Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Enlil dan Ninlil

Enlil dan Ninlil atau Mitos Enlil dan Ninlil atau Enlil dan Ninlil: yang memperanakkan Nanna adalah mitos penciptaan dalam bahasa Sumeria yang di tulis di lauh tanah liat pada pertengahan hingga akhir milenium ke-3 SM.

Wikipedia article
Diperbarui 13 November 2025

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Enlil dan Ninlil
Gambar Tuan Enlil dan Nyonya Ninlil diambil dari dekorasi mural Susa. Enlil (dengan kuku dan tanduk Dewa Banteng) dan Ninlil. Paruh kedua milenium ke-2 SM, Louvre, Paris. Batu bata bakar, tinggi 54 inci (13716 cm).

Enlil dan Ninlil atau Mitos Enlil dan Ninlil atau Enlil dan Ninlil: yang memperanakkan Nanna adalah mitos penciptaan dalam bahasa Sumeria yang di tulis di lauh tanah liat pada pertengahan hingga akhir milenium ke-3 SM.

Baris-baris pertama dari mitos ini ditemukan dalam suatu ekskavasi di perpustakaan dalam kuil di Nippur, sekarang disimpan di Museum Arkeologi dan Antropologi Universitas Pennsylvania, bagian katalog Babilonia (CBS), nomor lauh 9205. Lauh ini diterjemahkan oleh George Aaron Barton pada tahun 1918 dan pertama kali diterbitkan sebagai "teks-teks agama Sumeria" dalam "Beragam Naskah Babilonia", nomor tujuh, berjudul "Mitos Enlil dan Ninlil ".[1] Lauh tersebut berukuran 17 cm x 11 cm x 3 cm.

Kisah

Kisah dimulai dengan gambaran kota Nippur — tembok-temboknya, sungai, kanal-kanalnya, dan sumurnya — yang digambarkan sebagai tempat tinggal para dewa dan, menurut Kramer, "yang tampaknya dianggap telah ada sebelum penciptaan manusia." A. R. George berpendapat bahwa "Menurut tradisi yang terkenal, yang diwakili oleh mitos Enlil dan Ninlil, ada masa ketika Nippur adalah sebuah kota yang dihuni oleh para dewa, bukan manusia, dan ini menunjukkan bahwa kota itu ada sejak awal mula." Ia membahas Nippur sebagai "kota pertama" (uru-sag, 'kepala (teratas) kota').[2] Gambaran Nippur ini juga dipertegas oleh Joan Goodnick Westenholz, yang menyebut latarnya sebagai "civitas dei", ada sebelum "axis mundi".[3]

"Ada sebuah kota, ada sebuah kota — kota tempat kita tinggal. Nibru (Nippur) adalah kotanya, kota tempat kita tinggal. Dur-jicnimbar adalah kotanya, kota tempat kita tinggal. Id-sala adalah sungai sucinya, Kar-jectina adalah dermaganya. Kar-asar adalah dermaganya tempat perahu-perahu berlabuh. Pu-lal adalah sumur air tawarnya. Id-nunbir-tum adalah kanal bercabangnya, dan jika diukur dari sana, tanah yang diusahakannya 50 sar ke setiap arah. Enlil adalah salah seorang pemudanya, dan Ninlil adalah salah seorang pemudinya.""[4]

Kisah berlanjut dengan peringatan sang dewi Nun-bar-she-gunu kepada putrinya, Ninlil, agar berhati-hati terhadap rayuan Enlil bila ia berjalan terlalu dekat dengan sungai. Ninlil menolak rayuan pertama Enlil. Namun kemudian, Enlil meminta abdinya, Nuska, untuk menyeberangkannya ke sisi lain sungai. Di sanalah keduanya bertemu, hanyut terbawa arus—entah ketika mandi atau berperahu—lalu berbaring di tepian, berciuman, dan mengandung Suen-Ashimbabbar,[5] sang dewa bulan. Tak lama setelah itu, Enlil berjalan di dalam Ekur, tetapi para dewa lain menangkapnya karena hubungannya dengan Ninlil dan mengusirnya dari kota sebab dianggap ternoda secara ritus.

