadi "mulut," kemudian memperoleh akhiran "-an" yang lazim dalam pembentukan kata dalam bahasa Jawa, sehingga menjadi "mulutan."
Grebegan, atau yang juga disebut mulutan, merupakan tradisi turun-temurun yang telah berlangsung sejak berdirinya Keraton Solo hingga masa kini. Tradisi ini berakar pada upaya penyebaran agama Islam di wilayah Solo, terutama melalui proses akulturasi antara budaya Hindu dan Islam yang dilakukan oleh para pemimpin keraton. Dengan pendekatan budaya yang meleburkan unsur-unsur keduanya, ajaran Islam menjadi lebih mudah diterima oleh masyarakat setempat, sehingga turut meningkatkan jumlah pemeluk agama Islam di daerah tersebut.
Dalam perayaan Grebegan, masyarakat menerima dua gunungan besar yang terdiri dari beragam hasil bumi seperti tomat, mentimun, bawang merah, bawang putih, dan berbagai jenis sayur serta buah lainnya. Gunungan tersebut pertama-tama dibuat oleh pihak keraton, lalu dibawa ke Masjid Agung Solo untuk dipanjatkan doa sebagai ungkapan rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan. Doa tersebut juga dimaksudkan agar kehidupan masyarakat Solo senantiasa sejahtera. Setelah doa selesai, gunungan dibawa ke tengah alun-alun kota Solo, di mana pihak keraton mulai melemparkan sayuran dan buah-buahan kepada masyarakat yang telah menunggu dengan antusias. Mereka berusaha menangkapnya dengan harapan memperoleh keberkahan dalam kehidupan mereka.
Sebagai salah satu warisan budaya Nusantara yang kaya dan beragam, tradisi Grebegan mencerminkan perpaduan unik antara sejarah, agama, dan nilai sosial yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Solo. Oleh karena itu, pelestarian budaya seperti ini menjadi tanggung jawab bersama guna menjaga keberagaman budaya Indonesia agar tetap lestari dan berkontribusi dalam kemajuan bangsa.[1]