Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Genosida Herero dan Nama

Genosida Herero dan Nama, atau genosida Namibia, adalah pemusnahan suku Herero dan suku Nama di Afrika Barat Daya Jerman yang dilakukan oleh Kekaisaran Jerman antara tahun 1904 dan 1908. Sekitar 40.000 hingga 80.000 orang Herero dan 10.000 orang Nama tewas dibunuh.

genosida tahun 1904–1908 yang dilakukan oleh pemerintahan kolonial Jerman di Afrika
Diperbarui 15 April 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Genosida Herero dan Nama
Genosida Herero dan Nama
Tahanan Herero dan Nama yang dirantai selama genosida
LokasiAfrika Barat Daya Jerman
(Namibia modern)
Tanggal1904–1908[1]
SasaranSuku Herero dan Nama
Tewas
  • 40.000 hingga 80.000 Herero[1]
  • 10.000 Nama[1]
PelakuAngkatan darat Jerman dan pemukim

Genosida Herero dan Nama, atau genosida Namibia, adalah pemusnahan suku Herero dan suku Nama di Afrika Barat Daya Jerman (kini Namibia) yang dilakukan oleh Kekaisaran Jerman antara tahun 1904 dan 1908. Sekitar 40.000 hingga 80.000 orang Herero (80 persen dari populasi mereka sebelum perang) dan 10.000 orang Nama (setengah dari populasi sebelum perang) tewas dibunuh.[1]

Menghadapi konsolidasi kekuasaan Jerman dan upaya untuk menundukkan penduduk Afrika menjadi cadangan tenaga kerja rendahan, kepala suku Herero Samuel Maharero melancarkan pemberontakan mendadak pada 12 Januari 1904. Pada awalnya, pemberontakan Herero meraih keberhasilan, meskipun para kolonis marah karena dikalahkan oleh orang-orang yang mereka anggap inferior. Setelah bala bantuan tiba dari Jerman, suku Herero dikepung dan dikalahkan dalam Pertempuran Waterberg pada bulan Agustus.

Selama bulan-bulan berikutnya, mereka melarikan diri ke Gurun Omaheke, di mana mayoritas dari mereka tewas akibat kehausan, kelaparan, atau pembantaian berskala kecil oleh Jerman. Komandan Jerman Lothar von Trotha memerintahkan eksekusi seluruh pria Herero, tetapi pada praktiknya, wanita dan anak-anak juga turut dibunuh. Setelah bulan Desember 1904, kebijakan Jerman beralih menjadi pemenjaraan seluruh orang Herero di kamp konsentrasi, di mana sekitar separuhnya tewas akibat ketiadaan tempat berlindung dan makanan, serta penderitaan akibat kerja paksa. Sejumlah undang-undang rasis juga turut disahkan.

Suku Nama pada awalnya bertempur bersama pihak Jerman, termasuk di Waterberg. Namun, mereka memberontak melawan Jerman pada bulan September 1904, yang berlangsung hingga tahun 1908. Tentara Jerman kemudian mengumpulkan dan menangkap setiap orang Nama yang dapat mereka temukan, lalu Trotha mengeluarkan perintah pemusnahan kedua, kali ini ditujukan terhadap mereka, pada 22 April 1905.

Pada tahun 2015, Jerman mengakui bahwa genosida telah dilakukan. Negosiasi lanjutan dengan pemerintah Namibia berujung pada sebuah kesepakatan kontroversial pada tahun 2021, Jerman akan membayarkan 1,1 miliar euro (US$1.24 miliar) dalam bentuk bantuan pembangunan ex gratia, sembari menolak segala bentuk tanggung jawab hukum atas genosida tersebut.

Latar belakang

Suku Herero yang menuturkan bahasa Bantu bermigrasi ke wilayah yang kini menjadi Namibia dari arah utara pada awal abad ke-12.[2] Mereka hidup utamanya sebagai penggembala, dengan ternak sapi menjadi pusat dari budaya dan ekonomi mereka, yang ditunjukkan oleh nama Herero yang bermakna "pemilik sapi". Sepanjang sebagian besar abad kesembilan belas, mereka terlibat dalam konflik perebutan lahan padang rumput dan air dengan kelompok-kelompok tetangga Khoikhoi, termasuk suku Nama, di sebelah selatan.[2] Sejak tahun 1840-an, wilayah ini mulai tertarik ke dalam jaringan komersial global dengan kedatangan para misionaris Rhein dan ekspansi Koloni Tanjung ke arah selatan.[2][3] Suku San juga terusir dari Koloni Tanjung dan didesak ke utara menuju Namibia, sehingga meningkatkan eskalasi konflik.[4]

Kolonisasi Jerman

Artikel utama: Afrika Barat Daya Jerman dan Kekaisaran kolonial Jerman
Theodor Leutwein (duduk di kiri), Zacharias Zeraua (kedua dari kiri) dan Manasseh Tyiseseta (duduk, keempat dari kiri), pada tahun 1895
Theodor Leutwein melakukan sulangan dengan Hendrik Witbooi pada tahun 1896

Pada tahun 1884, Kanselir Jerman Otto von Bismarck mengklaim wilayah Namibia untuk menangkal ekspansi Inggris di kawasan tersebut.[5][6] Kekuasaan Jerman pada awalnya hanya bersifat nominal,[6] dengan kedatangan para tentara pertamanya baru terjadi pada tahun 1889.[7] Pemukim dalam jumlah yang signifikan baru mulai berdatangan pada pertengahan tahun 1890-an.[7] Kehadiran Jerman pada saat itu sangat minim sehingga dua kelompok suku utama di daerah tersebut, Herero dan Nama, saling memandang satu sama lain sebagai ancaman utama, sementara bagi pihak Jerman, aliansi antara kedua suku yang berperang tersebut dapat mengancam keberadaan satu-satunya koloni pemukim milik Jerman.[8]

Gubernur ketiga dari wilayah itu, Theodor Leutwein (dari 1894 hingga 1904)[9] menggunakan metode-metode pragmatis[10] untuk menghancurkan kemerdekaan politik masyarakat adat dan mereduksi mereka menjadi cadangan tenaga kerja rendahan. Karena penaklukan militer akan menelan biaya lebih besar daripada yang bersedia dikeluarkan oleh pemerintah Jerman, ia meminimalisasi peperangan terbuka[11] dengan menggunakan strategi pecah belah dan kuasai[12][7] yang mana suku-suku pribumi dipaksa untuk menerima perjanjian perlindungan guna melawan satu sama lain.[13]

Ketika perjanjian-perjanjian ini dilanggar, Leutwein menggunakan sekutu-sekutunya yang tersisa untuk menundukkan suku yang memberontak serta merampas tanah dan ternak mereka, yang kemudian dijual kepada para pemukim demi meraup keuntungan.[13] Pada tahun 1896 dan 1897, ia memimpin kampanye militer yang berujung pada pemusnahan secara virtual terhadap suku Khaua dan Afrikaner (ǀAixaǀaen).[14] Leutwein berfokus pada perluasan infrastruktur kolonial, seperti jalan, jalur kereta api, dan benteng, guna membuka wilayah tersebut bagi lebih banyak pembangunan ekonomi dan permukiman Eropa.[7] Akibat kurangnya keberhasilan dalam pencarian bahan tambang, banyak kolonis yang beralih untuk mengakumulasi tanah dan ternak[5] sehingga menempatkan mereka dalam persaingan langsung dengan suku Herero. Sejumlah besar bidang tanah diborong oleh para spekulan tanah dan peternak sapi asal Eropa.[7] Suku Herero semakin diperlemah oleh epidemi rinderpest yang memusnahkan sebagian besar ternak mereka dan memperburuk konflik antarsuku, sekaligus memaksa banyak orang Herero menghadapi ancaman kelaparan, terjerat utang, atau menjadi pekerja migran.[15][16]

