Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Ebiet G. Ade

Abid Ghoffar bin Aboe Dja'far atau lebih dikenal dengan nama Ebiet G. Ade adalah seorang penyanyi-penulis lagu berkewarganegaraan Indonesia. Ebiet dikenal dengan lagu-lagunya yang bertemakan alam dan duka derita kelompok tersisih. Lewat lagu-lagunya yang bergenre folk pop, country dan soft rock serta dikemas dalam format balada, pada awal kariernya, ia memotret suasana kehidupan Indonesia pada akhir tahun 1970-an hingga sekarang. Tema lagunya beragam, tidak hanya tentang cinta, tetap ada juga lagu-lagu bertemakan alam, sosial-politik, bencana, religius, keluarga, dll. Sentuhan musiknya sempat mendorong pembaruan pada dunia musik pop Indonesia. Semua lagu ditulisnya sendiri, ia tidak pernah menyanyikan lagu yang diciptakan orang lain, kecuali lagu Surat dari Desa yang ditulis oleh Oding Arnaldi dan Mengarungi Keberkahan Tuhan yang ditulis bersama dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Nama Ebiet G. Ade sendiri diambil dari pengalamannya saat kursus Bahasa Inggris, sang guru yang merupakan orang asing kesulitan memanggilnya ‘Abid’ Ghoffar. Dengan logat bulenya, Abid selalu dipanggil Ebiet karena dalam Bahasa Inggris ‘A’ dibaca ‘E’.

seorang penyanyi laki laki asal Indonesia
Diperbarui 11 April 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Ebiet G. Ade

Ebiet G. Ade
Ebiet G. Ade
Ebiet G. Ade, 2011
LahirAbid Ghoffar
21 April 1954 (umur 72)
Wanadadi, Banjarnegara, Indonesia
Pekerjaan
  • Penyanyi-penulis lagu
  • gitaris
  • filantropis
  • produser rekaman
  • penyair
Tahun aktif1970-an–sekarang
Suami/istri
Koespudji Rahayu Sugianto
​
​
(m. 1982)​
Anak4, termasuk Adera dan Segara
Orang tua
  • Aboe Dja'far (ayah) Saodah (ibu)
KerabatIis Sugianto (ipar)
Karier musik
AsalBanjarnegara, Indonesia
Genre
  • Pop
  • folk pop
  • country
  • soft rock
Instrumen
  • Vokal
  • gitar akustik
Label
  • Jackson
  • EGA
  • Trinity
  • BMG Indonesia
  • Musica
Artis terkait
  • Billy J. Budiarjo
  • Tommy J. Pisa
  • Erwin Gutawa
  • Purwa Tjaraka
  • Embong Rahardjo
  • KLa Project
  • Dewa 19
  • Ian Antono
  • Andi Rianto
  • Tohpati
  • Emha Ainun Nadjib
  • Eko Tunas
Situs webebietgade.com
Tanda tangan
Tanda tangan Ebiet G. Ade
Instagram: ebiet_g_ade Tiktok: ebiet.musicaofficial Youtube: UCwih9gxbOmjqb5uHABVoMNA Spotify: 50l3hdnSiYODINDYhyP0QA iTunes: 129644714 Musicbrainz: 73e52c6a-2be8-4b74-ab38-aa0ce91db93e Modifica els identificadors a Wikidata

Abid Ghoffar bin Aboe Dja'far atau lebih dikenal dengan nama Ebiet G. Ade (lahir 21 April 1954) adalah seorang penyanyi-penulis lagu berkewarganegaraan Indonesia.[1][2][3][4] Ebiet dikenal dengan lagu-lagunya yang bertemakan alam dan duka derita kelompok tersisih. Lewat lagu-lagunya yang bergenre folk pop, country dan soft rock serta dikemas dalam format balada, pada awal kariernya, ia memotret suasana kehidupan Indonesia pada akhir tahun 1970-an hingga sekarang. Tema lagunya beragam, tidak hanya tentang cinta, tetap ada juga lagu-lagu bertemakan alam, sosial-politik, bencana, religius, keluarga, dll. Sentuhan musiknya sempat mendorong pembaruan pada dunia musik pop Indonesia. Semua lagu ditulisnya sendiri, ia tidak pernah menyanyikan lagu yang diciptakan orang lain, kecuali lagu Surat dari Desa yang ditulis oleh Oding Arnaldi dan Mengarungi Keberkahan Tuhan yang ditulis bersama dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Nama Ebiet G. Ade sendiri diambil dari pengalamannya saat kursus Bahasa Inggris, sang guru yang merupakan orang asing kesulitan memanggilnya ‘Abid’ Ghoffar. Dengan logat bulenya, Abid selalu dipanggil Ebiet karena dalam Bahasa Inggris ‘A’ dibaca ‘E’.[5]

