Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

BerandaWikiDrama dari Krakatau
Artikel Wikipedia

Drama dari Krakatau

Drama dari Krakatau adalah novel berbahasa Melayu rendah tahun 1929 yang ditulis oleh Kwee Tek Hoay. Terinspirasi oleh novel The Last Days of Pompeii (1834) karya Edward Bulwer-Lytton dan letusan Krakatau 1883, buku yang terdiri dari enam belas bab ini mengisahkan dua keluarga di Banten tahun 1920-an. Tanpa disadari, mereka terhubung ikatan darah oleh sepasang kakak beradik yang terpisahkan akibat peristiwa tahun 1883 tersebut. Abangnya menjadi tokoh politik, sedangkan adik perempuannya menikahi seorang raja-pandita Baduy. Pada akhirnya, dua keluarga ini disatukan oleh pernikahan anak-anak mereka, lalu sang pandita mengorbankan dirinya untuk menenangkan Gunung Krakatau.

novel tahun 1929 karya Kwee Tek Hoay
Diperbarui 22 April 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Drama dari Krakatau
Drama dari Krakatau
Sampul
Sampul, cetakan pertama (1929)
PengarangKwee Tek Hoay
NegaraHindia Belanda
BahasaMelayu Rendah
Diterbitkan1929
PenerbitHoa Siang In Kiok
Halaman125
OCLC64687346

Drama dari Krakatau adalah novel berbahasa Melayu rendah tahun 1929 yang ditulis oleh Kwee Tek Hoay. Terinspirasi oleh novel The Last Days of Pompeii (1834) karya Edward Bulwer-Lytton dan letusan Krakatau 1883, buku yang terdiri dari enam belas bab ini mengisahkan dua keluarga di Banten tahun 1920-an. Tanpa disadari, mereka terhubung ikatan darah oleh sepasang kakak beradik yang terpisahkan akibat peristiwa tahun 1883 tersebut. Abangnya menjadi tokoh politik, sedangkan adik perempuannya menikahi seorang raja-pandita Baduy. Pada akhirnya, dua keluarga ini disatukan oleh pernikahan anak-anak mereka, lalu sang pandita mengorbankan dirinya untuk menenangkan Gunung Krakatau.

Awalnya diterbitkan sebagai cerita bersambung di majalah Panorama milik Kwee antara 7 April dan 22 Desember 1928, Drama dari Krakatau ditulis selama dua bulan setelah pengarangnya diminta mempersiapkan cerita "sensasional" untuk sebuah film. Sebelum edisi terakhirnya diterbitkan, novelnya sudah diangkat ke pementasan panggung. Walaupun Kwee dikenal sebagai pengarang dari aliran realisme dan meneliti letusan Krakatau sebelum menulisnya, Drama dari Krakatau dipenuhi oleh unsur mistik. Berbagai analisis tema sudah dilakukan yang berfokus pada penggambaran budaya pribumi oleh Kwee (yang beretnis Tionghoa), serta geografi dan nasionalisme. Sama seperti karya sastra Tionghoa Melayu lainnya, buku ini tidak diakui sebagai bagian dari kanon sastra Indonesia.

Alur

Kisah ini berlatar pada tahun 1883, ketika Krakatau bergemuruh untuk pertama kalinya dalam 200 tahun. Di desa Waringin yang tidak jauh dari sana, Sadidjah mengungkapkan kegelisahannya kepada suaminya, Tjakra Amidjaja, yang juga merupakan kepala desa. Ia baru saja mengalami mimpi buruk tentang gunung api tersebut dan khawatir gunung itu akan mendatangkan kematian bagi mereka. Tjakra Amidjaja mencoba untuk menenangkan istrinya, dan memberi tahu bahwa mereka akan meninggalkan desa dalam dua hari mendatang. Sementara itu, gemuruh gunung Krakatau semakin besar. Tjakra Amidjaja dan Sadidjah memutuskan untuk tetap tinggal di desa demi menangani proses evakuasi warga. Mereka mengirim kedua anaknya, Hasan dan Soerijati, ke rumah kerabat mereka di Rangkas Gombong.[a] Krakatau meletus beberapa jam kemudian dan desa mereka tersapu oleh tsunami. Soerijati hilang setelah jatuh dari kereta, sedangkan Hasan tiba di Rangkas Gombong dengan selamat.