Ketidakpuasan

Keluhan utama dari suku Herero dan kondisi struktural yang memicu pecahnya perang adalah keberadaan sistem peradilan yang tidak adil. Jika seorang kulit putih terbunuh, beberapa orang Afrika akan dieksekusi sebagai hukuman. Sebaliknya, pemukim dapat membunuh penduduk asli secara efektif tanpa dikenai sanksi hukum (impunitas) karena nyawa orang Afrika dianggap tidak berharga, sehingga sistem peradilan akan mencari cara untuk membebaskan mereka atau hanya memberikan hukuman yang sangat minimal.[17] Akibatnya, terjadilah pembunuhan dan pemerkosaan yang meluas terhadap orang-orang Afrika oleh para pemukim, yang pada akhirnya melemahkan monopoli kekerasan dan otoritas secara keseluruhan dari pemerintahan kolonial. Para korban tidak berdaya untuk menuntut ganti rugi atau keadilan atas kejahatan-kejahatan ini karena pihak polisi dan tentara turut menjadi bagian dari para pelaku.[18] Majikan-majikan Jerman secara hukum diizinkan untuk memukul dan mencambuk karyawan pribumi mereka.[19]

Pada saat yang bersamaan, Leutwein mulai mengimplementasikan strategi untuk memusatkan penduduk pribumi di cagar-cagar alam (reservasi).[15] Meskipun sejumlah studi menekankan bahwa perebutan atas tanah menjadi penyebab utama pemberontakan tersebut, nyatanya populasi para kolonis tidak meningkat secara tajam pada tahun 1903 dan penelitian-penelitian lain juga menunjukkan bahwa persoalan tanah tidaklah mendesak.[20]

Pemberontakan Herero

Pemberontakan Herero merupakan suatu tindakan keputusasaan dari suku Herero untuk merebut kembali tanah, ternak, dan kemerdekaan politik mereka; serta untuk menuntut ajang balas dendam.[19] Sejarawan Matthias Häussler menulis bahwa perang tersebut terbatas dari segi sarananya, namun tidak dalam hal tujuannya; suku Herero menginginkan akhir yang permanen dari kolonisasi Jerman.[21] Pada tanggal 25 Desember 1903, satu kompi pasukan Schutztruppe telah dialihkan ke ujung selatan koloni untuk memadamkan pemberontakan yang tidak berkaitan oleh suku Nama Bondelswarts, sehingga menyebabkan wilayah utara sama sekali tidak dijaga oleh pasukan pertahanan[22]—saat itu hanya terdapat 770 tentara Jerman di seluruh koloni.[23]

Klan-klan Herero memanfaatkan kesempatan itu untuk memberontak pada tanggal 12 Januari 1904.[19] Pemberontakan ini mengejutkan para kolonis[24] dan meraih keberhasilan yang luar biasa pada awalnya: berbagai lahan pertanian dan tempat usaha dijarah, serta 123[19] atau mencapai 160 orang Jerman dibunuh.[23] Sebagian besar korban yang tewas adalah petani dan pedagang; sementara jumlah tentara Jerman hanya mewakili sepersepuluh dari total yang tewas. Para pemberontak pada umumnya mengampuni nyawa para wanita, anak-anak, misionaris, dan warga kulit putih yang bukan merupakan orang Jerman.[24][23] Serangan-serangan secara individual direncanakan untuk memanfaatkan tipu muslihat dan unsur kejutan, dan suku Herero sukses menyita persenjataan serta perbekalan.[24] Suku Herero membunuh para pria, merampas segala hal yang berguna, meratakan bangunan-bangunan, dan berupaya menghancurkan segala sesuatu yang tersisa, dalam upaya menumbangkan keberadaan ekonomi para kolonis dan memaksa mereka untuk angkat kaki dari Namibia untuk selamanya.[21] Terjadinya mutilasi, khususnya bentuk pengebirian, merupakan sebuah balasan atas kekerasan seksual yang sebelumnya pernah ditimpakan terhadap wanita-wanita Herero.[25]

Banyak aspek dari perang ini yang kurang dipahami akibat terbatasnya sumber-sumber yang membahas dari sudut pandang penderitaan suku Herero.[20] Pandangan konvensional meyakini bahwa serangan tersebut telah direncanakan sejak jauh-jauh hari, mungkin saat berlangsungnya suatu pertemuan antarsuku pada tahun 1903.[26] Namun, sejarawan Jan-Bart Gewald justru berpendapat bahwa serangan itu terprovokasi oleh Ralph Zürn, seorang perwira Jerman yang bermarkas di Okahandja, tempat di mana kepala suku Herero Samuel Maharero juga memusatkan basis markasnya, dan bahwa orang-orang Herero yang lain bergabung secara bertahap seiring dengan bujukan dari Maharero kepada mereka.[26][27] Terlepas dari itu, sejumlah kalangan suku Herero ragu-ragu untuk ikut bergabung dalam pemberontakan dan hal ini meruntuhkan upaya tersebut, jika memang ada peluang keberhasilan sedari awal mulanya.[26] Häussler berpendapat bahwa pemberontakan tersebut telah menemui kegagalan pada beberapa jam pertamanya karena tidak terdapat upaya serius apa pun untuk merebut benteng-benteng pertahanan Jerman (yang menyimpan jumlah pasokan berharga jauh lebih besar) ataupun menguasai kota-kota (yang mana ini esensial bagi roda pemerintahan penjajah tersebut).[24]

Tanggapan pemukim

Penggantungan suku Herero, Februari 1904

Sebagai tanggapan atas serangan tersebut, para pemukim Jerman menyatakan diri mereka sebagai korban dan menuntut kompensasi penuh atas kerugian mereka dari kas kekaisaran. Namun, opini publik di Jerman menganggap mereka turut bertanggung jawab karena telah memprovokasi terjadinya perang.[22] Propaganda kekejaman yang dilebih-lebihkan dan dibuat-buat[28] yang menggambarkan suku Herero sebagai makhluk sadis serupa binatang menyebar luas[29] dengan surat-surat kabar pemukim seperti Deutsch-Südwestafrikanische Zeitung [de] memainkan peran penting dalam menghasut kekerasan.[30] Kendati demikian, banyak kolonis yang juga menyambut baik kesempatan tersebut untuk memutus sengketa atas tanah dan properti demi keuntungan mereka sendiri.[31] Banyak kolonis mendukung berbagai tindakan, mulai dari pelucutan senjata dan perampasan hak milik seluruh orang Herero, hingga pemenjaraan atau bahkan pemusnahan massal mereka.[31][29] Leutwein, yang menentang usulan-usulan yang lebih radikal, meyakini bahwa suku Herero harus dibuat "mati secara politik".[31] Pada awal pemberontakan, orang-orang Herero yang tertangkap harus menjalani persidangan kilat dan segera dieksekusi mati dengan cara ditembak atas tuduhan pencurian ternak.[19] Wanita dan anak-anak juga turut dibunuh.[32] Sejak bulan Februari, hukuman mati tanpa pengadilan menjadi lebih umum terjadi, dan tubuh-tubuh telanjang mereka digantung.[19]

