Gereja Santa Theresia yang bernama resmi Gereja Paroki Santa Theresia, Ciledug adalah sebuah gereja paroki Katolik yang terletak di Desa Jatiseeng, Ciledug, Cirebon, Jawa Barat, Indonesia. Gereja ini didedikasikan kepada Santa Theresia. Gereja ini berada di bawah naungan yurisdiksi Keuskupan Bandung. Gereja ini dikelola oleh para imam diosesan Keuskupan Bandung.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Gereja Santa Theresia | |
|---|---|
| Gereja Santa Theresia, Paroki Ciledug | |
Koordinat: 6°54′30.18164″S 108°44′20.36566″E / 6.9083837889°S 108.7389904611°E / -6.9083837889; 108.7389904611Lihat peta diperbesar Koordinat: 6°54′30.18164″S 108°44′20.36566″E / 6.9083837889°S 108.7389904611°E / -6.9083837889; 108.7389904611Lihat peta diperkecil | |
| Informasi umum | |
| Lokasi | Jatiseeng, Ciledug, Cirebon, Jawa Barat 45188 |
| Negara | Indonesia |
| Denominasi | Gereja Katolik Roma |
| Arsitektur | |
| Status | Gereja paroki |
| Status fungsional | Aktif |
| Tipe arsitektur | Gereja |
| Administrasi | |
| Paroki | Ciledug |
| Dekenat | Priangan |
| Keuskupan | Bandung |
| Klerus | |
| Uskup | Antonius Subianto Bunjamin, O.S.C. |
Gereja Santa Theresia yang bernama resmi Gereja Paroki Santa Theresia, Ciledug adalah sebuah gereja paroki Katolik yang terletak di Desa Jatiseeng, Ciledug, Cirebon, Jawa Barat, Indonesia. Gereja ini didedikasikan kepada Santa Theresia. Gereja ini berada di bawah naungan yurisdiksi Keuskupan Bandung.[1] Gereja ini dikelola oleh para imam diosesan Keuskupan Bandung.
Masuknya agama Katolik ke Ciledug berawal dari karya besar Ludovicus Douwe Prawiradisastra, seorang tokoh Sunda lokal yang lahir pada 1907 di Desa Cigobang, Cirebon. Sebagai anak lurah dan tuan tanah, Douwe mendapatkan akses pendidikan tinggi di Yogyakarta, tempat ia pertama kali berjumpa dengan ajaran Katolik melalui seorang imam yang berasal dari Belanda. Setelah menikah, ia menetap di Ciledug dan mulai menaburkan benih iman Katolik di wilayah tersebut.[2]
Salah satu karya Douwe adalah pendirian Excelsior School, yang menjadi cikal bakal Sekolah Santo Thomas. Melalui sekolah inilah, Douwe tidak hanya membagikan ilmu pengetahuan, tetapi juga mewariskan nilai-nilai iman. Sekolah menjadi pusat pendidikan dan pewartaan, sehingga menghasilkan sejumlah tokoh dalam masyarakat dan Gereja.
Pada masa pendudukan Jepang, sekolah ini sempat ditutup, tetapi dapat dibuka kembali pada 1952.[3] Perayaan Ekaristi mulai dilaksanakan secara teratur di rumah-rumah umat, karena saat itu Ciledug belum memiliki gereja. Perkembangan pendidikan dan kehidupan beriman semakin maju pada akhir 1950-an. Pada tahun 1958, didirikan sebuah Sekolah Menengah Pertama yang memperluas pelayanan pendidikan di Ciledug. Sejumlah ruangan sekolah juga digunakan sebagai lokasi peribadatan umat.[2]
Tonggak penting terjadi pada tahun 1971, ketika Gereja Santa Theresia Ciledug dibangun di atas sebuah tanah hibah seluas 12.000 m² dari keluarga besar Douwe. Tanah dan bangunan gereja ini menjadi pusat kehidupan rohani umat Ciledug. Pemberkatan dan peresmian gereja berlangsung pada tanggal 3 Oktober 1971. Hingga kini, kompleks sekolah dan gereja tersebut telah menjadi pusat pembinaan iman dan pendidikan yang terus berkembang. Setelah berdirinya gereja, gereja ini dilayani oleh para imam Ordo Salib Suci. Imam yang memberikan warna mendalam bagi umat Ciledug adalah Pastor Jan Van der Pol, O.S.C. Ia dikenal karena kedekatannya dengan umat. Walau tidak banyak catatan tertulis mengenai pelayanannya, sejumlah umat mengingat Pastor Van der Pol sebagai imam yang memberi perhatian kepada mereka yang miskin dan menderita.[2]
Pada 23 Agustus 1997, Uskup Bandung Alexander Djajasiswaja memberkati gedung gereja yang selesai direnovasi.
Pada tahun 1998, keluarga besar Pastor Van der Pol di Belanda dan Belgia memberikan donasi bagi umat Ciledug. Dana tersebut kemudian menjadi modal pendirian Yayasan Van der Pol, sebuah lembaga sosial yang bergerak dalam bidang kemanusiaan dan pendidikan. Yayasan ini menjadi salah satu wujud nyata kasih pastoral.[2]
Seiring bertambahnya jumlah umat, kebutuhan akan sarana pastoral yang lebih memadai pun meningkat. Pada 2009, dibentuk PGAK sebagai rekan kerja Dewan Pastoral Stasi dan Pastor Paroki, yang menandai fase baru pengelolaan pastoral yang lebih terstruktur. Dalam periode ini, umat juga mulai merancang pembangunan Pastoran dan Aula Stasi, beriringan dengan pengembangan kompleks sekolah Santo Thomas.[2]
Renovasi gedung gereja kembali berlangsung pada sekitar tahun 2010-an. Administrator Apostolik Keuskupan Bandung Ignatius Suharyo memberkati gedung gereja yang telah rampung menjalani perbaikan pada tanggal 21 April 2012. Pada 29 Maret 2017, Pastoran Santa Theresia diberkati oleh R.D. Yohanes a Cruce Kristiono Hartanto selaku Pastor Paroki Bunda Maria Cirebon.
Pada 31 Mei 2018, Uskup Bandung Antonius Subianto Bunjamin, O.S.C. meresmikan Paroki Santa Theresia Ciledug, sebagai pemekaran dari Paroki Dukuh Semar, Cirebon.[4]
Gereja Santa Theresia Ciledug terdiri atas bangunan satu lantai. Di pelataran gereja terdapat kaca patri yang melukiskan Santa Theresia dari Lisieux dan juga Hati Kudus Yesus.
Di sekitar panti imam, terdapat patung Bunda Maria dan Bayi Yesus dan juga patung Hati Kudus Yesus. Di sekitar panti imam juga terdapat patung Pieta dan patung Santa Theresia, pelindung gereja.

Gereja Santa Theresia Ciledug menempati lahan yang sama dengan SMP Santo Thomas Ciledug, yang memiliki sejarah erat dengan pendirian gereja.
Paroki Santa Theresia Ciledug mencakup dua buah stasi. Stasi Kristus Jaya terletak di Kecamatan Babakan, sementara Stasi Paska Kristus terletak di Kecamatan Losari.