Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Elisabeth Inandiak

Elisabeth D. Inandiak adalah wartawati, penerjemah, dan sastrawati berkebangsaan Prancis yang banyak mempelajari kesusastraan Jawa, terutama dari era Sastra Jawa Baru. Pada 1989, ia "jatuh cinta" terhadap sastra Jawa dan memutuskan untuk menetap di Indonesia. Ketertarikan ini menurutnya berawal sejak ia membaca disertasi M. Rasyidi di Universitas Sorbonne, Paris.

Elisabeth D. Inandiak adalah seorang berkebangsaan Prancis yang sebagai wartawati, penerjemah, dan sastrawati yang banyak mempelajari kesusastraan Jawa, terutama dari era Sastra Jawa Baru.
Diperbarui 5 Juli 2021

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Elisabeth Inandiak
Elisabeth Inandiak (2015).

Elisabeth D. Inandiak (lahir 1960) adalah wartawati, penerjemah, dan sastrawati berkebangsaan Prancis yang banyak mempelajari kesusastraan Jawa, terutama dari era Sastra Jawa Baru. Pada 1989, ia "jatuh cinta" terhadap sastra Jawa dan memutuskan untuk menetap di Indonesia.[1] Ketertarikan ini menurutnya berawal sejak ia membaca disertasi M. Rasyidi (Menteri Agama pertama Indonesia) di Universitas Sorbonne, Paris.

Karya monumentalnya adalah penerjemahan Serat Centhini (karya sastra Jawa yang kental dengan perbincangan religius dan erotisme) ke dalam bahasa Prancis di bawah judul Les Chants de l’île à dormir debout – Le Livre de Centhini (terbit 2002), berhasil menjadikan dirinya sebagai penerima Prix littéraire de l'Asie ("Penghargaan sastra Asia") pada tahun 2003 oleh Perhimpunan Sastrawan Berbahasa Prancis (Pr.: Association des écrivains de langue française).[2] Naskah ini juga diterbitkan dalam bahasa Indonesia. Penerjemahan lainnya adalah terhadap novel Saman karya Ayu Utami dalam bahasa Prancis (terbit 2008).

Sebenarnya, novel Serat Centhini adalah pengulangan dari novel lama, yang ditulis pada sekitar tahun 1800an. Serat Centhini yang mulai ditulis pada tahun 1814 – 1823 oleh Putera Mahkota Kerajaan Surakarta, Adipati Anom Amangkunagara III (Sunan Paku Buwana V) merupakan sebuah karya sastra besar di dunia. Setelah menjadi Raja Surakarta, Sunan Paku Buwana V mengutus tiga pujangga keraton yaitu Ranggasutrasna, Yasadipura II (Ranggawarsita I), dan Sastradipura untuk meneruskan membuat cerita tentang tanah Jawa melalui tembang-tembang Jawa. Hal ini sesuai dengan pernyataannya, ketika ia sedang berada di Yogyakarta, bahwa Serat Centhini adalah salah satu karya sastra terbesar di dunia yang keberadaannya mulai terancam sirna. Untuk itulah dia tertarik untuk menyadurnya ke dalam bahasa Prancis.[3]

Karya prosa yang diterbitkan pada tahun 2016 adalah Babad Ngalor Ngidul (berbahasa Indonesia), yang secara bersamaan juga diterbitkan dalam bahasa Prancis berjudul Tohu-Bohu. Kisahnya bercerita mengenai kejadian seputar letusan Gunung Merapi tahun 2010.

Kepustakaan

  1. ↑ "Elizabeth D. Inandiak: Babad Ngalor-Ngidul / Tohu Bohu". Diarsipkan dari asli tanggal 2017-01-14. Diakses tanggal 2016-10-17.
  2. ↑ Alfi, A.N. NOVEL BARU: Penulis Prancis Rilis Babad Ngalor Ngidul. Bisnis Indonesia daring. Edisi Rabu, 01/06/2016 07:37 WIB.
  3. ↑ "Profil Tokoh: Elisabeth Inandiak"[pranala nonaktif permanen]
Basis data pengawasan otoritas Sunting di Wikidata
Internasional
  • ISNI
  • VIAF
  • GND
Nasional
  • Amerika Serikat
  • Prancis
  • Data BnF
  • Australia
  • Belanda
  • Israel
Akademik
  • CiNii
Orang
  • Deutsche Biographie
Lain-lain
  • IdRef
  • Yale LUX

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Kepustakaan
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026