Eksternalisme adalah sekelompok posisi dalam filsafat budi yang berpendapat bahwa pikiran sadar bukan hanya merupakan hasil dari apa yang terjadi di dalam sistem saraf, tetapi juga dari apa yang terjadi atau ada di luar subjek. Pandangan ini dikontraskan dengan internalisme yang beranggapan bahwa pikiran semata-mata muncul dari aktivitas saraf. Eksternalisme meyakini bahwa pikiran bukan hanya otak atau fungsi dari otak.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Artikel ini perlu dirapikan agar memenuhi standar Wikipedia. Alasannya ialah: format markah wiki. (Oktober 2025) |
Artikel ini membutuhkan lebih banyak pranala ke artikel lain untuk meningkatkan kualitasnya. (Oktober 2025) |
Eksternalisme adalah sekelompok posisi dalam filsafat budi yang berpendapat bahwa pikiran sadar bukan hanya merupakan hasil dari apa yang terjadi di dalam sistem saraf (atau otak), tetapi juga dari apa yang terjadi atau ada di luar subjek. Pandangan ini dikontraskan dengan internalisme yang beranggapan bahwa pikiran semata-mata muncul dari aktivitas saraf. Eksternalisme meyakini bahwa pikiran bukan hanya otak atau fungsi dari otak.
Terdapat berbagai versi eksternalisme yang bergantung pada keyakinan yang berbeda tentang apa yang dimaksud dengan pikiran.[1] Eksternalisme menekankan faktor-faktor di luar sistem saraf. Pada kondisi ekstrem, pikiran mungkin saja bergantung kepada faktor eksternal. Pada kondisi ekstrem lainnya, pikiran sangat bergantung kepada faktor eksternal. Pandangan eksternal yang paling radikal berargumen bahwa pikiran dibentuk oleh atau identik dengan proses-proses yang sebagian atau seluruhnya berada di luar sistem saraf.
Kriteria penting lain dalam teori eksternalis adalah aspek mana dari pikiran yang dibahas. Beberapa eksternalis berfokus pada aspek kognitif dari pikiran, misalnya saja Andy Clark, David Chalmers, dan Shaun Gallagher. Sementara yang lain menyoroti aspek fenomenal dari pikiran atau kesadaran itu sendiri, seperti . Beberapa filsuf mempertimbangkan isi fenomenal yang disadari dan aktivitasnya, seperti William Lycan, Alex Byrne, Francois Tonneau, Teed Rockwell, dan Riccardo Manzotti.
Eksternalisme semantik adalah bentuk pertama dari eksternalisme yang dikenal manusia. Sesuai dengan namanya, pandangan ini berfokus pada isi mental yang bersifat semantik.
Eksternalisme semantik berpendapat bahwa isi mental tidak sepenuhnya bergantung pada apa yang ada di dalam kepala. Namun, dasar fisik dan mekanisme pikiran tetap berada di dalam kepala. Hal ini bisa dianggap pandangan yang cukup konsertvatif, karena tidak menggoyahkan keyakinan kita bahwa pikiran tetap berlokasi di dalam tengkorak. Hilary Putnam secara khusus menyoroti intensionalitas antara pikiran kita dan keadaan eksternal, baik berupa konsep maupun objek. Untuk mempertahankan posisinya, Putnam mengembangkan eksperimen pikiran terkenal yang disebut Twin Earth. Pandangannya ia ungkapkan dengan slogan: "meanings just ain't in the head."[2]
Sebaliknya, Tyler Burge menekankan sifat sosial dari dunia eksternal dengan menyatakan bahwa isi semantik secara eksternal dibentuk melalui interaksi sosial, budaya, dan linguistik.[3]
Eksternalisme fenomenal memperluas pandangan eksternalis ke dalam konten secara fenomenal. Untuk memahami pemikiran ini, kita bisa merujuk kepada perkataan Fred Dretske bahwa:
:“Pengalaman itu sendiri berada di dalam kepala (mengapa sebaliknya menutup mata atau telinga akan memadamkannya?), tetapi tidak ada apa pun di dalam kepala (bahkan, pada saat seseorang mengalami pengalaman itu, tidak ada apa pun di luar kepala) yang harus memiliki kualitas yang membedakan pengalaman tersebut.” Dengan demikian, meskipun pengalaman tetap berada di dalam kepala, isi fenomenalnya dapat bergantung pada sesuatu yang berada di tempat lain.
Dengan cara serupa, William Lycan membela pandangan eksternalis dan representasionalis mengenai pengalaman fenomenal. Secara khusus, ia menolak anggapan bahwa qualia bersifat sempit.
Sering kali dianggap bahwa sebagian, jika tidak semua, keadaan mental harus memiliki isi yang luas, yaitu konten eksternal terhadap kendaraannya. Misalnya, Frank Jackson dan Philip Pettit menyatakan bahwa
;“Isi dari keadaan intensional tertentu bersifat luas atau bergantung pada konteks. Isi dari beberapa keyakinan bergantung pada bagaimana keadaan di luar subjek.”