Banyak orang Jerman yang beruntung bisa lolos dengan selamat dan berdesakan di tempat perlindungan darurat, menyaksikan harta benda dan tempat usaha mereka dihancurkan, serta tidak yakin akan nasib keluarga dan teman-teman mereka.[25] Masyarakat dengan cepat memobilisasi diri dan bahkan kaum perempuan dilaporkan turut memanggul senjata.[33] Sejumlah besar pria mendaftarkan diri sebagai sukarelawan untuk milisi, jauh melampaui jumlah tentara reguler.[34] Meskipun mereka kemudian digantikan oleh pasukan bantuan reguler, penduduk setempat terus dipekerjakan sebagai pemandu dan penasihat, dan para tentara yang baru tiba mengadopsi nilai-nilai yang sama.[35] Para pemukim yang panik mulai mengumpulkan setiap orang Herero yang dapat mereka temukan, memenjarakan semua wanita di Swakopmund dalam kamp-kamp konsentrasi dan mengirim 550 pria ke Cape Town. Beberapa di antaranya kemudian dijual kepada para perekrut tenaga kerja tambang di Koloni Tanjung.[36][37] Hasrat balas dendam yang ekstrem merasuki sebagian besar kolonis, yang mana hal ini berusaha diredam oleh para misionaris namun tidak membuahkan hasil. Bahkan bertahun-tahun kemudian, setelah segala ancaman telah lama ditumpas, media milik kolonis terus mengeluhkan tentang dugaan perlakuan yang terlalu lunak terhadap segelintir orang Herero yang tersisa.[38]

Tanggapan dari Jerman

Tokoh pusat Letnan Jenderal Lothar von Trotha, sang Oberbefehlshabercode: de is deprecated (Panglima Tertinggi) pasukan pertahanan di Afrika Barat Daya Jerman, di Keetmanshoop semasa pemberontakan Herero, 1904

Ketika berita mengenai kekejaman pertama terhadap suku Herero mencapai Jerman, kaum sosialis mengangkat masalah tersebut di dalam parlemen. Saat didesak untuk memberikan penjelasan, Leutwein mengakui bahwa penilaian August Bebel sebagian besar memang benar, tetapi ia berkilah bahwa dirinya tidak mampu menghentikan kekerasan yang dituntut oleh publik dan tentaranya, dan ia juga tidak dapat mengecamnya di bawah situasi tersebut.[32] Dengan pihak berwenang Jerman yang tidak mau dan tidak mampu mengendalikan pasukan mereka sendiri, kekerasan pun semakin meningkat dari kedua belah pihak.[39] Upaya Leutwein untuk berunding dengan Maharero pada bulan Februari menemui kegagalan setelah adanya reaksi kemarahan baik dari para kolonis maupun atasannya.[29] Bahkan setelah kedatangan pasukan bantuan pada bulan Maret, Leutwein tidak mampu menaklukkan taktik gerilya suku Herero, dan menderita serangkaian kekalahan.[29] Kekalahan sebuah kekuatan besar oleh suku-suku Afrika yang dianggap lebih rendah (inferior) merupakan sebuah penghinaan yang tak tertanggungkan bagi para pemimpin Jerman.[29][40]

Karena penarikan mundur taktisnya dalam pertempuran Oviumbo dipandang sebagai sebuah kegagalan, Staf Umum Jerman kehilangan kepercayaannya terhadap Leutwein[41] dan menggantikannya sebagai komandan militer dengan jenderal Lothar von Trotha, yang tiba pada 11 Juni dengan membawa perintah dari Kaiser Wilhelm II untuk "menumpas pemberontakan dengan segala cara yang diperlukan".[42][43] Meskipun Leutwein telah berusaha namun gagal untuk membuat perdamaian terpisah dengan sebagian besar suku Herero, Trotha menolak tawaran penyerahan diri.[44] Setelah berbulan-bulan mengumpulkan persediaan dan pasukan, Trotha masih hanya memiliki 1.500 tentara di Waterberg.[45]

Medan di dekat pegunungan Waterberg di Namibia tempat terjadinya pertempuran yang menentukan

Setelah bulan April[46] barangkali dengan harapan dapat membantu dirinya mempertahankan kendali atas para kepala suku Herero, Maharero memusatkan pasukannya—sekitar 60.000 orang beserta ternak mereka—di kaki Waterberg, sebuah gunung dengan ketersediaan makanan dan lahan padang rumput yang melimpah.[47][46][43] Pasukan dan persediaan suku Herero semakin menipis, sementara para kolonis menerima masuknya tenaga kerja dan persediaan dari Jerman.[47] Maharero berharap bahwa ia dapat bertahan setidaknya hingga bulan Februari; sebagian besar dari suku Herero masih mengharapkan adanya solusi negosiasi untuk mengakhiri perang.[46] Pemusatan tersebut memungkinkan pihak Jerman untuk mengepung dan mengalahkan mereka dalam sebuah pertempuran konvensional pada tanggal 11 Agustus, yang meniadakan kekuatan suku Herero dalam perang gerilya dan memperparah kelemahan mereka dalam hal jumlah serta persenjataan.[48][49]

Setelah sehari pertempuran, sebagian besar orang Herero berhasil melarikan diri ke arah tenggara.[50][49][51] Walaupun Trotha mendeklarasikan kemenangan, perwira-perwira Jerman lainnya yang hadir di sana tidak sependapat, karena tujuan awalnya adalah untuk mengakhiri perang dalam satu pukulan mematikan.[52][53]

Pengejaran ke gurun

Tindakan berani ini mengungkap dalam sorotan yang paling cemerlang energi tak kenal ampun dari komando Jerman dalam memburu musuh mereka yang telah kalah. Tidak ada upaya, tidak ada pengorbanan yang disayangkan dalam melenyapkan sisa-sisa perlawanan musuh yang terakhir. Bagaikan binatang yang terluka, sang musuh dilacak dari satu lubang air ke lubang air berikutnya, hingga akhirnya ia menjadi korban dari lingkungannya sendiri. Omaheke yang gersang akan menuntaskan apa yang telah dimulai oleh angkatan darat Jerman: pemusnahan bangsa Herero.
— Sejarah resmi Jerman[54]

Upaya-upaya awal untuk mengejar dan memaksa suku Herero ke dalam konfrontasi besar lainnya menemui kegagalan sepanjang bulan Agustus dan berlanjut hingga akhir September, ketika Maharero berhasil menghindari upaya Jerman untuk memancing pertempuran.[55] Terlepas dari rencana-rencana Trotha, pertempuran tersebut terpecah menjadi kelompok-kelompok yang lebih kecil[56] seiring pasukannya memburu suku Herero menyusuri dasar sungai Eiseb dan Epukiro yang kering.[51] Beberapa sumber air dijaga oleh pasukan Jerman dan sumber-sumber lainnya diracuni untuk menghalangi akses air bagi orang-orang yang melarikan diri tersebut.[57] Perintah dari Trotha menginstruksikan untuk menembak ke arah atas kepala wanita dan anak-anak guna mengusir mereka,[57] namun pada praktiknya, ketika Schutztruppe berhadapan dengan suku Herero, mereka dibantai secara membabi buta. Walaupun kamp-kamp tawanan perang telah dipersiapkan sebelum konfrontasi di Waterberg, detasemen-detasemen Jerman yang kelelahan, lapar, dan haus tidak lagi dalam posisi yang memungkinkan untuk menahan tawanan.[56]

Pada tanggal 30 September, segala upaya pengejaran harus dihentikan akibat kelelahan yang melanda pasukan Jerman,[58] serta pelarian sisa-sisa orang Herero yang semakin jauh ke dalam gurun pasir.[55] Trotha mendirikan serangkaian pos militer sepanjang 155 mil (249 km) di antara Gobabis dan Grootfontein di sepanjang tepi barat gurun tersebut.[59][60]