Kehidupan Pribadi

Terlahir dengan nama Abid Ghoffar di Wanadadi, Banjarnegara,[6] merupakan anak bungsu dari 6 bersaudara, anak Aboe Dja'far, seorang PNS, dan Saodah, seorang pedagang kain. Dulu ia memendam banyak cita-cita, seperti insinyur, dokter, pelukis. Semuanya melenceng, Ebiet malah jadi penyanyi—kendati ia lebih suka disebut penyair karena latar belakangnya di dunia seni yang berawal dari kepenyairan.[7]

Setelah lulus SD, Ebiet masuk PGAN (Pendidikan Guru Agama Negeri) Banjarnegara. Sayangnya ia tidak betah sehingga pindah ke Yogyakarta. Sekolah di SMP Muhammadiyah 3 dan melanjutkan ke SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta. Di sana ia sempat aktif di PII (Pelajar Islam Indonesia). Namun, ia tidak dapat melanjutkan kuliah ke Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada karena ketiadaan biaya. Ia lebih memilih bergabung dengan grup vokal ketika ayahnya yang pensiunan memberinya opsi: Ebiet masuk FE UGM atau kakaknya yang baru ujian lulus jadi sarjana di Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto.[8]

Nama Ebiet didapatnya dari pengalamannya kursus bahasa Inggris semasa SMA. Gurunya orang asing, biasa memanggilnya Ebiet, mungkin karena mereka mengucapkan A menjadi E. Terinspirasi dari tulisan Ebiet di bagian punggung kaus merahnya, lama-lama ia lebih sering dipanggil Ebiet oleh teman-temannya. Nama ayahnya digunakan sebagai nama belakang, disingkat AD, kemudian ditulis Ade, sesuai bunyi penyebutannya, Ebiet G. Ade. Kalau dipanjangkan, ditulis sebagai Ebiet Ghoffar Aboe Dja'far.[9][10]

Sering keluyuran tidak keruan, dulu Ebiet akrab dengan lingkungan seniman muda Yogyakarta pada tahun 1971. Tampaknya, lingkungan inilah yang membentuk persiapan Ebiet untuk mengorbit. Motivasi terbesar yang membangkitkan kreativitas penciptaan karya-karyanya adalah ketika bersahabat dengan Emha Ainun Nadjib (penyair), Eko Tunas (cerpenis), dan E.H. Kartanegara (penulis). Malioboro menjadi semacam rumah bagi Ebiet ketika kiprah kepenyairannya diolah, karena pada masa itu banyak seniman yang berkumpul di sana.

Meski bisa membuat puisi, ia mengaku tidak bisa apabila diminta sekadar mendeklamasikan puisi. Dari ketidakmampuannya membaca puisi secara langsung itu, Ebiet mencari cara agar tetap bisa membaca puisi dengan cara yang lain, tanpa harus berdeklamasi. Caranya, dengan menggunakan musik. Musikalisasi puisi, begitu istilah yang digunakan dalam lingkungan kepenyairan, seperti yang banyak dilakukannya pada puisi-puisi Sapardi Djoko Damono. Beberapa puisi Emha bahkan sering dilantunkan Ebiet dengan petikan gitarnya. Walaupun begitu, ketika masuk dapur rekaman, tidak sebiji pun syair Emha yang ikut dinyanyikannya. Hal itu terjadi karena ia pernah diledek teman-temannya agar membuat lagu dari puisinya sendiri. Pacuan semangat dari teman-temannya ini melecut Ebiet untuk melagukan puisi-puisinya.

