Gambus Kutai adalah alat musik petik tradisional yang berasal dari Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur, yang kini menjadi bagian dari kesenian musik Tingkilan. Alat musik ini mirip kecapi atau mandolin dengan senar nilon dan memiliki karakteristik suara yang unik saat dimainkan dalam ansambel musik Tingkilan, yang melibatkan gambus, kendang, dan penyanyi pantun. Gambus Kutai sendiri telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kemendikbudristek pada 19 Agustus 2024.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


Gambus Kutai adalah alat musik petik tradisional yang berasal dari Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur, yang kini menjadi bagian dari kesenian musik Tingkilan.[1] Alat musik ini mirip kecapi atau mandolin[2] dengan senar nilon dan memiliki karakteristik suara yang unik saat dimainkan dalam ansambel musik Tingkilan, yang melibatkan gambus, kendang, dan penyanyi pantun. Gambus Kutai sendiri telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kemendikbudristek pada 19 Agustus 2024.[3]
Mal adalah bagian penting dalam proses pembuatan gambus. Kayu nangka biasanya butuh sekitar satu minggu untuk dibentuk, sementara kayu plai hanya lima hari. Proses inilah yang menentukan kualitas suara dan daya tahan alat musik. Instrumen ini erat kaitannya dengan musik tingkilan, yang merupakan perpaduan pantun dan petikan bernuansa Melayu yang identik dengan tari jepen. Alat musik Gambus Kutai biasanya menggunakan tujuh senar nilon, tiga di antaranya berpasangan ganda dengan satu senar tebal sebagai penguat nada. Untuk membuat alat musik gambus menghabiskan waktu sekitar 1 bulan, tergantung dari kayu yang di gunakan. Ukuran gambus sendiri bervariasi, mulai dari yang standar 85 cm hingga 95 cm, dan ukuran tersebut bisa disesuaikan tergantung pesanan.[3][4]
Alat Gambus berasal dari Timur Tengah. Orkes gambus dulu dikenal dengan sebutan irama padang pasir. Pada 1940-an, orkes gambus menjadi tontonan yang disenangi. Namun, jauh sebelumnya gambus telah berkembang sejak abad ke-19 bersama dengan kedatangan para imigran Arab dari Hadramaut Yaman ke Nusantara.[5] Para imigran Hadra maut yang datang ke nusantara menjadikan gambus sebagai sarana dalam berdakwah. Dengan menggunakan syair-syair kasidah, gambus mengajak masyarakat mendekatkan diri pada Allah dan meng ikuti teladan Rasul-Nya.[6]
Mulanya, para imigran Arab membawa sendiri peralatan petik gambus dari negeri asalnya. Tetapi, kini sudah diproduksi sendiri yang tidak kalah mutunya. Musik petik gambus ini di Timur Tengah dinamai oud. Jadi, istilah gambus hanya dikenal di Indonesia.[7] Entah siapa yang memulai menamakannya. Awalnya, orkes gambus membawakan lagu-lagu bersyair bahasa Arab, berisi ajakan beriman dan bertakwa kepada Allah dan mengikuti teladan Rasulullah. Lalu gambus berkembang menjadi hiburan. Selain marawis, jenis musik Islam yang juga begitu dekat dengan masyarakat Indonesia adalah gambus. Gambus menjadi salah satu musik yang telah berusia ratusan tahun.[6]