Empat puluh empat tahun berlalu. Moelia, putra Bupati Rangkas Gombong yang kini menjabat sebagai Asisten Wedana Sindanglaut,[b] mendengar kabar tentang seorang pandita Baduy bernama Noesa Brama yang merawat orang-orang sakit dan terluka. Didorong rasa penasaran, Moelia mengunjungi Gunung Ciwalirang untuk menemui sang pandita dan mendapati bahwa Noesa Brama adalah sosok yang cerdas serta santun tutur katanya. Saat jamuan makan siang, Moelia jatuh hati pada putri sang pandita, Retna Sari. Namun, ia mengetahui bahwa Retna Sari harus menikahi pria yang sederajat dengan ayahnya, seseorang yang "tidak lebih rendah daripada Sultan Yogyakarta atau Sunan Solo".[c][1] Sepulangnya ke rumah, Moelia menyadari bahwa Noesa Brama tak diragukan lagi adalah keturunan laki-laki terakhir dari raja-raja Hindu Pajajaran. Ia juga menyadari kemiripan wajah yang mencolok antara Retna Sari dan ibunya dengan neneknya sendiri. Beberapa hari kemudian, Moelia kembali ke gunung dan memergoki sekelompok pria asal Palembang yang berencana menculik Retna Sari. Setelah mengusir mereka, ia sempat mengunjungi Noesa Brama sebelum pulang. Namun, sekeras apapun usahanya untuk melupakan Retna Sari, Moelia tetap tidak mampu melupakannya.

Minggu berikutnya, komplotan pria dari Palembang tersebut memfitnah Noesa Brama di hadapan polisi, sehingga Noesa Brama ditangkap dengan tuduhan melakukan pemberontakan. Para pria tersebut kemudian merayu Retna Sari dan ibunya untuk pergi bersama mereka ke Sumatra. Mengetahui hal ini, Moelia membebaskan Noesa Brama. Sesampainya di rumah, Noesa Brama melihat istri dan putrinya sudah tiada, tampaknya pergi bersama orang-orang dari Palembang. Moelia pun mengejar para penculik dengan kapal uap. Sebelum dapat menghentikan mereka, Krakatau meletus lagi dan menjungkirbalikkan kapal komplotan tersebut. Moelia sempat menyelamatkan Retna Sari dan ibunya sebelum Krakatau meletus untuk kedua kalinya dan menewaskan para penculik.

Moelia memberi tahu letusan tersebut kepada ayahnya, yang terungkap sebagai Hasan. Hasan pun mendatangi rumah putranya. Di sana, ia bertemu Retna Sari dan ibunya. Pertemuan tersebut mengungkap bahwa ibu Retna Sari adalah Soerijati, yang menjelas sebab kemiripan rupa mereka. Soerijati mengatakan bahwa ia ditemukan dan dibesarkan oleh ayah Noesa Brama. Ia juga menceritakan keberadaan patung Wisnu di sebuah gua di atas Gunung Ciwalirang yang bertuliskan, "Pada saat aku rusak, rusaklah juga negeri ini dengan seluruh keturunanmu, tertimpa murkanya Rakata".[d] Para pandita percaya bahwa kerusakan patung itulah yang menyebabkan Krakatau meletus. Tanpa sepengetahuan mereka, Noesa Brama, yang marah karena mengira putrinya akan dinikahi seorang jelata, menghancurkan patung itu dengan melemparnya ke sumur sehingga Krakatau meletus dan menewaskan para penculik.

Keesokan paginya, Moelia beserta keluarganya berangkat ke Ciwalirang dengan harapan bahwa Noesa Brama merestui pernikahannya dan Retna Sari. Sang pandita menerima lamaran tersebut, tetapi ia menyesal telah menghancurkan patung tersebut setelah mengetahui bahwa Retna Sari dan Soerijati sebenarnya tidak pergi secara sukarela bersama komplotan dari Palembang. Noesa Brama menikahkan Moelia dengan Retna Sari, kemudian meminta mereka berjanji bahwa putra pertama mereka akan dibesarkan sebagai Hindu dan menjadi raja Baduy. Ia kemudian menyerahkan semua kekuasaannya kepada putrinya. Berharap jiwanya dan jiwa para leluhur bisa mengendalikan gunung api itu, Noesa Brama diam-diam bunuh diri dengan loncat ke sumur. Beberapa minggu kemudian, aktivitas di gunung Krakatau mulai mereda meski masih aktif.

