Dualisme Persija Jakarta adalah peristiwa dualisme klub sepak bola Persija Jakarta yang terjadi antara tahun 2011 hingga 2013.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (Desember 2025) |
Persija IPL (Jakarta FC)
| |
| Nama asli | Dualisme Persija |
|---|---|
| Olahraga | Sepak bola |
| Lokasi | Jakarta Timur (Provinsi DKI Jakarta) |
| Tim terlibat | |
| Tanggal | 22 Agustus 2011 - 7 Juli 2014 |
|---|---|
| Lokasi | Jakarta Timur, DKI Jakarta |
| Penyebab | 22 Agustus 2011, tiga PT mendaftar atas nama Persija Jakarta untuk kompetisi musim 2011–12.[1] |
| Pelapor | Persija ISL / PT. Persija Jaya Jakarta (PT. PJJ, Agustus 2010) |
| Peserta/Pihak terlibat |
|
| Hasil |
|
| Putusan |
|
Dualisme Persija Jakarta adalah peristiwa dualisme klub sepak bola Persija Jakarta yang terjadi antara tahun 2011 hingga 2013.
Gejolak dan gonjang-ganjing kepengurusan klub sepak bola Persija Jakarta sudah dimulai ketika Persija dipimpin oleh Ketua Umum Toni Tobias.
Klub-klub anggota Persija Jakarta, Minggu, 14 September 2008, mengeluarkan pernyataan mosi tidak percaya kepada Pengurus Persija priode 2007-2011 yang dipimpin Ketua Umumnya, Toni Tobias. Mereka menilai sebanyak lima hal yang mendasari mosi itu yakni masalah organisasi, kompetisi, sarana dan prasarana, keuangan serta masalah pembinaan yang tidak berjalan.
Mosi itu disampaikan pimpinan sidang rapat klub-klub Persija Jakarta Toto Mardianto, kepada wartawan di Jakarta, Minggu. "Dari 30 anggota klub Persija, 21 di antaranya hadir dalam rapat anggota dan menegaskan mosi tidak percaya, sedangkan sisanya tidak hadir karena berbagai alasan," kata Toto didampingi sekretaris Ir. Azwar Lubis, IPM serta wakil dari PS Mahasiswa, Biner Tobing.
Ia menyatakan, mosi tidak percaya ini bermula dari rapat anggota 17 Maret 2008 serta pertemuan klub-klub anggota Persija 29 Agustus lalu di Hotel Mega Cikini yang memohon segera digelar RUAT (Rapat Umum Anggota Tahunan). RUAT harus segera digelar 10 hari setelah surat permohonan dibuat, yakni 30 Agustus 2008.
Namun, Toni Tobias tidak melaksanakan RUAT hingga batas waktu. "Jika pun ada pertemuan beberapa waktu lalu, itu tidak terkait dengan tuntutan untuk RUAT. Jadi, kami kembali menggelar rapat rapat anggota, Jumat (12/9) dan menyatakan mosi tidak percaya kepada kepengurusan Toni Tobias," kata Ir. Azwar Lubis.
"Namun harus dicatat, mosi tidak percaya ini tidak ada kaitannya dengan tim Liga Super Persija, maupun Pemda DKI. Ini hanya soal kepengurusan Toni Tobias periode 2007-2011 yang tidak berjalan sebagaimana mestinya." Selanjutnya, rapat memutuskan membentuk tim formatur guna mencari figur ketua umum Persija.[6]
Usaha untuk mendamaikan pihak yang bertikai di tubuh internal klub Persija Jakarta menemui hambatan.
Pasalnya acara silahturahmi yang berlangsung di Hotel Gran Melia, Minggu 2 Agustus 2009 batal dilaksanakan. Ini karena mantan ketua umum Persija, Marsma TNI Anggoro berhalangan hadir. Padahal kehadiran sesepuh The Jak ini adalah kunci utama diskusi antar anggota yang tengah berkonflik.
"Pak Anggoro berhalangan hadir karena urusan KASAU (Kepala Staf Angkatan Udara). Maka itu hari ini tidak pertemuan atau diskusi apa pun," ujar ketua Persija Perjuangan, Biner Tobing pada wartawan.
"Rencananya akan kembali diadakan acara diskusi yang dibuat oleh beliau," tambahnya.
Batalnya kedatangan Anggoro juga membuat Tobing melarang wartawan untuk melakukan wawancara. Alasannnya, hal itu akan menimbulkan kebingungan pada masyarakat. Apalagi karena belum ditemukannya solusi atas konflik di tubuh Persija.
Konflik ini sendiri bermula atas kedatangan seorang investor baru, Edy Joenardy. Pengusaha itu berencana mengucurkan dana Rp 25 miliar selama lima tahun.
Namun pengurus PT. Persija Jaya mendapat tantangan dari lima klub internal Persija, yakni Mahasiswa, Pratama, MBFA, Herkules, Metros. Kelimanya kemudian menamakan diri sebagai Persija Perjuangan. Mereka menuntut kejelasan mengenai keberadaan PT. Persija Jaya termasuk soal pembagian saham.
Edy yang tidak mau mengambil resiko dengan keadaan ini, meminta agar Macan Kemayoran menyelesaikan masalahnya dalam waktu 10 hari. Acara silahturahmi hari ini adalah salah satu cara resolusi konflik tersebut. Sayangnya, hal ini batal terlaksana.[7]
Persija Jakarta harus segera menyelesaikan permasalahan internal yang selama ini menghambat pembentukan tim. PSSI telah memberi deadline hingga akhir bulan ini.
"Sekjen PSSI mengatakan, permasalahan internal Persija harus tuntas sebelum akhir bulan ini karena pendaftaran klub peserta LSI adalah pada 4 September 2009.
