Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Gangguan makan

Gangguan makan atau eating disorders adalah sindrom yang bermula dari pola makan yang memburuk, dan berkaitan dengan keadaan kejiwaan yang terganggu karena pola makan, bentuk tubuh, dan berat badan. Gangguan makan ditandai dengan penurunan nafsu makan yang ekstrem atau sebaliknya, mengonsumsi makanan dalam jumlah yang banyak. Hal tersebut bisa disebabkan karena kondisi berat badan yang tidak diharapkan atau bentuk tubuh yang tidak ideal. Berdasarkan data dari National Association of Anorexia Nervosa and Associated Disorders (ANAD), menyebutkan bahwa gangguan makan memengaruhi populasi global sebesar 9%. Gangguan makan bisa berpengaruh terhadap gangguan mental yang mematikan.

gangguan mental yang ditandai dengan perilaku makan yang tidak normal dan disertai gangguan emosi
Diperbarui 12 November 2025

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Artikel ini memberikan informasi dasar tentang topik kesehatan. Informasi dalam artikel ini hanya boleh digunakan untuk penjelasan ilmiah; bukan untuk diagnosis diri dan tidak dapat menggantikan diagnosis medis. Wikipedia tidak memberikan konsultasi medis. Jika Anda perlu bantuan atau hendak berobat, berkonsultasilah dengan tenaga kesehatan profesional.
Gangguan makan
SpesialisasiPsikiatri, psikologi klinis
GejalaKebiasaan makan yang abnormal, yang memberikan efek negatif pada kesehatan fisik dan mental.
KomplikasiGangguan kecemasan, depresi, penyalahgunaan zat.
JenisBinge eating disorder, anorexia nervosa, bulimia nervosa, pica disorder, gangguan ruminasi, avoidant/restrictive food intake disorder.
Faktor risikoGastrointestinal disorders, riwayat kekerasan seksual, menjadi seorang penari atau gymnastik[1]
PengobatanPsikoterapi, konseling, diet yang sesuai, jumlah olah raga yang normal, obat-obatan.

Gangguan makan atau eating disorders adalah sindrom yang bermula dari pola makan yang memburuk, dan berkaitan dengan keadaan kejiwaan yang terganggu karena pola makan, bentuk tubuh, dan berat badan. Gangguan makan ditandai dengan penurunan nafsu makan yang ekstrem atau sebaliknya, mengonsumsi makanan dalam jumlah yang banyak. Hal tersebut bisa disebabkan karena kondisi berat badan yang tidak diharapkan atau bentuk tubuh yang tidak ideal.[2] Berdasarkan data dari National Association of Anorexia Nervosa and Associated Disorders (ANAD), menyebutkan bahwa gangguan makan memengaruhi populasi global sebesar 9%. Gangguan makan bisa berpengaruh terhadap gangguan mental yang mematikan.[3]

Jenis

Anoreksia

Anoreksia atau anorexia nervosa merupakan kondisi gangguan makan yang dialami oleh manusia ketika kehilangan lebih banyak berat badan. Pengidap anoreksia sengaja membatasi asupan makanan untuk dikonsumsi. Hal ini disebabkan karena individu tersebut mengalami rasa takut akan gemuk. Selain mengurangi asupan makanan yang dikonsumsi, pengidap anoreksia juga sering melakukan olahraga dengan durasi yang berlebihan, ada juga yang menggunakan obat pencahar untuk mengurangi berat badan.[4] Pengidap anoreksia memiliki gejala seperti sering memilih-milih makanan yang baik dan buruk bagi tubuhnya. Selain itu, sering menghindari makanan di suatu pertemuan. Kalori sangat diperhitungkan ketika makan. Memiliki rasa takut akan gemuk, dan memiliki rasa yang sensitif ketika suhu dingin. Ketika pengidap anoreksia makan, pengidap akan gugup dan mudah menangis.[5] Perempuan yang mengidap anoreksia dapat mengakibatkan terganggunya siklus menstruasi (haid). Sedangkan berdasarkan data, penderita anoreksia pada perempuan mencapai 95%, sedangkan bagi laki-laki hanya 5%.[6]