Penulisan

Kwee terinspirasi oleh letusan Krakatau 1883.

Drama dari Krakatau ditulis oleh jurnalis Kwee Tek Hoay. Lahir dari pasangan pedagang tekstil Tionghoa dan istri pribuminya,[2] Kwee dibesarkan dalam budaya Tionghoa dan dikirim ke sekolah-sekolah yang mempersiapkan muridnya untuk hidup di dunia modern, tidak mengutamakan tradisi. Ketika ia menulis novel ini, Kwee adalah pendukung ajaran Buddha yang aktif. Ia merupakan pengamat sosial yang jeli[3] dan banyak menulis tentang penduduk asli di kepulauan Hindia Belanda.[4] Ia sering membaca buku-buku berbahasa Belanda, Inggris, dan Melayu yang kelak memengaruhinya selama berkarier sebagai penulis.[5] Novel pertamanya, Djadi Korbannja "Perempoean Hina", diterbitkan tahun 1924.[6]

Pada tahun 1928, Kwee dimintai seorang teman, yang hendak mendirikan perusahaan film, untuk menulis cerita "sensasional" yang dapat dipakai sebagai dasar filmnya.[e] Aktivitas Krakatau yang terus berlanjut menjadi fokus utamanya. Setelah membaca novel The Last Days of Pompeii karya Edward Bulwer-Lytton tahun 1834, Kwee menanyai temannya, "Apakah sulit bagi seseorang untuk menciptakan satu drama tentang Krakatau?"[f][7] Dikarenakan jeda antara letusan 1883 dan 1928, Kwee memutuskan mengawali ceritanya dengan terpisahnya dua kakak adik yang masih muda. Elemen-elemen selanjutnya terinspirasi oleh suku Baduy gunung yang cenderung menghindari masyarakat luar dan mengaku sebagai keturunan raja-raja Hindu Pajajaran.[8]

Kwee menganut aliran realisme dan menganggap "lebih baik menuturkan keadaan yang sebetulnya, daripada menciptakan yang ada dalam angan-angan, meskipun ada yang lebih menyenangkan dan memuaskan bagi pembaca atau penonton, tetapi palsu dan dusta, bertentangan dengan keadaan yang benar."[g][9] Ia sangat kritis terhadap penulis-penulis kontemporer yang lebih bergantung pada fantasi mereka ketimbang logika dan kenyataan.[10] Agar ceritanya tetap realistis, Kwee meneliti sejarah Baduy, formasi geologi Krakatau, dan letusan tahun 1883 dan 1928. Secara keseluruhan, ia meneliti 15 buku dalam bahasa Inggris dan Belanda.[8] Penulisannya dimulai tanggal 19 Maret 1928[11] dan selesai tanggal 28 Mei pada tahun yang sama.[12] Drama dari Krakatau terdiri dari 16 bab[13] yang terbagi menjadi 125 halaman pada cetakan pertamanya.[14]

Tema

Meski Kwee adalah penganut realisme, Drama dari Krakatau memiliki unsur mistisisme. Ini terbukti dari kaitan antara patung di gua dan letusan Krakatau. Di sejumlah karyanya (fiksi dan non-fiksi), Kwee menunjukkan ketertarikannya pada okultisme. Hal itu terlihat dari penulisan deskripsi yang rinci tentang Therese Neumann, gadis puasa dari Jerman, dan Omar Khayyám, mistik, filsuf, dan penyair Sufi Persia. Kritikus sastra Indonesia, Jakob Sumardjo, menyebut elemen-elemen mistis tersebut (dan fakta bahwa belum ada patung berprasasti era Hindu yang pernah ditemukan) keluar dari nilai novel secara keseluruhan.[15]

Karya Kwee adalah karya pertama dari tiga novel Tionghoa Melayu yang terinspirasi oleh letusan gunung berapi. Karya kedua, Meledaknja Goenoeng Keloet karangan Liem Khing Hoo, terinspirasi oleh Gunung Kelud di Jawa Timur dan diterbitkan di majalah bulanan Tjerita Roman tahun 1929. Karya ketiga, Drama dari Merapie karangan Kwee, terinspirasi oleh Gunung Merapi di Jawa Tengah dan diterbitkan dalam bentuk serial di Moestika Romans pada bulan Maret sampai September 1931.[16] Letusan gunung berapi juga digambarkan dalam syair Tionghoa Melayu kontemporer. Claudine Salmon menulis bahwa Sair Petjanja Goenoeng Krakatau (1929) karya Ong Tjong Sian berkisah tentang ketakutan masyarakat setelah Krakatau aktif kembali.[17]