Kami akan menuntaskan masalah itu," ujar Ketua Umum Persija, Toni Tobias, kepada wartawan di Senayan, Jakarta, Selasa 18 Agustus 2009.
Persija memang sedang dilanda konflik internal. Pemicunya adalah perselisihan antara beberapa klub anggota Persija yang tergabung dalam Persija Perjuangan dengan PT Persija Jaya. Keduanya berselisih mengenai kepemilikan tim Persija.
Akibat masalah ini, Persija harus kehilangan investor Edy Joenardi. Penguasaha ini rencananya akan menyuplai dana kepada Persija Rp30 Miliar per musim kompetisi. Edy akhirnya memilih untuk mendanai Persikad Depok.
Setelah Edy mundur, Persija kembali mendekati Pemprov DKI Jakarta. Tujuannya tentu untuk mendapatkan bantuan dana APBD yang selama ini menjadi sumber pemasukan Macan Kemayoran.
Namun belum ada kejelasan mengenai nominal yang akan dikucurkan oleh Pengprov musim ini. Rencananya, Kamis, 20 Agustus 2009, Pemprov DKI Jakarta akan memberikan kepastian mengenai bantuannya ke Persija.[8]
PT. Persija Jaya yang urung mengelola tim Persija secara langsung masih tetap mendukung tim tersebut dalam berbagai pengurusan administrasi ke PT Liga Indonesia (BLI) sebagai persyaratan kontestan Liga Super Indonesia (LSI).
"Meskipun bukan kami yang mengelola tim secara langsung, tetapi kami tetap membantu dalam berbagai pengurusan administrasi, apalagi kontestan Liga Super mengharuskan setiap tim memiliki PT sendiri," ujar Direktur Umum Persija Bambang Sucipto di Jakarta, Selasa, 8 September 2009.
Hal itu dikatakan Bambang terkait dengan langkah persiapan yang tengah dilakukan oleh Pengprov DKI Jakarta dalam mempersiapkan tim ke kompetisi Liga Super Indonesia 2009-10. Diakuinya, PT. Persija Jaya sendiri memang batal mengelola tim secara langsung setelah ketiadaan investor yang mau mendukung pendanaan Persija.
"Kami tetap mengurus berbagai administrasi ke PT Liga Indonesia karena setiap tim diharuskan memiliki PT dan banyak aspek legalitas lainnya yang harus dipenuhi melalui keberadaan PT. Tapi saya kira ini hanya untuk satu musim kompetisi saja. Prinsipnya PT. Persija Jaya tetap terlibat dalam pengelolaan tim Persija di musim kompetisi 2009-10," ujarnya.
Bambang menambahkan, PT. Persija Jaya akan mengelola hal-hal lain yang bersangkut paut dengan pembisnisan Persija seperti di antaranya penjualan merchandise dan atribut tim. Sebagaimana diketahui, setelah PT. Persija Jaya urung disponsori pengusaha Eddy Joenardi, maka Persija kembali dikelola oleh Pengprov DKI Jakarta dengan Sekda DKI Muhayat sebagai pembina utama.[9]
Perseteruan internal di kubu Persija Jakarta semakin panas. Situasi ini akhirnya menarik perhatian PT. Liga Indonesia.
CEO PT. LI, Joko Driyono mengatakan, Persija akan diberi sanksi bila permasalahan internal klub dibiarkan terus berlanjut. “Kami akan memberikan denda kepada Persija karena pengurus mengesampingkan pengelola atau PT Persija Jaya. Pengurus tidak bisa bersikap seperti itu, terkait kebijakan panpel."
"Tapi, berapa besarannya belum ditentukan. Kami akan menunggu titik temu antara pihak yang bersengketa,” bilang Joko.
Joko menambahkan, PT. LI sudah mengesahkan nama panpel yang diajukan oleh Ketua Umum (Ketum) Persija. “Persija sudah mengajukan nama-nama panpel baru, dan itu yang disahkan Liga. Nama itu yang diajukan ketum mereka. Personel baru tersebut sejak awal sudah mengikuti workshop,” lanjutnya.
Perseteruan antara pengurus dengan 'pengelola' mengerucut pada rencana Rapat Umum Luar Biasa (RULB) anggota Persija yang akan digulirkan pada Sabtu 28 November 2009.
“Sebuah ironi kalau klub sebesar Persija harus terkotak-kotak seperti itu. Mereka klub Ibukota dan memiliki sejarah bagus, tapi kondisinya sekarang memprihatinkan. Persija sebenarnya banyak menyalahi aturan. Kalau dicoret mungkin tidak. Tapi, bila sampai kejadian seperti itu, kami juga tidak akan disalahkan suporter. Pendukung mereka pasti menyalahkan pengurus. Pengelolaan lebih baik justru ditunjukkan Persitara Jakarta Utara,” tegas Joko.
Mendapat tekanan dari PT. LI, Ketum Persija, Toni Tobias, mengaku tidak terlalu khawatir. Sebab, panpel baru versinya dan pengurus sudah bekerjasama dengan pengelola atau PT. Persija Jaya.
“Kami sebenarnya tidak ingin ada ribut-ribut. Kami tidak bersalah. Pihak pengelola yang harus memberikan klarifikasi kepada PT. LI, bukannya kami. Buat apa, toh mereka sudah mengambil dana Persija U-21. Yang jelas, mereka yang harus bertanggung jawab kalau klub sampai diberi sanksi,” katanya.
Toni juga menjelaskan, beberapa pengelola hanya memanfaatkan klub untuk menghidupi dirinya sendiri. Merasa terancam, mereka kemudian menggoyang status ketum.
“Kami tidak terlalu memikirkan rencana RULB tersebut. Biarkan saja karena tidak ada hal luar biasa yang mendasarinya. Itu hanya ide orang-orang yang mencari makan di Persija. Mereka tidak menyadari selama ini sudah mengambil dana klub terlalu banyak,” jelas perwira angkatan laut ini.