Bulimia

Bulimia atau bulimia nervosa merupakan gangguan makan yang ditandai dengan selalu memuntahkan kembali makanan yang sudah di makan secara terus menerus.[7] Penderita bulimia tidak bisa menahan nafsu makannya, hal ini berdampak pada saat waktu tertentu penderita bisa makan dalam jumlah yang banyak. Namun, mereka memiliki rasa takut akan gemuk, sehingga para penderita bulimia akan membatasi diri untuk mempertahankan ambang berat badannya.[8] Selain itu, para penderita bulimia menganggap citra tubuh mereka buruk, juga mengalami perubahan hidup karena penuh dengan tekanan. Selain depresi, rasa cemas, dan gangguan mental, para penderita bulimia juga bisa disebabkan karena rasa trauma karena gangguan stres pasca-trauma (PTSD).[9]

Bringe eating disorder

Binge-eating disorder (BED) merupakan gangguan makan yang ditandai dengan pola makan yang berlebihan secara teratur. Jumlah makanan yang dikonsumsi sangat banyak dan berlebihan.[10] Penderita bringe eating disorder mampu menghabiskan makanan secara cepat, hingga perut terasa penuh. Mereka akan terus makan, meskipun perasaannya sedang tidak lapar. Karena merasa malu dengan porsi makanan yang dikonsumsi, umumnya penderita bringe eating disorder sering menyendiri ketika makan. Mereka sering memiliki rasa bersalah setelah makan, dan memiliki kepercayaan diri yang rendah. Penderita gangguan makan bisa dikatakan mengidap bringe eating disorder apabila melakukan ritme makan sekurang-kurangnya 2 hari perminggu, dalam waktu enam bulan berturut-turut. Makanan yang sudah dikonsumsi enggan untuk dimuntahkan kembali. Tindakan mengonsumsi makanan dengan porsi yang banyak mampu menyenangkan pikiran untuk sesaat, setelah itu para penderita akan merasa bersalah.[11]

Pica

Pica adalah gangguan makan di mana penderitanya memiliki keinginan untuk mengonsumsi benda atau hal yang bukan makanan. Gangguan pica umumnya terjadi pada ibu hamil, anak-anak, dan orang dengan gangguan intelektual. Contoh benda yang ingin dikonsumsi penderita pica di antaranya: es batu, kertas, sabun, cat kering, pasir, hingga berbagai benda jenis logam.[12] Pica memiliki dampak yang buruk bagi kesehatan, dan membutuhkan penanganan yang khusus dari tim ahli. Gangguan medis akibat Pica di antaranya penyumbatan usus, keracunan, infeksi parasit, hingga menyebabkan kematian.[13]

Ruminasi

Ruminasi merupakan gangguan makan di mana penderita memuntahkan kembali makanan yang sudah dikonsumsi, tanpa disengaja. Gangguan makan jenis ruminasi ini termasuk kronis dan langka terjadi. Proses memuntahkan makanan tersebut dilakukan tanpa sadar, dan dilakukan berulang kali. Penderita ruminasi pada anak-anak cenderung menelan kembali makanan yang akan dimuntahkan.[14]

Penyebab

Gangguan makan yang kronis dapat menyebabkan komplikasi somatik pada multiorgan, seperti sistem kardiovaskular, gastrointestinal, muskuloskeletal, dermatologi, hematologi, endokrin, serta neurologi. Secara medis, dapat terjadi komplikasi dan secara kesehatan mental yang menyebabkan bunuh diri. Faktor yang memengaruhi gangguan makan di antaranya keadaan biologis, khususnya pada perempuan memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami gangguan makan. Selain jenis kelamin, ada juga diagnosis gangguan mental yang dipengaruhi oleh riwayat keluarga terhadap gangguan mental.[15] Selain keadaan biologis, penyebab gangguan makan lainnya dikarenakan gaya hidup yang impulsif. Salah satunya, pola makan yang tidak teratur, tidak makan dalam porsi cukup, atau menghindari jenis makanan.[16]