Tidak seperti kebanyakan karya kontemporer buatan pengarang Tionghoa, Drama dari Krakatau tidak menampilkan tokoh Tionghoa sebagai tokoh utamanya. Mereka disebutkan sekilas sebagai pemilik toko yang memberi bantuan makanan kepada bupati.[18] Karya-karya berbahasa Melayu buatan pengarang Tionghoa dari dulu berpusat pada tokoh Tionghoa sampai-sampai istilah seperti "tanah-air" sering disalahartikan sebagai daratan Tiongkok, bukan Kepulauan Melayu atau Hindia Belanda. Karya Tionghoa Melayu yang hanya menampilkan tokoh pribumi baru muncul pada 1920-an.[19] Kwee berusaha "mengimpersonasikan" budaya lain dan menjelaskannya dari sudut pandang mereka. Hal ini tidak lazim bagi karya tulis pada masa itu.[20]

Sama seperti cerita-cerita yang didominasi tokoh pribumi, Drama dari Krakatau berlatar di pedesaan, jauh dari kota yang merupakan pusat masyarakat Tionghoa.[21] Geografi memainkan peran penting. Alur novel ini dimulai di tingkat makro, menampilkan asal-usul nusantara dari kenaikan permukaan laut akibat tenggelamnya Poseidonis, lalu merambah perlahan-lahan ke tingkat mikro, menggambarkan Jawa, Sumatra, dan Krakatau, sebelum berfokus pada rumah Tjakra Amidjaja dan awal alurnya. Paragraf selanjutnya merincikan pemandangan dari Gunung Ciwalirang yang meliputi Jawa, Krakatau, dan Sumatra.[20]

Pengamat sastra Indonesia, Melani Budianta, berpendapat bahwa "panorama geografis" ini digabung dengan penggambaran budaya dan agama lain memperlihatkan elemen nasionalisme dalam novel ini. Tema semacam itu juga terlihat di Drama dari Boeven Digoel (1938) karya Kwee.[22] Budianta menulis bahwa pandangan panorama nusantara "membantu pembaca membayangkan geografi bangsa yang belum bersatu",[20] sedangkan "impersonasi[nya]" menunjukkan "suatu bidang teosofi tempat segala perbedaan agama disatukan dalam kepercayaan terhadap kebaikan."[23]

Riwayat terbitan dan tanggapan

Drama dari Krakatau pertama diterbitkan dalam bentuk serial di majalah Kwee, Panorama, antara 7 April dan 22 Desember 1928. Seri ini kemudian diterbitkan dalam bentuk novel oleh Hoa Siang In Kiok pada tahun 1929.[14] Cetakan baru yang mengadopsi reformasi ejaan 1972 dimasukkan ke volume kedua Kesastraan Melayu Tionghoa dan Kebangsaan Indonesia, sebuah antologi sastra Tionghoa Melayu. Volume tersebut juga menyertakan novella Kwee yang berjudul Roema Sekola jang Saja Impiken (1925) dan novel Boenga Roos dari Tjikembang (1927).[24]

Adaptasi novel ini dipentaskan di panggung sebelum Kwee selesai menulisnya, sama seperti yang terjadi pada Boenga Roos dari Tjikembang. Pada tanggal 28 Maret 1928, Moon Opera mementaskan Drama dari Krakatau di Pasar Senen di Weltevreden, Batavia (sekarang Senen, Jakarta). Grup sandiwara tersebut mengulang pertunjukannya pada 31 Maret dan 5 April; yang terakhir diadakan di Mangga Besar, Batavia. Cerita untuk pertunjukannya dipersiapkan oleh Kwee dengan versi yang lebih singkat dan sederhana.[11] Menurut Kwee, salah satu kesulitan utama yang dialaminya adalah menampilkan Krakatau di atas panggung: ini merupakan tantangan teknis, tetapi tidak boleh diabaikan karena "mementaskan drama ini tanpa menunjukkan letusan Krakatau sama saja seperti mementaskan Hamlet tanpa Pangeran Denmark."[h][25]