Sementara itu, Direktur Umum PT. Persija Jaya, Bambang Sucipto mengatakan, Ketum Persija sudah membabi buta dengan menyebarkan fitnah. Sebab, justru pihaknya yang sudah banyak berkorban untuk membiayai beberapa laga kandang Macan Kemayoran.
“Ketum sudah kalap sehingga menyebarkan fitnah. Tidak ada duit klub yang ditilep. Kami semua sampai menjual mobil dan menggadaikan rumah untuk membiayainya. Kami siap memberikan klarifikasi kepada Liga,” pungkasnya.[10]
Persija Jakarta Pusat akhirnya membentuk PT. Persija Jakarta sebagai badan hukum baru, Selasa, 5 Januari 2010, untuk menaungi tim Persija di ajang Kompetisi Liga Super 2009/2010.
Pembentukan PT baru ini dilaksanakan setelah badan hukum lama, yakni PT. Persija Jaya dibekukan menyusul adanya tenggat waktu dari Liga agar Persija memiliki PT sebagai syarat klub profesional.
"Badan hukum PT. Persija Jaya telah dibekukan. Jadi, pengurus membentuk PT. Persija Jakarta yang disetujui klub-klub anggota Persija," kata Ketua Umum Persija, Tony Tobias, kepada wartawan di Jakarta, Selasa, 5 Januari 2010.
Pembentukan PT. Persija Jakarta itu diputuskan dalam Rapat Umum Anggota Tahunan Persija di Jakarta, Senin, 4 Januari 2010, malam.[11]
PT. Persija Jakarta akan menggantikan peran PT. Persija Jaya. Direktur Utama, Nachrowi Ismail pun memberikan keterangan soal kondisi terkini perusahaan yang akan memayungi Persija di pentas Liga Super Indonesia (ISL) 2009/2010.
Pria yang akrab disapa Nara ini, mengaku bila saham untuk 30 anggota Persija, dijatah sebesar 45 persen. Sedangkan 30 persen saham, bakal dipegang oleh Nachrowi Ramli, Direktur Utama Persija Jakarta cs.
Sedangkan sisa 25 persen, disebut bakal dimiliki oleh beberapa pihak. Namun belum jelas siapa pihak yang dimaksud.
"Kami berikan porsi saham sepantasnya. Ini sudah menjadi kesepakatan bersama yang diputuskan saat kami dan 30 anggota Persija bertemu. Kami juga sudah menyerahkan soal kesepakatan ini kepada PT Liga Indonesia," kata Nara di bilangan Cikini, Jakarta, pada Rabu, 13 Januari 2010.
Ketua Umum Persija, Toni Tobias dijadikan komisaris PT. Persija Jakarta. Sedangkan jabatan dibawah Direktur Utama, dibagi rata untuk pemodal dan anggota Persija.
Investor lain juga masuk dalam posisi direktur keuangan dan direktur bisnis. Untuk Direktur Operasi dan Pembinaan, sepenuhnya diserahkan kepada anggota dari internal klub Persija.[12]
Pengurus Persija Jakarta Pusat kecewa terhadap Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia terkait dengan mangkirnya tim advokasi PSSI untuk menyelesaikan kemelut organisasi tim Macan Kemayoran tersebut.
"Kami sangat menyayangkan tim advokasi PSSI yang berwenang menangani masalah ini malah tidak datang dalam pertemuan yang kami gelar. Padahal kami sudah mematuhi jadwal dari PSSI," ujar Sekretaris Formatur Persatuan Sepak Bola Indonesia Jakarta (Persija), Azwar Lubis, kepada ANTARA di Jakarta, Jumat malam.
Azwar memaparkan PSSI melalui suratnya tertanggal 16 Juni 2010 telah memerintahkan kepada tim formatur Persija untuk menyiapkan pertemuan untuk membahas kemelut tim Macan Kemayoran ini, termasuk pemilihan ketua baru sebagai bagian dari aspek legalitas klub.
Sekretaris Jenderal PSSI Nugraha Besoes yang menandatangani surat bernomor 1544/UDN/782/VI-2010 itu memerintahkan tim formatur untuk menyiapkan aspek legalitas selama satu bulan.
"Pada tanggal 16 Juli merupakan harinya. Namun, ketika kami mengadakan pertemuan, tim advokasi PSSI Subardi Suar dan Ketua Pengprov DKI Hardi, S.E. malah tidak hadir," katanya.
Terkait dengan itu, lanjut dia, tim formatur yang beranggotakan tujuh orang segera menyurati PSSI untuk bisa menyelesaikan masalah tersebut dalam satu minggu ke depan.
"Bila PSSI tak juga merespons, maka tim formatur akan memilih sikap di antara tiga opsi sebagai tindak lanjutnya," kata Azwar Lubis menegaskan.
Opsi pertama, kata dia, di tubuh Persija ada ketua umum yang didampingi ketua harian.
Kemudian opsi kedua, ada ketua umum dan ada pula pelaksana tugas (plt).
"Opsi terakhir, sepenuhnya diserahkan kepada PSSI tentang sistem pemilihan ketua baru," kata Azwar Lubis yang juga pembina klub "Merdeka Boys Football Association" (MBFA).
Untuk mengatasi kemelut kepemimpinan organisasi yang telah berlangsung lama, 30 anggota klub Persija telah memilih tujuh orang formatur sejak 14 Desember 2009.
Ketujuh anggota formatur adalah Biner Tobing (PS Mahasiswa), TS Lingga (Putra Fajar), Rifaid Ismail (Mabes TNI), Azwar Lubis (MBFA), Toto Maryanto (PS Angkasa), Sonny Sumarsono (PS Menteng), dan Bambang Sucipto (PS Gumarang).