"}},"i":0}}]}' id="mwPA"/>

"Enlil sedang berjalan di Ki-ur. Saat Enlil melangkah di Ki-ur, lima puluh dewa agung dan tujuh dewa penentu nasib menciduknya di sana. 'Enlil — engkau ternoda oleh noda ritus, tinggalkan kota!' 'Nunamnir — engkau ternoda oleh noda ritus, tinggalkan kota!' Demikian ketetapan diucapkan; Enlil pun pergi. Nunamnir, menurut keputusan itu, ikut pergi. Ninlil mengikutinya.""[4]

Tiga episode serupa pun menyusul. Saat Enlil meninggalkan kota, ia berbicara dengan penjaga gerbang kota ("penjaga penghalang suci" atau "penjaga kunci murni"), kemudian dengan penjaga Id-kura — sungai dunia bawah Sumeria (mirip Styx dalam mitologi Yunani) — dan akhirnya dengan SI.LU.IGI, tukang perahu dunia bawah (sepadan dengan Charon). Kepada mereka Enlil selalu berpesan: "Bila tuanmu Ninlil datang dan menanyakan aku, jangan kau beri tahu di mana aku berada!" Ninlil tetap mengikuti, bertanya, "Kapan tuanmu Enlil lewat?" Namun Enlil (dalam penyamaran) menjawab: "Tuan hamba tak pernah berbicara kepadaku, wahai yang tercantik. Enlil tak pernah berbicara kepadaku, wahai yang tercantik." Lalu Ninlil menawarkan untuk bersetubuh dengannya, dan setiap kali melakukanya mereka mengandung seorang dewa. Dari pertemuan ini lahirlah dua dewa dunia bawah, yakni Nergal-Meclamta-ea dan Ninazu, serta seorang dewa pengatur aliran air, Enbilulu, yang disebut "pengawas kanal". Jeremy Black mengaitkan dewa ini dengan sistem irigasi.[6] Kisah ini ditutup dengan pujian bagi kesuburan Enlil dan Ninlil.

"}},"i":0}}]}' id="mwVQ"/>

"Engkaulah tuan! Engkaulah raja! Enlil, engkaulah tuan! Engkaulah raja! Nunamnir, engkaulah tuan! Engkaulah raja! Engkau penguasa agung, engkau penguasa perkasa! Tuan yang menumbuhkan rami, tuan yang menumbuhkan jelai, engkau tuan langit, tuan kelimpahan, tuan bumi! Engkau tuan bumi, tuan kelimpahan, tuan langit! Enlil di langit, Enlil adalah raja! Tuan yang titahnya takkan pernah berubah! Sabda purba-Nya takkan tergoyahkan! Bagi pujian yang diucapkan bagi Ninlil sang ibu, terpujilah Gunung Besar, Ayah Enlil!"[4]

Referensi

  1. ↑ George Aaron Barton (1918). Miscellaneous Babylonian inscriptions, p. 52. Yale University Press. Diakses tanggal 23 May 2011.
  2. ↑ A. R. George (1992). Babylonian topographical texts. Peeters Publishers. hlm. 442–. ISBN 978-90-6831-410-6. Diakses tanggal 29 May 2011. ;
  3. ↑ Miguel Ángel Borrás; Centre de Cultura Contemporània de Barcelona (2000). Joan Goodnick Westenholz, The Foundation Myths of Mesopotamian Cities, Divine Planners and Human Builder in La fundación de la ciudad: mitos y ritos en el mundo antiguo. Edicions UPC. hlm. 48–. ISBN 978-84-8301-387-8. Diakses tanggal 29 May 2011. ;
  4. 1 2 3 [http://etcsl.orinst.ox.ac.uk/cgi-bin/etcsl.cgi?text=t.1.2.1&charenc=j# Enlil and Ninlil., Black, J.A., Cunningham, G., Robson, E., and Zólyomi, G., The Electronic Text Corpus of Sumerian Literature, Oxford 1998-.]
  5. ↑ DIGIR su-en DIGIR aš-im2-babbar
  6. ↑ Jeremy A. Black; Jeremy Black; Graham Cunningham; Eleanor Robson (13 April 2006). The Literature of Ancient Sumer. Oxford University Press. hlm. 106–. ISBN 978-0-19-929633-0. Diakses tanggal 29 May 2011. ;

Pranala luar

  • Barton, George Aaron., Miscellaneous Babylonian Inscriptions, Yale University Press, 1918. Online Version
  • Enlil and Ninlil., Black, J.A., Cunningham, G., Robson, E., and Zólyomi, G., The Electronic Text Corpus of Sumerian Literature, Oxford 1998-.
  • Transliteration - The Electronic Text Corpus of Sumerian Literature, Oxford 1998-.

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Kisah
  2. Referensi
  3. Pranala luar

Artikel Terkait

Ninlil

Dalam agama Sumeria, Ninlil (𒀭𒊩𒌆𒆤 DNIN.LÍL"puan lapangan terbuka" atau "puan angin"), juga disebut Sud, dalam bahasa Assiria disebut Mulliltu, adalah

Enlil

seorang dewi bernama Ninlil. Ninlil terpikat, dan mengikutinya ke dunia bawah, kemudian menikah dengannya dan melahirkan putra Enlil, dewa bulan Sin (Bahasa

Sin (mitologi)

agama Mesopotamia di Sumer, Akkad, Asyur, dan Babel. Nannar adalah dewa Sumeria, putra dari Enlil dan Ninlil, dan diidentifikasikan dengan Sīn dari agama

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026