Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Egoisme rasional

Egoisme rasional adalah prinsip yang menyatakan bahwa suatu tindakan dianggap rasional hanya jika tindakan tersebut memaksimalkan kepentingan diri sendiri. Karena itu, pandangan ini digolongkan sebagai bentuk normatif dari egoisme, meskipun secara historis pernah dikaitkan dengan bentuk egoisme positif maupun egoisme normatif. Dalam bentuk kuatnya, egoisme rasional berpendapat bahwa tidak mengejar kepentingan diri sendiri adalah tindakan yang sepenuhnya irasional. Namun dalam bentuk lemahnya, pandangan ini menyatakan bahwa mengejar kepentingan diri sendiri memang rasional, tetapi gagal melakukannya tidak selalu berarti irasional.

Wikipedia article
Diperbarui 16 November 2025

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Egoisme rasional (juga disebut keegoisan rasional) adalah prinsip yang menyatakan bahwa suatu tindakan dianggap rasional hanya jika tindakan tersebut memaksimalkan kepentingan diri sendiri.[1][2] Karena itu, pandangan ini digolongkan sebagai bentuk normatif dari egoisme, meskipun secara historis pernah dikaitkan dengan bentuk egoisme positif maupun egoisme normatif.[3] Dalam bentuk kuatnya, egoisme rasional berpendapat bahwa tidak mengejar kepentingan diri sendiri adalah tindakan yang sepenuhnya irasional. Namun dalam bentuk lemahnya, pandangan ini menyatakan bahwa mengejar kepentingan diri sendiri memang rasional, tetapi gagal melakukannya tidak selalu berarti irasional.[4][5]

Awalnya, konsep ini merupakan bagian dari filsafat nihilisme di Rusia, dan kemudian dipopulerkan di negara-negara berbahasa Inggris oleh penulis Rusia-Amerika, Ayn Rand.

Asal-usul

Egoisme rasional (bahasa Rusia: razumny egoizm) merupakan sebuah aliran filsafat moral dan sosial yang menekankan bahwa tindakan manusia seharusnya didasarkan pada kepentingan diri sendiri yang dipandu oleh akal dan rasionalitas. Pemikiran ini muncul sebagai salah satu fondasi ideologis utama dalam gerakan nihilis Rusia pada abad ke-19, yang menolak nilai-nilai tradisional serta tatanan moral, agama, dan sosial yang dianggap mengekang kebebasan individu dan kemajuan masyarakat. Gagasan tentang egoisme rasional pertama kali dikembangkan secara sistematis dalam karya-karya Nikolay Chernyshevsky dan Dmitry Pisarev, dua filsuf dan penulis yang berpengaruh besar terhadap arah intelektual Rusia pada masa itu. Meskipun istilah “egoisme rasional” tidak secara eksplisit digunakan dalam tulisan mereka — sebagian besar karena alasan sensor ketat pemerintah Tsaris — ide-ide yang mendasarinya tetap tersirat dalam argumentasi mereka mengenai manusia, moralitas, dan masyarakat.[4][6]

Dalam pandangan Chernyshevsky, egoisme rasional bukanlah bentuk egoisme yang mementingkan diri secara sempit, melainkan rasionalisasi dari kepentingan pribadi untuk tujuan sosial yang lebih luas. Menurutnya, manusia yang berpikir rasional akan memahami bahwa kebahagiaan pribadi tidak dapat dipisahkan dari kesejahteraan sosial, dan oleh karena itu, bekerja untuk kebaikan bersama sebenarnya sejalan dengan kepentingan diri sendiri yang tercerahkan. Gagasan ini diwujudkan secara literer dalam novel terkenalnya, What Is to Be Done? (1863), yang menggambarkan tokoh-tokoh idealis yang berusaha membangun masyarakat yang lebih adil berdasarkan prinsip rasionalitas dan kerja sama. Novel tersebut kemudian menjadi teks ideologis penting bagi kalangan revolusioner Rusia dan dianggap sebagai inspirasi bagi sosialisme awal di Rusia. Dalam konteks ini, egoisme rasional menjadi dasar bagi perkembangan sosialisme ilmiah, karena mengandaikan bahwa manusia dapat secara rasional menyadari bahwa kepentingan pribadinya hanya dapat direalisasikan sepenuhnya dalam masyarakat yang adil dan bebas dari eksploitasi.[4]

Namun, gagasan Chernyshevsky dan kaum nihilis mengenai egoisme rasional tidak luput dari kritik tajam. Salah satu penentang paling terkenal adalah Fyodor Dostoyevsky, yang dalam karya Notes from Underground (1864) menolak asumsi bahwa manusia selalu bertindak secara rasional demi kepentingan pribadinya. Melalui tokoh protagonisnya yang paradoksal, Dostoyevsky berargumen bahwa manusia sering kali bertindak secara irasional hanya untuk menegaskan kebebasan kehendaknya, bahkan jika tindakan itu merugikan dirinya sendiri. Kritik ini memperlihatkan ketegangan antara pandangan rasionalistik yang menekankan logika utilitarian dan pandangan eksistensialis awal yang menekankan kebebasan serta kompleksitas batin manusia.