Mengenai figur calon ketua baru untuk menggantikan Tony Tobias, nama Hadi Basalamah muncul sebagai satu-satunya calon.
Hadi sendiri telah ikut aktif dalam berbagai pertemuan yang digelar tim formatur, termasuk pertemuan pada hari Jumat hingga tengah malam di kantor PSSI di Senayan Jakarta.
Azwar Lubis menambahkan, pihaknya telah berupaya maksimal untuk melengkapi syarat legalitas sebagaimana permintaan PT Liga Indonesia sebagai anggota tim Liga Super Indonesia dan mengacu statuta baru PSSI.
"Kami ingin mengejar batas waktu (deadline) untuk melengkapi aspek legal tersebut, yakni September 2010. Tapi, sampai sekarang kami masih belum bisa memutuskan siapa ketua Persija yang baru," demikian Azwar Lubis. Berita diterbitkan 17 Juli 2010.[13]
CEO PT. Liga Indonesia, Joko Driyono, mengatakan, pihaknya hanya mengakui PT. Persija Jaya Jakarta yang dibentuk kepengurusan Toni Tobias. "PT yang sah adalah PT. yang dibentuk pengurus Persija yang diprakarsai Toni Tobias. PT ini adalah PT. Persija Jaya Jakarta dengan komisaris utama Muhayat dan Saifulloh (Disorda)," katanya ketika dihubungi wartawan di Jakarta, Selasa, 7 September 2010.
Menurut dia, di luar itu dianggap tidak sah. PT ini sendiri telah didaftarkan ke Liga 15 Agustus lalu. Komisaris Utama PT. Persija Jaya Jakarta Muhayat yang juga Seketaris Daerah bahkan telah melapor pembentukan PT ini secara langsung ke Liga.
"PT ini sudah didaftarkan 15 Agustus lalu. Bahkan saya sudah bertemu dengan Muhayat. Menurut dia, jika ada elemen-elemen Persija yang tidak mendukung PT ini silakan menggugat saja," lanjutnya.[14]
Sejumlah pemain bintang tidak hadir dalam acara launching Persija Jakarta, Rabu, 13 Oktober 2010. Beberapa petinggi klub termasuk Ketua Dewan Pembina Persija, Fauzi Bowo juga absen dalam acara ini.
Ini sudah kali ketiga Foke tidak hadir saat peluncuran tim Persija. Selain itu, manajer Persija, Harianto Badjoeri juga absen. Begitu juga asistennya yang kini menjabat sebagai sekretaris tim, Ferry Indrasyarief.
Launching Persija Jakarta diadakan di Balaikota DKI Jakarta, Jalan Merdeka Barat. Acara digelar bersamaan dengan peluncuran PT. Persija Jaya Jakarta yang merupakan badan hukum yang menaungi tim Macan Kemayoran.
Sekretaris Daerah (Sekda) DKI Jakarta, Fajar Panjaitan dalam sambutannya berharap Persija bisa meraih gelar juara musim ini. Fajar tampil ke podium mewakili Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo.[15]
Sengketa kepemimpinan di pengurus Persija Jakarta akan mulai dibahas Senin, 25 Juli 2011, setelah Hadi Basalamah, salah seorang yang mengklaim sebagai ketua umum, bertemu PSSI.
Saat ini, ketua umum yang menggerakkan organisasi Persija Jakarta adalah Toni Tobias, namun Hadi mengklaim dirinya adalah ketua umum yang sah sejak 2009 lalu.
Di lain pihak, tanggal 30 Juli nanti Persija akan menggelar kongres untuk memilih ketua umum baru. Namun sebelum hal itu terjadi, Hadi meminta PSSI memperjelas status kepemimpinan Persija saat ini.
Hadi datang bersama beberapa perwakilan klub anggota Persija di antaranya Gurning, PS Maesa, David Situmorang (PS Perbanas), JS Moerad (PS Setia) dan diterima oleh anggota komite eksekutif PSSI Toni Apriliani.
Usai bertemu PSSI kemarin, salah satu anggota Persija Gurning menjelaskan bahwa pertemuan tersebut adalah pertemuan pertama dengan PSSI. Agendanya adalah memberikan keterangan kepada pengurus baru PSSI mengenai apa yang terjadi dengan Persija saat ini.
“Senin komite eksekutif (PSSI) ambil sikap, semoga pengurus PSSI bisa membantu pengurusan Persija terpilih dengan baik,” terangnya.
Sementara itu Hadi menjelaskan, “Kedatangan kami ke sini bukan karena kami ngotot, ingin mencari kemenangan. Kami hanya mau semuanya berjalan sesuai ADRT dan statuta PSSI.”
Hadi juga menyayangkan digelarnya kongres pada tanggal 30 Juli nanti, karena menurutnya hal itu tidak sesuai dengan peraturan dan statuta PSSI.
“Mimpi, karena sesuai peraturan proses mulai pendaftaran dan sosialisasi kan harus berjarak 30 hari,” ujar Hadi mengenai kongres yang mulai disosialisasikan 20 Juli lalu itu.
Sedangkan Toni Aprilani cukup percaya diri kasus ini bisa diselesaikan dengan baik. Pria yang juga pernah menjabat sebagai ketua pengurus PSSI provinsi Jawa Barat itu mengaku pernah bertemu hal yang sama di Persib Bandung.
“Belum diputuskan, karena ini baru dengar pendapat. Nanti kita putuskan di rapat Komite Eksekutif hari Senin.”
Toni juga berharap Persija tidak menggelar kongres, karena hal ini tidak lazim dilakukan. Yang seharusnya dilakukan adalah menggelar Rapat Umum Anggota, yang sekaligus memilih ketua umum.[16]
Ketua Umum Persija Jakarta Ferry Paulus memastikan klub yang dipimpinnya akan mengikuti liga musim depan. Sejumlah persyaratan finansial yang ditetapkan Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) dinilai bukan halangan.