Karier

Ebiet G. Ade, saat tampil dalam acara Reuni 4E di Taman Budaya Tegal, tahun 2013.

Ebiet pertama kali belajar gitar dari kakaknya, Ahmad Mukhodam, lalu belajar gitar di Yogyakarta dengan Kusbini. Semula ia hanya menyanyi dengan menggelar pentas seni di Senisono, Patangpuluhan, Wirobrajan, Yogyakarta dan juga di Jawa Tengah, memusikalisasikan puisi-puisi karya Emily Dickinson, Nobody, dan mendapat tanggapan positif dari pemirsanya. Walau begitu ia masih menganggap kegiatannya ini sebagai hobi belaka. Namun atas dorongan para sahabat dekatnya dari PSK (Persada Studi Klub yang didirikan oleh Umbu Landu Paranggi) dan juga temannya satu kos, akhirnya Ebiet bersedia juga maju ke dunia belantika musik Nusantara. Setelah berkali-kali ditolak di berbagai label rekaman, akhirnya ia diterima di Jackson Record pada tahun 1979.[11]

Pada bulan Mei 1979, saat Ebiet bergabung dengan Jackson Record, Ebiet akhirnya berhasil merilis album debut Camellia I diproduseri oleh Jackson Arief.[12] Dalam album ini, nama Ebiet yang tambahan menjadi Ebiet G AD, singkatan dari Ghoffar dan Aboe Dja'far.[13] Penggunaan nama inipun tidak terlalu lama, dan akhirnya nama tambahan menjadi Ebiet G. Ade.

Jika semula Ebiet enggan meninggalkan pondokannya yang tidak jauh dari pondok keraton, maka fakta telah menunjuk jalan lurus baginya ke Jakarta. Ia melalui rekaman demi rekaman dengan sukses. Sempat juga ia melakukan rekaman di Filipina untuk mencapai hasil yang lebih baik, yakni album Camellia III.[14] Tetapi, ia menolak merekam lagu-lagunya dalam bahasa Jepang, ketika ia mendapat kesempatan tampil di depan publik di sana.

Pernah juga ia melakukan rekaman di Capitol Records, Amerika Serikat, untuk album ke-8-nya Zaman. Ia menyertakan Addie M.S. dan Dodo Zakaria sebagai rekan yang membantu musiknya.

Lagu-lagunya menjadi trend baru dalam khasana musik pop Indonesia. Tak heran, Ebiet sempat merajai dunia musik pop Indonesia di kisaran tahun 1979-1983. Sekitar 7 tahun Ebiet mengerjakan rekaman di Jackson Record. Pada tahun 1986, label yang melambungkan namanya itu tutup dan Ebiet terpaksa keluar. Ia sempat mendirikan label sendiri EGA Records, yang memproduksi 3 album, Menjaring Matahari, Sketsa Rembulan Emas, dan Seraut Wajah.

Sayang, pada tahun 1990, Ebiet yang "gelisah" dengan Indonesia, akhirnya memilih "bertapa" dari hingar bingar industri musik dan memilih berdiri di pinggiran saja. Baru pada tahun 1995 ia mengeluarkan album Kupu-Kupu Kertas (didukung oleh Ian Antono, Billy J. Budiardjo (alm), Purwacaraka, dan Erwin Gutawa) dan Cinta Sebening Embun (didukung oleh Adi Adrian dari KLa Project). Pada tahun 1996 ia mengeluarkan album Aku Ingin Pulang (didukung oleh Purwacaraka dan Embong Rahardjo). Dua tahun berikutnya ia mengeluarkan album Gamelan yang memuat 5 lagu lama yang diaransemen ulang dengan musik gamelan oleh Dwiki Darmawan dan Kiwir. Pada tahun 2000 Ebiet mengeluarkan album Balada Sinetron Cinta dan tahun 2001 ia mengeluarkan album Bahasa Langit, yang didukung oleh Andi Rianto, Erwin Gutawa dan Tohpati. Setelah album itu, Ebiet mulai lagi menyepi selama 5 tahun ke depan.