Dampak

  • Dampak Fisik: Gangguan makan dapat menyebabkan malnutrisi, penurunan berat badan ekstrem, gangguan hormonal, serta kerusakan organ vital seperti jantung dan ginjal. Dalam kasus berat kondisi ini dapat mengancam jiwa.
  • Dampak Psikologis: Penderita sering mengalami depresi, kecemasan, rasa bersalah, dan ketidakpuasan bentuk tubuh. Gangguan ini juga menurunkan harga diri serta memengaruhi konsentrasi dan kestabilan emosi.
  • Dampak Sosial: Eating disorder dapat menyebabkan isolasi sosial, menurunnya kinerja akademik atau pekerjaan, serta gangguan hubungan interpersonal akibat rasa malu atau takut terhadap penilaian orang lain.

Korelasi Pengaruh Media Sosial dengan Kenaikan Angka Penderita Eating Disorder

Platform media sosial seperti Instagram, Twitter, Tumblr, TikTok, dan YouTube sering menampilkan standar kecantikan tidak realistis yang menimbulkan tekanan bagi remaja untuk menyesuaikan diri. Paparan konten semacam ini dapat menimbulkan ketidakpuasan tubuh (body dissatisfaction) dan menjadi pemicu utama eating disorder. Komunitas daring juga dapat memperkuat perilaku tidak sehat tersebut dengan membagikan tips diet ekstrem serta toxic positivity yang seperti mewajarkan perilaku tersebut. Penggunaan media sosial yang tinggi berkorelasi dengan ketidakpuasan tubuh yang signifikan[tambahin sitasi], hal ini dapat meningkatkan kemungkinan remaja untuk mengalami perilaku gangguan makan (eating disorder). Mengutip Eating Recovery Center, sekitar 46% remaja mengalami eating disorder akibat media sosial dan di Indonesia prevalensinya meningkat dari 3,5% (2000–2006) menjadi 7,8% (2013–2018).[17] Hal tersebut karena media sosial berkembang begitu cepat sehingga remaja mudah untuk terpapar konten tersebut dan berakibat pada peningkatan prevalensi yang tinggi pada tahun 2013–2018.[18]

Pengaruh Eating Disorder pada Self-Esteem Penderitanya

Eating disorder seperti anorexia nervosa dan binge eating disorder adalah gangguan psikologis yang tidak hanya berdampak pada aspek kesehatan fisik individu, tetapi juga menyebabkan konsekuensi pada aspek psikologis seseorang. Salah satu aspek psikologis yang terdampak dari eating disorder adalah self-esteem atau harga diri. Self-esteem atau harga diri berkaitan dengan bagaimana seorang individu memikirkan, menghargai, dan memberikan penilaian terhadap kualitas dirinya sendiri. Rendahnya self-esteem yang dimiliki oleh seorang individu kerap kali menjadi faktor penyebab sekaligus akibat dari adanya eating disorder.

Penderita eating disorder biasanya mengalami body dissatisfaction atau adanya rasa ketidakpuasan terhadap penampilan fisik yang dimiliki. Penderita eating disorder cenderung mempunyai pandangan negatif terhadap bentuk dan ukuran tubuh serta menilai harga dirinya berdasarkan seberapa “idealnya” penampilan fisik yang dimiliki menurut standar sosial di masyarakat. Hal ini menyebabkan ketika seorang individu merasa bahwa penampilan fisik yang dimiliki tidak sesuai dengan standar, harga diri atau self-esteem mereka juga akan menurun.