"Kalau klub-klub lain menolak deposito partisipasi Rp 5 miliar dan Rp 15 miliar, kami dari Persija tidak masalah," katanya dalam jumpa pers di Hotel Aryaduta, Rabu, 10 Agustus 2011.
Pihaknya juga mengirim surat ke PSSI. Isi surat berupa kesediaan untuk diverifikasi. Ferry yakin klubnya bakal lolos verifikasi dan bisa berlaga di kompetisi musim depan. "Persiapan kita ikut liga profesional sudah final. Surat sudah kami kirim, siap diverifikasi," katanya.[17]
Klub Persija Jakarta terancam tak ikut kompetisi Liga Profesional musim 2011–12. Pasalnya, terdapat dualisme badan hukum di klub berjuluk "Macan Kemayoran" tersebut. Berdasarkan kriteria AFC, salah satu syarat mengikuti kompetisi musim depan adalah klub harus berbadan hukum. Nah, Persija saat ini didaftarkan oleh dua badan hukum, yaitu PT. Persija Jaya Jakarta (PT. PJJ, Agustus 2010) dan PT. Persija Jaya (PT. PJ, 2008). Sudah menjadi rahasia umum kalau ada dua kubu yang bertikai di Persija, yakni kubu Ferry Paulus dan kubu Hadi Basalamah. Berita diterbitkan pada 23 Agustus 2011.[18]
Nasib Persija Jakarta masih mengambang. Mediasi antara dua pihak yang bertikai gagal dilakukan. Kini, bola berada di tangan PSSI untuk menentukan pihak mana yang berhak mewakili "Macan Kemayoran" untuk diverifikasi. Untuk lolos menjadi klub profesional, setiap tim termasuk Persija harus mendaftar ulang ke PSSI dan harus memenuhi syarat yang ditentukan. Persija didaftarkan oleh dua badan hukum. Badan hukum pertama atas nama PT. Persija Jaya Jakarta (PT. PJJ, Agustus 2010) yang didaftarkan oleh Ferry Paulus. Adapun badan hukum kedua adalah PT. Persija Jaya (PT. PJ, 2008) yang didaftarkan Bambang Sucipto.
PSSI meminta "Macan Kemayoran" segera menyelesaikan masalah dualisme kepemilikan klub tersebut. PSSI memberi tenggat waktu sampai Rabu, 24 Agustus 2011, petang, sekaligus memutuskan badan hukum mana yang berhak mewakili Persija. Namun, hal ini gagal setelah pihak Bambang Sucipto tak hadir dalam pertemuan tersebut.
"Saya tunggu 16.30 sampai jam 19.00, tapi dia enggak hadir. Tadi saya sampaikan hal ini sama Pak Sihar Sitorus (Ketua Bidang Kompetisi PSSI)," kata Benny Erwin selaku Direktur Utama PT. Persija Jaya Jakarta (PT. PJJ, Agustus 2010) di kantor PSSI, Rabu, 24 Agustus 2011, malam.[19]
Meski dualisme kepengurusan Persija Jakarta belum tuntas, namun Ferry Paulus, Ketua Umum Persija, tetap mempersiapkan timnya. Tercatat, sudah ada 13 pemain yang dipermanenkan oleh tim berjuluk Macan Kemayoran selama tiga tahun ke depan. Masalah Perseroan Terbatas (PT) terus menghambat proses keikutsertaan Persija di kompetisi 2011/2012. Namun hal itu tidak membuat Ferry Paulus berdiam diri untuk memperkuat klub yang dipimpinnya. Ferry mengaku telah mempermanenkan pemain yang akan memperkuat klub kebanggaan The Jakmania- sebutan suporter Persija- dalam durasi tiga tahun lamanya.
"Kami ingin mempertahankan skuad kami sampai tiga tahun ke depan. Kami ingin para pemain juga mengalami kepastian dalam kontraknya. Sistem pembayaran kontrak yang kami terapkan yakni dicicil setiap tahunnya. Itu tanda keseriusan kami sebagai pengurus kepada pemain," papar Ferry kepada Bola.net, Kamis, 25 Agustus 2011.
Sedangkan Ke-13 pemain yang telah dikontrak Persija selama tiga tahun, ada yang berstatus dipertahankan dan baru didatangkan. 11 pemain yang dipertahankan adalah Bambang 'Bepe' Pamungkas, Ismed Sofyan, Amarzukih, Alan Martha, Leo Saputra, Hasyim Kipuw, Andritany Ardhiyasa, AA Ngurah Wahyu, Rizky Ramdani Lestaluhu, Oktavianus, dan Greg Nwokolo. Sedangkan dua nama lain yang baru didatangkan adalah Johan Juansyah dari Persijap Jakarta dan Mahadirga Lasut yang diboyong dari Sriwijaya FC (SFC).
Adapun kelima pemain yang tengah dalam proses negosiasi di antaranya adalah M. Nasuha, M. Ilham, Tony Sucipto, Ambrizal, dan Agus Indra Kurniawan. Sedangkan dua pemain asing yang proses perpanjangan kontraknya sedang diurus manajemen ada pada diri penyerang Singapura Agu Casmir dan jangkar lini belakang Eric Bayemi.
"Karena masih ada pemain-pemain kami yang masih berjuang bersama timnas, prosesnya masih akan kami tunggu. Untuk pemain asing, Agu dan Bayemi, sebisa mungkin kami pertahankan. Sedangkan dua Asia yang sedang kami pantau, ada dari Jepang dan Korea Selatan," papar Ferry.