Meski beberapa sejarawan berpendapat bahwa langkah ini dimaksudkan untuk menuntaskan genosida dengan mencegah kembalinya suku Herero ke arah barat,[57] sejarawan lainnya berargumen bahwa sangatlah tidak masuk akal jika pasukan yang begitu sedikit dapat benar-benar menjaga garis perbatasan yang sedemikian panjang.[61] Selama fase genosida ini, sekitar 40.000 orang Herero tewas di padang gurun, yang mana sebagian besar di antaranya akibat dehidrasi.[57]

Sebuah majalah sosialis Jerman (1906): "Meskipun hal itu belum mendatangkan banyak keuntungan dan tidak ada barang berkualitas lebih baik yang ditawarkan, setidaknya kita dapat menggunakannya untuk mendirikan pabrik penggilingan tulang."[62]

Pada 2 Oktober, Trotha mengeluarkan perintah pemusnahan yang keji, yang menyatakan bahwa "Di dalam batas-batas wilayah Jerman, setiap orang Herero, baik dengan atau tanpa senjata api, dengan atau tanpa ternak, akan ditembak. Saya tidak akan lagi menampung perempuan dan anak-anak."[63][49] Ia semata-mata mendeklarasikan apa yang pada dasarnya sudah dipraktikkan oleh pasukannya, meski masih menjadi perdebatan apakah ia benar-benar bermaksud untuk membunuh seluruh suku Herero atau sekadar mengusir mereka ke luar dari koloni Jerman.[64] Dengan secara gamblang memerintahkan pembunuhan terhadap setiap pria Herero yang tertangkap oleh pasukannya, Trotha menutup rapat kemungkinan untuk menyerahkan diri.[65] Berkat informasi intelijen yang terbatas, barulah pada akhir bulan Oktober menjadi jelas bahwa suku Herero tidak lagi menghadirkan ancaman nyata karena banyak dari mereka yang telah tewas di gurun. Meskipun demikian, Trotha menolak untuk mempertimbangkannya kembali,[66] serta menolak segala bentuk permohonan dari para misionaris, pemukim, dan bahkan dari banyak perwira seniornya.[67][63] Di saat Häussler berpendapat bahwa Trotha termotivasi oleh kemarahan dan rasa malu akibat seolah-olah dikalahkan oleh bangsa yang inferior,[68] Sejarawan Mohamed Adhikari menunjuk pada penjelasan-penjelasan yang lebih rasional: kurangnya pasokan untuk memberi makan tawanan, risiko penyebaran penyakit kepada orang-orang Jerman, hasrat Trotha agar suku Herero tidak pernah lagi menimbulkan ancaman bagi koloni, dan ideologi penganut Darwinisme sosial yang menempatkan pertarungan rasial di atas pertimbangan praktis seperti nilai tenaga kerja pribumi.[63]

Namun demikian, dukungan publik terhadap perang memudar baik di koloni maupun di Jerman. Kelompok-kelompok sosialis dan Kristen menentangnya atas dasar kemanusiaan; para kolonis menentang penghancuran ternak dan tenaga kerja suku Herero yang sia-sia.[69][70] Pemerintahan Kanselir Bernhard von Bülow pada awalnya mendukung perang tersebut, tetapi menjadi bimbang seiring menumpuknya biaya finansial dan kerugian reputasi.[69] Trotha telah mengeluarkan perintah pemusnahan atas wewenangnya sendiri, dan akibat keterlambatan komunikasi, tidak jelas apakah Kepala Staf Umum, Alfred von Schlieffen, menoleransinya selama beberapa bulan atau hanya beberapa hari.[71] Walau bagaimanapun, pada bulan November Schlieffen merekomendasikan pencabutan perintah tersebut karena ia skeptis bahwa Trotha dapat mencapai pemusnahan atau perbudakan menyeluruh terhadap suku Herero, dan oleh karena itu penting untuk memaksa mereka menyerah.[72][73] Bülow memohon kepada kaisar, yang kemudian menarik kembali perintah tersebut pada tanggal 6 Desember. Menurut laporan, Trotha sangat marah dan pada awalnya menolak untuk melaksanakannya.[69][74]

Pemberontakan Nama

Schutztruppe di Namibia, 1904

Sesuai dengan kewajiban perjanjian mereka, setidaknya seratus orang Nama telah bertempur di pihak Jerman selama kampanye Bondelwarts dan di Waterberg, meskipun para prajurit ini kemudian diasingkan ke tempat yang mematikan di Togo dan Kamerun pada bulan November 1905.[75][76] Menyusul adanya laporan tentang bagaimana suku Herero diperlakukan setelah pertempuran tersebut dan rumor yang terus beredar mengenai pelucutan senjata suku-suku Nama yang tersisa,[76] kepala suku ǀKhowesin Hendrik Witbooi, yang telah bersekutu dengan pihak Jerman dari tahun 1894 hingga 1904, berbalik arah pada bulan September dan diikuti oleh mayoritas orang Nama.[75][77]

Banyak orang Nama yang diasingkan sebelum mereka memiliki kesempatan, dan beberapa di antaranya menolak untuk ikut bergabung dalam pemberontakan.[77] Tentara Jerman mulai menduduki sumber-sumber air di wilayah mereka dan menangkap setiap orang Nama yang dapat mereka temukan. Trotha mengeluarkan perintah pemusnahan kedua terhadap suku Nama pada tanggal 22 April 1905. Pada puncak peperangan, 2.000 pejuang Nama menyibukkan pergerakan 14.000 tentara Jerman.[75] Berbeda dengan perlakuan terhadap suku Herero, ia menawarkan perdamaian melalui negosiasi kepada suku Nama yang menyerah, dengan sedikit keberhasilan, meskipun janji-janji tersebut tidak ditepati dan mereka yang menyerah berakhir di sistem kamp konsentrasi di mana sebagian besar dari mereka tewas.[78] Kegagalan Trotha untuk menundukkan suku Nama berujung pada penarikannya pada akhir tahun 1905, ketika posisinya sebagai gubernur digantikan oleh Friedrich von Lindequist.[79] Bertentangan dengan saran dari para perwira militer yang terlibat dalam peperangan, termasuk pengganti militer Trotha Berthold Deimling, Lindequist menolak untuk mempertimbangkan perdamaian melalui negosiasi[80]—meskipun terdapat kesulitan luar biasa yang ditimbulkan oleh kedekatan wilayah Inggris yang dimanfaatkan suku Nama sebagai tempat berlindung dari serangan Jerman, serta tingginya tingkat kesulitan dalam menyuplai kembali pasukan Jerman.[81]

Setelah kematian Witbooi dalam pertempuran pada tanggal 29 Oktober 1905, Simon Kooper menolak untuk meminta perdamaian dan menolak pengumuman resminya oleh kaisar pada tanggal 31 Maret 1907.[82] Pada saat yang sama, terlepas dari perdamaian parsial yang dilakukan secara tergesa-gesa oleh Leutwein setelah pecahnya pemberontakan Herero, banyak dari suku Bondelwart di bawah kepemimpinan Jakob Marengo dan para kepala suku lainnya terus merepotkan para penjajah.[83] Akibat membengkaknya biaya, parlemen menolak untuk menyetujui pendanaan demi melanjutkan peperangan, yang mengarah pada apa yang disebut "pemilihan Hottentot" pada bulan Januari 1907.[84] Setelah kematian Marengo pada akhir tahun 1907, pihak Jerman memusatkan upaya mereka untuk menyingkirkan Kooper.[82] Pada tahun 1908, ia akhirnya menerima kesepakatan damai yang mana ia dibayar untuk pergi ke pengasingan.[85][86]

Kamp konsentrasi

Lihat pula: Kamp konsentrasi Pulau Shark
"Kondisi orang Herero saat menyerah setelah diusir ke padang gurun"

