Gatot Eko Cahyono adalah seorang karikaturis, seniman rupa, dan jurnalis asal Indonesia. Ia dikenal sebagai salah satu karikaturis politik terkemuka Indonesia sejak era akhir 1980-an, dengan karya-karya yang banyak dimuat di media massa nasional.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Gatot Eko Cahyono | |
|---|---|
| Lahir | 10 Maret 1961 Yogyakarta, Indonesia |
| Kebangsaan | Indonesia |
| Pendidikan | Institut Seni Indonesia Yogyakarta |
| Dikenal atas | Karikatur, seni rupa, jurnalisme visual |
| Karya terkenal | Jurnalisme Karikatur, Karikatur Politik, Reformasi dalam Kartun |
Gatot Eko Cahyono (lahir 10 Maret 1961) adalah seorang karikaturis, seniman rupa, dan jurnalis asal Indonesia.[1] Ia dikenal sebagai salah satu karikaturis politik terkemuka Indonesia sejak era akhir 1980-an, dengan karya-karya yang banyak dimuat di media massa nasional.
Gatot lahir di Yogyakarta pada 10 Maret 1961. Ia menempuh pendidikan seni di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Yogyakarta, kemudian melanjutkan ke Institut Seni Indonesia Yogyakarta (ISI), jurusan Seni Grafis, dan lulus pada tahun 1988.[1]
Gatot Eko Cahyono mulai aktif sebagai karikaturis pada akhir 1980-an dan dikenal melalui karya-karya yang menyoroti isu sosial, politik, dan kemanusiaan di Indonesia. Gaya visualnya yang lugas dengan kritik sosial tajam membuatnya dikenal luas di kalangan pembaca media nasional.
Pada tahun 1989, Gatot bergabung dengan harian Suara Pembaruan sebagai karikaturis tetap. Ia bekerja di media tersebut hingga tahun 2016, menghasilkan ratusan karikatur editorial yang menyoroti berbagai isu nasional. Dalam pekerjaannya, Gatot turut berperan dalam rapat redaksi untuk menentukan tema dan pesan karikatur yang sesuai dengan konteks berita harian.[2]
Salah satu karya terkenalnya adalah karikatur berjudul “Pajak Warteg” yang dimuat di Suara Pembaruan, dan mengantarkannya meraih Anugerah Jurnalistik Adinegoro tahun 2010 kategori karikatur.[3] Dalam wawancaranya, Gatot menekankan bahwa karikatur jurnalistik tidak hanya sekadar menggambar, tetapi juga harus memuat unsur aktualitas, keakuratan pesan, serta tanggung jawab sosial.[2]
Selain aktif sebagai karikaturis, Gatot juga menekuni dunia jurnalistik. Ia merupakan anggota aktif Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan telah berkontribusi dalam kegiatan-kegiatan organisasi tersebut, termasuk sebagai peserta dan pembicara dalam forum seni dan jurnalisme visual.
Prestasinya diakui melalui Penghargaan Adinegoro bidang karikatur, sebuah penghargaan bergengsi yang diberikan oleh PWI kepada insan pers berprestasi. Setelah menerima penghargaan tersebut, Gatot beberapa kali dipercaya menjadi juri dalam lomba karikatur Adinegoro, menilai karya-karya dari generasi karikaturis muda yang mengikuti jejaknya.
Dalam berbagai kesempatan, ia juga aktif mendorong pengembangan karikatur Indonesia melalui kegiatan pelatihan, pameran, dan diskusi publik tentang peran karikatur dalam media. Keterlibatannya memperkuat posisi karikatur sebagai bagian dari komunikasi massa dan budaya populer di Indonesia.
Selain ratusan karikatur yang dimuat di media massa, Gatot juga menulis dan menerbitkan beberapa buku:
Pada tahun 2023, ia menggelar pameran karikatur bertajuk Ngujoroso – Politik Poliglenik di Balai Budaya Jakarta.[7] Di tahun yang sama, karyanya juga ditampilkan dalam pameran Gitu Aja Kok Repot di Bundaran HI, Jakarta.[8]