Ektoterm, yang lebih umum disebut sebagai "hewan berdarah dingin", adalah hewan yang sumber panas fisiologis internalnya, seperti darah, relatif kecil atau kepentingannya cukup dapat diabaikan dalam mengendalikan suhu tubuh. Organisme semacam itu bergantung pada sumber panas lingkungan, yang memungkinkan mereka beroperasi pada laju metabolisme yang sangat hemat.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Termoregulasi pada hewan |
|---|

Ektoterm (dari bahasa Yunani Kuno ἐκτόςcode: grc is deprecated (ektós), artinya "luar", dan θερμόςcode: grc is deprecated (thermós), artinya "panas"), yang lebih umum disebut sebagai "hewan berdarah dingin",[1] adalah hewan yang sumber panas fisiologis internalnya, seperti darah, relatif kecil atau kepentingannya cukup dapat diabaikan dalam mengendalikan suhu tubuh.[2] Organisme semacam itu (contohnya katak) bergantung pada sumber panas lingkungan,[3] yang memungkinkan mereka beroperasi pada laju metabolisme yang sangat hemat.[4]
Beberapa hewan ini hidup di lingkungan yang suhunya praktis konstan, seperti yang khas di wilayah samudra abisal dan karenanya dapat dianggap sebagai ektoterm homeotermik. Sebaliknya, di tempat-tempat yang suhunya sangat bervariasi hingga membatasi aktivitas fisiologis jenis ektoterm lain, banyak spesies biasanya mencari sumber panas eksternal atau tempat berlindung dari panas; misalnya, banyak reptil mengatur suhu tubuh mereka dengan berjemur di bawah sinar matahari, atau mencari tempat teduh bila perlu sebagai tambahan dari sejumlah mekanisme termoregulasi perilaku lainnya.
Berbeda dengan ektoterm, endoterm sebagian besar, bahkan secara dominan, bergantung pada panas dari proses metabolisme internal, dan mesoterm menggunakan strategi perantara.
Karena terdapat lebih dari dua kategori pengendalian suhu yang digunakan oleh hewan, istilah berdarah panas dan berdarah dingin telah ditinggalkan sebagai istilah ilmiah.
Berbagai pola perilaku memungkinkan ektoterm tertentu untuk mengatur suhu tubuh hingga tingkat yang berguna. Untuk menghangatkan diri, reptil dan banyak serangga mencari tempat yang cerah dan mengambil posisi yang memaksimalkan paparan mereka; pada suhu tinggi yang berbahaya, mereka mencari tempat teduh atau air yang lebih sejuk. Dalam cuaca dingin, lebah madu berkerumun bersama untuk mempertahankan panas. Kupu-kupu dan ngengat dapat mengarahkan sayapnya untuk memaksimalkan paparan radiasi matahari guna menumpuk panas sebelum lepas landas.[2] Ulat yang hidup berkelompok, seperti ulat tenda hutan dan ulat jaring musim gugur, mendapat manfaat dari berjemur dalam kelompok besar untuk termoregulasi.[5][6][7][8][9] Banyak serangga terbang, seperti lebah madu dan lebah dengung, juga menaikkan suhu internal mereka secara endotermik sebelum terbang, dengan menggetarkan otot terbang mereka tanpa gerakan sayap yang keras. Aktivitas endotermik semacam itu adalah contoh sulitnya penerapan istilah yang konsisten seperti poikilotermi dan homeotermi.[2]
Selain adaptasi perilaku, adaptasi fisiologis membantu ektoterm mengatur suhu. Reptil penyelam menghemat panas melalui mekanisme pertukaran panas, di mana darah dingin dari kulit mengambil panas dari darah yang bergerak keluar dari inti tubuh, menggunakan kembali dan dengan demikian menghemat sebagian panas yang seharusnya terbuang percuma. Kulit katak lembu mengeluarkan lebih banyak lendir saat panas, memungkinkan lebih banyak pendinginan melalui penguapan.[butuh rujukan]
Selama periode dingin, beberapa ektoterm memasuki keadaan torpor, di mana metabolisme mereka melambat atau, dalam beberapa kasus, seperti pada katak kayu, secara efektif berhenti. Torpor mungkin berlangsung semalam atau selama satu musim, atau bahkan bertahun-tahun, tergantung pada spesies dan keadaannya.