Setelah pencabutan perintah pemusnahan, para penyintas yang tersisa sebaliknya dipenjarakan di kamp-kamp konsentrasi sebagai tawanan perang.[69] Meskipun terdapat penjagaan (kordon) dari Trotha, banyak orang Herero yang berhasil kembali ke arah barat menuju wilayah yang lebih layak huni. Sepanjang tahun 1905, para tentara menyisir pedesaan untuk mencari orang Herero; mereka juga melakukan banyak tindakan kekerasan dan bahkan pembantaian.[87] Berita mengenai buruknya perlakuan terhadap orang-orang Herero yang menyerah segera tersebar dan menghambat upaya Jerman untuk mendorong penyerahan diri secara luas.[72] Setelah Trotha digantikan oleh Deimling pada tahun 1906, para misionaris mengambil peran yang lebih menonjol dalam mengumpulkan suku Herero. Beberapa orang Herero diorganisasi ke dalam "patroli perdamaian" bersenjata, yang tugasnya adalah masuk ke dalam semak-semak untuk membujuk mereka yang masih buron agar menyerah dengan menggunakan janji-janji palsu mengenai makanan dan perlakuan yang layak.[88] Jumlah tahanan yang ditangkap meningkat secara substansial.[89][88] Setelah jasa mereka tidak lagi dibutuhkan, para "patroli perdamaian" tersebut juga turut dipenjarakan di kamp-kamp konsentrasi.[88]

Sebagian besar tahanan berada dalam kondisi yang memprihatinkan akibat kelaparan dan penyakit, dan banyak yang tewas dalam perjalanan atau tidak lama setelah tiba di kamp.[88] Mereka dikirim jauh dari tempat tinggal mereka[87]—yang sering kali berjarak ratusan kilometer.[90] Terdapat lima kamp konsentrasi utama di Windhoek, Okahandja, Karibib, Swakopmund, dan Lüderitz, serta kamp-kamp yang lebih kecil di mana tenaga kerja Herero sangat dibutuhkan. Tiga perempat dari mereka adalah wanita dan anak-anak, karena para pria lebih berisiko tewas selama peperangan dan menghindari penangkapan.[87]

Kamp-kamp tersebut memiliki kondisi yang buruk, dengan tempat perlindungan seadanya yang dikelilingi oleh kawat berduri, hampir tanpa sistem sanitasi, dan para tahanan hanya memiliki sedikit pakaian. Jumlah makanan yang disediakan tidak memadai dan sebagian besar berupa beras dan tepung yang mana para tahanan tidak memiliki peralatan untuk memasaknya. Akibatnya, banyak tahanan yang menderita penyakit yang berhubungan dengan malnutrisi kronis, seperti disentri, diare, dan skurvi, serta terdapat banyak kasus kematian akibat tifus, tuberkulosis, pneumonia, dan influenza.[91] Seluruh tahanan diwajibkan untuk melakukan kerja paksa, terutama membangun jalan, jalur kereta api, dan pelabuhan, yang umumnya sangat melelahkan dan disertai dengan pemukulan.[91][90] Pemerkosaan merupakan hal yang lumrah, dan di beberapa kamp terdapat pengumpulan wanita pada malam hari untuk dilecehkan.[91][92] Di antara orang-orang kulit putih yang memiliki kekuasaan tak terbatas atas mereka adalah para korban serangan Herero sebelumnya dan para tentara yang pernah berada di garis depan.[93]

Sekitar separuh dari para tahanan tewas,[94] meskipun tingkat kematian sangat bervariasi antar kamp.[95] Beberapa tengkorak dan bagian tubuh lainnya dari korban tewas dibawa ke Jerman, di mana sisa-sisa tubuh tersebut diteliti untuk memberikan "bukti" saintifik semu tentang inferioritas rasial orang Afrika.[96] Meskipun militer Jerman mengkhawatirkan konsekuensi negatif pragmatis dari tingginya tingkat kematian, pemerintah sipil menolak berbagai upaya untuk memperbaiki kondisi tersebut.[97] Lebih lanjut lagi, pemerintah sipil-lah, dan bukan pihak militer, yang bersikeras untuk terus memenjarakan mereka yang tidak dapat bekerja dan tidak menimbulkan ancaman.[98] Wakil gubernur Hans Tecklenburg mengatakan bahwa tidak ada tahanan yang tidak bersalah dan penderitaan tersebut akan memberikan pelajaran yang sangat dibutuhkan oleh suku Herero. Kendati ia menganggap kerugian tersebut patut disesalkan, ia percaya bahwa tingkat kesuburan suku Herero yang tinggi akan memulihkan jumlah populasi mereka seiring berjalannya waktu.[99] Penutupan kamp-kamp tersebut diproklamasikan pada hari ulang tahun kaisar, 27 Januari 1908.[100]

Dampak

Pencambukan seorang wanita pribumi oleh majikannya. Ia dan wanita lainnya tewas akibat luka-luka yang diderita; sang majikan dijatuhi hukuman empat bulan penjara.

Sejarah resmi Jerman mengenai perang tersebut melaporkan bahwa "suku Herero tidak lagi eksis sebagai sebuah suku", setelah kehilangan seluruh ternak, tanah, pemimpin, dan struktur kemasyarakatan mereka.[100] Antara 40.000 hingga 80.000 orang Herero (80 persen dari populasi mereka sebelum perang) dan 10.000 orang Nama (setengah dari populasi mereka sebelum perang) telah tewas.[1] Sekitar 1.000 orang, termasuk Samuel Maharero, melarikan diri ke Bechuanaland dan sekitar jumlah yang sama lari ke Kerajaan-kerajaan Ovambo. Beberapa orang Herero masih hidup sebagai buronan.[101] Beberapa orang Nama berupaya untuk menghindari kerja paksa dengan melarikan diri ke Koloni Tanjung, tetapi mereka yang tertangkap oleh pihak berwenang dikembalikan ke Namibia di mana sebagian besar dari mereka kemudian dieksekusi.[102] Menurut angka sensus, terdapat sekitar 15.000 orang Herero dan 10.000 orang Nama yang hidup di Namibia pada awal tahun 1910-an.[94] Masalah impunitas atas kejahatan terhadap orang Afrika dan kekerasan di luar hukum oleh para pemukim justru semakin diperparah oleh perang.[103] Kerja paksa tidak dihapuskan dengan pembongkaran kamp-kamp konsentrasi, karena para penyintas disebar ke berbagai perkebunan dan peternakan untuk bekerja bagi para petani Jerman.[104]

Seluruh tanah suku Herero disita oleh negara dan sebagian besar dijual kepada para kolonis.[105][106] Untuk menerapkan visinya di mana orang Jerman akan mendominasi dan penduduk pribumi akan menjadi tenaga kerja yang ditundukkan, pihak koloni mengesahkan undang-undang rasis yang luas pada tahun 1907. Seluruh orang Herero dilarang untuk memiliki ternak atau tanah; semua dari mereka harus terdaftar di pemerintah beserta tempat tinggal dan majikan mereka. Mereka diwajibkan untuk membawa cakram logam dengan nomor yang dicetak timbul untuk pelacakan. Ordonansi lainnya melarang lebih dari sepuluh keluarga Herero untuk tinggal di setiap properti milik majikan.[106][107] Orang Jerman dan pribumi dilarang untuk saling menikah. Undang-undang tersebut tidak sepenuhnya ditegakkan karena lemahnya administrasi kolonial. Sejumlah orang Herero melarikan diri secara ilegal dari satu majikan untuk bekerja pada majikan lainnya; sementara yang lain desersi untuk hidup sebagai buronan.[108] Meskipun mencambuk penduduk pribumi adalah hal yang legal,[109] majikan kulit putih sering kali juga melakukan kekerasan ilegal terhadap karyawan mereka, dan kejahatan semacam itu diabaikan oleh budaya solidaritas rasial di dalam sistem peradilan.[108] Pada tahun 1915, Afrika Barat Daya Jerman diinvasi oleh Afrika Selatan,[110] yang berujung pada penentangan terbuka terhadap undang-undang rasis tersebut; banyak orang Herero yang kembali menjalani gaya hidup yang lebih tradisional, sering kali menjadi penduduk liar di tanah-tanah kosong.[111]