Jika ada pemain yang dipertahankan, Persija pun memastikan tidak lagi menggunakan jasa mantan kiper timnas Indonesia Hendro Kartiko dan gelandang asal Liberia, Oliver Makor. Menurutnya, kedua pemain ini sudah dipastikan akan dilepas Persija pada kompetisi musim mendatang.[20]
Setelah sempat terkatung-katung, Persija Jakarta di bawah PT. Persija Jaya Jakarta (PT. PJJ, Agustus 2010) akhirnya mendapatkan pelatih. Tim berjuluk "Macan Kemayoran" itu resmi menunjuk pelatih asal Serbia Montenegro, Dejan Glusevic. "Secara lisan sudah deal. Namun, dia belum tanda tangan kontrak karena sedang di Korea Selatan untuk mendampingi tim junior Singapura di Korea Selatan," kata Ketua Umum Persija Jakarta, Ferry Paulus, Kamis, 8 September 2011.[21]
Mendekati musim kompetisi 2011-12, Persija Jakarta di bawah PT. Persija Jaya Jakarta (PT. PJJ, Agustus 2010) mulai melakukan persiapan. Senin, 19 September 2011, Bambang Pamungkas dkk sudah mulai melakukan latihan perdana di Stadion Lebak Bulus, Jakarta. Sayangnya, latihan ini tak dipimpin langsung oleh pelatih mereka, Dejan Gluscevic. Pelatih asal Serbia itu tengah menjalankan tugas terakhirnya bersama timnas U-19 Singapura yang berlaga di Piala AFC. Oleh karena itu, tugas memimpin latihan perdana hari ini diserahkan kepada Sudirman sebagai asisten pelatih.
Dalam latihan perdana ini, sejumlah pemain bintang tampak hadir, seperti Bambang Pamungkas, Oktavianus, Rahmad Affandi, Galih sudaryono, Amarzukih ,Alan Martha dan Leo Saputra. Sementara Ismed Sofyan, Agus Indra, Greg Nwokolo dan Ardan Aras tak hadir dalam latihan karena alasan tertentu.
Latihan ini diisi dengan latihan ringan seperti passing dan game kecil. Latihan ini diakhiri dengan pertandingan antara pemain yang dibagi menjadi dua tim.[22]
Bersamaan dengan latihan perdana jelang musim 2011-2012 di Stadion Lebak Bulus, Senin, 19 September 2011, Persija juga menggelar seleksi pemain untuk memperkuat tim mereka musim depan. Seleksi ini diikuti oleh beberapa pemain asing dan pemain yang diambil dari kompetisi internal klub. Sekitar delapan pemain asing mengadu nasib dalam seleksi ini. Tercatat dua nama pemain yang sudah cukup dikenal, yaitu Richard Caceres (Paraguay, gelandang) dan Choi Dong Soo (Korea Selatan, depan). Keduanya merupakan mantan pemain Persisam Samarinda.
Enam pemain asing lain yang juga mengikuti seleksi adalah Taisiou dan Leonardo Moyano (Paraguay, Belakang), Li Sung Min (Korea Selatan, Gelandang), Shin Yun Joon (Korea Selatan,Gelandang), Ever Zarate (Argentina,Gelandang), serta Ji Jun (Cina, Belakang).
Sementara itu, Sudirman mencatat ada tujuh pemain dari kompetisi internal Persija yang juga mengikuti seleksi kali ini. Mereka adalah Delton Stevano, Adiksi Lenzipio, Arif Dwi, Sulaiman, Abdul Tomi, Fahreza Agamal, dan Rudi S. Mengenai jumlah dan kriteria yang akan direkrut nantinya, Sudirman mengatakan langkah mereka masih panjang.[23]
Ketua Umum Persija Jakarta Ferry Paulus menegaskan bahwa pihaknya enggan melakukan mediasi dan rekonsiliasi terkait dualisme kepemilikan terhadap klub berjuluk "Macan Kemayoran" tersebut. Hal ini dikatakan Ferry di Hotel Sahid, Jakarta, Rabu, 21 September 2011 sore. "Saya dalam posisi tidak akan pernah melakukan mediasi lagi," tutur Ferry. Seperti diketahui, terdapat dualisme badan hukum di kubu Persija saat ini. Kubu Ferry dengan nama PT. Persija Jaya Jakarta (PT. PJJ, Agustus 2010), sementara kubu Bambang Sucipto dengan nama PT Persija Jaya (PT. PJ, 2008).
Menurut Ferry, PT Persija Jaya Jakarta (PT. PJJ, Agustus 2010) paling pantas menjadi induk klub Persija. "Kami punya pemain, lapangan dan semuanya kami punya, masa yang punya semuanya menggungat PT lainnya," tambah mantan anggota Komite Eksekutif PSSI tersebut. Ferry mengaku yakin, poin verifikasi dari PSSI terhadap PT Persija Jaya Jakarta (PT. PJJ, Agustus 2010) mencapai angka 90,1. Sementara PT lainnya tertinggal jauh dari angka tersebut. "Kalau poinnya sekitar 70 sih tidak masalah, ini cuma 11," papar Ferry.
Sebelumnya kedua badan hukum sudah pernah berjanji bertemu dengan PSSI sebagai penengah. Namun, perwakilan pihak Bambang Sucipto (PT. Persija Jaya/PT. PJ, 2008) ketika itu tidak datang.[24]
Pada 30 September 2011, Melalui Rapat Komite Eksekutif, PSSI akhirnya menunjuk PT. Persija Jaya (PT. PJ, 2008) sebagai pengelola resmi klub Persija Jakarta. Berikut alasan dibalik keputusan PSSI tersebut.