Pemilik reptil dapat menggunakan sistem cahaya ultraviolet untuk membantu hewan peliharaan mereka berjemur.[10]
Ektoterm sangat bergantung pada sumber panas eksternal seperti sinar matahari untuk mencapai suhu tubuh optimal demi menunjang berbagai aktivitas tubuh. Oleh karena itu, mereka bergantung pada kondisi lingkungan sekitar untuk mencapai suhu tubuh operasional. Sebaliknya, hewan endotermik mempertahankan suhu tubuh operasional yang tinggi dan hampir konstan sebagian besar dengan mengandalkan panas internal yang dihasilkan oleh organ-organ yang aktif secara metabolik (hati, ginjal, jantung, otak, otot) atau bahkan oleh organ penghasil panas khusus seperti jaringan adiposa cokelat. Ektoterm biasanya memiliki laju metabolisme yang lebih rendah daripada endoterm pada massa tubuh tertentu. Akibatnya, endoterm umumnya bergantung pada konsumsi makanan yang lebih tinggi, dan biasanya pada makanan dengan kandungan energi yang lebih tinggi. Kebutuhan tersebut dapat membatasi daya dukung lingkungan tertentu bagi endoterm dibandingkan dengan daya dukungnya bagi ektoterm.
Karena ektoterm bergantung pada kondisi lingkungan untuk pengaturan suhu tubuh, biasanya mereka lebih lamban pada malam dan dini hari. Ketika muncul dari tempat perlindungan, banyak ektoterm diurnal perlu memanaskan diri di bawah sinar matahari pagi sebelum mereka dapat memulai aktivitas hariannya. Dalam cuaca sejuk, aktivitas mencari makan spesies tersebut dengan demikian terbatas pada siang hari bagi sebagian besar ektoterm vertebrata, dan di iklim dingin sebagian besar tidak dapat bertahan hidup sama sekali. Pada kadal, misalnya, sebagian besar spesies nokturnal adalah tokek yang berspesialisasi dalam strategi mencari makan "duduk dan menunggu" (sit and wait). Strategi semacam itu tidak memerlukan energi sebanyak pencarian makan aktif dan tidak memerlukan aktivitas berburu dengan intensitas yang sama. Dari sudut pandang lain, predasi duduk-dan-menunggu mungkin memerlukan periode menunggu yang sangat lama dan tidak produktif. Endoterm, secara umum, tidak mampu bertahan dalam periode lama tanpa makanan, namun ektoterm yang teradaptasi dengan sesuai dapat menunggu tanpa mengeluarkan banyak energi. Oleh karena itu, spesies vertebrata endotermik kurang bergantung pada kondisi lingkungan dan telah mengembangkan variabilitas yang lebih tinggi (baik di dalam maupun antarspesies) dalam pola aktivitas harian mereka.[11]
Pada ektoterm, suhu lingkungan yang berfluktuasi dapat memengaruhi suhu tubuh. Variasi suhu tubuh seperti itu disebut poikilotermi, meskipun konsep ini tidak memuaskan secara luas dan penggunaan istilah tersebut makin berkurang. Pada makhluk air kecil seperti Rotifera, poikilotermi praktis bersifat absolut, namun makhluk lain (seperti kepiting) memiliki pilihan fisiologis yang lebih luas, dan mereka dapat berpindah ke suhu yang disukai, menghindari perubahan suhu lingkungan, atau memoderasi dampaknya.[2][12] Ektoterm juga dapat menampilkan ciri-ciri homeotermi, terutama dalam organisme akuatik. Biasanya kisaran suhu lingkungan sekitar mereka relatif konstan, dan hanya sedikit yang berusaha mempertahankan suhu internal yang lebih tinggi karena tingginya biaya energi yang terkait.[13]