Namun, baik Dretske maupun Lycan tidak sampai mengklaim bahwa pikiran secara fenomenal berarti ia secara harfiah dan fisik meluas melampaui kulit. Singkatnya, mereka berpendapat bahwa isi fenomenal dapat bergantung pada fenomena di luar tubuh, sementara wadahnya tetap berada di dalam.
Dalam model pikiran yang diperluas, diperkirakan bahwa koginisi bisa lebih luas daripada tubuh subjek itu sendiri. Menurut model ini, batasan proses kognitif tidak selalu berada di dalam kulitnya. “Pikiran tersusun atas alat-alat untuk berpikir” (Dennett 2000, hlm. 21). Sementara enurut Andy Clark, “kognisi merembes keluar ke tubuh dan dunia”. Dengan demikian, pikiran tidak lagi hanya berada di dalam tengkorak, melainkan diperluas untuk mencakup segala alat yang berguna (mulai dari buku catatan dan pensil hingga ponsel pintar dan memori USB). Inilah secara ringkas model pikiran yang diperluas.
Ketika seseorang menggunakan pensil dan kertas untuk menghitung jumlah yang besar, proses kognitif meluas hingga ke pensil dan kertas itu sendiri. Dalam arti longgar, hampir tidak ada yang akan menyangkal hal ini. Namun, dalam arti yang lebih kuat, muncul perdebatan apakah batas pikiran kognitif benar-benar meluas hingga ke pensil dan kertas. Bagi sebagian besar pendukung pikiran yang diperluas, pikiran fenomenal tetap berada di dalam otak. Saat mengomentari buku terakhir Andy Clark Supersizing the Mind, David Chalmers menanyakan:
“...bagaimana dengan pertanyaan besarnya: sebuah kesadaran yang diperluas? Keyakinan disposisional, proses kognitif, mekanisme perseptual, dan suasana hati […] meluas melampaui batas kesadaran, dan masuk akal untuk menganggap bahwa justru bagian non-sadar dari semuanya itulah yang meluas.”
Enaktivisme dan kognisi berwujud (embodied cognition) menekankan keterhubungan erat antara proses kognitif, tubuh, dan lingkungan. Enaktivisme dibangun di atas karya para pemikir yang dapat dianggap sebagai proto-eksternalis, termasuk Gregory Bateson, James J. Gibson, Maurice Merleau-Ponty, Eleanor Rosch, dan banyak lainnya. Para pemikir ini berpendapat bahwa pikiran bergantung pada atau identik dengan interaksi antara dunia dan agen-agennya. Misalnya, Kevin O’Regan dan Alva Noë dalam sebuah tulisan penting menyatakan bahwa pikiran dibentuk oleh kontingensi sensorimotor antara agen dan dunia. Kontingensi sensorimotor adalah kesempatan untuk bertindak dengan cara tertentu, yang muncul dari kecocokan antara sifat-sifat lingkungan dan tubuh. Hingga batas tertentu, kontingensi sensorimotor ini sangat mirip dengan affordances Gibson. Selanjutnya, Noë mengembangkan versi enaktivisme yang lebih epistemis, di mana isi pikiran dipahami sebagai pengetahuan yang dimiliki agen mengenai apa yang dapat ia lakukan dalam situasi tertentu. Bagaimanapun, ia bersifat eksternalis ketika menyatakan bahwa “Persepsi bukanlah proses di dalam otak, melainkan suatu bentuk aktivitas terampil dari keseluruhan hewan. Pandangan enaktif menantang ilmu saraf untuk merancang cara baru dalam memahami dasar neural persepsi dan kesadaran.” Baru-baru ini, Noë menerbitkan versi yang lebih populer dan singkat dari pandangannya.
Pemikiran enaktivisme mendapat sokongan dari berbagai pandangan lain yang berkaitan, seperti kognisi berwujud (embodied cognition) atau kognisi terletak (situated cognition). Pandangan-pandangan ini umumnya lahir dari penolakan terhadap pandangan klasik tentang pikiran yang berpusat pada gagasan representasi internal. Enaktivisme juga menerima kritik, khususnya dari ahli saraf seperti Christof Koch yang berpendapat: “Meskipun para pendukung pandangan enaktifvisme benar dalam menekankan bahwa persepsi biasanya terjadi dalam konteks tindakan, saya tidak bisa bersikap sabar begitu saja terhadap pengabaian mereka atas dasar neural dari persepsi. Jika ada satu hal yang cukup diyakini para ilmuwan, itu adalah bahwa aktivitas otak sekaligus diperlukan dan cukup bagi keberadaan kesadaran biologis.”
Singkatnya, enaktivisme merupakan salah satu bentuk eksternalisme, kadang terbatas pada aspek kognitif atau semantik, dan kadang berupaya mencakup aspek fenomenal. Namun, sejauh ini belum ada enaktivis yang mengklaim bahwa seluruh isi fenomenal sepenuhnya merupakan hasil dari interaksi dengan lingkungan.