Ester, lahir dengan nama Hadasa, adalah tokoh utama dalam Kitab Ester, bagian dari Alkitab Ibrani dan Perjanjian Lama.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Ester | |
|---|---|
Ratu Esther karya Edwin Long (1878) | |
| Nama asal | |
| Lahir | Hadasa ( Kekaisaran Akhemeniyah |
| Gelar | Ratu Persia dan Media |
| Suami/istri | Ahasyweros dari Persia |
Ester (bahasa Ibrani:
Menurut narasi Alkitab yang berlatar di Kekaisaran Akhemeniyah, raja Persia yang bernama Ahasyweros jatuh hati pada Ester dan menikahinya.[1] Wazir agungnya, Haman, merasa tersinggung oleh sepupu sekaligus wali Ester, Mordekhai, karena penolakannya untuk bersujud menyembah Haman. Saat dikonfrontasi, alasan Mordekhai hanyalah karena ia seorang Yahudi. Berbagai penafsiran telah diajukan mengenai apa alasan Mordekhai yang sebenarnya. Akibatnya, Haman merencanakan pembantaian semua orang Yahudi di Persia, dan akhirnya meyakinkan Ahasyweros untuk mengizinkannya menjalankan rencananya itu. Namun, Ester menggagalkan rencana itu dengan mengungkapkan dan mengecam rencana Haman kepada Ahasyweros, yang kemudian menghukum mati Haman dan memberikan izin kepada orang-orang Yahudi untuk mengangkat senjata mempertahankan diri dari musuh-musuh mereka.[2] Ester dipuji atas keberaniannya dan upayanya menyelamatkan orang-orang Yahudi di Persia dari pemusnahan.
Kisah dalam Kitab Ester menyediakan penjelasan tradisional bagi Purim, sebuah hari raya Yahudi yang dirayakan pada tanggal Ibrani saat perintah Haman seharusnya diberlakukan, yaitu hari di mana orang-orang Yahudi membunuh musuh-musuh mereka setelah Ester mengungkapkan niat Haman kepada suaminya. Para pakar memiliki pandangan yang beragam mengenai historisitas Kitab Ester, dengan adanya perdebatan mengenai genrenya dan asal-usul Purim.[3][a]
Terdapat dua bentuk Kitab Ester yang saling berkaitan: versi lebih pendek yang bersumber dari bahasa Ibrani Alkitab yang ditemukan dalam Alkitab Yahudi dan Protestan, serta versi lebih panjang yang bersumber dari bahasa Yunani Koine yang ditemukan dalam Alkitab Katolik dan Ortodoks.[4]
Saat diperkenalkan dalam Kitab Ester 2:7, ia pertama kali disebut dengan nama Ibrani Hadasa,[5] yang berarti "pohon murad". Nama ini tidak ditemukan dalam naskah-naskah Yunani kuno, meski muncul dalam teks-teks Targum. Nama tersebut kemungkinan baru ditambahkan ke dalam teks Ibrani paling awal pada abad ke-2 Masehi untuk mempertegas identitas Yahudi sang tokoh utama.[6] Sementara itu, nama "Ester" kemungkinan berasal dari nama dewi Babilonia, Ishtar, atau dari kata dalam bahasa Persia untuk "bintang" (ستاره setareh). Meski begitu, beberapa ahli berpendapat bahwa nama tersebut berhubungan dengan kata dalam bahasa Persia yang berarti "perempuan" atau "murad".[7]


Pada tahun ketiga pemerintahan Raja Ahasyweros dari Persia, raja mengasingkan ratunya, Wasti, karena menolak memenuhi panggilannya, lalu ia mulai mencari ratu yang baru. Para gadis jelita dikumpulkan di harem dalam benteng Susan di bawah pengawasan sida-sida bernama Hegai.[1]
Ester, sepupu Mordekhai, merupakan anggota komunitas Yahudi pada Masa Pembuangan yang mengeklaim sebagai keturunan Kish—seorang Benyamin yang telah dibawa keluar dari Yerusalem ke dalam pembuangan. Ia adalah putri yatim piatu dari paman Mordekhai yang bernama Abihail, dari suku Gad. Menurut narasi Alkitab, ia memiliki perawakan yang rupawan dan berwajah cantik. Atas perintah raja, Ester dibawa ke istana di mana Hegai mempersiapkannya untuk menghadap raja. Meski ia naik ke posisi tertinggi di harem—dimandikan dengan wewangian emas dan mur serta diberikan makanan dan pelayan khusus—ia tetap berada di bawah instruksi ketat dari Mordekhai, yang menemuinya setiap hari, untuk merahasiakan asal-usul Yahudinya. Akhirnya, raja pun jatuh hati padanya dan menjadikannya Ratu.[1]
Setelah penobatan Ester, Mordekhai mengendus rencana pembunuhan Raja Ahasyweros yang dirancang oleh Bigtan dan Teresh. Mordekhai segera mengabari Ester, yang kemudian menyampaikannya kepada raja atas nama Mordekhai, sehingga nyawa sang raja pun terselamatkan. Jasa besar ini kemudian dicatat dalam Kitab Sejarah Kerajaan.
