Garak-guksu (가락국수) adalah mi gandum tebal khas hidangan Korea dan merujuk pada hidangan apa pun yang terbuat dari mi tebal. Keberadaannya sering dibandingkan dengan udon khas Jepang. Terdapat dua jenis garak-guksu, yaitu naembi-guksu varian yang direbus dalam panci serta udong (우동), adaptasi Korea dari udon, hidangan mi Jepang. Dalam sebuah sumber, makanan ini dianggap sebagai makanan nyaman yang direkomendasikan saat berkunjung ke Korea Selatan.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Garak-guksu | |
|---|---|
Semangkuk garak-guksu | |
| Jenis | Guksu |
| Sajian | Hidangan utama |
| Tempat asal | Japan, Korea |
| Hidangan serupa | Udon |
Garak-guksu (가락국수) adalah mi gandum tebal khas hidangan Korea dan merujuk pada hidangan apa pun yang terbuat dari mi tebal.[1] Keberadaannya sering dibandingkan dengan udon khas Jepang.[2] Terdapat dua jenis garak-guksu, yaitu naembi-guksu (냄비국수, "mie pot") varian yang direbus dalam panci serta udong (우동), adaptasi Korea dari udon, hidangan mi Jepang.[3][4] Dalam sebuah sumber, makanan ini dianggap sebagai makanan nyaman (comfort food) yang direkomendasikan saat berkunjung ke Korea Selatan.[5]
Garak‑guksu dikenal sebagai mi kuah khas Korea yang menggunakan mi gandum tebal. Menurut beberapa sumber, hidangan ini menjadi terkenal di Stasiun Daejeon, Kota Daejeon, karena pada awal abad ke-20 kereta berhenti cukup lama untuk perawatan atau penggantian, memberi kesempatan bagi penumpang untuk turun sejenak dan menikmati semangkuk mi cepat sebelum melanjutkan perjalanan.[6] Namun, terdapat sumber lain yang menyatakan bahwa garak‑guksu adalah variasi Korea dari mi udon Jepang yang meskipun secara bentuk mirip, tetapi kaldu, mi, dan pugasan yang diletakkan di atasnya berbeda.[7]
Adonan garak-guksu umumnya dibuat dari tepung terigu dan air garam. Air garam ditambahkan dalam jumlah tertentu agar adonan memiliki rasa yang pas. Setelah dicampur, adonan digulung dan dipotong menggunakan pisau menjadi mi tebal.[8] Mi ini kemudian direbus dalam malgeun-jangguk (맑은장국), yaitu kaldu sapi berbahan dasar kecap asin yang dibuat dengan daging giling berbumbu yang ditumis dalam minyak wijen, dan biasanya disajikan dengan pugasan seperti telur dan eomuk (kue ikan).[9] Garak-guksu juga dapat disajikan dingin dengan membilas mi menggunakan air es setelah direbus.[8]
Hidangan garak‑guksu memiliki keterikatan yang kuat dengan identitas kuliner kota Daejeon yang stasiun kereta setempat menjadikannya sebagai spesialisasi lokal yang ikonik. Karena posisi strategis stasiun tersebut sebagai persimpangan perjalanan antar kota, garak‑guksu berperan sebagai simbol budaya perjalanan di wilayah Korea Tengah. Hidangan ini kerap dianggap sebagai “makanan perjalanan” tradisional, membawa nilai nostalgia bagi penumpang yang rutin menggunakan kereta antar kota, sekaligus memperkuat citra kuliner Daejeon sebagai pusat kuliner regional yang memadukan tradisi dan mobilitas masyarakat.[10]