Pancing sulut atau mengompori adalah salah satu jenis konflik yang biasa terjadi di dalam dunia maya (cyberspace), terutama di milis dan forum internet, di mana serangkaian pesan yang menghina menjadi akar permasalahan. Pancing sulut merupakan tindakan mengirim atau memposting pesan yang bersifat menyerang, menghina, atau provokatif melalui media sosial maupun platform daring. Perilaku ini umumnya ditandai dengan penggunaan bahasa kasar, nada agresif, serta tujuan untuk menjatuhkan lawan bicara alih-alih melakukan diskusi secara sehat.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Artikel ini perlu ditulis ulang agar memenuhi standar Wikipedia. (November 2025) |
Pancing sulut atau mengompori (bahasa Inggris: flamingcode: en is deprecated ) adalah salah satu jenis konflik yang biasa terjadi di dalam dunia maya (cyberspace), terutama di milis dan forum internet, di mana serangkaian pesan yang menghina menjadi akar permasalahan. Pancing sulut merupakan tindakan mengirim atau memposting pesan yang bersifat menyerang, menghina, atau provokatif melalui media sosial maupun platform daring. Perilaku ini umumnya ditandai dengan penggunaan bahasa kasar, nada agresif, serta tujuan untuk menjatuhkan lawan bicara alih-alih melakukan diskusi secara sehat.[1]
Dalam kajian linguistik, flaming dikategorikan sebagai tindak tutur ekspresif yang mengandung cercaan, sumpah serapah, atau ujaran kebencian yang diutarakan dalam interaksi daring.[2] Dengan demikian, flaming merepresentasikan ekspresi emosi negatif yang disalurkan melalui komunikasi digital, yang sering kali dipicu oleh faktor anonimitas yang membuat individu lebih berani mengekspresikan agresinya.
Tujuan perilaku pancing sulut di media sosial dapat beragam. Pertama, sebagai sarana pelampiasan emosi; individu menggunakan komentar agresif untuk menyalurkan rasa frustrasi dan kemarahan.[3] Kedua, pancing sulut berfungsi untuk menarik perhatian atau memicu reaksi emosional dari pihak lain, terutama ketika pelaku ingin menjadi pusat perdebatan. Ketiga, dalam konteks tertentu, pancing sulut dimanfaatkan untuk menyerang reputasi lawan atau mendominasi percakapan dengan merendahkan argumen orang lain.[2] Selain itu, penelitian terbaru menunjukkan bahwa pancing sulut dapat pula dipandang sebagai bentuk ekspresi moral outrage, yakni upaya untuk menunjukkan penolakan keras terhadap perilaku yang dianggap tidak dapat diterima.[4] Dengan demikian, tujuan pancing sulut tidak semata bersifat agresif personal, melainkan juga dapat berperan sebagai alat komunikasi sosial, meskipun efeknya lebih bersifat destruktif dibanding konstruktif.
Perilaku pancing sulut dalam komunikasi daring dipengaruhi oleh berbagai faktor psikologis dan situasional.[5] Salah satunya adalah kecenderungan disinhibition seeking, yaitu dorongan untuk mencari sensasi dan kebebasan berekspresi. Dalam kondisi anonim yang minim isyarat sosial, individu cenderung lebih berani mengekspresikan diri serta mengambil risiko sehingga pancing sulut kerap muncul sebagai bentuk hiburan atau pengisi waktu luang. Selain itu, perilaku ini dapat dipicu oleh kecemasan dan stres. Tekanan akibat komentar bermusuhan, rasa frustrasi terhadap sistem, maupun keterbatasan waktu sering kali mendorong individu melampiaskan emosinya melalui pancing sulut sebagai bentuk pelarian sementara. Faktor lain yang turut berperan adalah sifat asertif dan dorongan dominasi. Individu yang kompetitif dan berorientasi pada kekuasaan cenderung menggunakan flaming untuk menegaskan dominasi atas orang lain, terutama ketika berinteraksi secara anonim.