Usai Mordekhai menyelamatkan nyawa raja, Haman orang Agag diangkat menjadi penasihat tertinggi Ahasyweros. Ia pun memerintahkan agar semua orang berlutut menyembahnya. Namun, Mordekhai (yang berjaga di jalanan untuk terus mendampingi Ester) menolak bersujud. Murka karena pembangkangan ini, Haman menyuap Raja Ahasyweros sebesar 10.000 talenta perak demi mendapatkan hak untuk memusnahkan seluruh orang Yahudi di seantero kerajaan. Haman kemudian membuang undi, yang disebut Purim, melalui cara-cara gaib. Hasil undian itu menunjukkan bahwa tanggal tiga belas bulan Adar adalah hari keberuntungan untuk melakukan genosida tersebut. Bermodalkan meterai raja dan bertindak atas nama raja, Haman mengirimkan titah ke seluruh provinsi agar pembantaian orang Yahudi dilaksanakan pada tanggal yang telah ditentukan itu. Begitu Mordekhai mendengar kabar mengenai hal ini, ia mendesak Ester agar berterus terang kepada raja mengenai jati dirinya sebagai orang Yahudi dan memohon pembatalan titah tersebut. Ester sempat bimbang; ia tahu bahwa menghadap raja tanpa dipanggil bisa berujung hukuman mati. Meski demikian, Mordekhai terus meyakinkannya untuk berani mencoba. Akhirnya, Ester meminta agar seluruh komunitas Yahudi berpuasa dan berdoa selama tiga hari sebelum ia menghadap raja, dan Mordekhai menyetujuinya.
Pada hari ketiga, Ester mendatangi pelataran istana dan disambut baik oleh raja. Sebagai tanda penerimaan, raja mengulurkan tongkat kerajaannya untuk disentuh Ester, serta menawarkan untuk mengabulkan permintaan apa pun "hingga setengah dari kerajaan". Ester kemudian mengundang raja dan Haman ke sebuah perjamuan yang telah ia siapkan untuk keesokan harinya, sambil menyatakan akan menyampaikan permohonannya pada acara tersebut. Saat perjamuan berlangsung, raja kembali mengulangi tawarannya, tetapi Ester sekali lagi mengundang raja dan Haman untuk menghadiri perjamuan kedua pada hari berikutnya.
Meskipun detail latar belakangnya sangat masuk akal dan kisahnya mungkin didasarkan pada kejadian nyata, para ahli secara umum sepakat bahwa Kitab Ester merupakan karya fiksi.[8][b] Raja-raja Persia tidak menikah dengan orang di luar tujuh keluarga bangsawan Persia, sehingga kecil kemungkinannya ada seorang ratu Yahudi bernama Ester.[9][10][c] Selain itu, nama Ahasuerus dapat diterjemahkan menjadi Xerxes, karena keduanya berasal dari nama dalam bahasa Persia, Khshayārsha.[11][12] Tokoh Ahasuerus sebagaimana digambarkan dalam Kitab Ester biasanya diidentifikasi dalam sumber-sumber modern sebagai rujukan untuk Xerxes I,[13][14] yang memerintah antara tahun 486 dan 465 SM,[11] karena pada masa kekuasaan raja inilah peristiwa-peristiwa yang digambarkan dalam Kitab Ester dianggap paling sesuai.[12][15] Namun, ratu pertama Xerxes adalah Amestris, yang semakin menegaskan sifat fiktif dari kisah tersebut.[9][4][c]
Beberapa ahli berspekulasi bahwa kisah ini diciptakan untuk membenarkan pengadopsian perayaan yang aslinya bukan berasal dari tradisi Yahudi.[16] Perayaan yang dijelaskan dalam kitab tersebut adalah Purim, yang dijelaskan memiliki arti 'undian', berasal dari kata dalam bahasa Babilonia, puru. Satu teori yang populer menyebutkan bahwa perayaan tersebut berakar dari mitos atau ritual Babilonia yang telah diubah menjadi peristiwa sejarah. Dalam konteks ini, Mordekhai dan Ester merepresentasikan dewa-dewi Babilonia, yaitu Marduk dan Ishtar. Sementara itu, pihak lain menelusuri ritual tersebut hingga ke perayaan Tahun Baru Persia, dan para ahli telah meninjau berbagai teori lainnya dalam karya-karya mereka.[17] Sejumlah ahli telah berupaya membela kisah ini sebagai sejarah yang nyata,[18] tetapi upaya untuk menemukan inti sejarah dari narasi tersebut dianggap "cenderung sia-sia" oleh Sara Raup Johnson.[17]
Kitab Ester dimulai dengan menggambarkan sosok Ester sebagai perempuan cantik yang patuh, meski secara relatif ia merupakan tokoh yang pasif. Seiring berjalannya cerita, ia berkembang menjadi karakter yang mengambil peran penentu bagi masa depan dirinya sendiri maupun bangsanya.[19] Menurut Sidnie White Crawford, "posisi Ester di tengah istana yang didominasi laki-laki mencerminkan keberadaan kaum Yahudi di dunia non-Yahudi, di mana ancaman bahaya selalu mengintai di balik permukaan yang tampak tenang."[20] Ester kerap dibandingkan dengan Daniel karena keduanya merepresentasikan "tipe" orang Yahudi yang hidup di Diaspora, serta memiliki harapan untuk dapat menjalani hidup yang sukses di lingkungan yang asing.
Menurut Susan Zaeske, karena Ester hanya mengandalkan retorika untuk meyakinkan raja untuk menyelamatkan bangsanya, kisah Ester menjadi sebuah "retorika eksil dan pemberdayaan yang selama ribuan tahun telah membentuk diskursus kelompok marginal secara nyata, seperti kaum Yahudi, perempuan, dan warga Afrika-Amerika," guna membujuk pihak-pihak yang memiliki kekuasaan atas mereka.[21]

Orang-orang Yahudi di Persia saat ini disebut "anak-anak Ester". Sebuah bangunan yang dikenal sebagai Makam Ester dan Mordekhai berada di Hamadan, Iran,[22] meskipun sebuah desa di utara Israel, Kfar Bar'am juga diklaim sebagai tempat makam ratu Ester.[23]