Sebagaimana halnya semua karya berbahasa Melayu Rendah, novel ini tidak dianggap bagian dari kanon sastra Indonesia.[26] Dalam tesis doktoralnya, J. Francisco B. Benitez memaparkan sebab sosial-politiknya. Pemerintah kolonial Belanda menetapkan bahasa Melayu Tinggi sebagai "bahasa pemerintahan", bahasa sehari-hari, sedangkan kaum nasionalis Indonesia memanfaatkan bahasa tersebut untuk membangun budaya nasional. Sastra Tionghoa Melayu yang ditulis dalam bahasa Melayu Rendah perlahan-lahan dimarginalkan.[27] Sumardjo melihat adanya persoalan klasifikasi: walaupun bahasa Melayu Rendah merupakan lingua franca pada masa itu, bahasa tersebut tidak tergolong bahasa Indonesia sehingga ia mempertanyakan apakah karya-karya berbahasa Melayu Rendah harus dikelompokkan sebagai sastra lokal, sastra Indonesia, atau sastra Tionghoa Melayu.[26]

Catatan penjelas

  1. ↑ Sekarang bagian dari Kabupaten Lebak.
  2. ↑ Wedana adalah pejabat pemerintahan. Asisten Wedana adalah jabatan tingkat menengah yang setara dengan camat di Indonesia masa kini (Siegel 1997, hlm. 188). Lihat Pembagian administratif Indonesia untuk informasi lebih rinci.
  3. ↑ Teks asli: "... tida ada lebih rendah dari Sultan Yokya atawa Sunan Solo".
  4. ↑ Teks asli: "Pada saat aku rusak, rusaklah juga ini negri dengen sekalian turunanmu, katimpah murkanya Rakata".
  5. ↑ Belum ada film dengan judul atau alur serupa yang tercatat; lihat daftar film Hindia Belanda di (Biran 2009, hlm. 379–86).
  6. ↑ Teks asli: "Mustahilkah orang tida bisa ciptaken satu drama dari Krakatau?"
  7. ↑ Teks asli: "... lebih baek tuturkan kaadaan yang sabetulnya, daripada ciptaken yang ada dalem angen-angen, yang meskipun ada lebih menyenangken dan mempuasken pada pembaca atau penonton, tapi palsu dan justa, bertentangan dengan kaadaan yang benar."
  8. ↑ Teks asli: "maenken ini drama zonder kasih liat meletusnya Krakatau ada sama juga seperti maenken lelakon Hamlet zonder ada itu Prins dari Denemarken."

Referensi

  1. ↑ Kwee 2001b, hlm. 489.
  2. ↑ Sutedja-Liem 2007, hlm. 273.
  3. ↑ The Jakarta Post 2000, Chinese-Indonesian writers.
  4. ↑ JCG, Kwee Tek Hoay.
  5. ↑ Sidharta 1996, hlm. 333–334.
  6. ↑ Sumardjo 1989, hlm. 92.
  7. ↑ Kwee 2001a, hlm. 428.
  8. 1 2 Kwee 2001a, hlm. 430.
  9. ↑ Damono 2006, hlm. xvii, xvix.
  10. ↑ Kwee 2001a, hlm. 431.
  11. 1 2 Kwee 2001a, hlm. 432.
  12. ↑ Kwee 2001b, hlm. 589.
  13. ↑ Kwee 2001b, hlm. 575.
  14. 1 2 Sidharta 1989, hlm. 307.
  15. ↑ Sumardjo 1989, hlm. 119.
  16. ↑ Nio 1962, hlm. 37, 109; Sidharta 1989, hlm. 307.
  17. ↑ Salmon 1985, hlm. 128.
  18. ↑ Budianta 2007, hlm. 71.
  19. ↑ Budianta 2007, hlm. 63.
  20. 1 2 3 Budianta 2007, hlm. 65.
  21. ↑ Budianta 2007, hlm. 64.
  22. ↑ Budianta 2007, hlm. 59.
  23. ↑ Budianta 2007, hlm. 66.
  24. ↑ Kwee 2001b, hlm. v.
  25. ↑ Kwee 2001a, hlm. 434.
  26. 1 2 Sumardjo 1989, hlm. 100.
  27. ↑ Benitez 2004, hlm. 82–83.