Dengan mengalami body dissatisfaction, individu akan berusaha lebih keras untuk mengubah penampilan fisik mereka melalui cara yang tidak sehat untuk mencapai “standar ideal” yang ada, seperti melakukan diet ekstrem. Usaha yang dilakukan oleh individu ini justru akan memperburuk kondisi fisik serta psikologis mereka sehingga menciptakan adanya siklus negatif antara self-esteem rendah dan perilaku makan yang tidak sehat. Individu penderita dengan tingkat eating disorder yang semakin meningkat, akan semakin menurunkan self-esteem dalam diri mereka dan individu dengan self-esteem rendah akan lebih rentan terhadap tekanan untuk mencapai tubuh ideal serta melakukan perilaku eating disorder.

Cara Pencegahan Peningkatan Angka Eating Disorder Akibat Pengaruh Media Sosial Terutama pada Remaja

Terdapat tiga strategi pencegahan yang dapat dilakukan. Pertama dapat dimulai dengan menyadari asupan gizi yang dibutuhkan dan dikonsumsi setiap harinya. Kedua dapat dengan mengenali gejala gejala yang ada dan melakukan skrining pada diri sendiri. Cara yang terakhir ialah mencari bantuan profesional apabila ditemukan beberapa gejala untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Kesimpulan

Eating disorder merupakan gangguan pola makan yang dapat menyebabkan terganggunya fungsi psikologis dan kehidupan sosial remaja. Media sosial menjadi salah satu pemicu utama gangguan tersebut yang dapat membuat self esteem individu rendah. Oleh karena banyaknya dampak negatif yang diakibatkan eating disorder diperlukan langkah-langkah untuk mencegah peningkatan eating disorder, seperti menyadari kebutuhan dan konsumsi gizi yang dimakan, melakukan skrining atau pengenalan ciri-ciri pada diri sendiri, serta mencari pertolongan profesional untuk penanganan lebih lanjut.

