Fotografi seni rupa adalah fotografi yang diciptakan sejalan dengan visi fotografer sebagai seniman, menggunakan fotografi sebagai media untuk ekspresi kreatif. Tujuan dari fotografi seni rupa adalah untuk mengekspresikan suatu ide, pesan, atau emosi. Hal ini bertolak belakang dengan fotografi representasional, seperti fotojurnalisme, yang menyajikan laporan visual dokumenter mengenai subjek dan peristiwa tertentu, secara harfiah mewakili realitas objektif, alih-alih niat subjektif dari sang fotografer; serta fotografi komersial, yang fokus utamanya adalah untuk mengiklankan produk atau layanan.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


Fotografi seni rupa (fine-art photography) adalah fotografi yang diciptakan sejalan dengan visi fotografer sebagai seniman, menggunakan fotografi sebagai media untuk ekspresi kreatif. Tujuan dari fotografi seni rupa adalah untuk mengekspresikan suatu ide, pesan, atau emosi. Hal ini bertolak belakang dengan fotografi representasional, seperti fotojurnalisme, yang menyajikan laporan visual dokumenter mengenai subjek dan peristiwa tertentu, secara harfiah mewakili realitas objektif, alih-alih niat subjektif dari sang fotografer; serta fotografi komersial, yang fokus utamanya adalah untuk mengiklankan produk atau layanan.

Seorang sejarawan fotografi mengklaim bahwa "eksponen terawal dari 'Seni Rupa' atau fotografi komposisi adalah John Edwin Mayall", yang memamerkan daguerreotype yang mengilustrasikan Doa Bapa Kami pada tahun 1851.[2] Upaya-upaya sukses untuk membuat fotografi seni rupa dapat ditelusuri ke para praktisi era Victoria seperti Julia Margaret Cameron, Charles Lutwidge Dodgson, dan Oscar Gustave Rejlander serta yang lainnya. Di AS, F. Holland Day, Alfred Stieglitz, dan Edward Steichen berperan penting dalam menjadikan fotografi sebagai seni rupa, dan Stieglitz sangat menonjol dalam memperkenalkannya ke dalam koleksi museum.
Di Inggris, bahkan hingga tahun 1960, fotografi belum benar-benar diakui sebagai seni rupa. S. D. Jouhar mengatakan, ketika ia membentuk Asosiasi Seni Rupa Fotografi (Photographic Fine Art Association) pada saat itu: "Saat ini, fotografi umumnya tidak diakui lebih dari sekadar kerajinan. Di AS, fotografi telah diterima secara terbuka sebagai Seni Rupa di beberapa kalangan resmi tertentu. Fotografi ditampilkan di berbagai galeri dan pameran sebagai sebuah Seni. Belum ada pengakuan yang setara di negara ini. London Salon menampilkan fotografi piktorial, tetapi hal itu umumnya tidak dipahami sebagai sebuah seni. Terlepas dari apakah suatu karya menunjukkan kualitas estetika atau tidak, karya tersebut disebut 'Fotografi Piktorial' yang merupakan istilah yang sangat ambigu. Fotografer itu sendiri harus memiliki kepercayaan diri pada karyanya serta pada martabat dan nilai estetikanya, untuk memaksa pengakuan sebagai sebuah Seni, bukan sebagai Kerajinan".[Pernyataan ini membutuhkan sumber]
Hingga akhir tahun 1970-an, beberapa genre mendominasi, seperti foto telanjang, potret, dan lanskap alam (dicontohkan oleh Ansel Adams). Seniman 'bintang' terobosan pada tahun 1970-an dan 80-an, seperti Sally Mann, Robert Mapplethorpe, Robert Farber, dan Cindy Sherman, masih sangat bergantung pada genre-genre tersebut, meskipun melihatnya dengan sudut pandang yang baru. Seniman lainnya menyelidiki pendekatan estetika potret kilat (snapshot aesthetic).

Pada pertengahan 1970-an, Josef H. Neumann mengembangkan kemogram,[3] yang merupakan produk dari pemrosesan fotografi dan melukis pada kertas fotografi. Sebelum penyebaran komputer dan penggunaan perangkat lunak pemrosesan gambar, proses pembuatan kemogram dapat dianggap sebagai bentuk awal pascaproduksi analog, di mana gambar asli diubah setelah proses perbesaran. Berbeda dengan karya-karya pascaproduksi digital, setiap kemogram adalah karya yang unik.[4][5][6][7]
Organisasi-organisasi Amerika, seperti Aperture Foundation dan Museum of Modern Art (MoMA), telah banyak berkontribusi untuk menjaga fotografi tetap berada di garis depan seni rupa. Pembentukan departemen fotografi oleh MoMA pada tahun 1940 dan penunjukan Beaumont Newhall sebagai kurator pertamanya sering dikutip sebagai konfirmasi institusional mengenai status fotografi sebagai sebuah seni.[8]