Ebiet adalah salah satu penyanyi yang mendukung album Kita Untuk Mereka, sebuah album yang dikeluarkan berkaitan dengan terjadinya tsunami 2004, bersama dengan 57 musisi lainnya. Ia memang seorang penyanyi yang terilhami oleh alam, sosial, ketuhanan dan kemanusiaan sehingga wajar ada beberapa lagunya yang terinspirasi oleh bencana alam, sehingga lagu-lagunya sering menjadi tema bencana.

Pada tahun 2007, ia mengeluarkan album baru berjudul In Love: 25th Anniversary (didukung oleh Anto Hoed), setelah 5 tahun absen rekaman. Album itu sendiri adalah peringatan buat ulang tahun pernikahan ke-25-nya, bersama pula 13 lagu lain yang masih dalam aransemen lama.[15]

Kemunculan kembali Ebiet pada 28 September 2008 dalam acara Zona 80 di Metro TV cukup menjadi obat bagi para penggemarnya. Dengan dihadiri para sahabat di antaranya Eko Tunas, Ebiet G Ade membawakan lagu lama yang pernah popular pada dekade 80-an.[16]

Singel

Sebagian besar lagu Ebiet G. Ade didasarkan tentang bencana.[17] Di bulan Juni 1978, ia menulis "Berita kepada Kawan" setelah bencana gas beracun di Dataran Tinggi Dieng. Pada tahun 1981, ia menulis "Sebuah Tragedi 1981" mengenai tenggelamnya KMP Tampomas II di Kepulauan Masalembu. Setelah letusan Gunung Galunggung pada 1982, ia menulis "Untuk Kita Renungkan". Lagu "Masih Ada Waktu" juga didasarkan saat kejadian kecelakaan kereta api Bintaro.[18]

Keluarga

Bab atau bagian ini tidak memiliki referensi atau sumber tepercaya sehingga isinya tidak bisa dipastikan. Tolong bantu perbaiki artikel ini dengan menambahkan referensi yang layak. Bab atau bagian ini akan dihapus bila tidak tersedia referensi ke sumber tepercaya dalam bentuk catatan kaki atau pranala luar.

Menikah dengan Koespudji Rahayu Sugianto (atau lebih dikenal sebagai Yayu Sugianto, kakak penyanyi Iis Sugianto) pada tanggal 4 Februari 1982,[19] ia dikaruniai 4 anak, 3 laki-laki dan 1 perempuan, Abietyasakti "Abie" Ksatria Kinasih (lahir 8 Desember 1982), Aderaprabu "Adera" Lantip Trengginas (lahir 6 Januari 1984), Byatriasa "Yayas" Pakarti Linuwih (lahir 6 April 1987), dan Segara "Dega" Banyu Bening (lahir 11 Desember 1989).[20] Mereka bertempat tinggal di kawasan Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan.. Anak sulung Ebiet, Abie berperan sebagai manager ayahnya dan mengelola usaha keluarga. Anak keduanya pun sudah merambah ke dunia musik, dan dikenal dengan nama panggung Adera Ega. Ebiet juga seorang penggemar golf, tetapi sejak terjadinya bencana tsunami 2004, ia tidak pernah lagi main golf.

Reuni 4E

Sejak berpisah selama lebih dari 30 tahun lantaran menjalani kehidupan masing-masing, empat sekawan yang terdiri Ebiet G. Ade, Emha Ainun Nadjib, Eko Tunas, dan E.H. Kartanegara akhirnya dipertemukan kembali dalam sebuah acara Reuni 4E yang diselenggarakan oleh CressinDo Press di Taman Budaya Tegal, 6 April 2013, bersamaan dengan peluncuran buku kumpulan cerita pendek (cerpen) Tunas, karya Eko Tunas.[21][22]

