E. Aminudin Aziz adalah akademisi (profesor) dan birokrat Indonesia yang menjabat sebagai Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia sejak awal tahun 2025. Sebelumnya, ia menjabat sebagai Pelaksana Tugas Kepala Perpustakaan Nasional RI (2023–2025) dan Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (2020–2025). Saat ini, Aminudin masih tercatat sebagai Guru Besar (Linguistik) pada Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


E. Aminudin Aziz (lahir di Ciamis, 16 November 1967) adalah akademisi (profesor) dan birokrat Indonesia yang menjabat sebagai Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia sejak awal tahun 2025.[1] Sebelumnya, ia menjabat sebagai Pelaksana Tugas Kepala Perpustakaan Nasional RI (2023–2025) dan Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (2020–2025). Saat ini, Aminudin masih tercatat sebagai Guru Besar (Linguistik) pada Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung.
Lahir di Ciamis, Jawa Barat, pada 16 November 1967, Aminudin dikenal luas sebagai pakar bidang pragmatik dan kesantunan berbahasa, serta menjadi tokoh sentral dalam perkembangan linguistik forensik di Indonesia. Aminudin aktif meneliti dan menulis di bidang linguistik terapan serta pendidikan bahasa. Bidang kepakaran utamanya meliputi Linguistik forensik, Pragmatik, Sosiolinguistik, dan Kesantunan berbahasa.[2]
Ia menempuh pendidikan Diploma II, Diploma III, dan Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris di IKIP Bandung/Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Setelah itu ia melanjutkan studi pascasarjana di Monash University, Australia, dan meraih gelar Master of Arts (1996) serta Doctor of Philosophy dalam bidang linguistik (2000). Ia juga pernah mengikuti program penelitian pascadoktoral di Shanghai Academy of Social Sciences (SASS), Tiongkok, pada tahun 2005.[3]
Kariernya dimulai sebagai dosen di UPI. Kemampuan dalam manajemen dan kepemimpinan telah membawa Aminudin ke dalam berbagai jabatan di UPI. Ia kemudian menjabat berbagai posisi struktural. Pada 2004-2005 ia dipercaya sebagai Ketua Program Studi Linguistik Sekolah Pascasarjana UPI. Dua tahun berikutnya (2007-2008), ia ditugaskan sebagai Sekretaris Universitas. Kariernya berlanjut pada jabatan Direktur Perencanaan dan Pengembangan UPI (2008–2010), Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Penelitian, dan Pengembangan UPI (2010–2014), dan Wakil Rektor Bidang Akademik, Pengembangan, dan Hubungan Internasional UPI (2014–2015). Saat menjabat sebagai Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Penelitian, dan Pengembangan UPI, dirinya juga dipercaya sebagai Kepala Pusat Bahasa, Kementerian Pendidikan Nasional (2010–2011).[4]
Selepas memegang jabatan di UPI, ia didaulat sebagai Atase Pendidikan dan Kebudayaan di KBRI London (2016-2020). Kembali ke tanah air, Aminudin dipercaya untuk menakhodai Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (2020–2025). Di waktu tersebut tugasnya bertambah, yaitu sebagai Pelaksana Tugas Kepala Perpustakaan Nasional RI (2023–2025). Selanjutnya, pada awal 2025 Aminudin resmi dilantik untuk mengemban amanat sebagai Kepala Perpustakaan Nasional RI (2025–sekarang). Selain itu, dirinya juga terlibat aktif mengayomi perguruan tinggi Badan Layanan Umum (BLU. Selama periode 2022-2025, dia ditugaskan sebagai Ketua Dewan Pengawas Universitas Sam Ratulangi, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, dan Universitas Negeri Tadulako.[5][6][7]
Dalam perannya sebagai Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (2020-2025), Aminudin menjadi tokoh kunci dalam pengusulan bahasa Indonesia menjadi bahasa resmi Sidang Umum UNESCO pada tahun 2023. Selanjutnya, kiprahnya dalam upaya pelestarian bahasa daerah di Indonesia dengan dukungan kecerdasan buatan, membawa Aminudin dinobatkan sebagai The 100 Most Influential People in Artificial Intelligence dari majalah TIME edisi September 2024. Untuk prakarsanya itu, ia juga dianugerahi Satyalancana Wirakarya dari Presiden RI tahun 2024. Tidak hanya itu, Majalah Tatler menganugerahinya Tatler Impact Award 2025. Ia menjadi salah satu di antara tokoh-tokoh berpengaruh di Asia dan Indonesia karena kiprahnya dalam pelestarian bahasa daerah.[8]
Minatnya pada dunia pendidikan dan kebudayaan mulai tampak dibuktikannya sejak duduk di bangku sekolah dan kuliah. Ia mulai mengukir prestasi ketika menjadi Siswa Teladan, Tingkat SD (1980) dan SMP (1983) Kabupaten Ciamis dan Mahasiswa Berprestasi Nasional (1990). Sebagai dosen, ia berhasil mengukir prestasi sebagai Dosen Berprestasi Nasional (2005). Dalam kiprahnya sebagai dosen yang aktif meneliti dan menulis, Aminudin menerima Asia Fellows Awards dari Asian Scholarship Foundation, Bangkok untuk riset pascadoktoral di Shanghai Academy of Social Sciences (SASS). Meraih jabatan profesor sebelum usia 40 tahun. Aminudin juga sukses meraih predikat sebagai Education Attaché of the Year 2019 dari Embassy Magazine, London ketika bertugas sebagai Atase Pendidikan dan Kebudayaan di KBRI London (2016-2020).
Aminudin mempublikasikan banyak artikel ilmiah di jurnal nasional dan internasional, serta mempresentasikan makalah pada berbagai konferensi akademik. Tulisan-tulisannya meliputi isu-isu pragmatik, kesantunan berbahasa, politik bahasa, linguistik terapan, serta linguistik forensik.[9][10][11][12]
Selain menulis buku ajar dan karya akademik di bidang pendidikan bahasa Inggris dan linguistik, Aminudin juga menulis autobiografi berjudul Visi Anak Pasar: Catatan Kecil Kehidupan E. Aminudin Aziz yang merekam perjalanan hidup dan refleksi kepemimpinannya. Buku tersebut tersedia dalam format digital melalui platform iPusnas.[13][14]
Aminudin menerima sejumlah penghargaan tingkat nasional dan internasional, antara lain: