GeoJSON adalah format untuk menyandikan struktur data geografis sederhana yang didasarkan pada JavaScript Object Notation (JSON), format data terbuka yang umum. GeoJSON digunakan untuk merepresentasikan fitur-fitur geografis dan atribut non-spasialnya.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Jenis MIME | |
|---|---|
| Jenis format | GIS file format |
| Pengembangan dari | JSON |
| Standar | RFC 7946 |
| Situs web | geojson |
GeoJSON adalah format untuk menyandikan struktur data geografis sederhana yang didasarkan pada JavaScript Object Notation (JSON), format data terbuka yang umum. GeoJSON digunakan untuk merepresentasikan fitur-fitur geografis dan atribut non-spasialnya.[1][2]
Format GeoJSON mendefinisikan beberapa tipe objek JSON:
GeoJSON merupakan format yang populer karena sifatnya yang ringan, mudah dibaca oleh manusia, dan dapat diurai (parse) dengan mudah oleh banyak bahasa pemrograman. Format ini banyak digunakan dalam aplikasi web yang membutuhkan visualisasi data geografis, seperti Google Maps atau OpenStreetMap.[3]
GeoJSON berawal dari kebutuhan akan format data geospasial yang lebih sederhana dan ringan, terutama untuk aplikasi web. Berbeda dengan format geospasial tradisional seperti ESRI Shapefile atau KML (Keyhole Markup Language), yang seringkali lebih kompleks dan kurang ramah untuk web, GeoJSON dikembangkan untuk berintegrasi dengan mulus ke dalam lingkungan web.[3]
Pada Maret 2007, sebuah kelompok kerja dan diskusi dimulai untuk mengembangkan format ini. Tujuannya adalah membuat standar yang didasarkan pada JSON, format data yang sudah sangat populer dan banyak digunakan di web.
Setelah melalui serangkaian diskusi dan pengembangan, spesifikasi GeoJSON pertama kali diselesaikan pada Juni 2008. Ini menjadi tonggak penting dalam sejarahnya, karena format ini mulai diadopsi oleh komunitas developer geospasial.
Pada tahun 2015, Internet Engineering Task Force (IETF) mendirikan kelompok kerja khusus untuk GeoJSON. Ini menunjukkan pengakuan yang semakin besar terhadap format tersebut. Hasilnya, pada Agustus 2016, GeoJSON secara resmi diterbitkan sebagai RFC 7946, menjadikannya standar internet resmi.
Sejak saat itu, GeoJSON telah menjadi salah satu format data geospasial paling dominan di dunia, terutama untuk aplikasi web dan pemetaan interaktif. Kemudahan penggunaannya, keringanannya, dan kompatibilitasnya dengan teknologi web modern menjadikannya pilihan utama bagi banyak pengembang dan platform.
Meskipun GeoJSON didasarkan pada JSON, ada perbedaan mendasar. JSON adalah format data umum, sedangkan GeoJSON adalah format spesifik yang memiliki struktur standar untuk data geospasial. Artinya, setiap file GeoJSON adalah file JSON yang valid, tetapi tidak semua file JSON adalah GeoJSON yang valid. GeoJSON memiliki tipe objek tertentu seperti Feature, FeatureCollection, dan berbagai tipe Geometry.
Dalam GeoJSON, koordinat diatur dalam format [longitude, latitude]. Urutan ini penting dan merupakan standar. Misalnya, sebuah titik di Monas, Jakarta, akan ditulis sebagai [-6.1754, 106.8272]. Ini berbeda dengan beberapa sistem lain yang menggunakan urutan [latitude, longitude].
Secara default, GeoJSON menggunakan World Geodetic System 1984 (WGS84), yang merupakan standar global untuk pemetaan. Ini adalah sistem koordinat yang sama yang digunakan oleh GPS. Pengguna tidak perlu secara eksplisit mendefinisikan sistem koordinat dalam file GeoJSON, karena WGS84 sudah dianggap sebagai standar implisit.
Berikut adalah contoh sederhana dari sebuah file GeoJSON yang berisi sebuah titik (Point) yang mewakili sebuah lokasi:
{
"type": "Feature",
"geometry": {
"type": "Point",
"coordinates": [106.8272, -6.1754]
},
"properties": {
"name": "Monas",
"lokasi": "Jakarta, Indonesia"
}
}
Dalam contoh diatas, type menunjukkan bahwa ini adalah Feature, geometry mendeskripsikan bentuknya (sebuah Point dengan koordinat tertentu), dan properties adalah tempat untuk menyimpan data tambahan non-spasial, seperti nama dan lokasi.