MemBers EGA

Sejak merilis album pertama sampai sekarang, Ebiet tidak pernah kehilangan penggemar. Mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan sebagaian berada di luar negeri. Kelompok nirlaba itu bernama MemBers EGA (Membumi Bersama Ebiet G. Ade), yang saat ini diketuai oleh Harsono Anest. Selain menjadi ajang apresiasi, komunitas ini dibentuk untuk menjalin komunikasi, kekerabatan, dan persaudaraan antar sesama pencinta lagu Ebiet. Tak jarang Ebiet beserta keluarganya terlibat langsung dalam kegiatan sosial yang diselenggarakan oleh komunitas itu, antara lain penanaman pohon dan penyerahan bantuan di daerah bencana.[23][24]

Diskografi

Tidak seluruh album yang dikeluarkan Ebiet G. Ade berisi lagu baru. Pada tahun-tahun terakhir, ia sering mengeluarkan rilis ulang lagu-lagu lamanya, baik dengan aransemen asli maupun dengan aransemen ulang. Dan pada tahun-tahun terakhir Ebiet banyak memilih berkolaborasi dengan musisi-musisi berbakat.

Jumlah album kompilasinya yang dikeluarkan melebihi album studionya. Sejauh ini terdapat sedikitnya 25 album kompilasinya yang diterbitkan oleh berbagai label rekaman.

Album Studio

  • Camellia I (1979)
  • Camellia II (1979)
  • Camellia III (1980)
  • Camellia 4 (1980)
  • Langkah Berikutnya (1982)
  • Tokoh-Tokoh (1982)
  • 1984 (1984)
  • Zaman (1985)
  • Isyu! (1986)
  • Menjaring Matahari (1987)
  • Sketsa Rembulan Emas (1988)
  • Seraut Wajah (1990)
  • Kupu-Kupu Kertas (1995)
  • Cinta Sebening Embun (1995)
  • Aku Ingin Pulang (1996)
  • Gamelan (1998)
  • Balada Sinetron Cinta (2000)
  • Bahasa Langit (2001)
  • In Love: 25th Anniversary (2007)
  • Masih Ada Waktu (2008)
  • Tembang Country 2 (2009)
  • Serenade (2013)

Album Kompilasi

  • Lagu-Lagu Terbaik I Ebiet G. Ade (1987)
  • Lagu-Lagu Terbaik II Ebiet G. Ade (1987)
  • Lagu-Lagu Terbaik III Ebiet G. Ade (1987)
  • Lagu-Lagu Terbaik IV Ebiet G. Ade (1987)
  • 20 Lagu Terpopuler Ebiet G. Ade (1988)
  • Perjalanan Vol. I (1988)
  • Perjalanan Vol. II (1988)
  • Seleksi Album Emas (1990)
  • Seleksi Album Emas II (1994)
  • 16 Lagu Puisi Cinta Ebiet G. Ade (1995)
  • Kumpulan Lagu-Lagu Religius (1996)
  • Hidupku MilikMu - Kumpulan Lagu-Lagu Religius Vol. II (1996)
  • 21 Tembang Puisi Dan Kehidupan (1996)
  • 20 Lagu Terpopuler (1997)
  • Lagu-Lagu Terbaik (1997)
  • Renungan Reformasi (1997)
  • 16 Koleksi Terlengkap Ebiet G. Ade (1997)
  • 12 Lagu Terbaik Ebiet G. Ade (1979-1986; 1997)
  • 12 Lagu Terbaik Ebiet G. Ade Volume II (1979-1986; 1997)
  • Ilham Seni (1998)
  • Best Of The Best (1999)
  • Akustik (2001)
  • Balada Country (2002)
  • M. Nasir vs Ebiet G. Ade - Penyair Nusantara (2002)
  • Nyanyian Cinta (2003)
  • Tembang Renungan Hati (2003)
  • Tembang Slow (2004)
  • Kumpulan Lagu-Lagu Terbaik (2004)
  • 22 Lagu Hits Sepanjang Masa (2005)
  • Tembang Cantik (2006)
  • Yogyakarta (2008)