Sumber

  • Benitez, J. Francisco B. (2004). Awit and Syair: Alternative Subjectivities and Multiple Modernities in Nineteenth Century Insular Southeast Asia (Ph.D. thesis). Madison: University of Wisconsin. (perlu berlangganan)
  • Biran, Misbach Yusa (2009). Sejarah Film 1900–1950: Bikin Film di Jawa (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Komunitas Bamboo working with the Jakarta Art Council. ISBN 978-979-3731-58-2. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  • Budianta, Melani (2007). "Diverse Voices: Indonesian Literature and Nation-building". Dalam Hock Guan Lee; Leo Suryadinata (ed.). Language, Nation and Development in Southeast Asia. Singapore: Institute of Southeast Asian Studies. hlm. 51–73. ISBN 978-981-230-482-7.
  • "Chinese-Indonesian writers told tales of life around them". The Jakarta Post. 26 May 2000. Diarsipkan dari asli tanggal 2013-03-11. Diakses tanggal 14 March 2012.
  • Damono, Sapardi Djoko (2006). "Sebermula Adalah Realisme". Dalam Lontar Foundation (ed.). Antologi Drama Indonesia 1895–1930 (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Lontar Foundation. hlm. xvii–xxix. ISBN 978-979-99858-2-8. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  • Kwee, John (1980). "Kwee Tek Hoay: A Productive Chinese Writer of Java (1880–1952)". Archipel. 19 (19): 81–92.
  • "Kwee Tek Hoay". Encyclopedia of Jakarta (dalam bahasa Indonesia). Jakarta City Government. Diarsipkan dari asli tanggal 2013-03-11. Diakses tanggal 11 March 2013. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  • Kwee, Tek Hoay (2001a). "Permulaan Kata". Dalam A.S., Marcus; Benedanto, Pax (ed.). Kesastraan Melayu Tionghoa dan Kebangsaan Indonesia (dalam bahasa Indonesia). Vol. 2. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. hlm. 428–34. ISBN 978-979-9023-45-2. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  • Kwee, Tek Hoay (2001b). "Drama dari Krakatau". Dalam A.S., Marcus; Benedanto, Pax (ed.). Kesastraan Melayu Tionghoa dan Kebangsaan Indonesia (dalam bahasa Indonesia). Vol. 2. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. hlm. 427–590. ISBN 978-979-9023-45-2. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  • Nio, Joe Lan (1962). Sastera Indonesia-Tionghoa (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Gunung Agung. OCLC 3094508. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  • Salmon, Claudine (1985). Sastra Cina Peranakan dalam Bahasa Melayu (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Balai Pustaka. OCLC 39909566. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  • Sidharta, Myra (1989). "Daftar Karya Tulis Kwee Tek Hoay". Dalam Sidharta, Myra (ed.). 100 Tahun Kwee Tek Hoay: Dari Penjaja Tekstil sampai ke Pendekar Pena (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Sinar Harapan. hlm. 306–25. ISBN 978-979-416-040-4. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  • Sidharta, Myra (1996). "Kwee Tek Hoay, Pengarang Serbabisa". Dalam Suryadinata, Leo (ed.). Sastra Peranakan Tionghoa Indonesia (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Grasindo. hlm. 323–348. ISBN 978-979-553-855-4. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  • Siegel, James T (1997). Fetish, Recognition, Revolution. Princeton: Princeton University Press. ISBN 978-0-691-02652-7.
  • Sumardjo, Jakob (1989). "Kwee Tek Hoay Sebagai Sastrawan". Dalam Sidharta, Myra (ed.). 100 Tahun Kwee Tek Hoay: Dari Penjaja Tekstil sampai ke Pendekar Pena (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Sinar Harapan. hlm. 89–121. ISBN 978-979-416-040-4. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  • Sutedja-Liem, Maya (2007). "De Roos uit Tjikembang". De Njai: Moeder van Alle Volken: 'De Roos uit Tjikembang' en Andere Verhalen (dalam bahasa Belanda). Leiden: KITLV. hlm. 269–342. ISBN 978-90-6718-301-7. Diarsipkan dari asli tanggal 2014-01-07. Diakses tanggal 2014-01-19. ;

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Alur
  2. Penulisan
  3. Tema
  4. Riwayat terbitan dan tanggapan
  5. Catatan penjelas
  6. Referensi
  7. Sumber

Artikel Terkait

Kwee Tek Hoay

penulis dan jurnalis Indonesia

Daftar karya Kwee Tek Hoay

artikel daftar Wikipedia

Boenga Roos dari Tjikembang (film)

Film ini diadaptasi dari novel laris berjudul sama karya Kwee Tek Hoay yang telah diterbitkan beberapa kali di Panorama pada tahun 1927. Kisahnya kemudian

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026