Eurafrique atau Eurafrika adalah gagasan kemitraan strategis antara Afrika dan Eropa. Pada tahun 1920-an, kelangsungan dan peran masa depan Eropa dalam sejarah dianggap erat kaitannya dengan keberhasilan penggabungan dengan Afrika. Sebagai proyek politik asli, Eurafrique memainkan peran penting dalam perkembangan awal Uni Eropa, tetapi semakin terlupakan. Mengikuti EU Strategy for Africa dan kontroversi seputar Euromediterranean Partnership, istilah ini mulai populer kembali dalam beberapa tahun terakhir.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


Eurafrique atau Eurafrika (keduanya gabungan kata "Eropa" dan "Afrika" dalam bahasa Prancis dan Jerman) adalah gagasan kemitraan strategis antara Afrika dan Eropa. Pada tahun 1920-an, kelangsungan dan peran masa depan Eropa dalam sejarah dianggap erat kaitannya dengan keberhasilan penggabungan dengan Afrika.[1] Sebagai proyek politik asli, Eurafrique memainkan peran penting dalam perkembangan awal Uni Eropa,[2] tetapi semakin terlupakan. Mengikuti EU Strategy for Africa dan kontroversi seputar Euromediterranean Partnership, istilah ini mulai populer kembali dalam beberapa tahun terakhir.[3]
Istilah ini sudah ada sejak masa kekaisaran tinggi abad ke-19. Istilah ini memiliki peran penting dalam sejumlah khayalan teknokrat seperti Atlantropa pada tahun 1920-an dan 1930-an[4] (mirip proyek Desertec yang gagal[5]). Eurafrika berusaha menyatukan benua Afrika yang penuh bahan mentah dengan benua Eropa.[6] Erich Obst adalah salah satu pengusung Eurafrique pada Perang Dunia II.[4]
Pada tahun 1920-an, Richard Nikolaus Coudenhove-Kalergi mendirikan gerakan penyatuan Eropa pertama. Uni Paneropa yang digagasnya menginginkan aliansi Eurafrika dengan menjadikan koloni Eropa sebagai "mahar"[7] sehingga menjadi pangkalan penting bagi Eropa untuk mengimbangi Amerika dan Asia.[8][9] Pandangan Coudenhove-Kalergis memiliki unsur-unsur rasis (positif) karena ia mengklaim bahwa Eurafrika akan menyatukan budaya adiluhung Eropa dengan budaya primitif Afrika dan menguntungkan satu sama lain.[10] Luiza Bialasiewicz menyebut Eurafrika Karl Haushofer sebagai wilayah geopolitik terpenting ketiga di dunia.[11]
Pembahasan soal kemitraan ini berubah dari diskusi politik dan ekonomi biasa menjadi diskusi releva yang terkait dengan lingkup emosi dan seksualitas pada masa antarperang.[12]
Eurafrika masih menjadi impian politik yang tinggi sampai akhir Perang Dunia II. Eurafrika kemudian mendapat pengaruh politik yang nyata sebagai bagian dari tahap awal penyatuan Eropa. Karena memiliki posisi geografis dan sah, bekas wilayah Prancis, Aljazair, yang pada tahun 1950-an merupakan bagian dari Uni Eropa, menjadi titik utama visi Eurafrique Prancis.
Konsep Eurafrique Léopold Sédar Senghor sangat erat hubungannya dengan Négritude yang memperkenalkan pencapaian budaya Afrika. Ia menyetarakan wilayah sub-Sahara dengan Eropa dalam kontinuum budaya yang sama.[13] "Elégie pour la Reine de Saba" yang diterbitkan dalam Elégies majeures tahun 1976 menggunakan legenda Ratu Syeba sebagai syair cinta dan pesan politik. Istilah Africanité / Negritude yang dicetuskan Senghor mencakup Afrika Arab-Berber.[14]
Revolusi 1989 di Blok Timur memicu perubahan mendadak yang mengaburkan ketertarikan Eropa terhadap kerja sama Eropa-Afrika yang lebih erat. Berbeda dengan rencana aslinya, perluasan Eropa dalam beberapa tahun terakhir mengarah ke timur dan tidak melintasi Laut Mediterania.
Wadah pemikir Jerman, Konrad Adenauer Foundation, pada tahun 2009 melihat tidak adanya kesamaan isu politik dan ekonomi dan mencoba berfokus pada perspektif spiritual dan budaya Eurafrika.[15]