Dari sisi gender, penelitian menunjukkan bahwa laki-laki lebih sering melakukan pancing sulut dibandingkan perempuan. Perilaku ini umumnya dilakukan untuk tujuan hiburan, sehingga mayoritas pelaku pancing sulut berasal dari kelompok laki-laki. Selain itu, karakteristik komunikasi elektronik turut memengaruhi. Sifat anonim dan minimnya isyarat sosial dalam interaksi daring memungkinkan seseorang untuk berperilaku menyimpang. Bahkan dalam situasi seperti rapat daring yang berlangsung lama, pancing sulut dapat muncul sebagai upaya mengatasi kebosanan. Oleh karena itu, pancing sulut tidak hanya dipandang sebagai perilaku individual, tetapi juga sebagai hasil interaksi antara kondisi psikologis, faktor sosial, dan karakteristik komunikasi digital.
Flame trolling adalah tindakan mengirim pesan provokatif atau ofensif (flamebait) di forum, grup diskusi, atau mailing list dengan tujuan memancing kemarahan atau perdebatan. Tindakan ini memberikan kesempatan kepada pengirim untuk memicu konflik secara anonim tanpa menghadapi konsekuensi langsung.
Flame war terjadi ketika banyak pengguna menanggapi pesan provokatif hingga berkembang menjadi perdebatan massal yang mengganggu jalannya diskusi utama. Flame war dapat berisi hinaan, ancaman, atau bahasa kasar, meskipun sebagian sosiolog memandangnya sebagai fenomena sosial yang dapat mempererat solidaritas kelompok. Ujaran dalam flame war umumnya tidak dianggap terlalu serius.
Political flaming muncul ketika pandangan politik seseorang dipertanyakan atau ditantang, sehingga menimbulkan kemarahan. Identitas anonim membuat individu lebih berani menyerang. Studi pada tahun 2015 menunjukkan bahwa individu yang memiliki pengalaman dalam diskusi politik lebih mungkin terlibat dalam flame, dengan agresi verbal sebagai faktor pendorong utamanya.
Corporate flaming merupakan serangan komentar negatif secara masif terhadap karyawan, produk, atau merek perusahaan. Penyebabnya dapat berasal dari perilaku tidak pantas, layanan yang buruk, pelanggaran etika, hingga respons perusahaan yang tidak memadai. Dampaknya meliputi kerusakan reputasi, penurunan kepercayaan pelanggan, penurunan nilai saham, bahkan potensi tuntutan hukum. Proses pemulihan reputasi perusahaan akibat corporate flaming dapat memerlukan waktu yang lama.
Pancing sulut memiliki dampak signifikan terhadap kondisi psikologis dan emosional korban. Dari aspek kesehatan mental, korban sering mengalami peningkatan kecemasan, depresi, dan kecenderungan menarik diri dari lingkungan sosial.[6] Dampak tersebut dapat berlangsung dalam jangka panjang dan menimbulkan penurunan rasa percaya diri serta prestasi akademik.[7] Selain itu, flaming memicu reaksi emosional seperti rasa malu, terhina, dan perasaan dinilai negatif.[8] Kondisi ini sering kali mendorong korban untuk menghindari interaksi sosial dan, dalam beberapa kasus, memunculkan kerentanan terhadap masalah keuangan.
Flaming juga dapat menyebabkan fenomena self-dehumanization, yaitu keadaan di mana korban menjadi mati rasa secara emosional.[9] Hal ini dapat mengurangi empati terhadap orang lain serta meningkatkan kemungkinan munculnya perilaku agresif lanjutan. Dampak flaming tidak hanya dirasakan pada tingkat individu, tetapi juga dalam konteks sosial yang lebih luas.
Berbeda dari anggapan umum, flaming tidak secara efektif merusak reputasi korban.[4] Sebaliknya, perilaku ini cenderung menciptakan citra negatif bagi pelaku, yang sering kali dipandang buruk oleh pihak ketiga. Dalam komunitas daring, flaming juga dipengaruhi oleh dinamika kelompok. Faktor konformitas sosial dan identitas kelompok dapat memperkuat perilaku agresif, terutama ketika interaksi terjadi dalam konteks yang menekankan kebersamaan atau solidaritas.[10] Oleh karena itu, flaming tidak hanya berdampak pada individu yang menjadi sasaran, tetapi juga pada pola interaksi sosial di ruang digital.
Di Wikipedia, flame war dapat terjadi dikarenakan persoalan sudut pandang pada titik netral (NPOV) dan dapat diselesaikan dengan beberapa cara, baik teknis ataupun sikap pihak-pihak yang terlibat.