Gereja Salib Suci adalah sebuah gereja Katolik yang terletak di kawasan Kudi Chin, Wat Kanlaya, Thon Buri, Bangkok, Thailand. Gereja ini berada di bawah yurisdiksi Keuskupan Agung Bangkok dan merupakan salah satu gereja Katolik tertua di Thailand.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Gereja Salib Suci | |
|---|---|
| Gereja Salib Suci, Kudi Chin | |
bahasa Thai: วัดซางตาครู้สcode: th is deprecated bahasa Inggris: Santa Cruz Churchcode: en is deprecated | |
Tampak Depan Gereja Salib Suci pada Februari 2026 | |
Koordinat: 13°44′20.4″N 100°29′37.7″E / 13.739000°N 100.493806°E / 13.739000; 100.493806Lihat peta diperbesar Koordinat: 13°44′20.4″N 100°29′37.7″E / 13.739000°N 100.493806°E / 13.739000; 100.493806Lihat peta diperkecil | |
| Informasi umum | |
| Lokasi | Kudi Chin, Subdistrik Wat Kanlaya, Distrik Thon Buri, Bangkok |
| Negara | Thailand |
| Denominasi | Gereja Katolik Roma |
| Sejarah | |
| Didirikan | sekitar 1770 |
| Dedikasi | Salib Suci |
| Arsitektur | |
| Status | Paroki |
| Status fungsional | Aktif |
| Gaya | Kebangkitan Renaisans |
| Dibangun | 1913–1916 |
| Selesai | 1916 |
| Administrasi | |
| Paroki | Kudi Chin |
| Keuskupan Agung | Bangkok |
| Klerus | |
| Uskup Agung | Fransiskus Xaverius Vira Arpondratana |
Gereja Salib Suci (bahasa Portugis: Igreja da Santa Cruz, bahasa Thai: วัดซางตาครู้สcode: th is deprecated , pelafalan [wát sāːŋ.tāː kʰrúːt, -kʰrúːs]; dikenal juga sebagai Gereja Kudi Chin) adalah sebuah gereja Katolik yang terletak di kawasan Kudi Chin, Wat Kanlaya, Thon Buri, Bangkok, Thailand. Gereja ini berada di bawah yurisdiksi Keuskupan Agung Bangkok dan merupakan salah satu gereja Katolik tertua di Thailand.
Gereja Santa Cruz didirikan sekitar tahun 1770 di atas tanah yang dianugerahkan kepada komunitas Katolik Portugis yang bermukim di tepi barat Sungai Chao Phraya setelah runtuhnya Kerajaan Ayutthaya. Pada masa awal, gereja ini berfungsi sebagai gereja Katolik utama di Bangkok dan menjadi pusat Vikariat Apostolik Siam hingga tahun 1821, ketika Katedral Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga (Assumption Cathedral) selesai dibangun.
Bangunan gereja yang ada saat ini, didirikan pada tahun 1913–1916 dengan gaya arsitektur Kebangkitan Renaisans, menggantikan bangunan kedua yang dibangun pada tahun 1845.
Setelah kehancuran Kerajaan Ayutthaya akibat serbuan tentara Burma pada tahun 1767, umat Kristiani di wilayah Bangkok terpisah-pisah dan melarikan diri ke berbagai tempat. Kondisi ini berlangsung hingga Raja Taksin berhasil memulihkan kemerdekaan Siam dan mendirikan Kerajaan Thonburi dengan pusat pemerintahan di tepi barat Sungai Chao Phraya.
Pada 4 Maret 1769, Pastor Jacques Corre, seorang misionaris Katolik dari Missions Etrangères de Paris (MEP) yang sebelumnya mengungsi ke Kamboja, kembali ke Bangkok bersama empat orang umat Kristiani. Ia diterima secara resmi oleh Raja Taksin, yang menganugerahkan sejumlah uang, sebuah perahu, serta menjanjikan sebidang tanah untuk pembangunan gereja. Pastor Corre kemudian menghimpun umat Kristiani yang tersisa di Bangkok dan sekitarnya, yang sebagian besar merupakan keturunan Portugis, yakni komunitas Katolik lama sejak masa Ayutthaya.
Pada 14 September 1769, tanah yang dijanjikan raja secara resmi diserahkan. Pastor Corre menamai pemukiman baru tersebut Camp Santa Cruz (Kamp Salib Suci) dan mendirikan sebuah gereja kayu sederhana sebagai tempat ibadat sementara. Gereja inilah yang kemudian dikenal sebagai Gereja Santa Cruz, yang sejak awal menjadi pusat kehidupan religius dan sosial umat Katolik keturunan Portugis di kawasan Kudi Chin, Thonburi.
