Getih Ireng adalah film horor triler Indonesia tahun 2025 yang disutradarai Tommy Dewo dan ditulis oleh Riheam Junianti, berdasarkan thread viral di X karya JeroPoint. Film ini dibintangi oleh Titi Kamal, Darius Sinathrya, Sara Wijayanto, Nungki Kusumastuti, Egy Fedly, Ivonne Dahler, Agus Firmansyah, Tenno Ali, Bambang Oeban, Shafira Doyle, Muhammad Segaf, dan juga Bonifasius Jose, dengan alur cerita tentang wanita bernama Rina yang dihantui oleh sesosok jin berwujud lelaki tua bernama Getih Ireng.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Getih Ireng | |
|---|---|
Poster penayangan di bioskop | |
| Sutradara | Tommy Dewo |
| Produser |
|
| Ditulis oleh | Riheam Junianti |
| Cerita | JeroPoint |
| Pemeran | |
| Penata musik | Ricky Lionardi |
| Sinematografer | Bagoes Tresna Aji |
| Penyunting | Gita Miaji |
Perusahaan produksi |
|
Tanggal rilis |
|
| Durasi | 106 menit |
| Negara | Indonesia |
| Bahasa |
|
Getih Ireng adalah film horor triler Indonesia tahun 2025 yang disutradarai Tommy Dewo dan ditulis oleh Riheam Junianti, berdasarkan thread viral di X karya JeroPoint. Film ini dibintangi oleh Titi Kamal, Darius Sinathrya, Sara Wijayanto, Nungki Kusumastuti, Egy Fedly, Ivonne Dahler, Agus Firmansyah, Tenno Ali, Bambang Oeban, Shafira Doyle, Muhammad Segaf, dan juga Bonifasius Jose, dengan alur cerita tentang wanita bernama Rina yang dihantui oleh sesosok jin berwujud lelaki tua bernama Getih Ireng.
Getih Ireng ditayangkan di bioskop pada 16 Oktober 2025, dan ditayangkan di Netflix pada 19 Februari 2026.[1]
Di Solo pada tahun 1980, saat acara hajatan pernikahan Pram dan Rina, terjadi beberapa keanehan yaitu: cermin tempat merias yang tiba-tiba retak, lampu rumah yang padam, pigura foto yang tiba-tiba jatuh, serta air siraman yang tiba-tiba menghitam disertai tikus mati di dalamnya. Selama masa itu, secara sekelebat muncul sosok seorang kakek tua yang meninggalkan jejak berlumpur hitam.
Beberapa waktu berlalu, Pram dan Rina pindah ke Wonosobo setelah Pram mendapatkan promosi dari pekerjaannya dan mendapatkan sebuah tempat tinggal. Sesampainya mereka di rumah baru, mereka menemukan jejak lumpur hitam di lantai. Pada saat acara selamatan kepindahan mereka ke rumah baru, Rina melihat seorang pria tua berbaju serba hitam di depan rumah yang disangkanya sebagai ustadz dan mengundangnya masuk ke dalam rumah. Secara misterius, pria tua tersebut tiba-tiba hilang saat Rina mengambilkan minum untuknya. Pram sampai di rumah bersama dengan pak ustadz sebenarnya yang dibawa serta bersamanya saat kebetulan sedang berjalan ke rumahnya. Sejak saat itu, Rina sering sekali melihat penampakan seorang sosok pria tua, dan selalu merasa kepanasan saat tidur.
