Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Dwi Naga Rasa Tunggal

Dwi Naga Rasa Tunggal adalah sebuah sengkalan memet bergambar naga yang terdapat di Keraton Yogyakarta. Hiasan tersebut dipasang oleh Hamengkubuwana I untuk menandai istana baru pada September 1756. Nama Dwi Naga Rasa Tunggal sendiri mewakili watak-watak bilangan dari tahun pemasangannya dalam kalender Jawa. Dwi artinya 2, Naga artinya 8, Rasa (perasaan) artinya 6 dan Tunggal artinya 1, sehingga saat 4 angka tersebut (2-8-6-1) dibaca dari belakang maka akan menjadi 1682 AJ yang merupakan tanggal pemasangannya dalam kalender Jawa yang bertepatan dengan tahun 1756 AD dalam kalender Gregorian yang merupakan tahun awal pemakaian keraton tersebut.

Sengkalan memet
Diperbarui 18 Desember 2023

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Dwi Naga Rasa Tunggal
Dwi Naga Rasa Tunggal.

Dwi Naga Rasa Tunggal (bahasa Indonesia: dua naga bersatu rasacode: id is deprecated )[1] adalah sebuah sengkalan memet bergambar naga yang terdapat di Keraton Yogyakarta. Hiasan tersebut dipasang oleh Hamengkubuwana I untuk menandai istana baru pada September 1756.[2] Nama Dwi Naga Rasa Tunggal sendiri mewakili watak-watak bilangan dari tahun pemasangannya dalam kalender Jawa. Dwi artinya 2, Naga (ular besar) artinya 8, Rasa (perasaan) artinya 6 dan Tunggal artinya 1, sehingga saat 4 angka tersebut (2-8-6-1) dibaca dari belakang maka akan menjadi 1682 AJ (Anno Javanico [jv]) yang merupakan tanggal pemasangannya dalam kalender Jawa yang bertepatan dengan tahun 1756 AD (Anno Domini) dalam kalender Gregorian yang merupakan tahun awal pemakaian keraton tersebut.[1][3][4]

Selain itu, nama Dwi Naga Rasa Tunggal juga memiliki makna simbolis, yaitu "kesatuan kegotong-royongan, serta kewibawaan, kesaktian, dan kesucian seorang raja atau pemimpin, dan sebagai tolak bala serta keyakinan akan keselamatan, ketenteraman, dan harapan pencapaian kemakmuran sebuah kerajaan yang dibangun".[5]

Rujukan

  1. 1 2 "Sengkalan: Rangkaian Kata Penanda Masa". Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. 21 Agustus 2017. Diarsipkan dari asli tanggal 2018-09-01. Diakses tanggal 19 Agustus 2021.
  2. ↑ Matanasi, Petrik (11 Maret 2019). Windu Jusuf (ed.). "Sultan HB IX: Wapres yang Pernah Jadi Sultannya Soeharto". Tirto.id. Diakses tanggal 19 Agustus 2021.
  3. ↑ Sunaryo 2003, hlm. 8.
  4. ↑ Danny (21 Maret 2014). "Sengkalan : Kalimat dan Gambar Penuh Makna dalam Budaya Jawa". yogyakarta.panduanwisata.id. Diarsipkan dari asli tanggal 9 Oktober 2019. Diakses tanggal 19 Agustus 2021.
  5. ↑ Sunaryo 2003, hlm. 1.

Daftar pustaka

  • Sunaryo, Aryo (2003). "Sengkalan Memet Dwinaga Rasa Tunggal dalam Kajian Semiotik". Jurnal Wacana Seni Rupa. 3 (6). ISSN 1411-4852. OCLC 45235148.

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Rujukan
  2. Daftar pustaka

Artikel Terkait

Sengkala

sebuah bentuk tulisan atau prasasti di mana huruf-huruf tertentu mewakili angka, sehingga jika dibaca secara khusus, huruf-huruf tersebut menunjukkan tanggal tertentu

Sengkalan Jawa

kata yang dipilih, sengkalan terbagi menjadi dua jenis, yakni sengkalan lamba dan sengkalan memet. Sengkalan lamba adalah sengkalan yang berbentuk kalimat

Sengkalan Yogyakarta

dimaksud. Sengkalan dapat berupa sengkalan tulisan atau sengkalan memet yang berbentuk gambar/simbol. Kemunculan perhitungan waktu sengkalan diyakini berawal

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026