Maharero meninggal di pengasingan, tetapi pemakamannya pada 26 Agustus 1923 menjadi pertemuan massal pertama suku Herero sejak perang tersebut dan dirayakan setiap tahunnya oleh suku Herero hingga memasuki abad ke-21.[112][111] Peringatan Jerman atas kemenangan mereka dalam perang tersebut diadakan secara tahunan oleh komunitas Jerman Namibia hingga tahun 2003, ketika peringatan itu dilarang oleh pemerintah Namibia.[113]

Kekuasaan Afrika Selatan

Genosida sebelumnya diselidiki oleh otoritas Inggris sebagai pembenaran untuk mempertahankan wilayah tersebut bagi mereka sendiri. Diterbitkan pada tahun 1918, Buku Biru memuat catatan terperinci mengenai genosida tersebut[110][109] dan menjadi instrumen penting dalam membentuk stereotip penjajah Jerman yang kejam yang bertahan pada dekade-dekade berikutnya.[114] Pasca-Revolusi Jerman, pemerintahan baru Jerman menerbitkan sebuah Buku Putih, yang pada dasarnya berargumen bahwa karena kekejaman serupa juga pernah terjadi di dalam Imperium Britania, genosida tersebut bukanlah alasan untuk merampas koloni-koloni Jerman.[115] Meskipun Buku Putih tersebut tidak akurat dalam menggambarkan skala relatif kekejaman Jerman dan Inggris, argumennya yang menyatakan bahwa pemberontakan Herero merupakan reaksi alami dari masyarakat adat di bawah bayang-bayang kolonialisme pemukim merupakan pandangan yang paling dominan di kalangan sejarawan saat ini.[116] Pada tahun 1926, Inggris menarik kembali dan menghancurkan salinan-salinan Buku Biru sebagai bagian dari upaya pemulihan hubungan dengan Jerman, yang mengindikasikan fakta bahwa segala bentuk kepedulian terhadap korban kekerasan kolonial lebih bersifat politis ketimbang kemanusiaan.[117] Afrika Selatan menerima mandat Liga Bangsa-Bangsa atas Afrika Barat Daya pada bulan Desember 1920.[118]


Selama masa pemerintahan Afrika Selatan, kenangan akan genosida tersebut berulang kali diserukan oleh para perwakilan suku Herero untuk menentang keberlanjutan kolonialisme serta pemerintahan apartheid.[119] Semasa era apartheid, kolonialisme pemukim Jerman sebelumnya telah memuluskan jalan bagi keberlangsungan pemerintahan minoritas kulit putih. Perampasan tanah terus berlanjut di saat para petani Afrikaans diberikan lahan di Namibia dan populasi kulit hitam Namibia dipusatkan di Bantustan-Bantustan.[120]

Setelah Namibia meraih kemerdekaan pada tahun 1990, negara tersebut mewarisi distribusi lahan yang sangat timpang dan sarat akan rasialisme.[121] Reformasi tanah dipisahkan dari kerugian-kerugian historis dan justru dirancang untuk menguntungkan basis pendukung partai penguasa.[121][120] Masyarakat Nama yang merasa tidak puas kemudian membentuk Gerakan Rakyat Tak Bertanah.[120] Kendati hal ini tidak berkaitan erat dengan ketimpangan pendapatan di Namibia, isu mengenai tanah diidentifikasi oleh para perwakilan Herero dan Nama sebagai konsekuensi terpenting dari genosida tersebut.[121]

Historiografi

Lihat pula: Genosida Namibia dan Holokaus
Patung Penunggang Kuda di Windhoek didirikan untuk menghormati para pelaku dari Jerman, namun akibat kontroversi, patung tersebut telah dipindahkan berkali-kali dan diturunkan dari tumpuannya.[122]

Sejarah resmi Jerman mengenai perang tersebut, begitu pula dengan catatan-catatan yang diterbitkan oleh para pemukim dan tentara, merayakan penumpasan pemberontakan Herero.[123][124] Genosida tersebut merupakan salah satu dari segelintir genosida kolonial yang utamanya dilakukan oleh pasukan militer reguler.[125] Horst Drechsler, yang berkarya di Jerman Timur, menyusun studi komprehensif pertama mengenai kolonialisme Jerman di Namibia pada dekade 1960-an dan merupakan sosok pertama yang berargumen bahwa para kolonis telah melakukan genosida. Meskipun Drechsler mencerca imperialisme Jerman, studi-studi yang lebih baru sering kali menimpakan kesalahan pada aktor-aktor tertentu, seperti Trotha ataupun sang kaisar.[126] Di saat para sejarawan yang menulis berdasarkan norma-norma akademis tidak membantah bahwa genosida memang terjadi,[127] terdapat pula industri rumahan yang memproduksi buku-buku bernuansa nostalgia karangan orang Jerman Namibia yang berdalih bahwa kekejaman kolonial terlalu dilebih-lebihkan untuk merekayasa rasa bersalah Jerman dan meraup pampasan.[127] Posisi penolakan (denialisme) semacam itu lazim ditemukan di kalangan orang Jerman Namibia.[128]

Di Jerman, perdebatan seputar sifat dari keterkaitan antara segregasi rasial dan genosida di Namibia dengan Holokaus mencuat pada tahun 2000-an[129] dan telah menjadi sangat sengit.[130] Para pendukung pendekatan pascakolonial mengutip kesamaan-kesamaan yang mencolok baik dalam pembenaran ideologis maupun taktik kekuasaan kolonial Jerman di Namibia dan Eropa Timur.[131][124] Di sisi lain, kritikan terhadap kaitan erat antara kedua genosida tersebut mengemukakan bahwa hal itu merupakan sebuah pendekatan reduktif yang menghidupkan kembali tesis Sonderweg (jalan khusus) dari sejarah Jerman yang telah didiskreditkan, sembari mengaburkan kaitan-kaitan dengan rezim kolonial lainnya.[132]

Pampasan

Artikel utama: Pampasan genosida Namibia
Di Berlin, sebuah batu peringatan bagi para tentara Jerman yang gugur dalam perang diperbarui dengan sebuah plakat yang mengakui korban dari suku Herero dan Nama (kiri bawah)

Selama 20 tahun setelah Namibia merdeka, pemerintah Namibia mengabaikan masalah ini sementara kelompok-kelompok Herero dan Nama mengejar pampasan, termasuk dengan mengajukan gugatan hukum yang berujung kegagalan di Amerika Serikat di bawah Undang-Undang Klaim Kerugian Asing, dengan menuntut ganti rugi hukuman serta "nilai tanah, ternak, dan properti lain yang disita dan dirampas dari suku Ovaherero dan Nama".[133] Pada tahun 2015, pemerintah Jerman mengakui bahwa sebuah genosida telah dilakukan di Namibia.[134] Negosiasi antara pemerintah Jerman dan Namibia berujung pada sebuah kesepakatan pada tahun 2021 yang mana pemerintah Jerman setuju untuk menyumbangkan 1,1 miliar euro (US$1.24 miliar) dalam wujud bantuan pembangunan ex gratia, sembari menolak segala bentuk tanggung jawab hukum atas genosida tersebut.[135]

