Flying Dutchman adalah kapal hantu legendaris yang konon tidak pernah bisa berlabuh, dan dikutuk untuk terus berlayar di laut selamanya. Mitos dan cerita hantu ini kemungkinan berasal dari Masa Keemasan Belanda pada abad ke-17, masa kejayaan Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC) dan kekuatan maritim Belanda. Versi paling awal yang diketahui dari legenda ini berasal dari akhir abad ke-18.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Flying Dutchman | |
|---|---|
The Flying Dutchman oleh Albert Pinkham Ryder sekitar tahun 1887 (Smithsonian American Art Museum) | |
| Kapten | Willem van der Decken |
Flying Dutchman (bahasa Belanda: De Vliegende Hollandercode: nl is deprecated ; terj. har. 'Orang Belanda Terbang' atau 'Si Kapal Hantu Belanda') adalah kapal hantu legendaris yang konon tidak pernah bisa berlabuh, dan dikutuk untuk terus berlayar di laut selamanya. Mitos dan cerita hantu ini kemungkinan berasal dari Masa Keemasan Belanda pada abad ke-17, masa kejayaan Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC)[1][2][3] dan kekuatan maritim Belanda.[4][5][6] Versi paling awal yang diketahui dari legenda ini berasal dari akhir abad ke-18.
Menurut legenda, jika disapa oleh kapal lain, kru dari Flying Dutchman mungkin akan mencoba mengirim pesan ke daratan, atau kepada orang-orang yang sudah lama meninggal. Penampakan kapal ini pada abad ke-19 dan ke-20 dikabarkan bersinar dengan cahaya menyeramkan. Dalam cerita laut, melihat kapal hantu ini dianggap sebagai pertanda sial atau bencana. Banyak yang percaya bahwa Flying Dutchman dulunya adalah kapal kargo abad ke-17 yang dikenal sebagai fluyt.

Banyak versi dari cerita ini. Menurut beberapa sumber, legenda ini berasal dari Belanda, sementara itu yang lain mengklaim bahwa itu berasal dari sandiwara Inggris "The Flying Dutchman" (1826) oleh Edward Fitzball dan novel “The Phantom Ship” (1837) oleh Frederick Marryat, kemudian diadaptasi ke cerita Belanda “Het Vliegend Schip” (Kapal Terbang) oleh pastor Belanda A.H.C. Römer. Versi lainnya termasuk opera oleh Richard Wagner (1841) dan “The Flying Dutchman on Tappan Sea” oleh Washington Irving (1855).[butuh rujukan]
Salah satu versi legenda menceritakan bahwa seorang kapten Belanda bernama Willem van der Decken bersikeras berlayar pada pagi hari Paskah, meskipun cuaca buruk dan istrinya sudah melarang. Ia tetap memaksa berangkat dengan kapal VOC-nya menuju Hindia Belanda. Bagi sang kapten, ini adalah soal persaingan kekuasaan—siapa yang bisa paling cepat tiba di Batavia. Cuaca buruk atau tidak, hari Paskah atau bukan, dia tidak peduli. Setelah menempuh perjalanan panjang, kapal tersebut akhirnya tiba di Tanjung Harapan (Kaap de Goede Hoop). Saat sang kapten mencoba melintasi tanjung tersebut, para awak kapal mulai memberontak. Mereka memohon agar sang kapten kembali ke Teluk Meja (Tafelbaai). Namun, kapten menolak dan begitu marah sampai-sampai dia melempar juru mudi ke laut, lalu berteriak: “Tuhan atau setan sekalipun... aku akan tetap melintasi tanjung ini, meski harus berlayar sampai hari kiamat!” Sebagai hukuman, kapal itu pun jatuh ke dalam kuasa iblis. Kapten dan kapalnya dikutuk untuk selamanya berlayar di laut tanpa bisa berlabuh. Awak kapalnya yang telah mati terus bekerja dalam diam. Kadang-kadang, The Flying Dutchman mengirim perahu kecil ke kapal yang lewat, meminta agar mereka mengantarkan setumpuk surat—yang ternyata ditujukan untuk keluarga yang sudah meninggal ratusan tahun lalu. Menurut cerita orang-orang yang mengaku pernah melihat kapal ini, The Flying Dutchman melaju melawan arah angin dengan layar berwarna merah darah, melayang di atas permukaan laut.
