Good News adalah sebuah film komedi gelap bencana Korea Selatan tahun 2025 yang ditulis dan disutradarai oleh Byun Sung-hyun untuk Netflix. Peran-peran utamanya dimainkan oleh Sul Kyung-gu, Hong Kyung dan Ryu Seung-beom. Film ini terinspirasi dari kisah pembajakan pesawat penumpang Jepang pada Maret 1970, dengan alur cerita yang berkisah tentang sebuah misi rahasia pimpinan sebuah kelompok dengan tujuan untuk menurunkan pesawat yang dibajak dengan selamat dengan menggunakan taktik apa pun yang dibutuhkan dalam situasi tersebut.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Good News | |
|---|---|
Poster penayangan di bioskop | |
| Nama lain | |
| Hangul | 굿뉴스code: ko is deprecated |
| RR | Gunnyuseu |
| MR | Kunnyusŭ |
| Sutradara | Byun Sung-hyun |
| Ditulis oleh |
|
| Pemeran | |
| Penata musik |
|
| Sinematografer | Jo Hyoung-rae |
| Penyunting | Kim Sang-bum |
Perusahaan produksi | Star Platinum |
| Distributor | Netflix |
Tanggal rilis |
|
| Durasi | 136 menit |
| Negara | Korea Selatan |
| Bahasa | Korea Jepang |
Good News (Hangul: 굿뉴스code: ko is deprecated ) adalah sebuah film komedi gelap bencana Korea Selatan tahun 2025 yang ditulis dan disutradarai oleh Byun Sung-hyun untuk Netflix. Peran-peran utamanya dimainkan oleh Sul Kyung-gu, Hong Kyung dan Ryu Seung-beom. Film ini terinspirasi dari kisah pembajakan pesawat penumpang Jepang pada Maret 1970,[1] dengan alur cerita yang berkisah tentang sebuah misi rahasia pimpinan sebuah kelompok dengan tujuan untuk menurunkan pesawat yang dibajak dengan selamat dengan menggunakan taktik apa pun yang dibutuhkan dalam situasi tersebut.[2]
Film ini tayang perdana di sesi Special Presentations dari Festival Film Internasional Toronto 2025 pada 5 September 2025.[3][4] Film ini mulai ditayangkan secara global di Netflix pada 17 Oktober 2025, setelah ditayangkan di festival tersebut.[5]
Pada tahun 1970, tak lama setelah lepas landas dari Bandara Haneda Tokyo menuju Itazuke, pesawat penumpang Japanese Ride 351 dibajak oleh anggota faksi Tentara Merah yang bersenjatakan senapan, senjata tajam, dan rompi bom. Para pembajak muda ini menjuluki diri mereka sebagai Ashita no Joe. Mereka menuntut agar diterbangkan ke Pyongyang, Korea Utara, dengan harapan bisa menghimpun kekuatan bersama komunis Jepang lainnya untuk membentuk tentara revolusioner demi menggulingkan pemerintah Jepang. Kapten Takehiro Kubo mencoba berdiplomasi; ia berdalih bahwa ia dan kopilotnya tidak mengetahui lokasi Pyongyang maupun frekuensi pemandu udaranya. Ia bahkan mengelabui para pembajak soal cadangan bahan bakar, mengklaim bahwa bensin mereka tidak akan cukup untuk menempuh perjalanan tersebut. Akhirnya, para pembajak mengizinkan pesawat mendarat di Itazuke untuk mengisi bahan bakar dan mengambil peta. Setibanya di sana, otoritas Jepang ragu untuk bertindak karena khawatir akan keselamatan para sandera. Sebuah jet tempur milik Angkatan Udara Jepang sengaja diparkir di depan pesawat untuk mengulur waktu. Para pembajak pun berhasil dibujuk untuk membebaskan tawanan lansia, orang sakit, dan anak-anak. Namun pada akhirnya, pesawat tersebut tetap diizinkan bertolak menuju Pyongyang dengan 106 sandera warga Jepang yang masih terjebak di dalamnya.
Di sisi lain, badan intelijen Korea Selatan (KCIA) mencium peristiwa ini. Direktur Park Sang-hyeon kemudian menugaskan "Nobody"—seorang pembelot Korea Utara tanpa dokumen sekaligus 'pemberes masalah' andalan KCIA—untuk menyelamatkan para sandera. Misi ini bukan tanpa pamrih; Korea Selatan ingin meraup citra positif di mata dunia sekaligus membuat pemerintah Jepang berutang budi kepada mereka. Nobody memilih strategi tipu muslihat: ia ingin mengecoh pembajak agar mengira mereka mendarat di Pyongyang, padahal sebenarnya di Seoul. Ia merekrut Letnan Seo Go-myung dari Angkatan Udara Republik Korea, salah satu personel militer elit Korea Selatan yang menguasai sistem navigasi RAPCON Pasukan Amerika Serikat Korea, untuk menyamar menjadi pemandu udara Korea Utara. Kejar-kejaran frekuensi terjadi; baik Seo maupun pemandu udara Angkatan Udara Rakyat Korea yang sama-sama mencoba menghubungi pesawat melalui frekuensi darurat. Berkat ketangkasannya, Seo berhasil lebih cepat menekan tombol dan meyakinkan pilot untuk beralih ke frekuensi Korea Selatan, yang kemudian menuntun Japanese Ride 351 mendarat di Bandara Internasional Gimpo.