Sementara itu, di Inggris, filsuf Henry Sidgwick membahas konsep egoisme rasional secara mendalam dalam karyanya The Methods of Ethics (1872). Dalam buku tersebut, Sidgwick mendefinisikan "metode etika" sebagai setiap prosedur rasional yang dapat digunakan untuk menentukan apa yang seharusnya dilakukan seseorang, atau apa yang secara moral benar untuk dicapai melalui tindakan sukarela. Ia mengidentifikasi tiga metode utama: egoisme rasional, intuisionisme dogmatis, dan utilitarianisme. Dalam kerangka egoisme rasional, Sidgwick menegaskan bahwa individu yang benar-benar rasional akan mempertimbangkan jumlah kesenangan dan penderitaan yang mungkin ia alami sebagai satu-satunya ukuran moral dalam memilih tindakan, dan akan berusaha memaksimalkan surplus kesenangan atas penderitaan dalam hidupnya sendiri.[7]

Namun demikian, Sidgwick menemukan kesulitan filosofis mendasar dalam memberikan alasan rasional yang meyakinkan untuk lebih memilih egoisme rasional dibandingkan utilitarianisme. Menurutnya, meskipun utilitarianisme dapat didukung secara rasional dan sesuai dengan moralitas akal sehat — karena ia berfokus pada kebahagiaan terbesar bagi sebanyak mungkin orang — egoisme rasional juga tampak sama masuk akalnya bila dipandang dari perspektif kepentingan pribadi yang konsisten. Ketegangan ini menyebabkan Sidgwick menyimpulkan bahwa terdapat “kontradiksi mendasar dalam intuisi rasional manusia mengenai apa yang dianggap pantas atau benar dalam tindakan moral.”[7] Ia menyatakan bahwa jika dua sistem etika yang sama-sama rasional (egoisme dan utilitarianisme) menghasilkan tuntutan moral yang bertentangan, maka tampaknya “akal praktis manusia” yang menjadi dasar intuisi moral itu sendiri bersifat ilusif atau tidak dapat sepenuhnya diandalkan.

Dengan demikian, egoisme rasional berdiri di persimpangan antara etika individualis dan etika sosial, antara rasionalitas dan moralitas, serta antara determinisme utilitarian dan kebebasan eksistensial. Dalam tradisi Rusia, ia berkembang menjadi ideologi sosial yang menekankan keselarasan antara kepentingan pribadi dan kemajuan kolektif; sementara dalam tradisi Inggris, ia menjadi bahan kajian analitis untuk memahami batas-batas rasionalitas dalam etika. Kedua jalur pemikiran tersebut menunjukkan bahwa pertanyaan tentang apakah manusia seharusnya bertindak demi dirinya sendiri atau demi kebaikan bersama tetap menjadi salah satu dilema moral paling mendasar dalam filsafat modern.

Referensi

  1. ↑ Bijvelds, Marcel J. C.; Van Der Velden, Joan A.; Kolar, Zvonimir I.; Flik, Gert (1998-07-01). "Magnesium Transport in Freshwater Teleosts". Journal of Experimental Biology. 201 (13): 1981–1990. doi:10.1242/jeb.201.13.1981. ISSN 0022-0949.
  2. ↑ Zalta, Edward (2006-09-01). "The Stanford Encyclopedia of Philosophy: A university/library partnership in support of scholarly communication and open access". College & Research Libraries News. 67 (8): 502–504. doi:10.5860/crln.67.8.7670. ISSN 2150-6698.
  3. ↑ Zalta, Edward (2006-09-01). "The Stanford Encyclopedia of Philosophy: A university/library partnership in support of scholarly communication and open access". College & Research Libraries News. 67 (8): 502–504. doi:10.5860/crln.67.8.7670. ISSN 2150-6698.
  4. 1 2 3 Scanlan, James P. (1999-07). "The Case against Rational Egoism in Dostoevsky's "Notes from Underground"". Journal of the History of Ideas. 60 (3): 549. doi:10.2307/3654018.
  5. ↑ Kraut, Richard. Egoism and altruism. London: Routledge. ISBN 978-0-415-25069-6.
  6. ↑ S, St John Murphy (2016-07-15). "The Debate around Nihilism in 1860s Russian Literature". Slovo. 28 (2): 48–68. ISSN 0954-6839.
  7. 1 2 Stawell, F. Melian (1907-01). "Book Review:Henry Sidgwick. A Memoir. Henry Sidgwick, A. S., E. M. S". Ethics. 17 (2): 241. doi:10.1086/206289. ISSN 0014-1704.

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Asal-usul
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026