Seperti diberitakan sebelumnya, terdapat terdapat tiga badan hukum yang mengaku berhak mengelola Macan Kemayoran, yakni PT. Persija Jaya (PT. PJ, 2008) dibawah pimpinan Bambang Sucipto, dengan dukungan mantan CEO klub LPI, Jakarta FC, Hadi Basalamah, lalu PT. Persija Jakarta (PT. PJ, Januari 2010) di bawah pimpinan Nachrowi serta Direktur Utama Toni Tobias, dan satu lagi PT. Persija Jaya Jakarta (PT. PJJ, Agustus 2010), dibawah pimpinan Benny Erwin dengan ketua umum Ferry Paulus.
Dalam keterangan persnya seusai rapat, salah satu anggota Komite Eksekutif PSSI, Sihar Sitorus, membeberkan alasan PSSI menunjuk PT. Persija Jaya (PT. PJ, 2008) sebagai pengelola resmi klub Persija Jakarta.
Dituturkannya, alasan tersebut didasari oleh adanya dokumen baru yang menyebutkan telah terjadi merger antara PT. Persija Jaya (PT. PJ, 2008) dan PT. Persija Jakarta (PT. PJ, Januari 2010) yang diwakili oleh Direktur Utamanya, Pintor Gurning dan Toni Tobias. Selain itu, diperkuat dengan surat yang diberikan oleh klub anggota Persija.
“Pada saat rapat tadi kami menerima dokumen baru antara lain, bergabungnya PT. Persija Jaya (PT. PJ, 2008) yang diwakili Pintor Burning dan Toni Tobias (PT. PJ, Januari 2010). Ada juga surat yang diberikan oleh klub anggota Persija,” ujarnya.
“Dari tiga pihak yang kita ketahui selama ini mengklaim mewakili Persija, dua diantaranya telah bergabung. Jadi, itu bahan pertimbangan Exco (Komite Eksekutif). Sekalian dengan dokumen yang telah disampaikan ke PSSI dalam beberapa bulan terakhir.”
Sihar juga menegaskan bahwa Direktur Utama PT. Persija Jaya (PT. PJ, 2008) adalah Pintor Gurning, “ Direktur Utama PT. Persija Jaya (PT. PJ, 2008) adalah Pintor Gurning. Mungkin, mereka telah melakukan pergantian Direktur Utama.”[25]
Ketua Umum Persija Jakarta, Ferry Paulus, memberikan tenggat waktu tiga hari bagi PSSI untuk segera mencabut keputusannya yang memenangkan kubu Hadi Basalamah sebagai pengelola Persija Jakarta.
"Kami memberikan rentan waktu 3x24 jam kepada PSSI untuk mencabut SK nomor 34/JAH/X/2011," kata kuasa hukum Persija Jakarta, Gusti Randa di kantor PSSI, Jumat, 7 Oktober 2011.
Sebagaimana diberitakan, PSSI bersikap sewenang-wenang dalam menyelesaikan dualisme di tubuh Persija Jakarta. PSSI menganulir Persija yang dikelola Ferry Paulus. Padahal hasil verifikasi yang dilakukan PSSI menyatakan PT. Persija Jaya Jakarta (PT. PJJ, Agustus 2010) meraih poin 90,1. PSSI justru memutuskan kubu Hadi Basalamah dengan PT. Persija Jaya (PT. PJ, 2008) sebagai pengelola Persija Jakarta.[26]
Kasus dualisme kepemilikan Persija Jakarta yang dimenangkan kubu Hadi Basalamah memicu reaksi keras para pemain tim berjuluk Macan Kemayoran tersebut. Bahkan, Ketua Umum Persija, Ferry Paulus yang kemarin menggugat PSSI meyakini para pemain akan ramai-ramai meninggalkan Persija jika tetap diambil alih Hadi Basalamah.
Padahal, sejumlah pemain pilar telah mengikat kontrak baru berdurasi 3 tahun dengan Persija di bawah manajemen Ferry Paulus. Belakangan, PSSI yang memenangkan kubu Hadi dalam sengketa tersebut membuat para pemain kebingungan dan khawatir.
Pasalnya, beredar kabar kubu Hadi akan merombak awak Persija yang sudah ada dengan memasukkan para pemain Jakarta FC yang bermain di Liga Primer Indonesia (LPI) gagasan Arifin Panigoro. Menurut Ferry, para pemain yang saat ini sudah bergabung dalam training camp menyatakan keinginannya untuk keluar dari Persija jika bukan dipimpin oleh ia.
"Mereka jelas khawatir dengan keadaan ini. Banyak yang curhat ke saya, bilang tidak mau lagi di Persija jika saya tidak di situ. Saya yakin banyak yang akan keluar nantinya. Itu sudah hak mereka," ujar Ferry saat dikonfirmasi VIVAnews.com, Sabtu 8 Oktober 2011.
Menurut Ferry, saat ini skuad Ibu Kota mengikuti pemusatan latihan untuk kompetisi musim mendatang yang rencananya dimulai 15 Oktober 2011. Persija yang tengah gencar mengincar sejumlah pemain baru untuk menggantikan beberapa pilar yang hengkang tersebut sepenuhnya berada di bawah kendali Ferry.
"Persija yang ada sekarang ini saya yang kelola. Saya yang urus semuanya. Kami sudah menggelar pemusatan latihan. Menggelar beberapa uji coba untuk persiapan musim depan. Kubu mereka (Hadi Basalamah) yang mengaku pemilik Persija mana ada? Bertemu tim saja enggak kok, tiba-tiba mengaku memiliki," ujar Ferry.
Sebetulnya, sebelum PSSI memenangkan kubu Hadi, sejumlah pilar Persija telah terlebih dahulu hijrah. Lima pemain diborong Persib Bandung, dan beberapa pemain pilih berlabuh di beberapa klub lain, termasuk ke Mitra Kukar, tim promosi yang sedang rajin membeli pemain bintang.
