Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Efek media bermusuhan

Efek media bermusuhan adalah suatu fenomena psikologis di mana individu yang memiliki afiliasi kuat terhadap suatu kelompok, seperti partai politik, cenderung mempersepsikan liputan media mengenai isu kontroversial sebagai bias terhadap kelompok lawan. Meskipun menerima informasi yang sama, individu-individu ini akan menginterpretasikannya secara berbeda berdasarkan sudut pandang kelompok mereka.

Wikipedia article
Diperbarui 24 Desember 2024

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Ada usul agar Efek media bermusuhan : misinformasi dan disinformasi dalam era digital digabungkan ke artikel ini. (Diskusikan) Diusulkan sejak Desember 2024.

Efek media bermusuhan (Hostile media effect) adalah suatu fenomena psikologis di mana individu yang memiliki afiliasi kuat terhadap suatu kelompok, seperti partai politik, cenderung mempersepsikan liputan media mengenai isu kontroversial sebagai bias terhadap kelompok lawan.[1] Meskipun menerima informasi yang sama, individu-individu ini akan menginterpretasikannya secara berbeda berdasarkan sudut pandang kelompok mereka.[1]

Dampak

Fenomena ini membawa individu yang memiliki pandangan kuat terhadap suatu isu cenderung melihat liputan media yang seimbang sebagai bias terhadap pandangan yang berlawanan. Meskipun berita tersebut disajikan secara objektif, individu tersebut akan menafsirkannya sesuai dengan sudut pandang mereka.[2] Fenomena ini menunjukkan bahwa massa tidak selalu menerima informasi media secara pasif, melainkan aktif menginterpretasikannya berdasarkan apa yang dipercayai dan nilai-nilai yang mereka anut. Hal ini terjadi bahkan ketika wartawan berusaha menyajikan berita secara adil dan tidak memihak.[2]

Studi

Sebuah studi pada tahun 1982 di Universitas Stanford oleh Vallone mengilustrasikan fenomena bias persepsi dalam konsumsi media. Mahasiswa yang memiliki afiliasi politik yang berbeda, yakni pro-Palestina dan pro-Israel, ditunjukkan potongan berita yang sama mengenai pembantaian Sabra dan Shatila.[3] Meskipun menyaksikan tayangan yang identik, kedua kelompok mahasiswa tersebut justru menafsirkan berita tersebut secara bertolak belakang. Mahasiswa pro-Israel merasa bahwa berita tersebut terlalu berpihak pada Palestina, sementara mahasiswa pro-Palestina merasa sebaliknya. Fenomena ini menunjukkan bahwa individu cenderung menginterpretasikan informasi media sesuai dengan sudut pandang dan keyakinan politik mereka, bahkan ketika informasi yang disajikan bersifat objektif. Studi ini memperkuat pemahaman bahwa audiens media tidak pasif, melainkan aktif membangun makna dari pesan media berdasarkan kerangka referensi mereka masing-masing.[3]

Studi dari Vallone mengajukan dua mekanisme terkait. Pertama, individu yang memiliki pandangan kuat tentang suatu isu partisan cenderung meyakini bahwa fakta-fakta lebih mendukung posisi mereka. Akibatnya, setiap laporan netral dianggap memberikan keuntungan yang tidak semestinya kepada pihak yang berseberangan. Kedua, terdapat persepsi yang keliru terhadap artikel netral, yang dapat diklasifikasikan lebih lanjut menjadi dua bentuk: kategorisasi selektif dan ingatan selektif.[3][4] Dalam hal ini, partisan dapat menafsirkan informasi yang sama dengan cara yang berbeda, baik sebagai mendukung atau menentang posisi mereka, atau mereka lebih mengingat bagian-bagian yang dirasa bertentangan. Penjelasan mengenai ingatan selektif berkaitan dengan perhatian dan keterlibatan yang lebih besar terhadap aspek negatif.[3][4]

Studi di Stanford ini memberikan bukti empiris yang kuat mengenai efek polarisasi dalam persepsi media. Meskipun kedua kelompok mahasiswa menyaksikan tayangan yang sama, mereka "membaca" pesan yang berbeda dalam berita tersebut. Hal ini disebabkan oleh adanya bias konfirmasi, yaitu kecenderungan individu untuk mencari dan menafsirkan informasi yang mendukung keyakinan yang sudah ada sebelumnya. Dalam konteks ini, baik mahasiswa pro-Israel maupun pro-Palestina cenderung mencari bukti yang memperkuat cara pandang masing-masing dan kemudian mengabaikan bukti- bukti lain yang bertentangan.[3]

Referensi

  1. 1 2 Feldman, Lauren (2017-08-24). Kenski, Kate; Jamieson, Kathleen Hall (ed.). The Hostile Media Effect. Oxford University Press. hlm. 0. ISBN 978-0-19-979347-1.
  2. 1 2 "Hostile Media Effect". obo (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2024-12-12.
  3. 1 2 3 4 5 Vallone, Robert P.; Ross, Lee; Lepper, Mark R. (1985). "The hostile media phenomenon: Biased perception and perceptions of media bias in coverage of the Beirut massacre". Journal of Personality and Social Psychology (dalam bahasa Inggris). 49 (3): 577–585. doi:10.1037/0022-3514.49.3.577. ISSN 1939-1315.
  4. 1 2 Gunther, Albert C.; Chia, Stella Chih-Yun (2001-12). "Predicting Pluralistic Ignorance: The Hostile Media Perception and its Consequences". Journalism & Mass Communication Quarterly (dalam bahasa Inggris). 78 (4): 688–701. doi:10.1177/107769900107800405. ISSN 1077-6990.

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Dampak
  2. Studi
  3. Referensi

Artikel Terkait

Efek media bermusuhan : misinformasi dan disinformasi dalam era digital

Efek Media Bermusuhan sangat tidak baik bagi kehidupan politik dan sosial masyarakat. Di era digital saat ini, platform berita online dan media sosial

Dukungan dalam pemilihan umum Presiden Indonesia 2024

Nonpolitikus ditandai dengan asal partai politiknya jika ada. Media yang dicantumkan adalah media yang antara dimiliki salah satu calon presiden atau calon

Jeffrey Epstein

Pelaku kejahatan seksual dan pemodal Amerika (1953–2019)

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026