Suatu hari, Rina mengetahui bahwa dirinya tengah hamil tujuh bulan. Namun, di suatu malam, hantu pria tua tersebut merenggut kandungan Rina sehingga dia mengalami pendarahan. Setelah dinyatakan keguguran di rumah sakit, Rina memutuskan untuk memanggil orang pintar bernama Pak Narto ke rumahnya. Pak Narto membaca dengan mata batinnya dan mengetahui bahwa Rina terkena ilmu santet dan memberikannya botol-botol berisi doa untuk perlindungan. Berkat botol-botol tersebut, Rina tidak lagi mengalami gangguan selama beberapa hari, sampai suatu hari Pram menemukan botol-botol tersebut dan menegur Rina serta membuang botol doa tersebut ke tempat sampah. Hantu pria tua tersebut kemudian mulai muncul kembali dan menghantui Rina. Salah satu pembantu Rina menemukan sebuah guci berisi tanah kuburan dan darah tikus di dalamnya. Rina mengundang kembali Pak Narto untuk memeriksa guci tersebut. Pak Narto berkata bahwa ada seseorang yang menyimpan dendam kesumat kepada Rina dan satu-satunya cara untuk mencabut santet tersebut adalah dengan cara menemukan benda yang digunakan pelaku santet di rumahnya. Mendengar penjelasan Pak Narto, Rina teringat pada hubungan asmaranya dengan laki-laki bernama Yudi sebelum berpacaran dengan Pram. Setelah mencari tahu ke sana kemari, diketahui bahwa Yudi pernah dipenjara. Berharap pada perlindungan botol doa dari Pak Narto, Rina kembali hamil. Setelah usia kandungannya mencapai tujuh minggu, hantu pria tua tersebut kembali muncul dan menganggu. Rina berhasil melahirkan anaknya dengan selamat, tetapi Pak Narto telah berpesan bahwa santet tersebut akan menganggu kembali pada saat anaknya berusia tujuh tahun.
Tujuh tahun kemudian, tepat sebelum ulang tahunnya yang ke-7, Dwi, anak dari Pram dan Rani, tiba-tiba mulai berperilaku aneh dan melukai Rani. Keesokan harinya, dua orang yang mempunyai ilmu supranatural lebih tinggi (Yai dan Aryo) diundang untuk melakukan ritual perlindungan diri guna menghadang hantu pria tua yang akan mengancam Dwi. Malam harinya, hantu pria tua tersebut muncul dan membunuh Pak Narto. Dengan susah payah, Yai dan Aryo akhirnya berhasil mengusir hantu pria tua tersebut untuk sementara. Yai meminta Pram dan Rina untuk benar-benar jujur dengan apa yang terjadi. Pram akhirnya berbicara jujur bahwa kemungkinan besar pelaku santet tersebut adalah seseorang bernama Mawar, seorang wanita yang menjadi selingkuhan Pram pada saat masih berpacaran dengan Rina. Walaupun merasa hancur hatinya, demi keselamatan Dwi, Rina akhirnya setuju untuk ikut dalam sebuah ritual untuk menemukan lokasi Mawar. Setelah mengetahui lokasi tempat Mawar berada, Pram dan Yai langsung menuju ke rumahnya. Mawar yang mengetahuinya langsung memukul pingsan Yai dan Pram saat mereka berdua tengah menggali tanah untuk menemukan obyek yang digunakan untuk santet. Setelah mereka berdua tersadar, Mawar mencoba untuk membunuh Yai, tetapi berhasil didorong hingga pingsan oleh Pram. Pram berhasil mengeluarkan guci yang menjadi obyek santet, tetapi Yai keburu meninggal akibat pendarahan. Pram memutuskan untuk membawa guci tersebut pulang sehingga Aryo bisa melakukan ritual menggantikan Yai. Di rumah Pram, hantu pria tua kembali muncul dan membunuh Aryo. Mengetahui bahwa tidak ada lagi yang bisa melakukan ritual, Rina mengorbankan dirinya agar dibawa oleh si hantu pria tua tersebut menggantikan Dwi.
Setelah menemukan bahwa istrinya telah tiada, Pram kembali ke rumah Mawar dengan tujuan untuk melepaskan kutukan santet tersebut. Terjadi perkelahian di antara Pram dan Mawar, yang berujung pada kematian Mawar. Santet berakhir setelah kematian Mawar, tetapi Pram yang merasa bersalah dan tidak bisa hidup tanpa istrinya, memutuskan untuk bunuh diri. Lima belas tahun kemudian, Dwi yang lulus dari universitas dengan predikat Cum Laude, mempersembahkan kelulusan tersebut untuk ayah dan ibunya yang tidak pernah diingatnya.
Konsep cerita dari film ini diangkat dari sebuah thread viral di platform X karya akun @JeroPoin yang kemudian membuat Hitmaker Studios memutuskan untuk mengangkatnya ke layar lebar.[2]
Pengambilan gambar utama film ini sebagian besar dilakukan di perkebunan teh di Lembang, dan sebagian lagi dilakukan di kota Bandung dan Tangerang.[3][4] Dalam mengambil adegan, film ini menggunakan teknik pembuatan iklan untuk mendapatkan visual yang diinginkan.[3]