Gitar Klasik Lampung Tulang Bawang merupakan kesenian tradisional masyarakat lingkup peradaban aliran sungai Tulang Bawang pada masa lalu. Kesenian ini merupakan hasil akulturasi kebudayaan Melayu dan Portugis. Diperkirakan terjadinya proses percampuran antar budaya ini pada abad ke-15, dimana pada penelitian Cortesão menceritakan perjalanan penjelajahannya di Asia Tenggara. Perjalanan Tomé Pires dari Laut Merah ke Jepang pada tahun 1512 hingga 1515 memberikan gambaran tentang keadaan Tulangbawang dan Sekampung yang mana terdapat pada peta tertulis nama "Rio Tolang Bowang".
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Gitar Klasik Lampung Tulang Bawang merupakan kesenian tradisional masyarakat lingkup peradaban aliran sungai Tulang Bawang pada masa lalu. Kesenian ini merupakan hasil akulturasi kebudayaan Melayu dan Portugis. Diperkirakan terjadinya proses percampuran antar budaya ini pada abad ke-15, dimana pada penelitian Cortesão menceritakan perjalanan penjelajahannya di Asia Tenggara. Perjalanan Tomé Pires dari Laut Merah ke Jepang pada tahun 1512 hingga 1515 memberikan gambaran tentang keadaan Tulangbawang dan Sekampung yang mana terdapat pada peta tertulis nama "Rio Tolang Bowang".[1][2][3][4]

Rio bahasa Portugis yang berarti sungai, dari kata Rio ada kaitannya dengan sejarah masyarakat Tulang Bawang. Dimana pada peradaban masa lalu ada leluhur (penguasa) yang bernama Tuan Rio Mangkubumi, Tuan Rio Tengah dan Tuan Rio Sanak. Tuan Rio Sanak adalah moyang leluhur Tiyuh Panaragan yang berkedudukan di wilayah tersebut, ia mewarisi emas dari Ayahnya "Runjung Gelar Minak Tabu Gayau".[5][6][7]
Kesenian Gitar Klasik Lampung ini juga sering disebut Gitar Tunggal Lampung karna pentaskan sendiri, tapi acap kali dijumpai kesenian ini sering dimainkan secara berkelompok. Kesenian ini lambat laun menjadi kearifan lokal, sebab masyarakat bukan hanya menggunakan kesenian ini di acara informal saja bahkan acara formal pun dipertunjukkan, seperti diantaranya acara Jaga Damar/ Miyah Damau, Begawei, atau upacara adat masyarakat Lampung.[2]

Maestro Gitar Klasik Lampung Tulang Bawang diantara ada Cikdin Syahri SM dan Daman Hori. Lagu dan syair ciptaan mereka lekat untuk dikenal masyarakat setempat, hingga membuat generasi penerusnya menampakan jejak untuk melestarikan kesenian tersebut. Secara administratif kesenian ini masih eksis dibeberapa tiyuh tua yakni di Tiyuh Pagar Dewa, Menggala, Panaragan, Karta[1] serta pada lingkungan wilayah Kabupaten Tulang Bawang, Tulang Bawang Barat[1], dan Mesuji. Di wilayah tiyuh tersebut lah dapat dijumpai tokoh-tokoh dan pegiat seni yang aktif pada ajang pertunjukan kesenian Gitar Klasik Lampung khas Tulang Bawang.[2][8]
| No | Foto | Nama | Asal | Karya Yang Terkenal | Keterangan |
|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Cikdin Syahri SM | Menggala | Gabat Gibut | Maestro Gitar Klasik Lampung Tulang Bawang | |
| 2 | Daman Hori | Menggala | Adat Lampung | ||
| 3 | Grup Suwiseman | Menggala | Ragah Juwaro |
Kelompok Pegiat Kesenian Gitar Klasik Lampung Tulang Bawang