Lagu dari album lain

  • Untuk Anakku Tercinta (1982) - dalam album "ASEAN Pop Song Festival ke 2"
  • Surat Dari Desa (1987) - dalam album "Lomba Cipta Lagu Pembangunan 1987" ditulis oleh Oding Arnaldi
  • Berita Kepada Kawan (1996) - versi duet dengan M. Nasir[25]
  • Mengarungi Keberkahan Tuhan (2007) - ditulis bersama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam album "Rinduku Padamu"[26]
  • Untuk Kita Renungkan (2019) - versi duet dengan Adera[27]
  • Masih Ada Waktu (2020) - versi duet dengan Adera dan Segara[28]
  • Elegi Esok Pagi (2025) - versi duet dengan Adera dan Segara[29]
  • Titip Rindu Buat Ayah (2025) - versi duet dengan Iwan Fals[30]

Prestasi dan pengakuan

Ebiet G. Ade telah menerima sejumlah penghargaan, antara lain:[31]

  • 18 Golden dan Platinum Record dari Jackson Record dan label lainnya dari album Camellia I hingga Isyu!
  • Biduan Pop Kesayangan PUSPEN ABRI (1979-1984)
  • Pencipta Lagu Kesayangan Angket Musica Indonesia (1980-1985)
  • Penghargaan Diskotek Indonesia (1981)
  • 10 Lagu Terbaik ASIRI (1980-1981)
  • Penghargaan Lomba Cipta Lagu Pembangunan (1987)
  • Penyanyi kesayangan Siaran Radio ABRI (1989-1992)
  • BASF Awards (1984 - 1988)
  • Penyanyi solo dan balada terbaik Anugerah Musik Indonesia (1997)
  • Lagu Terbaik AMI Sharp Award (2000)
  • Planet Muzik Awards dari Singapura (2002)
  • Penghargaan Lingkungan Hidup (2005)
  • Duta Lingkungan Hidup (2006)
  • Penghargaan Peduli Award Forum Indonesia Muda (2006)
  • Sejumlah penghargaan dari berbagai lembaga independen.

Penghargaan dan nominasi

Tahun Penghargaan Kategori Hasil Ref.
2019 Anugerah Musik Indonesia Legend Award Penerima [32]