Referensi

  1. ↑ McNamee M (2014). Sport, Medicine, Ethics. Routledge. hlm. 115. ISBN 9781134618330.
  2. ↑ Lubis, Wika Hanida; Siregar, Julahir Hodmatua (2016). "Gangguan Makan" (PDF). Repository USU. hlm. 1. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2022-10-04. Diakses tanggal 2022-01-15.
  3. ↑ Angelika, Gabriela; Santoso, Stanislaus Kuntjoro (2021). "Fasilitas Rehabilitasi Penderita Gangguan Makan, Surabaya". Publication Petra. hlm. 921-922. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-01-18. Diakses tanggal 2022-01-16.
  4. ↑ Mardatila, Ani (2020). mardatila, Ani (ed.). "Anoreksia adalah Gangguan Makan, Kenali Penyebabnya dan Jangan Remehkan". Merdeka.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-01-16. Diakses tanggal 2022-01-16.
  5. ↑ Nasution, Sri Wahyuni; Hasibuan, Nelly Astuti; Ramadhani, Putri (2017-11-17). "Sistem Pakar Diagnosa Anoreksia Nervosa Menerapkan Metode Case Based Reasoning". KOMIK (Konferensi Nasional Teknologi Informasi dan Komputer) (dalam bahasa Inggris). 1 (1): 53. doi:10.30865/komik.v1i1.472. ISSN 2597-4645. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-11-27. Diakses tanggal 2022-01-16.
  6. ↑ Rismayanthi, Cerika (2015). "Kelainan Perilaku Makan (Anorexia Nervosa) pada Atlet" (PDF). Staff News UNY. hlm. 1. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2022-01-18. Diakses tanggal 2022-01-16.
  7. ↑ Krisnani, Hetty; Santoso, Meilanny Budiarti; Putri, Destin (2018). "Gangguan Makan Anoerxia Nervosa dan Bulimia Nervosa pada Remaja". Prosiding Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat. 4 (3): 401. doi:10.24198/jppm.v4i3.18618. ISSN 2581-1126. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-01-16. Diakses tanggal 2022-01-16.
  8. ↑ Hasna, Afina (2021). "Diagnosis dan Tatalaksana Bulimia Nervosa". Jurnal Medika Hutama. 2 (04 Juli): 1219. ISSN 2715-9728. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-04-15. Diakses tanggal 2022-01-16.
  9. ↑ Ananda, Dea Syifa (2021). Dewi, Bestari Kumala (ed.). "Mengenal Penyebab dan Gejala Bulimia Nervosa, Kebiasaan Memuntahkan Makanan". Kompas.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-01-18. Diakses tanggal 2022-01-16.
  10. ↑ Indriyani (2020). "Binge-Eating Disorder: Penyebab, Gejala, Komplikasi, Pengobatan". IDN Times. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-12-05. Diakses tanggal 2022-01-16.
  11. ↑ Rukmana, Labibah E. (2017). "Kepercayaan Diri pada Wanita Dewasa Awal Penderita Binge Eating". E-Journal Gunadarma. hlm. 123. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-01-16. Diakses tanggal 2022-01-16.
  12. ↑ Harmonis, Hutri Dirga (2021). "Mengenal Gangguan Makan Pica pada Anak". Kumparan. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-01-16. Diakses tanggal 2022-01-16.
  13. ↑ Stephanie, Gracia; Djuwita, Efriyani (2019). "Efektivitas Teknik Antescedent Control dan Differential Reinforcement of Alternative Behavior untuk Menurunkan Frekuensi PICA". Seurune : Jurnal Psikologi Unsyiah (dalam bahasa American English). 2 (2): 45. doi:10.24815/s-jpu.v2i2.14207. ISSN 2655-9161. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-10-02. Diakses tanggal 2022-01-16.
  14. ↑ Prasanda, Aditya (2021). "Mengenal Gangguan Makan Rumination Disorder". klikdokter.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-01-16. Diakses tanggal 2022-01-16.
  15. ↑ Jepisa, Tomi; Tanjung, Alber; Tuljanah (2018). "Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Prevalensi Riwayat Pasung pada Klien Gangguan Jiwa di Rumah Sakit Jiwa Padang Tahun 2017". JIK- JURNAL ILMU KESEHATAN. 2 (2): 663. doi:10.33757/jik.v2i2.131. ISSN 2580-930X. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-07-28. Diakses tanggal 2022-01-16.
  16. ↑ Goutama, Ivon Lestari (2016). "Pendekatan Klinis Binge Eating Disorder". Cermin Dunia Kedokteran. hlm. 901-902.[pranala nonaktif permanen]
  17. ↑ "Social Media & Eating Disorders: Statistics, Pros & Cons". www.eatingrecoverycenter.com (dalam bahasa Inggris). 2024-07-25. Diakses tanggal 2025-10-14.
  18. ↑ Pengpid, Supa; Peltzer, Karl (2018-06). "Risk of disordered eating attitudes and its relation to mental health among university students in ASEAN". Eating and Weight Disorders - Studies on Anorexia, Bulimia and Obesity (dalam bahasa Inggris). 23 (3): 349–355. doi:10.1007/s40519-018-0507-0. ISSN 1124-4909.
Basis data pengawasan otoritas Sunting di Wikidata
Internasional
  • GND
  • FAST
Nasional
  • Amerika Serikat
  • Prancis
  • Data BnF
  • Jepang
  • Republik Ceko
  • Latvia
  • Israel
Lain-lain
  • Yale LUX

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Jenis
  2. Anoreksia
  3. Bulimia
  4. Bringe eating disorder
  5. Pica
  6. Ruminasi
  7. Penyebab
  8. Dampak
  9. Korelasi Pengaruh Media Sosial dengan Kenaikan Angka Penderita Eating Disorder
  10. Pengaruh Eating Disorder pada Self-Esteem Penderitanya
  11. Cara Pencegahan Peningkatan Angka Eating Disorder Akibat Pengaruh Media Sosial Terutama pada Remaja
  12. Kesimpulan
  13. Referensi
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026