Gangguan spektrum alkohol janin (FASD) adalah sekelompok kondisi yang dapat terjadi pada janin, bayi, atau anak yang ibunya mengonsumsi alkohol selama kehamilan. Gejalanya bisa berupa penampilan yang tidak normal, tinggi badan pendek, berat badan rendah, ukuran kepala kecil, koordinasi yang buruk, kecerdasan rendah, masalah perilaku, kesulitan belajar, dan masalah pendengaran atau penglihatan. Anak yang terkena dampak lebih mungkin mengalami masalah di sekolah, masalah hukum, berpartisipasi dalam aktivitas berisiko tinggi, dan memiliki masalah dengan alkohol atau obat-obatan terlarang. Bentuk paling parah dari kondisi ini dikenal sebagai sindrom alkohol janin (FAS). Jenis lainnya termasuk sindrom alkohol janin parsial (pFAS), gangguan perkembangan saraf terkait alkohol (ARND), dan cacat lahir terkait alkohol (ARBD). Beberapa pihak hanya menerima FAS sebagai diagnosis, karena melihat bukti yang ada tidak meyakinkan jika dibandingkan dengan jenis FAS lainnya.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Bayi dengan FASD | |
|---|---|
| Nama lain | Fetal alcohol syndrome |
| Bayi dengan FAS, memperlihatkan beberapa karakter muka yang terlihat perbedaan jelas dengan muka bayi normal | |
| Spesialisasi | Psychiatry, pediatrics, toxicology |
| Gejala | Penampilan muka tidak biasa, tinggi tubuh kurang, berat badan kurang, lingkar kepala kecil, koordinasi gerakan buruk, intelijensia rendah, masalah perilaku[1][2] |
| Durasi | Jangka panjang[1][3] |
| Penyebab | Minum minuman beralkohol saat hamil[1] |
| Metode diagnostik | Berdasarkan gejala[1] |
| Pencegahan | Hindari minum alkohol saat hamil[4] |
| Pengobatan | Terapi interaksi anak dan orangtua, upaya memperbaiki perilaku anak, berbagai pengobatan lain yang memungkinkan[5] |
| Frekuensi | 1–5% (di Amerika serikat dan Uni Eropa)[6] |
Gangguan spektrum alkohol janin (FASD) adalah sekelompok kondisi yang dapat terjadi pada janin, bayi, atau anak yang ibunya mengonsumsi alkohol selama kehamilan.[1] Gejalanya bisa berupa penampilan yang tidak normal, tinggi badan pendek, berat badan rendah, ukuran kepala kecil, koordinasi yang buruk, kecerdasan rendah, masalah perilaku, kesulitan belajar, dan masalah pendengaran atau penglihatan.[1][2] Anak yang terkena dampak lebih mungkin mengalami masalah di sekolah, masalah hukum, berpartisipasi dalam aktivitas berisiko tinggi, dan memiliki masalah dengan alkohol atau obat-obatan terlarang.[7] Bentuk paling parah dari kondisi ini dikenal sebagai sindrom alkohol janin (FAS).[1] Jenis lainnya termasuk sindrom alkohol janin parsial (pFAS), gangguan perkembangan saraf terkait alkohol (ARND), dan cacat lahir terkait alkohol (ARBD).[1][8] Beberapa pihak hanya menerima FAS sebagai diagnosis, karena melihat bukti yang ada tidak meyakinkan jika dibandingkan dengan jenis FAS lainnya.[9]
Gangguan spektrum alkohol janin disebabkan oleh ibu yang mengonsumsi alkohol selama kehamilan.[1] Survei di Amerika Serikat menemukan bahwa sekitar 10% ibu hamil mengonsumsi alkohol dalam sebulan terakhir, dan 20% hingga 30% mengonsumsi alkohol pada suatu waktu selama kehamilan.[10] Sekitar 3,6% dari wanita hamil di Amerika adalah pecandu alkohol.[11] Risiko FASD bergantung pada jumlah yang dikonsumsi dan frekuensi konsumsi serta pada tahap kehamilan mana alkohol dikonsumsi.[10] Faktor risiko lainnya termasuk usia ibu yang lebih tua, merokok, dan pola makan yang buruk.[10][12] Tidak diketahui jumlah atau waktu yang aman untuk mengonsumsi alkohol selama kehamilan.[1][13] Meskipun meminum alkohol dalam jumlah sedikit tidak menyebabkan kelainan pada wajah, tetapi hal ini dapat menyebabkan masalah perilaku.[11] Alkohol melewati pembatas darah-otak dan secara langsung dan secara tidak langsung juga memengaruhi perkembangan bayi.[14] Diagnosis didasarkan pada tanda dan gejala pada orang tersebut.[1]
Gangguan spektrum alkohol di janin dapat dicegah dengan menghindari alkohol.[4] Oleh karena itu, otoritas medis menyarankan untuk tidak mengonsumsi alkohol selama kehamilan atau saat mencoba untuk hamil.[15][16][17] Meskipun kondisinya bersifat permanen, pengobatan dapat meningkatkan hasilnya.[1][3] Intervensi dapat mencakup terapi interaksi orangtua-anak, upaya untuk mengubah perilaku anak, dan mungkin pengobatan.[5]
FASD diperkirakan memengaruhi antara 1% dan 5% orang di Amerika Serikat dan Eropa Barat.[6] FAS diperkirakan terjadi antara 0,2 dan 9 per 1.000 kelahiran hidup di Amerika Serikat.[6] Di Afrika Selatan, beberapa populasi memiliki tingkat yang mencapai 9%.[8] Dampak negatif alkohol selama kehamilan telah dijelaskan sejak zaman dahulu.[8] Biaya seumur hidup per anak dengan FAS di AS adalah $2.000.000 pada tahun 2002.[6] Istilah sindrom alkohol janin pertama kali digunakan pada tahun 1973.[8]
Alkohol dalam darah ibu berpindah ke bayi melalui tali pusat. Penggunaan alkohol selama kehamilan dapat menyebabkan keguguran, lahir mati, dan berbagai cacat fisik, perilaku, dan intelektual seumur hidup. Kecacatan ini dikenal sebagai gangguan spektrum alkohol janin. Anak-anak dengan kondisi ini mungkin memiliki karakteristik dan perilaku berikut:[18]