Enlil dan Ninlil atau Mitos Enlil dan Ninlil atau Enlil dan Ninlil: yang memperanakkan Nanna adalah mitos penciptaan dalam bahasa Sumeria yang di tulis di lauh tanah liat pada pertengahan hingga akhir milenium ke-3 SM.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


Enlil dan Ninlil atau Mitos Enlil dan Ninlil atau Enlil dan Ninlil: yang memperanakkan Nanna adalah mitos penciptaan dalam bahasa Sumeria yang di tulis di lauh tanah liat pada pertengahan hingga akhir milenium ke-3 SM.
Baris-baris pertama dari mitos ini ditemukan dalam suatu ekskavasi di perpustakaan dalam kuil di Nippur, sekarang disimpan di Museum Arkeologi dan Antropologi Universitas Pennsylvania, bagian katalog Babilonia (CBS), nomor lauh 9205. Lauh ini diterjemahkan oleh George Aaron Barton pada tahun 1918 dan pertama kali diterbitkan sebagai "teks-teks agama Sumeria" dalam "Beragam Naskah Babilonia", nomor tujuh, berjudul "Mitos Enlil dan Ninlil ".[1] Lauh tersebut berukuran 17 cm x 11 cm x 3 cm.
Kisah dimulai dengan gambaran kota Nippur — tembok-temboknya, sungai, kanal-kanalnya, dan sumurnya — yang digambarkan sebagai tempat tinggal para dewa dan, menurut Kramer, "yang tampaknya dianggap telah ada sebelum penciptaan manusia." A. R. George berpendapat bahwa "Menurut tradisi yang terkenal, yang diwakili oleh mitos Enlil dan Ninlil, ada masa ketika Nippur adalah sebuah kota yang dihuni oleh para dewa, bukan manusia, dan ini menunjukkan bahwa kota itu ada sejak awal mula." Ia membahas Nippur sebagai "kota pertama" (uru-sag, 'kepala (teratas) kota').[2] Gambaran Nippur ini juga dipertegas oleh Joan Goodnick Westenholz, yang menyebut latarnya sebagai "civitas dei", ada sebelum "axis mundi".[3]
"Ada sebuah kota, ada sebuah kota — kota tempat kita tinggal. Nibru (Nippur) adalah kotanya, kota tempat kita tinggal. Dur-jicnimbar adalah kotanya, kota tempat kita tinggal. Id-sala adalah sungai sucinya, Kar-jectina adalah dermaganya. Kar-asar adalah dermaganya tempat perahu-perahu berlabuh. Pu-lal adalah sumur air tawarnya. Id-nunbir-tum adalah kanal bercabangnya, dan jika diukur dari sana, tanah yang diusahakannya 50 sar ke setiap arah. Enlil adalah salah seorang pemudanya, dan Ninlil adalah salah seorang pemudinya.""[4]
Kisah berlanjut dengan peringatan sang dewi Nun-bar-she-gunu kepada putrinya, Ninlil, agar berhati-hati terhadap rayuan Enlil bila ia berjalan terlalu dekat dengan sungai. Ninlil menolak rayuan pertama Enlil. Namun kemudian, Enlil meminta abdinya, Nuska, untuk menyeberangkannya ke sisi lain sungai. Di sanalah keduanya bertemu, hanyut terbawa arus—entah ketika mandi atau berperahu—lalu berbaring di tepian, berciuman, dan mengandung Suen-Ashimbabbar,[5] sang dewa bulan. Tak lama setelah itu, Enlil berjalan di dalam Ekur, tetapi para dewa lain menangkapnya karena hubungannya dengan Ninlil dan mengusirnya dari kota sebab dianggap ternoda secara ritus.
"}},"i":0}}]}' id="mwPA"/>"Enlil sedang berjalan di Ki-ur. Saat Enlil melangkah di Ki-ur, lima puluh dewa agung dan tujuh dewa penentu nasib menciduknya di sana. 'Enlil — engkau ternoda oleh noda ritus, tinggalkan kota!' 'Nunamnir — engkau ternoda oleh noda ritus, tinggalkan kota!' Demikian ketetapan diucapkan; Enlil pun pergi. Nunamnir, menurut keputusan itu, ikut pergi. Ninlil mengikutinya.""[4]
Tiga episode serupa pun menyusul. Saat Enlil meninggalkan kota, ia berbicara dengan penjaga gerbang kota ("penjaga penghalang suci" atau "penjaga kunci murni"), kemudian dengan penjaga Id-kura — sungai dunia bawah Sumeria (mirip Styx dalam mitologi Yunani) — dan akhirnya dengan SI.LU.IGI, tukang perahu dunia bawah (sepadan dengan Charon). Kepada mereka Enlil selalu berpesan: "Bila tuanmu Ninlil datang dan menanyakan aku, jangan kau beri tahu di mana aku berada!" Ninlil tetap mengikuti, bertanya, "Kapan tuanmu Enlil lewat?" Namun Enlil (dalam penyamaran) menjawab: "Tuan hamba tak pernah berbicara kepadaku, wahai yang tercantik. Enlil tak pernah berbicara kepadaku, wahai yang tercantik." Lalu Ninlil menawarkan untuk bersetubuh dengannya, dan setiap kali melakukanya mereka mengandung seorang dewa. Dari pertemuan ini lahirlah dua dewa dunia bawah, yakni Nergal-Meclamta-ea dan Ninazu, serta seorang dewa pengatur aliran air, Enbilulu, yang disebut "pengawas kanal". Jeremy Black mengaitkan dewa ini dengan sistem irigasi.[6] Kisah ini ditutup dengan pujian bagi kesuburan Enlil dan Ninlil.
"}},"i":0}}]}' id="mwVQ"/>"Engkaulah tuan! Engkaulah raja! Enlil, engkaulah tuan! Engkaulah raja! Nunamnir, engkaulah tuan! Engkaulah raja! Engkau penguasa agung, engkau penguasa perkasa! Tuan yang menumbuhkan rami, tuan yang menumbuhkan jelai, engkau tuan langit, tuan kelimpahan, tuan bumi! Engkau tuan bumi, tuan kelimpahan, tuan langit! Enlil di langit, Enlil adalah raja! Tuan yang titahnya takkan pernah berubah! Sabda purba-Nya takkan tergoyahkan! Bagi pujian yang diucapkan bagi Ninlil sang ibu, terpujilah Gunung Besar, Ayah Enlil!"[4]