Edmond Locard adalah seorang kriminolog Prancis yang diberi julukan "Sherlock Holmes dari Prancis." Ia dikenal sebagai "Bapak ilmu forensik" dan pendiri laboratorium investigasi kriminal pertama di Eropa. Ia merumuskan prinsip dasar ilmu forensik yang dikenal sebagai prinsip pertukaran Locard, yakni "Setiap kontak meninggalkan jejak", yang berarti dalam setiap tindakan, kita akan meninggalkan jejak dari tempat asal dan di manapun kita berada. Hal ini dikenal juga sebagai bukti jejak.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Edmond Locard | |
|---|---|
| Lahir | (1877-12-13)13 Desember 1877 Saint-Chamond, Loire, Republik Ketiga Prancis |
| Meninggal | 4 Mei 1966(1966-05-04) (umur 88) Lyon, Prancis |
| Kewarganegaraan | Prancis |
| Dikenal atas | Laboratorium polisi pertama, prinsip pertukaran Locard, Sherlock Holmes dari Prancis |
| Anak | Denise Stagnara |
| Karier ilmiah | |
| Bidang | ilmu forensik, kriminologi |
Edmond Locard (13 Desember 1877 – 4 Mei 1966) [1] adalah seorang kriminolog Prancis yang diberi julukan "Sherlock Holmes dari Prancis." Ia dikenal sebagai "Bapak ilmu forensik" dan pendiri laboratorium investigasi kriminal pertama di Eropa. Ia merumuskan prinsip dasar ilmu forensik yang dikenal sebagai prinsip pertukaran Locard, yakni "Setiap kontak meninggalkan jejak", yang berarti dalam setiap tindakan, kita akan meninggalkan jejak dari tempat asal dan di manapun kita berada. Hal ini dikenal juga sebagai bukti jejak.
Alexandre Arnould Edmond Locard dilahirkan di Saint-Chamond, Prancis pada 13 Desember, 1877. Ia lahir dari pasangan Etienne Alexandre Arnould Locard dan Marie Gibert de Sennevieres sebagai anak kedua dari tiga bersaudara.
Locard menikahi Lucie Soulier pada 9 April 1912 dan memiliki dua anak.[1] Anak bungsunya adalah Denise Locard yang menikahi Pierre Stagnara. Mereka berdua membentuk Kelompok Sesame yang berfokus pada pendidikan seks pada pemuda.[2]
Locard muda banyak membaca fiksi "Sherlock Holmes" karya Sir Arthur Conan Doyla. Ia tertarik dengan observasi yang sangat mendetail, logika berpikir, dan ketertarikan pada kimia dan ilmu lainnya untuk mengidentifikasi pelaku kejahatan. Ia kemudian mempelajari hukum dan kedokteran sebagai ilmu untuk mencari bukti dan menarik kesimpulan. Pada zaman itu, detektif umumnya sampai pada kesimpulan melalui intuisi, dibanding pengumpulan dan analisis bukti-bukti yang sistematis dalam proses yang logis dan rasional. Sehingga, bisa dibilang Locard terinspirasi oleh cara kerja detektif fiksi Holmes dalam mengungkap kejahatan dan mengaplikasikannya di dunia nyata.[3]
Locard memulai karier sebagai asisten dokter dan kriminolog terkenal Prancis, Alexandre Lacassage. Locard menampakkan citra sebagai orang yang pandai dan tekun, dan berkat tampangnya yang mirip bintang film, ia sering tampil di koran.
Begitu Locard lolos ujian hukum sebagai pengacara, ia menyalin pendekatan rasional Holmes dalam investigasi kriminal. Ia pergi ke Paris, di mana ia bertemu dengan Alphonse Bertillon, seorang antropolog yang mempopulerkan prosedur identifikasi yang dikenal sebagai antropometri atau Sistem Bertillon. Locard kemudian menggunakan teknik yang lebih akurat, yakni daktilografi, ilmu yang mempelajari sidik jari untuk mengidentifikasi pelaku dan korban kejahatan. Identifikasi sidik jari tak lama kemudian menjadi standar dalam pengumpulan bukti-bukti dalam investigasi kriminal.[3]
Kemudian, Locard pergi ke New York City untuk mempelajari berbagai macam alat dan proses investigasi dalam prosedur kriminal. Di antaranya penggunaan berbagai metode fotografi untuk mendokumentasikan dan menyimpan barang bukti dan penggunaan analisis kimia untuk mengidentifikasi bukti-bukti fisik.
Locard kemudian kembali ke Prancis dan menyempurnakan metode untuk memahami bukti-bukti dari tempat kejadian perkara. Locard meminta dua ruangan kosong di atap kantor polisi Lyon untuk digunakan sebagai laboratorium. Di tempat inilah laboratorium forensik pertama didirikan, di mana Locard melakukan berbagai macam analisis kimiawi dan prosedur investigasi yang berkaitan dengan pembunuhan.[3]