Kesepakatan ini ditolak secara lantang oleh sebagian besar organisasi yang mewakili suku Herero dan Nama, yang sebelumnya menuntut hak mereka sendiri untuk bernegosiasi secara langsung dengan Jerman terkait penyelesaian apa pun.[136] Pada tahun 2023, Gerakan Rakyat Tak Bertanah dan para pemimpin tradisional dari komunitas Herero dan Nama mengajukan gugatan ke pengadilan Namibia untuk membatalkan resolusi persetujuan Majelis Nasional terhadap kesepakatan tersebut.[137] Walaupun ia membandingkan kesepakatan ini secara positif dengan upaya-upaya Inggris dan Belanda yang lebih terbatas dalam menghadapi kejahatan kolonial masa lalu, sosiolog Jerman Henning Melber menyebut pernyataan bersama Jerman-Namibia tersebut sebagai "versi lunak dari penyangkalan (denialisme)" yang "tidak menawarkan rekonsiliasi yang sesungguhnya".[136] Pakar hukum internasional Matthias Goldmann mengemukakan bahwa kesepakatan tersebut mungkin tidaklah tanpa pamrih sebagaimana yang terlihat pada awalnya,[meragukan] dan malah "seakan menegaskan superioritas peradaban [Jerman]".[138]

Referensi

  1. 1 2 3 4 5 Faber-Jonker 2023, hlm. 634.
  2. 1 2 3 Adhikari 2022, hlm. 119.
  3. ↑ Faber-Jonker 2023, hlm. 636.
  4. ↑ Faber-Jonker 2023, hlm. 636-637.
  5. 1 2 Faber-Jonker 2023, hlm. 637.
  6. 1 2 Adhikari 2022, hlm. 120.
  7. 1 2 3 4 5 Adhikari 2022, hlm. 121.
  8. ↑ Fitzpatrick 2022, hlm. 269.
  9. ↑ Faber-Jonker 2023, hlm. 637–638, 644.
  10. ↑ Adhikari 2022, hlm. 123.
  11. ↑ Häussler 2021, hlm. 78–80.
  12. ↑ Häussler 2021, hlm. 82.
  13. 1 2 Adhikari 2022, hlm. 122.
  14. ↑ Häussler 2021, hlm. 80.
  15. 1 2 Adhikari 2022, hlm. 124.
  16. ↑ Faber-Jonker 2023, hlm. 639.
  17. ↑ Häussler 2021, hlm. 259–260.
  18. ↑ Häussler 2021, hlm. 45–46.
  19. 1 2 3 4 5 6 Faber-Jonker 2023, hlm. 642.
  20. 1 2 Häussler 2021, hlm. 51.
  21. 1 2 Häussler 2021, hlm. 56.
  22. 1 2 Häussler 2021, hlm. 46.
  23. 1 2 3 Adhikari 2022, hlm. 128.
  24. 1 2 3 4 Häussler 2021, hlm. 53.
  25. 1 2 Häussler 2021, hlm. 58.
  26. 1 2 3 Häussler 2021, hlm. 52.
  27. ↑ Adhikari 2022, hlm. 127.
  28. ↑ Häussler 2021, hlm. 50-51.
  29. 1 2 3 4 5 Adhikari 2022, hlm. 129.
  30. ↑ Häussler 2021, hlm. 63.
  31. 1 2 3 Faber-Jonker 2023, hlm. 643.
  32. 1 2 Häussler 2021, hlm. 60.
  33. ↑ Häussler 2021, hlm. 58–59.
  34. ↑ Häussler 2021, hlm. 61–62.
  35. ↑ Häussler 2021, hlm. 62–63.
  36. ↑ Faber-Jonker 2023, hlm. 642–643.
  37. ↑ Maedza 2024, hlm. 139.
  38. ↑ Häussler 2021, hlm. 59.
  39. ↑ Häussler 2021, hlm. 61.
  40. ↑ Häussler 2021, hlm. 157.
  41. ↑ Grawe 2019, hlm. 598.
  42. ↑ Adhikari 2022, hlm. 129–130.
  43. 1 2 Faber-Jonker 2023, hlm. 644.
  44. ↑ Häussler 2021, hlm. 127–128.
  45. ↑ Häussler 2021, hlm. 130.
  46. 1 2 3 Adhikari 2022, hlm. 131.
  47. 1 2 Häussler 2021, hlm. 56–57.
  48. ↑ Adhikari 2022, hlm. 131–132.
  49. 1 2 3 Faber-Jonker 2023, hlm. 645.
  50. ↑ Häussler 2021, hlm. 132.
  51. 1 2 Adhikari 2022, hlm. 132.
  52. ↑ Häussler 2021, hlm. 131–132.
  53. ↑ Grawe 2019, hlm. 605.
  54. ↑ Grawe 2019, hlm. 605–606.
  55. 1 2 Häussler 2021, hlm. 146–148.
  56. 1 2 Häussler 2021, hlm. 149.
  57. 1 2 3 4 Adhikari 2022, hlm. 132–133.
  58. ↑ Grawe 2019, hlm. 606.
  59. ↑ Adhikari 2022, hlm. 133.
  60. ↑ Häussler 2021, hlm. 167.
  61. ↑ Häussler 2021, hlm. 151.
  62. ↑ Zimmerer & Zeller 2008, hlm. 137.
  63. 1 2 3 Adhikari 2022, hlm. 134.
  64. ↑ Häussler 2021, hlm. 150.
  65. ↑ Häussler 2021, hlm. 152.
  66. ↑ Häussler 2021, hlm. 153.
  67. ↑ Häussler 2021, hlm. 166–167.
  68. ↑ Häussler 2021, hlm. 154, 170.
  69. 1 2 3 4 Adhikari 2022, hlm. 135.
  70. ↑ Grawe 2019, hlm. 610.
  71. ↑ Grawe 2019, hlm. 607.
  72. 1 2 Häussler 2021, hlm. 242.
  73. ↑ Grawe 2019, hlm. 609.
  74. ↑ Grawe 2019, hlm. 609–610.
  75. 1 2 3 Faber-Jonker 2023, hlm. 646.
  76. 1 2 Kössler 2024, hlm. 54–55.
  77. 1 2 Kössler 2024, hlm. 56.
  78. ↑ Kössler 2024, hlm. 62.
  79. ↑ Adhikari 2022, hlm. 136-137.
  80. ↑ Häussler 2021, hlm. 244-245.
  81. ↑ Kössler 2024, hlm. 58.
  82. 1 2 Bomholt Nielsen 2022, hlm. 77.
  83. ↑ Bomholt Nielsen 2022, hlm. 18.
  84. ↑ Grawe 2019, hlm. 613.
  85. ↑ Bomholt Nielsen 2022, hlm. 79.
  86. ↑ Kössler 2024, hlm. 63.
  87. 1 2 3 Adhikari 2022, hlm. 136.
  88. 1 2 3 4 Adhikari 2022, hlm. 137.
  89. ↑ Häussler 2021, hlm. 243.
  90. 1 2 Faber-Jonker 2023, hlm. 647.
  91. 1 2 3 Adhikari 2022, hlm. 138.
  92. ↑ Häussler 2021, hlm. 249–250.
  93. ↑ Häussler 2021, hlm. 249.
  94. 1 2 Faber-Jonker 2023, hlm. 651.
  95. ↑ Kramer 2025, hlm. 47.
  96. ↑ Faber-Jonker 2023, hlm. 650.
  97. ↑ Häussler 2021, hlm. 245.
  98. ↑ Häussler 2021, hlm. 246.
  99. ↑ Häussler 2021, hlm. 201, 247.
  100. 1 2 Adhikari 2022, hlm. 139.
  101. ↑ Adhikari 2022, hlm. 139–140.
  102. ↑ Kössler 2024, hlm. 64.
  103. ↑ Häussler 2021, hlm. 199, 250.
  104. ↑ Maedza 2024, hlm. 146.
  105. ↑ Zimmerer 2023, hlm. 70.
  106. 1 2 Adhikari 2022, hlm. 140.
  107. ↑ Zimmerer 2023, hlm. 71–72.
  108. 1 2 Adhikari 2022, hlm. 141.
  109. 1 2 Maedza 2024, hlm. 138.
  110. 1 2 Bomholt Nielsen 2022, hlm. 2.
  111. 1 2 Adhikari 2022, hlm. 142.
  112. ↑ Maedza 2024, hlm. 148–149.
  113. ↑ Reitz & Mannitz 2021, hlm. 8.
  114. ↑ Bomholt Nielsen 2022, hlm. 195.
  115. ↑ Bomholt Nielsen 2022, hlm. 193.
  116. ↑ Bomholt Nielsen 2022, hlm. 194.
  117. ↑ Bomholt Nielsen 2022, hlm. 194–195.
  118. ↑ Bomholt Nielsen 2022, hlm. 179.
  119. ↑ Krautwald 2022, hlm. 805.
  120. 1 2 3 Melber et al. 2025.
  121. 1 2 3 Reitz & Mannitz 2021, hlm. 15.
  122. ↑ Reitz & Mannitz 2021, hlm. 9–10.
  123. ↑ Adhikari 2022, hlm. 143.
  124. 1 2 Faber-Jonker 2023, hlm. 653.
  125. ↑ Häussler 2021, hlm. 170.
  126. ↑ Häussler 2021, hlm. 5.
  127. 1 2 van der Hoog 2022.
  128. ↑ Reitz & Mannitz 2021, hlm. 9, 15.
  129. ↑ Faber-Jonker 2023, hlm. 655.
  130. ↑ Zimmerer 2023, hlm. xxii.
  131. ↑ Zimmerer 2023, hlm. 136.
  132. ↑ Bomholt Nielsen 2022, hlm. 5–6.
  133. ↑ Melber 2024, hlm. 784.
  134. ↑ Melber 2024, hlm. 774.
  135. ↑ Melber 2024, hlm. 781–783.
  136. 1 2 Melber 2024, hlm. 785.
  137. ↑ Melber 2024, hlm. 787.
  138. ↑ Melber 2024, hlm. 775.