Di Gimpo, Nobody telah menyulap suasana bandara agar tampak persis seperti Bandara Internasional Pyongyang. Ia bahkan meminta bantuan seorang sutradara film yang kemudian mengerahkan aktor-aktor untuk berperan sebagai tentara dan penari dalam upacara penyambutan khas Korea Utara. Namun, para pembajak yang tengah tegang itu menolak turun. Mereka segera menyadari ada yang janggal: mulai dari pesawat komersial Amerika yang terparkir di kejauhan, perwira militer kulit hitam yang terlihat sedang menyantap burger di balik jendela, hingga alunan musik Louis Armstrong yang tertangkap dari siaran radio lokal. Penyamaran itu terbongkar, dan pesawat kini terjebak dalam situasi buntu di Gimpo. Malam harinya, Seo diutus masuk ke dalam pesawat untuk mendengar tuntutan mereka. Demi menunjukkan kesungguhan mereka, salah satu pembajak nekat menusuk perut pemimpin mereka sendiri. Sang pemimpin menjelaskan kepada Seo bahwa jika pesawat tidak segera terbang ke Pyongyang sebelum ia tewas karena pendarahan dalam—atau sebelum tengah hari esok—mereka akan meledakkan rompi bom dan menghancurkan seluruh pesawat.
Melihat para pejabat Korea Selatan hanya ingin lepas tangan dan berniat membiarkan pesawat lanjut ke Pyongyang demi menghindari tanggung jawab, Seo menemui para pembajak ke dalam pesawat, di mana Asuka, salah satu pembajak, kemudian menusuk pemimpin para pembajak untuk menunjukkan keseriusan mereka dan meminta agar tuntutan untuk pergi ke Pyongyang bisa dipenuhi sebelum jam 12 siang keesokan harinya. Direktur Park pun berasumsi bahwa negosiasi pembebasan sandera masih mungkin dilakukan jika mereka memberikan jaminan jalan keluar yang aman bagi para pembajak. Di saat yang sama, Nobody menyebarkan berita palsu bahwa salah satu sandera adalah keturunan Korea untuk memicu kemarahan publik, mirip dengan kasus pembajakan KAL YS-11 tahun 1969. Tekanan massa ini akhirnya memaksa Presiden memberikan persetujuan sebelum tenggat waktu berakhir. Namun, para pembajak menolak mentah-mentah kesepakatan tersebut karena curiga itu hanya muslihat lainnya.
Saat tenggat waktu semakin mepet dan para pejabat mulai kelimpungan mencari kambing hitam, Nobody meyakinkan Wakil Menteri Transportasi Jepang, Shinichi Ishida, untuk menyerahkan dirinya sebagai sandera pengganti demi kebebasan para penumpang. Para pembajak setuju; pertukaran sandera berjalan mulus, dan Japanese Ride 351 lepas landas menuju Korea Utara. Belakangan, Nobody mengungkapkan rahasia pahit kepada Seo: meski sang menteri dan para pilot akhirnya pulang dengan selamat ke Jepang, ternyata senjata dan peledak yang dibawa para pembajak hanyalah mainan belaka. Mereka tidak pernah berniat melukai para sandera. Dalam hal ini, faksi Tentara Merah berhasil mengakali pemerintah Korea Selatan. Lebih jauh lagi, demi menutupi rasa malu akibat kegagalan operasi intelijen tersebut, pemerintah Korea Selatan memutuskan untuk merahasiakan keterlibatan mereka dan menyebarkan narasi bahwa mendaratnya pesawat di Gimpo hanyalah sebuah ketidaksengajaan. Akibatnya, jasa Seo tidak akan pernah diakui secara resmi. Melihat kekecewaan Seo, Nobody menghiburnya dengan mengatakan bahwa apa yang ia lakukan tetaplah sesuatu yang besar. Sebagai bentuk kompensasi, ia memberikan jam tangan pemberian presiden miliknya kepada Seo. Sementara itu, imbalan bagi Nobody adalah status kewarganegaraan Korea Selatan dan identitas baru yang ia pilih sendiri: Choi Go-myung.
Pada Mei 2024, aktor Hong Kyung enerima tawaran untuk bergabung dalam jajaran pemeran film ini.[7]
Beberapa bulan kemudian, tepatnya pada September 2024, Netflix melalui siaran pers resmi mengumumkan bahwa proyek ini telah resmi memasuki tahap produksi.[2] Proses pengambilan gambar dimulai pada 7 September 2024 dan berlangsung hingga 17 Februari 2025.[8]
Sebagai bagian dari kebutuhan artistik, Bandara Internasional Gimpo disulap menyerupai Bandara Internasional Pyongyang guna menghadirkan latar yang sesuai dengan cerita film.[9]
Good News pertama kali diputar untuk publik dalam pemutaran perdana dunia di Festival Film Internasional Toronto 2025 pada 5 September 2025.[10][11][12] Setelah itu, film ini juga ditampilkan dalam sesi Gala Presentation di Festival Film Internasional Busan ke-30 pada 18 September 2025.[13]
Sejalan dengan pemutaran perdananya di Toronto, Netflix menyiapkan peluncuran global secara serentak.[14] Film ini kemudian dapat diakses untuk penayangan daring di seluruh dunia mulai 17 Oktober 2025 melalui platform tersebut.[9]