Periode awal Gereja Santa Cruz berlangsung dalam kondisi sosial yang berat. Kelangkaan pangan, kemiskinan, serta ketiadaan imam Katolik di Siam antara tahun 1767–1769 menyebabkan kehidupan iman umat merosot tajam. Pastor Corre berupaya membantu umat tidak hanya melalui pelayanan rohani, tetapi juga bantuan kemanusiaan dan pengajaran iman. Sikap ini menimbulkan simpati luas, bahkan Raja Taksin secara terbuka memuji ketulusan Pastor Corre dan agama Katolik.
Pada awal 1770-an, struktur Gereja Katolik di Siam diperkuat dengan kedatangan Uskup Olivier-Simon Le Bon sebagai Vikaris Apostolik Siam. Raja Taksin kembali menunjukkan dukungannya dengan memperluas tanah Gereja Santa Cruz dan menyediakan sarana transportasi bagi kegiatan misi. Pada masa ini, Gereja Santa Cruz berfungsi sebagai gereja Katolik utama di Bangkok dan pusat administrasi Gereja Katolik di Siam.
Namun, hubungan tersebut memburuk setelah dikeluarkannya dekret tahun 1774 yang melarang orang Thai dan Mon memeluk agama Kristen dan Islam. Kebijakan ini menandai awal penganiayaan serius terhadap para misionaris. Puncaknya terjadi antara tahun 1775–1779, ketika para misionaris, termasuk Uskup Le Bon, dipenjara dan akhirnya diusir dari Siam. Sejak tahun 1779, tidak ada lagi imam Katolik yang tinggal secara resmi di wilayah kerajaan, dan rumah seminari di Santa Cruz pun ditutup.
Situasi berubah secara drastis setelah naik takhtanya Rama I pada tahun 1782. Raja baru menunjukkan sikap toleran terhadap umat Kristiani dan memulihkan kebebasan beragama. Uskup Coudé diundang kembali untuk memimpin umat Katolik yang berpusat di Gereja Santa Cruz. Sejak masa ini, kehidupan Gereja Katolik di Bangkok berangsur pulih, meskipun sempat diwarnai konflik internal antara umat keturunan Portugis dan otoritas misi Prancis, terutama terkait penerapan sistem Padroado Portugis. Ketegangan ini mereda secara bertahap pada awal abad ke-19.
Hingga tahun 1821, Gereja Santa Cruz tetap berfungsi sebagai pusat utama Gereja Katolik di Bangkok dan menjadi tempat kedudukan Vikariat Apostolik Siam, sebelum peran tersebut dipindahkan ke Katedral Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga yang baru selesai dibangun. Setelah struktur kayu asli gereja mengalami kebakaran besar pada awal abad ke-19 (sekitar tahun 1833) dan mengalami kerusakan parah, komunitas Katolik mendirikan bangunan gereja yang kedua sekitar tahun 1835. Bangunan ini dibuat dengan struktur yang lebih kuat untuk menggantikan bangunan kayu sebelumnya, dan memiliki unsur desain arsitektur yang dipengaruhi oleh komunitas lokal, di mana Gereja Santa Cruz dan lingkungan sekitarnya dikenal sebagai Kudi Chin. Sepanjang abad ke-19, Gereja Santa Cruz berkembang menjadi pusat penting kegiatan Katolik, dengan berlangsungnya pendirian seminari, percetakan, serta sekolah-sekolah Katolik. Salah satu pencapaian penting adalah penerbitan buku katekismus pertama di Siam yang dicetak dengan huruf Latin berbahasa Thai, dikenal sebagai Khamson Christang.
Pada masa ini pula gereja mengalami berbagai tantangan, seperti wabah kolera, kebakaran besar, banjir, serta pengusiran sementara para misionaris. Meskipun demikian, berkat dukungan umat dan kebijakan raja-raja Siam yang semakin terbuka terutama pada masa Rama IV, kehidupan gerejawi kembali stabil.
Memasuki awal abad ke-20, bangunan gereja lama yang telah rapuh digantikan dengan gereja baru yang dibangun pada tahun 1913 hingga 1916. Bangunan ini dirancang dengan gaya Kebangkitan Renaisans yang disertai pengaruh Eropa yang kuat, dan ditandai oleh kubah besar dan tata ruang monumental. Pembangunan gereja berlangsung di bawah pimpinan Pastor Gutielmo Kinh Da Cruz.[1] Gereja ini diresmikan pada tahun 1916. Gereja inilah yang masih berdiri hingga kini di tepi barat Sungai Chao Phraya.
Pada periode yang sama, Gereja Santa Cruz berperan dalam bidang pendidikan melalui pendirian Sekolah Santa Cruz Convent dan Sekolah Santa Cruz Suksa, yang bekerja sama dengan tarekat religius. Memasuki paruh kedua abad ke-20, gereja ini tidak hanya berfungsi sebagai pusat ibadat, tetapi juga sebagai pusat kehidupan sosial masyarakat Kudi Chin. Para pastor paroki terlibat aktif dalam penataan lingkungan, penanggulangan banjir, pengelolaan pemakaman, serta pembentukan organisasi komunitas setempat.[2]