Sumber

  • Adhikari, Mohamed (2022). Destroying to Replace: Settler Genocides of Indigenous Peoples (dalam bahasa Inggris). Hackett Publishing. ISBN 978-1-64792-055-5.
  • Bomholt Nielsen, Mads (2022). Britain, Germany and Colonial Violence in South-West Africa, 1884-1919: The Herero and Nama Genocide. Springer International Publishing. ISBN 978-3-030-94560-2.
  • Faber-Jonker, Leonor (2023). "'Rivers of Blood and Rivers of Money': The Herero and Nama Genocides in German Southwest Africa, 1904–1908". The Cambridge World History of Genocide. Cambridge University Press. hlm. 634–656. ISBN 978-1-108-76548-0.
  • Fitzpatrick, Matthew P. (2022). "Paramountcy in German South West Africa". The Kaiser and the Colonies. Oxford University Press. hlm. 244–270. ISBN 978-0-19-289703-9.
  • Grawe, Lukas (2019). "The Prusso-German General Staff and the Herero Genocide". Central European History. 52 (4). Cambridge University Press: 588–619. doi:10.1017/s0008938919000888. ISSN 0008-9389.
  • Häussler, Matthias (2021). The Herero Genocide: War, Emotion, and Extreme Violence in Colonial Namibia (dalam bahasa Inggris). Berghahn Books. ISBN 978-1-80073-024-3.
  • Kössler, Reinhard (2024). "The Nama-German War – an integral part of a complex trajectory of large- scale violence". An Unresolved Issue: Genocide in Colonial Namibia. Friedrich-Ebert-Stiftung. ISBN 978-99945-56-38-0.
  • Kramer, Alan (2025). Concentration Camps: A Global History (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-252091-3.
  • Krautwald, Fabian (2022). "Genocide and the Politics of Memory in the Decolonisation of Namibia". Journal of Southern African Studies. 48 (5): 805–823. Bibcode:2022JSAfS..48..805K. doi:10.1080/03057070.2022.2127587.
  • Maedza, Pedzisai (2024). "'People Died There Like Flies that Had Been Poisoned': Remembering the First German Genocide in Namibia". Remembering Mass Atrocities: Perspectives on Memory Struggles and Cultural Representations in Africa (dalam bahasa Inggris). Springer International Publishing. hlm. 135–151. ISBN 978-3-031-39892-6.
  • Melber, Henning (2024). "Colonialism, Genocide and Reparations: The German-Namibian Case". Development and Change. 55 (4): 773–799. doi:10.1111/dech.12840. hdl:2263/98564.
  • Melber, Henning; Camfield, Laura; Kothari, Uma (2025). "Development as (In)Justice: The Case of Namibia". Progress in Development Studies 14649934251388766. doi:10.1177/14649934251388766.
  • Reitz, Núrel Bahí; Mannitz, Sabine (2021). Remembering Genocide in Namibia (Technical report). JSTOR resrep30944.
  • van der Hoog, Tycho Alexander (2022). "Brewing Tensions: The Colonial Gaze of the German–Namibian Publishing Industry". Africa Spectrum. 57 (3): 264–281. doi:10.1177/00020397221105900. hdl:1887/3309467.
  • Zimmerer, Jürgen; Zeller, Joachim (2008). Genocide in German South-West Africa: The Colonial War (1904–1908) in Namibia and Its Aftermath (dalam bahasa Inggris). Merlin Press. ISBN 978-0-85036-573-3.
  • Zimmerer, Jürgen (2023). From Windhoek to Auschwitz?: Reflections on the Relationship between Colonialism and National Socialism (dalam bahasa Inggris). de Gruyter. doi:10.1515/9783110754513. ISBN 978-3-11-075460-5.

Pranala

Cari tahu mengenai Genosida Herero dan Nama pada proyek-proyek Wikimedia lainnya:
Gambar dan media dari Commons
Entri basisdata #Q312492 di Wikidata
Basis data pengawasan otoritas Sunting di Wikidata
Internasional
  • GND
  • FAST
Nasional
  • Amerika Serikat
  • Prancis
  • Data BnF
  • Israel
Lain-lain
  • IdRef
  • Yale LUX

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Latar belakang
  2. Kolonisasi Jerman
  3. Ketidakpuasan
  4. Pemberontakan Herero
  5. Tanggapan pemukim
  6. Tanggapan dari Jerman
  7. Pengejaran ke gurun
  8. Pemberontakan Nama
  9. Kamp konsentrasi
  10. Dampak
  11. Kekuasaan Afrika Selatan
  12. Historiografi
  13. Pampasan
  14. Referensi
  15. Sumber
  16. Pranala

Artikel Terkait

Daftar genosida

mencakup semua peristiwa yang telah diklasifikasikan sebagai genosida oleh para akademisi terkemuka. Karena ada berbagai definisi genosida, daftar ini mencakup

Perang Dunia I

konflik global yang berawal di Eropa tahun 1914-1918

Weltpolitik

Neukamerun. Ambisi kolonial lebih lanjut tercermin dalam genosida Herero dan Nama dari tahun 1904 dan penindasan Pemberontakan Maji Maji dari tahun 1907, serta

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026