Menurut beberapa sumber, kapten Belanda abad ke-17 bernama Bernard Fokke dianggap sebagai model untuk tokoh kapten kapal hantu tersebut.[7] Fokke terkenal karena kecepatan perjalanannya dari Belanda ke pulau Jawa dan dicurigai memiliki perjanjian dengan Iblis. Versi pertama legenda ini yang ditulis sebagai cerita tercetak pada Blackwood's Edinburgh Magazine edisi Mei 1821,[8] yang menempatkan latar cerita di Tanjung Harapan. Dalam cerita tersebut, kapten dari kapal Flying Dutchman diberi nama Hendrick van der Decken dan memperkenalkan beberapa unsur cerita (yang kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh penulis-penulis lain), seperti surat yang ditujukan kepada orang-orang yang sudah lama meninggal yang ditawarkan kepada kapal lain untuk dikirimkan — tetapi jika diterima, akan membawa kesialan; serta sang kapten yang bersumpah akan mengelilingi Tanjung Harapan meskipun harus berlangsung sampai Hari Penghakiman.
Ia adalah kapal dari Amsterdam dan telah berlayar dari pelabuhan sejak tujuh puluh tahun yang lalu. Nama kaptennya adalah Van der Decken. Ia adalah pelaut tangguh, dan akan bersikeras mengikuti kehendaknya sendiri meskipun harus melawan iblis. Namun begitu, tak seorang pun pelaut di bawah kepemimpinannya yang pernah mengeluh; meskipun bagaimana keadaan mereka di atas kapal, tak ada yang tahu. Ceritanya begini: saat berusaha mengelilingi Tanjung Harapan, mereka menghabiskan waktu seharian penuh mencoba menghadapi angin di Teluk Meja. Namun, angin terus berbalik arah dan semakin menentang mereka, dan Van der Decken berjalan di atas geladak sambil mengumpat pada angin. Sesaat setelah matahari terbenam, sebuah kapal lain menyapanya, menanyakan apakah ia tidak berniat masuk ke teluk malam itu. Van der Decken menjawab, “Biarlah aku dikutuk selamanya jika aku melakukannya, meskipun aku harus terombang-ambing di sini sampai hari kiamat.” Dan benar saja, ia tak pernah masuk ke teluk itu, karena dipercaya bahwa ia masih terus berlayar di laut-laut tersebut sampai sekarang, dan akan terus begitu untuk waktu yang sangat lama. Kapal ini tidak pernah terlihat tanpa cuaca buruk yang menyertainya.[9]
Sumber lain juga menyebutkan munculnya penyakit berbahaya di kalangan awak kapal sehingga mereka tidak diizinkan untuk berlabuh di pelabuhan manapun. Sejak itu, kapal dan awaknya dihukum untuk selalu berlayar, tidak pernah berlabuh/menepi. Menurut beberapa versi, ini terjadi pada tahun 1641, yang lain menebak tahun 1680 atau 1729. Terneuzen (Belanda) disebut sebagai rumah sang legenda Flying Dutchman, Van der Decken, seorang kapten yang mengutuk Tuhan dan telah dihukum untuk mengarungi lautan selamanya, telah diceritakan dalam novel karya Frederick Marryat – "The Phantom Ship" dan Richard Wagner opera. Banyak saksi yang mengaku telah melihat kapal hantu ini. Pada tahun 1939 kapal ini terlihat di Mulkzenberg. Pada tahun 1941 sekelompok orang di pantai Glencairn menyaksikan kapal berlayar yang tiba – tiba lenyap ketika akan menubruk batu karang. Penampakan The Flying Dutchman kembali terlihat oleh awak kapal laut militer M.H.S Jubilee di dekat Cape Town di bulan agustus 1942. Bahkan ada suatu catatan kisah tentang pelayaran Kristoforus Kolumbus, waktu itu awak kapal Columbus melihat kapal terkatung katung dengan layar mengembang. setelah itu awak yang pertama melihat langsung tewas seketika.[butuh rujukan]
Mitos akhir-akhir ini juga mengisahkan apabila suatu kapal modern melihat kapal hantu ini dan awak kapal modern memberi sinyal, maka kapal modern itu akan tenggelam / celaka. Bagi seorang pelaut, pertemuan yang tak diduga dengan kapal hantu The Flying Dutchman akan mendatangkan bahaya bagi mereka dan konon, ada suatu cara untuk mengelak dari kemungkinan berpapasan dengan kapal hantu tersebut, yakni dengan memasangkan tapal kuda di tiang layar kapal mereka sebagai perlindungan. Selama berabad – abad, legenda The Flying Dutchman menjadi sumber inspirasi para sastrawan dan novelis. Sejak tahun 1826 Edward Fitzball telah menulis novel "The Phantom Ship" (1837) yang diangkat dari pengalaman bertemu dengan kapal seram ini. Banyak pujangga terkenal seperti Washington Irving dan Sir Walter Scott juga tertarik mengangkat legenda ini.[butuh rujukan]

Beberapa Laporan Penampakan The Flying Dutchman yang sempat didokumentasikan: