Ejen Ali: The Movie 2 adalah film animasi Malaysia yang disutradarai oleh Usamah Zaid Yasin. Film ini merupakan sekuel dari Ejen Ali: The Movie dan tayang secara perdana di Malaysia pada 22 Mei 2025.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Ejen Ali: The Movie 2 | |
|---|---|
| Sutradara | Usamah Zaid Yasin |
| Produser | Ayo Amirul Kevin Foo Salina Salmee Azi Shafian |
| Ditulis oleh | Usamah Zaid Yasin Hilam Bin Muhammad Khairul Anwar Suwandi |
Berdasarkan | Ejen Ali by Usamah Zaid Yasin |
| Pemeran | Ida Rahayu Yusoff Noorhayati Maslini Omar Shafiq Isa Azman Zulkiply |
| Penata musik | Azri Yunus Hakim Kamal |
| Penyunting | Nazmi Yatim Reuben Singham Usamah Zaid Yasin |
Perusahaan produksi | Wau Animation Komet Productions |
| Distributor | Primeworks Studios |
Tanggal rilis |
|
| Durasi | 120 menit |
| Negara | Malaysia |
| Bahasa | Melayu |
| Anggaran | RM 10 juta[1] |
Pendapatan kotor | RM 59.3 juta[2] |
Ejen Ali: The Movie 2 adalah film animasi Malaysia yang disutradarai oleh Usamah Zaid Yasin. Film ini merupakan sekuel dari Ejen Ali: The Movie dan tayang secara perdana di Malaysia pada 22 Mei 2025.[3][4][5]
Film ini berfokus pada perjuangan Ali menghadapi kemunculan baju besi SATRIA dan karakter Neonimus.[6][7][8] Ejen Ali: The Movie 2 adalah film kedua yang diproduksi oleh WAU Animation setelah Ejen Ali: The Movie (2019). Film ini merupakan kelanjutan dari musim ketiga dari seri Ejen Ali. Ejen Ali: The Movie 2 telah meraup RM55,1 juta hingga Juni 2025, dan menjadi film animasi terlaris sepanjang masa di Malaysia.[9]
Film ini melanjutkan kisah dari Ali, bocah berusia 12 tahun yang menjadi agen rahasia setelah tanpa sengaja mengaktifkan teknologi canggih IRIS (Infinity Retinal Intelligence System) milik badan intelijen MATA (Meta Advance Tactical Agency).
Setelah insiden itu, Ali bersama teman dan pamannya pun bekerja sama untuk menjalankan misi MATA. Kali ini mereka mendapatkan misi untuk mencoba teknologi baru MATA yang dinamakan Satria. Ia adalah kostum supercanggih yang bisa meningkatkan kekuatan fisik dan mental penggunanya, Ali pun dipilih menjadi agen pertama yang mencobanya.
Sayangnya pengujian tak berjalan mulus karena kota Cyberaya diserang geng penjahat yang telah menjadi musuh bebuyutan Ali yang bernama Neonimus. Mereka lebih percaya diri menghadapi Ali karena punya senjata rahasia. Selain itu ada pula sosok misterius bernama Cero yang merupakan dalang dibalik Numeros. Hal ini pun menjadi tantangan bagi Ali di mana ia harus menjalani misi MATA, menghadapi Neonimus dan juga menghadapi masalah yang mungkin dibuat oleh Cero.[10]
Film dimulai di markas besar MATA, di mana Alicia (Agen IRIS) berhasil menggagalkan penjahat yang mencoba mencuri inti-inti kekuatan dengan kekuatan yang aneh tapi istimewa: IRIS—yang entah bagaimana memungkinkan Alicia melihat masa depan dari suatu kejadian. Namun, kemampuan ini juga melemahkannya hingga bisa pingsan. Sementara itu, Agen Ali sedang menyesuaikan diri dengan SATRIA, sebuah baju tempur eksperimental yang dilengkapi kecerdasan buatan berdasarkan big data MATA untuk membantunya. Namun, pengembangan SATRIA sudah tertinggal jauh, dan Dato’ Othman mulai kehilangan kesabaran. Di sisi lain, Rizwan yang kini bergerak sendiri berusaha memberantas kejahatan di Cyberaya bersama rekan-rekannya.
Saat Ali sedang mempersiapkan ujian akhirnya, ia diancam oleh penjahat bernama Neonimus—mantan siswa Akademi MATA dan ahli peretasan yang dikeluarkan karena pelanggaran disiplin berat. Ia yakin bahwa dirinya dikeluarkan demi memberi jalan kepada Ali. Neonimus mengancam akan membocorkan data rahasia MATA dan menantang Ali di Terowongan Pintar Cyberaya. MATA menjadikan tantangan itu sebagai platform untuk menguji kemampuan Ali dengan SATRIA. Ali dan timnya berhasil menyelesaikan tantangan tersebut meskipun Ali terjebak dalam perangkap Neonimus, tetapi akhirnya diselamatkan oleh penglihatan masa depan Alicia.
Setelah itu, Ali memperkuat fokus pikirannya—kelemahan utama dalam menyatu dengan SATRIA—dengan bantuan Alicia yang memang cemerlang dalam akademik. Kemudian, MATA terjebak dalam rencana Neonimus berikutnya di taman hiburan Cybertopia. Di sana, Alicia terperangkap, tetapi pelatihan mental Ali membuahkan hasil dan ia berhasil mengalahkan Neonimus. Namun, penglihatan Alicia menunjukkan bahwa ada sesuatu yang lebih besar di balik Neonimus. Ia memberi tahu Ali tentang bencana besar yang akan menimpa markas besar MATA, tetapi Ali mengabaikannya.
Sayangnya, penglihatan itu menjadi kenyataan. Neonimus ternyata adalah pion dari musuh utama, Cero, yang merekrut orang-orang yang menyimpan dendam terhadap MATA. Dengan bantuan Neonimus yang ditahan di markas, Cero berhasil menyusup ke sistem MATA dan meluncurkan serangan besar hingga berhasil mengambil alih seluruh sistem. Akhirnya, Ali berhasil mengalahkan pasukan Cero dengan SATRIA-nya, tetapi tanpa sengaja ia memukul Alicia yang dikendalikan oleh Cero. Dengan tatapan mata, Alicia yang hancur hatinya meminta Ali untuk menghancurkan SATRIA dan menyerahkan alat IRIS sebelum tubuhnya sepenuhnya diambil alih Cero melalui SATRIA. Dengan kekuatan SATRIA, Cero dengan mudah mengalahkan lawan-lawannya dan melanjutkan misi utamanya: meledakkan reaktor Cyberaya demi menghancurkan elitisme Dato’ Othman yang dianggap tidak peduli pada masalah masyarakat Cyberaya.
Namun, Ali berhasil masuk ke dimensi digital SATRIA dan bertarung dengan Cero di sana dengan bantuan teman-temannya di dunia nyata. Perlahan, Ali mulai unggul, dan Alicia yang terjebak berhasil membebaskan dirinya. Bersama-sama, mereka mengalahkan Cero, tetapi pada akhirnya Alicia mengorbankan dirinya bersama Cero agar Ali bisa keluar dari dunia digital yang runtuh.
Setelah ujian akhir selesai, Ali mengunjungi Alicia. Ia akhirnya sadar dari pingsan, tetapi kehilangan seluruh ingatannya. Ali mencoba mencari cara untuk memulihkannya, tetapi menemukan bahwa semua data tentang dirinya telah dikunci. Sementara itu, Agen Dayang dicopot dari jabatannya sebagai Kepala Divisi Teknologi karena risiko besar dari SATRIA. Rizwan kemudian mendatanginya untuk menawarkan kerja sama demi mengalahkan Neonimus.