Catatan dan rujukan

  1. ↑ "7 Potret Transformasi Ebiet G. Ade, Musisi Legendaris dengan Segudang Karya". Liputan6. 15 Juni 2019. Diakses tanggal 19 Mei 2025.
  2. ↑ "Profil | Situs resmi Ebiet G. Ade". ebietgade.com. Diakses tanggal 2026-02-05.
  3. ↑ "Ebiet G. Ade: Sang Legenda Musik Balada dari Banjarnegara - Kabupaten Banjarnegara". 2025-01-09. Diakses tanggal 2026-02-05.
  4. ↑ Media, Kompas Cyber (2025-02-25). "Terungkap, Ini Kepanjangan Huruf G dalam Nama Ebiet G Ade". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2026-02-05.
  5. ↑ "Profil Ebiet G Ade - VIVA". VIVA.co.id. 2017-08-21. Diakses tanggal 2019-11-22.
  6. ↑ Beberapa sumber menyebutkan bahwa Ebiet lahir di Banyumas. Banyumas sebenarnya adalah sebuah karesidenan pada saat itu, sementara ia lahir di wilayah Kabupaten Banjarnegara
  7. ↑ "EBIET G. ADE: Apresiasi Musik Indonesia Menurun". Djarum Super Music. Diakses tanggal 22-07-2007. [pranala nonaktif permanen]
  8. ↑ "Ebit G Ade, Bermusik Karena Tak Ada Kegiatan Lain". Minggu Pagi Online. Diakses tanggal 16-06-2007. [pranala nonaktif permanen]
  9. ↑ "Ebiet G. Ade: Nggak Ada Istri, Nyanyi Jadi Nggak Asyik". Republika Online. Diakses tanggal 15-06-2007. [pranala nonaktif permanen]
  10. ↑ "Mozaik Jejak Langkah Ebiet G. Ade". Ebiet G. Ade Official Website. Diakses tanggal 26-06-2007. [pranala nonaktif permanen]
  11. ↑ "Perjalanan Ebiet G. Ade: Cerita Masa Lalu, Ketika Langit di Yogya Masih Biru". Minggu Pagi Online. Diakses tanggal 16-06-2007. [pranala nonaktif permanen]
  12. ↑ Utomo, Nugroho Wahyu (2022-10-23). "Kisah Sejarah; Ebiet G Ade (3), Berani Tampil Beda - Suara Merdeka". Kisah Sejarah; Ebiet G Ade (3), Berani Tampil Beda - Suara Merdeka. Diakses tanggal 2026-01-17.
  13. ↑ Aditia, Andika (2025-02-25). "Terungkap, Ini Kepanjangan Huruf G dalam Nama Ebiet G Ade". Kompas.com. Diakses tanggal 26-01-17.
  14. ↑ Iuska (2020-08-17). "Ebiet G. Ade Rilis Album Camellia 3 Dalam Format Piringan Hitam". indonews. Diakses tanggal 2026-01-17.
  15. ↑ "Ebiet G. Ade: Kembali Mambaca Tanda Zaman Lewat Album Baru". Kabar Indonesia. Diakses tanggal 15-06-2007.
  16. ↑ Sys Ns (2017-10-30), SYS NS - ZONA 80 - SEPTEMBER 2008 - EBIET G. ADE, diakses tanggal 2026-01-17
  17. ↑ Riantrisnanto, Ruly (2021-12-26). "Artis Kawakan: Ebiet G. Ade, Pencetak Lagu Bertema Musibah dan Bencana yang Sarat Renungan". liputan6.com. Diakses tanggal 2026-01-17.
  18. ↑ Sudrajat (2017-07-14). "Bencana Galunggung, Tampomas dan Bintaro dalam Lagu Ebiet G Ade". detikhot. Diakses tanggal 2026-01-17.
  19. ↑ "Ebiet G Ade Merayakan HUT Pernikahan Perak". Liputan6.com. 26 April 2007. Diakses tanggal 3 September 2023.
  20. ↑ "Profil | Situs resmi Ebiet G. Ade". ebietgade.com. Diakses tanggal 2026-01-17.
  21. ↑ http://www.beritasatu.com/musik/107406-reuni-4e-nostalgia-persahabatan-empat-dekade.html Berita satu, diakses 29 Januari 2015
  22. ↑ http://koran.tempo.co/konten/2013/04/05/305936/Ebiet-dan-Cak-Nun-Reuni-4E Koran Tempo, Diakses 29 Januari 2015
  23. ↑ http://satelitnews.co/ebiet-beri-bantuan-untuk-korban-longsor/%5B%5D Satelit News, diakses 29 Januari 2015
  24. ↑ http://www.aktual.co/sosial/085608ebiet-g-ade-luncurkan-album-anyar-di-malam-tahun-baru Aktual, diakses 29 Januari 2015
  25. ↑ M. Nasir Vs Ebiet G. Ade - Penyair Nusantara (dalam bahasa Inggris), 2002, diakses tanggal 2026-01-17
  26. ↑ Cahya, Girindra Permana (2015-09-09). "'Mengarungi Keberkahan Tuhan' Sebuah Lamunan SBY di Hari Ultahnya". KapanLagi.com. Diakses tanggal 2026-01-17.
  27. ↑ Setiawan, Tri Susanto (2019-04-05). ""Untuk Kita Renungkan", Kolaborasi Humanis Ebiet G Ade dan Adera". Kompas.com. Diakses tanggal 2026-01-17.
  28. ↑ Herfianto (2020-05-12). "Dirilis Ulang, Ebiet G Ade Ajak Dua Putranya Populerkan Kembali Lagu Masih Ada Waktu". liputan6.com. Diakses tanggal 2026-01-17.
  29. ↑ Mario, Vincentius (2025-02-21). "Ebiet G. Ade Rilis Versi Baru Lagu Elegi Esok Pagi, Berkolaborasi dengan Anak". kumparan. Diakses tanggal 2026-01-17.
  30. ↑ Putra, I Komang Pratama (2025-09-09). "Ebiet G. Ade, Iwan Fals Rilis Lagu Baru". RRI.com. Diakses tanggal 2026-01-17.
  31. ↑ "Biodata Ebiet G. Ade". Ebiet G. Ade Official Website. Diakses tanggal 22-07-2007. [pranala nonaktif permanen]
  32. ↑ Farisi, B. Al. (2019-11-28). "Sabet Legend Award, Ebiet G. Ade: Lega, Indonesia Mengakui Saya Pemusik". Kompas.com. Diakses tanggal 2026-01-16.

