Fatimah Hasan Delais, dikenal dengan nama pena Hamidah, adalah seorang pahlawan emansipasi perempuan dari Bangka Belitung dan pengarang perempuan Angkatan Pujangga Baru. Dia merupakan salah satu novelis perempuan pertama di Indonesia.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Fatimah Hasan Delais (13 Juni 1915 - 8 Mei 1953), dikenal dengan nama pena Hamidah, adalah seorang pahlawan emansipasi perempuan dari Bangka Belitung dan pengarang perempuan Angkatan Pujangga Baru. Dia merupakan salah satu novelis perempuan pertama di Indonesia.[1]
Fatimah lahir pada 13 Juni 1915 di Muntok, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.[1] Dia merupakan anak bungsu dari empat bersaudara. Ayahnya, H Mukti, adalah seorang penghulu di Muntok. Saat berusia empat tahun, ibunya meninggal dunia. Kemudian, dia diasuh oleh kakak perempuannya, Aisyah.[2]
Fatimah menamatkan pendidikan di Meisjes Normaalschool atau Sekolah Normal Putri, di Padang Panjang, Provinsi Sumatera Barat. Setelah lulus, dia mengajar di Sekolah Rakyat (SR) Muntok. Kemudian, Fatimah mengajar di Palembang Institut. Dia juga pernah mengajar di Universitas Taman Siswa.[3]
Fatimah pernah menjadi pengurus P4A, Parnawi, anggota Coerwis, dan pembantu tetap Poedjangga Baroe di Palembang. Selama periode revolusi kemerdekaan, Fatimah mendirikan sekolah sendiri pada tahun 1949 dan diserahkan kepada pemerintah.[1]
Fatimah meninggal pada 8 Mei 1953 di Rumah Sakit Charitas, Palembang, Provinsi Sumatera Selatan.[1]
Pada usia 19 tahun, Fatimah menulis novel Kehilangan Mestika yang diterbitkan pertama kali oleh Balai Pustaka pada 1935. Novel ini mengisahkan tentang pentingnya pendidikan dan peran perempuan di ranah publik. Melalui novel ini, Fatimah melawan budaya patriarki yang membatasi perempuan, salah satunya tradisi pingitan.[1]
Selain menulis novel, Fatimah juga menulis puisi. Karya-karya puisinya antara lain Puisi Berpisah dimuat dalam Poedjangga Baroe Nomor 10 Tahun 2 (1935) dan Pandji Poestaka Nomor 44 Tahun 13 (1935), Puisi Kekalkah? dimuat dalam Pujangga Baru Nomor 12 Tahun 2 (1935), Antologi Puisi Pujangga Baru: Prosa dan Puisi (H.B. Jassin, 1963), Antologi Puisi Seserpih Pinang Sepucuh Sirih (Toeti Heraty, 1979), Antologi Puisi Tonggak 1 (Linus Suryadi AG, 1987), dan Ungu: Antologi Puisi Wanita Penyair Indonesia (Korrie Layun Rampan).[2]