Setelah Ardan Aras, Hendro Kartiko, Aliyudin, Toni Sucipto, Jendri Pitoy, M Ilham dan M Nasuha angkat koper dari Persija, sederet nama lain termasuk sang ikon, Bambang Pamungkas dan Ismed Sofyan siap hijrah. Itu jika Hadi benar-benar menggusur Ferry.
"Saat ini memang saya masih tahan mereka sampai menit-menit akhir. Masih ada upaya yang kami lakukan (termasuk menggugat PSSI). Baru jika memang tidak bisa diubah, mereka saya lepas untuk bebas memilih," tutur Ferry.[27]
Kisruh ditubuh Persija Jakarta terus saja bergulir tanpa ada penyelesaian, kedua belah pihak yang berseteru terus saja mengklaim bahwa dirinya yang paling benar.
Konflik antara PT. Persija Jaya (PT. PJ, 2008) dan PT. Persija Jaya Jakarta (PT. PJJ, Agustus 2010) sendiri sebenarnya telah diputuskan PSSI. PSSI menunjuk PT. Persija Jaya (PT. PJ, 2008) yang berhak mengelola Persija Jakarta. Namun, melalui perwakilan PT. Persija Jaya (PT. PJ, 2008) yaitu Benny Erwin (Direktur Utama), Mahfudin Nigara (Komisaris), dan Abang Islan Namin yang mewakili almarhum Sudrajat, menyatakan jika pengurusan PT. Persija Jaya (PT. PJ, 2008) dipimpin Bambang Sucipto adalah cacat hukum.
Sebelumnya, beberapa dewan Direksi PT. Persija Jaya (PT. PJ, 2008) seperti Bambang, Zulfikar Utama, Pintor Posman Gurning, dan Sonny Sumarsono telah mengganti kepengurusan PT. Persija Jaya (PT. PJ, 2008). Akan tetapi, pergantian kepengurusan tersebut belum dinilai tidak sah oleh beberapa anggota dewan direksi lainnya karena tidak melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
"Kami ingin teman-teman yang ada di sana segera insaf, dan sama-sama membubarkan PT. Persija Jaya (PT. PJ, 2008). Sebab, RUPS-nya tidak ada sampai saat ini. Mekanisme RUPS tidak ditempuh, tiba-tiba ada perubahan seperti ini," ungkap salah satu komisaris PT. Persija Jaya (PT. PJ, 2008) M. Nigara, kepada Bola.net, di Jakarta, Jumat, 21 Oktober 2011.
"Saya dan Benny, sepakat jika PT Persija Jaya (PT. PJ, 2008) ini dibubarkan. Kami ingin PT. Persija Jaya (PT. PJ, 2008) dibubarkan, supaya tidak menimbulkan masalah baru. Sebagai pribadi, saya tidak miliki saham itu, oleh karena itu saya akan kembalikan ke klub," lanjut Nigara.
Penilaian PT. Persija Jaya (PT. PJ, 2008) yang cacat hukum ini dibantah oleh Bambang Sucipto, menurutnya proses RUPS telah resmi terjadi.
"Dalam pembentukan kepengurusan baru saya telah mengundang beberapa dewan direksi PT. Persija Jaya (PT. PJ, 2008) seperti Benny dan M. Nigara dan Abang Islan Namin yang mewakili almarhum Sudrajat. Namun, hanya Abang Islan Namin saja yang memenuhi undangan tersebut.
"Pada 15 September lalu sudah kami adakan RUPS tentang perubahan kepengurusan PT. Persija Jaya (PT. PJ, 2008). Karena yang datang sudah memenuhi perwakilan yang ada, rapat pun dilakukan dan telah ditentukan siapa kepengurusan baru PT. Persija Jaya (PT. PJ, 2008)," terang Bambang.
Keyakinan Bambang jika proses perubahan RUPS telah berjalan benar, langsung disahkan kepada notaris. Karenanya, Bambang semakin yakin PSSI dan AFC telah mengakui PT. Persija Jaya (PT. PJ, 2008) yang telah melakukan proses RUPS.
"Kami sudah ada notaris untuk menyelesaikan masalah ini. Kami pun yakin PT kami yang benar, karena PSSI dan AFC juga sudah mengakuinya," tandas Bambang.[28]
Kapten Tim Nasional Bambang Pamungkas menyatakan kebulatan tekadnya membela Persija Jakarta di Liga Super Indonesia. “Saya tidak rela klub yang sudah saya bela sepuluh tahun dizalimi PSSI,” ujarnya di peluncuran kostum klub itu di FX Senayan, Kamis 24 November 2011.
Persija terbelah antara kubu Hadi Basalamah yang ikut Liga Prima dan kubu Ferry Paulus di Liga Super. Kubu Ferry mendapat dukungan Jakmania, kelompok pendukung dengan 57 ribu anggota. “Kami dukung Persija yang ada Bambang-nya,” ujar Ketua Jakmania, La Rico Ranggamone.
Bepe, panggilan Bambang, memang ikon Persija. Sang kapten telah menyumbang 155 gol buat Macan Kemayoran. Dia menyatakan tidak takut ancaman PSSI. Top skor timnas dengan torehan 42 gol dari 89 pertandingan ini menyatakan siap jika PSSI mencoret namanya dari skuad Garuda karena bermain di liga yang tidak diakui. “Ini bagian dari kesetiaan saya pada Persija,” kata penyerang bernomor 20 ini.
Bambang menolak opsi merger. Alasannya, klub yang dia bela memiliki sejarah panjang, sejak dibentuk 28 November 1928. “Tidak mungkin disamakan dengan klub yang baru lima bulan,” katanya.[29]
1. Pembentukan Persija "Tandingan"
2. Pemicu Konflik: Keputusan Exco PSSI
3. Munculnya Dua Versi Persija
Persija (PT. PJJ) |
Persija (PT. PJ) |