Pranala luar

  • (Indonesia) Ebiet G. Ade Official Website
  • (Indonesia) g ade/ Profil di KapanLagi.com
  • (Indonesia) Apa dan Siapa - Abdul Gafar Abdullah (Ebiet G. Ade) Diarsipkan 2010-01-08 di Wayback Machine.
  • (Melayu) Muzik Nusantara - Ebiet G. Ade Diarsipkan 2009-02-02 di Wayback Machine.
  • (Inggris) Ebiet G. Ade di LyricWiki
  • (Indonesia) Halaman web lirik lagu dan kunci gitar Ebiet G Ade lengkap
Ebiet G. Ade
Album studio
  • Camellia
    • I
    • II
    • III
    • 4
  • Langkah Berikutnya
  • Tokoh-Tokoh
  • 1984
  • Zaman
  • Isyu!
  • Menjaring Matahari
  • Sketsa Rembulan Emas
  • Seraut Wajah
  • Kupu-Kupu Kertas
  • Gamelan
  • Bahasa Langit
  • In Love: 25th Anniversary
  • Masih Ada Waktu
  • Tembang Country 2
  • Serenade
Album kompilasi
  • Lagu-lagu Terbaik Ebiet G. Ade
    • I
    • II
    • III
    • IV
  • 20 Lagu Terpopuler Ebiet G. Ade
  • Perjalanan
    • Vol. I
    • Vol. II
  • Seleksi Album Emas
    • II
  • 16 Lagu Puisi Cinta Ebiet G. Ade
  • Cinta Sebening Embun
  • Aku Ingin Pulang
  • Kumpulan Lagu-Lagu Religius
  • Hidupku Milik-Mu - Kumpulan Lagu-Lagu Religius Vol. II
  • 21 Tembang Puisi dan Kehidupan
  • 20 Lagu Terpopuler
  • Lagu-Lagu Terbaik
  • Renungan Reformasi •
  • 16 Koleksi Terlengkap Ebiet G. Ade
  • 12 Lagu Terbaik Ebiet G. Ade 1979–1986
    • Volume II 1979–1986
  • Ilham Seni
  • Best of the Best
  • Balada Sinetron Cinta
  • Akustik
  • Balada Country
  • M. Nasir vs Ebiet G. Ade – Penyair Nusantara
  • Nyanyian Cinta
  • Tembang Renungan Hati
  • Tembang Slow
  • Kumpulan Lagu-Lagu Terbaik
  • 22 Lagu Hits Sepanjang Masa
  • Yogyakarta
  • Tembang Cantik
Penampilan lain
  • ASEAN Pop Song Festival Ke-2
  • Lomba Cipta Lagu Pembangunan 1987
  • Rinduku Padamu
Basis data pengawasan otoritas Sunting di Wikidata
Internasional
  • ISNI
  • VIAF
  • WorldCat
Nasional
  • Amerika Serikat
  • Belanda
Seniman
  • MusicBrainz
Lain-lain
  • Yale LUX

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Kehidupan Pribadi
  2. Karier
  3. Singel
  4. Keluarga
  5. Reuni 4E
  6. MemBers EGA
  7. Diskografi
  8. Album Studio
  9. Album Kompilasi
  10. Lagu dari album lain
  11. Prestasi dan pengakuan
  12. Penghargaan dan nominasi
  13. Catatan dan rujukan
  14. Pranala luar

Artikel Terkait

Sheila Dara Aisha

pemeran perempuan asal Indonesia

Ariel (penyanyi)

Penyanyi asal Indonesia

Aaliyah Massaid

penyanyi asal Indonesia

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026