Festival Raja Kera merupakan sebuah festival yang dirayakan di Hong Kong pada hari ke-16 bulan kedelapan dalam kalender lunar Tiongkok, yang biasanya jatuh pada bulan September dalam kalender Masehi, tepat sehari setelah Festival Pertengahan Musim Gugur. Asal-usul perayaan ini berakar pada novel epik abad ke-16 berjudul Perjalanan ke Barat, yang ditulis oleh pengarang Tiongkok Wu Cheng’en (1500–1582) pada masa dinasti Ming (1368–1644). Karya sastra tersebut menggabungkan konsep keabadian dari ajaran Taoisme dan gagasan kelahiran kembali dari Buddhisme. Tokoh utama dalam kisah itu, Sun Go Kong atau Raja Kera, menjadi pusat penghormatan dalam festival ini.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


Festival Raja Kera (Hanzi: 齊天大聖千秋) merupakan sebuah festival yang dirayakan di Hong Kong pada hari ke-16 bulan kedelapan dalam kalender lunar Tiongkok, yang biasanya jatuh pada bulan September dalam kalender Masehi, tepat sehari setelah Festival Pertengahan Musim Gugur. Asal-usul perayaan ini berakar pada novel epik abad ke-16 berjudul Perjalanan ke Barat (西遊記, Xiyou ji), yang ditulis oleh pengarang Tiongkok Wu Cheng’en (1500–1582) pada masa dinasti Ming (1368–1644).[1][2] Karya sastra tersebut menggabungkan konsep keabadian dari ajaran Taoisme dan gagasan kelahiran kembali dari Buddhisme.[3] Tokoh utama dalam kisah itu, Sun Go Kong atau Raja Kera, menjadi pusat penghormatan dalam festival ini.[1]
Kisah ini telah menjadi bagian dari sejarah cerita rakyat Tiongkok dan menceritakan perjalanan Xuanzang atau Tong Sam Cong, seorang biksu Buddha dari masa dinasti Tang (618–907). Dalam perjalanannya menuju India kuno untuk mencari kitab suci Buddha, Xuanzang menghadapi berbagai gangguan dari setan dan perampok, tetapi ia ditemani oleh murid-murid sekaligus pelindungnya, yaitu Sun Go Kong sang Raja Kera, Chu Pat Kai (猪八戒), dan Sha Wu Ching (沙悟浄).[1] Setelah berhasil memperoleh kitab suci Buddha, mereka kembali ke Tiongkok.[2] Cerita dari novel ini menjadi bagian penting dalam budaya populer Tiongkok. Tokoh Raja Kera mendapatkan tempat istimewa dalam tradisi Buddhis dan kepercayaan rakyat, hingga kuil dibangun untuk menghormatinya dan kisah hidupnya ditulis.[1] Hari kelahiran Raja Kera diperingati sebagai Tahun Baru sekaligus dikenal sebagai hari bagi para penipu, mencerminkan kecerdikan dan kemampuan luar biasa yang dimilikinya.[4]
Perayaan Festival Raja Kera biasanya dilakukan dengan membakar dupa dan mempersembahkan kertas ritual.[5] Dalam tradisi Tao, festival ini juga diramaikan dengan pertunjukan akrobatik seperti tendangan berputar yang disebut tendangan angin topan.[6] Di Kuil Raja Kera yang terletak di Sau Mau Ping, Kowloon, terdapat ritual khusus di saat seorang perantara menirukan pertempuran Raja Kera melawan para dewa di surga sebagaimana digambarkan dalam kisah Perjalanan ke Barat.[7][8] Selama upacara, perantara tersebut dipercaya dirasuki oleh roh Raja Kera, lalu berlari tanpa alas kaki di atas bara api dan menaiki tangga yang terbuat dari pisau. Menurut kepercayaan, Raja Kera memiliki kepala dari perunggu dan bahu dari besi, sehingga ia tidak terluka setelah melakukan aksi berbahaya tersebut.[9]